
Hembusan nafas Rihana semakin kencang, meniup leher herdi. Menambah liar gejolak sahwat dalam dirinya. Tangan Herdi mulai berani berkelana menyusuri setiap inci tubuh Rihana. Rihana yang merasakan sentuhan biadab Herdi, semakin tak berdaya dalam lautan nafsu birahi.
******* dan suara parau Rihana, seumpama daun pisang yang melambai, mengundang burung merpati hinggap padanya.
Rihana benar-benar tak sanggup mengendalikan pengaruh obat perangsang itu. Rasa malunya sudah terbang entah ke mana.
Perlahan, Herdi mulai melepas satu persatu pakaiannya. Hingga menyisakan ********** saja. Kulitnya yang terlihat agak keriput, tapi sebaliknya bagi Rihana, tampak gagah dan atletis. Padahal berbanding terbalik. Badan Herdi yang kurus kerontang, matanya yang menjorok ke dalam, serta tulang alis jelas menonjol, cukup untuk sekedar menarik kesimpulan, bahwa Herdi itu laki-laki yang sudah dimakan usia.
Rihana malah menatap ayah tirinya dengan tatapan sayu, dan..."cup"
Sebuah ciuman mendarat di bibir Herdi. Pria durjana itu pun membalasnya lebih agresip. Ia membuat tanda bibir hampir di semua bagian tubuh Rihana yang sudah terbaring di pangkuan Herdi.
__ADS_1
Rihana semakin terlena, seperti melayang dan menari di atas pelangi. Rasanya indah, nikmat, dan bahagia. Terlebih itu pengalaman pertamanya soal bercinta.
Tidak ragu lagi, Herdi menggendong Rihana dan membaringkannya di atas ranjang. Ciuman keduanya tidak lepas, saling membelitkan lidahnya di dalam sana. Rihana memejamkan matanya saat tubuhnya dibaringkan, terlentang di peraduan.Pasrah terhadap apa yang akan dia alami.
Kini Herdi sudah tak mengenakan pakaiannya sama sekali. Betul-betul telanjang, seperti mau mandi saja. Tangan Rihana terus memegangi lengan Herdi, seolah takut Herdi meninggalkannya.
Herdi merangkul erat tubuh langsing, gempal, berisi milik Rihana setelah menindih diatasnya. Rihana pun tak kalah agresif, menerjang Herdi dengan jurus-jurus mesra level 17 tahun ke atas..
"aahh..." Jerit Rihana sewaktu merasakan ada sesuatu memaksa menerobos di bawah sana. Rasanya sangat sakit. Tapi Herdi tidak menghentikan aksi bejatnya. Nafasnya bertambah sengal, sambil push up maju mundur.
"jelederrr..." Suara petir diikuti cahaya kilat menghantam hamparan bumi yang menjadi saksi takdir buruk yang menimpa Rihana, gadis sebatang kara itu.
__ADS_1
Bersusul guyuran hujan yang langsung deras membasahi tanah yang membentang dari ujung kota itu, hingga ke bagian lain alam persada ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa.
Turut menangis pilu, kecewa, berontak, seakan menyesal terhadap adegan asusila di bawah atap rumah di kamar itu.
Semesta pun menunduk sedih dengan goresan tinta pena yang mengukir nasib Rihana saat itu.
90 menit, pergulatan panas yang terlarang itu mencapai *******. Herdi menghembuskan nafasnya kasar, sambil membantingkan tubuhnya di ranjang sebelah Rihana karena lemas, tenaganya terkuras habis bersamaan dengan semburan jutaan benihnya
Rihana tampak tertidur kelelahan. Bulir keringat masih tergenang di keningnya. Sedangkan hujan bertambah lebat. Malam kelam bagi Rihana, sehingga langit pun menangis sejadi-jadinya. Mahkota kewanitaan Rihana telah direnggut paksa oleh kebiadaban ayah tirinya sendiri.
Jika Rihana terbangun dan menyadari apa yang sudah terjadi pada dirinya, pasti ia akan sangat kecewa dan jiwanya tentu berontak..
__ADS_1