
“Kalian tidak bisa berbuat seenaknya kepada temanku, hah!” Ucap Hendrik yang baru saja tiba di hadapan Liyan dan para anak buahnya.
Hendrik mmenjadi memuncak amarahnya, ketika terlihat, Riko yang akan dikepung oleh banyak orang dari komplotan Liyan.
“Heh dungu, jangan coba-coba membela anak buahmu yang tak tahu diri itu ya!” Liyan menatap kasar, mencoba mengancam Hendrik.
“Memangnya apa yang telah terjadi pada Riko? Mengapa engkau mengepung dia?!” Hendrik mencoba bersabar demi sebuah penjelasan.
“Anak buahmu yang bodo ini, sudah berbuat lancang kepadaku! Jadi dia harus mendapatkan pelajaran dariku malam ini, hah!”
“Kalau begitu, coba jelaskan terlebih dahulu apa yang sudah diperbuat oleh Riko!”
“Sudahlah, jangan banyak tanya! Yang jelas aku tak terima mendapat perlakuan kurang ajarnya!” Liyan mengerucutkan bibirnya, sambal memmalingkan wajahnya takut terlihat raut wajahnya yang menyembunyikan kebohongan.
Hendrik melirik Riko, “Bro, apa yang sudah terjadi?”
Riko menunduk, sikapnya hormat kepada sang pimpinan.
“Aku akan percaya kepadamu. Katakanlah…..!” Pinta Hendrik, mengedipkan matanya memberi isyarat jaminan keamanan.
Riko pun mulai membuka suaraa, “Begini Bos, aku hanya membela diri saat dia, Liyan mencoba menghajarku. Kejadiannya begini…..”
Riko dengan gamblang menceritakan kejadian sejak Deri yang sempoyongan di atas motornya, menarik bagian belakang kaos yang dikenakan oleh Riko.
Hendrik dan sebagian kawanan geng motor Tiger menyimak penuturan Riko.
Sebagian lainnya tampak tak menghiraukan.
Liyan terlihat sering membuang muka, seolah khawatir kesalahannya terungkap saat itu.
Riko menjelaskan secara detil, hingga Riko terlibat perkelahian dengan Liyan yang berusaha membela Deri, anak buahn Liyan.
Semua disampaikan tanpa terpotong sedikit pun.
“Kurang ajar kau, berabi-beraninya berbohong, hah!” Hendrik menggilirkan tatapannya kepada Liyan.
Mendengarsuarategas Hendrik, Liyan membalas tatapan Hendrik meski tak mampu bertahan lama. Dalam Batinnya Liyan mengakui bahwa dirinyalah yangsalah.
__ADS_1
Tapi, jiwa kelaki-lakiannya yang tidak mau direndahkan oranglain pun merambahke sekujur tubuhnya, membuat darahnya mendidih penuh amarah.
Liyan pun berdiri mmenghadap Hendrik, “Dengar, mala mini kau harus membayar mahal perbuatan konyol anak buahmu itu!”
“Maksudnya……!?”
“Sudahlah, tak usah banyak omong!
Seraaaaang, dan tangkap dia!” Liyan sudah tidak bisa lagi mengendalikan emosinya. Liyansegera memberi komando anak buahnya yang sudah memegangi golok panjang mereka, untuk bersama-sama menerjang Hendrik.
Sedangkan Liyan malah mundur, dan berlindung di balik sebuah pohon besar di pinggir jalanan.
“Hahahaha, makan tuh!” Batin Liyan berceloteh.
Serentak, para anak buah Liyan pun melompat menghentakan golok mereka masing-mamsing kea rah anggota badan Hendrik.
Hendrik tetap bersikap tenang. Ilmu bela dirinya sudah sangat mahir. Terlebih pengalamannya semenjak bangku SMA yang sering bertawuran, menjadi modal bagi Hendrik dalam menghadapi serangan-serangan anak buah Liyan dari berbagai penjuru.
Kelincahan geraknya, membuat anak buah Liyan kesulitan menimpakan sayatan goloknya maupun pukulan atau tendangannya kepada Hendrik.
Melompat ke udara, menjungkirkan badan, bergeser kuda-kuda, atau melentingkan tubuhnya ke samping maupun ke belakang, sangat lincah diperagakan oleh Hendrik.
Liyan yang sedang mengawasi jalannya pertarungan antara anak buahnya dengaan Hendrik yang seorang diri, tiba-tiba menyunggingkan senyumannya.
Ketika dilihatnya, Rihana dibawa oleh Koko menepi di sebuah pohon yang jaraknya tak jauh dari posisi Liyan berada.
“Huh, kerja yang bagus. Gadis ini akan aku pergunakan untuk mengganggu konsentrasi si Hendrik. Aku akan mengancamnya, gadis ini akan kutiduri karena aku yang menjadi pemenang mala mini. Hahahaha….” Ucap Liyan dengan tawa iblisnya.
“Siap Tuan!” Jawab Koko yang melihat Liyan mendekatinya.
Rihana hanya bisa menggilirkan bola matanya tanpa bisa berbicara sepatah kata pun.
Urat lehernya masih dalam pengaruh totokan. Badannya masih terasa lemas, suaranya pun nyaris tak terdengar.
Tatapan Rihana tajam, seolah ingin menumpahkan amarahnya kepada Liyan yang tersenyum genit kepadanya.
“Ikutlah sekarang bersamaku gadisku…..!” Tangan Liyan menyentuh lengan haalus nan putih Rihana.
__ADS_1
“Kurang ajar kau, berani-beraninya menyentuhku!” Geram Rihana, namun intonasinya sangat lemah, terdengar nada yang jauh dari warna kemarahan.
“Hihihi, sebelum kita menikmati mala mini, aku ingin memperlihatkanmu kepada musuhku.” Ucap Liyan sambal mengelus-elus punggung tangan Rihana.
Apa daya, amarah yang membludak dalam diri Rihana, tapi tidak mampu melakukan apa pun.
Dengan mudahnya, Liyan menggendong Rihana di pundaknnya.
Membawa Rihana mendekati tempat pertarungan yang masih sengit di antara para geng motor Tiger melawan Hendrik, yang kini mendapat bantuan dari Josep dan personil geng motor XP lainnya.
Keadaan pun semakin bertambah gaduh.
Sesekali terlihat anak buah Liyan tersungkur dan menjerit kesakitan, terkena hantaman lawan. Nammun sesaat kemudian, terdengar pula seorang dari geng motor XP yang berteriak mengaduh menahan nyeri akibat pukulan yang mengenainya.
Ceceran darah dari bekas sayatan, tampak terus menetes terinjak-injak puluhan kaki yang tengah bergulat.
Bisa dibayangkan, betapa pertarungan antara dua geng motor brutal malam itu mengubah kesunyian menjadi keributan.
Tak terhitung, berkali-kali terdengar suara bentrokan senjata tajam dari masing-masing prajurit kedua geng motor besar di kota metro politan itu.
Di tengah pertarungan, mendadak telinga Hendrik mendenging.
Terdengar teriakan yang lantang, “Hei, makhluk dungu! Lihatlah ke mari. Jika kau berhasil mengalahkan anak buahku, aku akan mmemberimu hadiah special ini untukmu. Tapi, jika kamu yang roboh, maka aku yang berhak menidurinya mala mini! Hahahaha”
Semua orang yang sedang terlibat pertarungan tanpa terkecuali Hendrik, langsung menoleh kea rah teriakan.
Hendrik yang bisa melihat dengan jelas wajah Rihana, merasa kaget dan heran.
“Benarkah itu Rihana?” Gumam batinnya.
Cahaya rembulan yang menyinari jalanan, menambah jelas sosok Rihana di mata Hendrik.
“Cantik bukan?” Liyan bertanya ketika dilihatnya Hendrik malah bengong dan terdiam.
Ayoooooook penasaran tidak?
Baca lagi ya efisod selanjutnya…..😁
__ADS_1
Terimakasih atas kesetiaannya membaca kisah ini.
Semoga bisa menghibur……😊🙏