Rihana Gadis Taruhan

Rihana Gadis Taruhan
RGT006


__ADS_3

Cairan bensin yang entah Rihana dapatkan dari mana, disimbahkan pada jasad Herdi yang terbujur kaku. Cairan itu menimpa batang kayu api yang sedang menyulut bagian perut Herdi. Membuat si jago merah seketika membesar, dan melahap setiap inci kulit daging tubuh Herdi.


Rihana tertegun, menyaksikan kejadian tragis ulah tangan dan nafsu dendamnya. Lelehan air mata, menyusuri alur berkelok di wajah Rihana. Nafasnya terengah-engah seiring darah yang masih mendidih dalam dirinya.


Api semakin menyala-nyala, menyambar apa pun yang ada didekatnya. Ranjang yang terbuat dari bahan kayu itu pun, ikut menjadi korban amukan panas api yang merentet ke mana-mana.


"bruk..." Lutut Rihana yang menggeletar, tak mampu lagi menyangga jiwa gadis belia itu untuk berdiri. Seiring hatinya yang hancur, tubuh Rihana melorot ambruk. Antara marah, kecewa, sedih, menyesal, bergulung menjadi satu dalam dadanya.


"Tuhan..., di manakah Engkau... mengapa pertolongan-Mu tidak datang, disaat aku sangat membutuhkannya. Bahkan..., Engkau begitu tega tak mau mendengar doaku, dan membiarkan kehidupanku hancur. Mulai detik ini, aku bersumpah demi api yang berkobar meluluhlantakan kamar ini, tidak akan percaya lagi dengan-Mu Tuhan...! hiks hiks hiks..."

__ADS_1


Rihana berteriak dan menangis, bercampur gemuruh api yang sudah melahap seperempat kamar saat itu. Rihana pun berdiri, dengan wajah merah padam ia beranjak meninggalkan rumah yang menjadi kenangan masa kecilnya bersama Papa dan Ibunya.


Rihana semakin menjauh, tak tahu pasti ke mana arah yang hendak dituju. Sekedar mengikuti langkah kakinya menyusuri hamparan tanah yang membisu.


Asap yang mengepul, membumbung tinggi menembus atap rumah peninggalan orang tua Rihana, berbaur dengan aroma daging yang terbakar, menyeruak ke seluruh penjuru kompleks. Apa lagi letak rumah yang terbilang mewah itu, berada di tengah kompleks dikelilingi puluhan rumah lain.


"Kebakaraaan...! kebakaraaan...!" Seru Darto sambil berlari mengambil seember air dari dalam roda, yang ia bawa untuk mencuci mangkok.


Serentak, warga kompleks yang mendengar teriakan Darto, hampir bersamaan keluar dari rumah mereka masing-masing. Di antaranya ada yang langsung menimpali, ikut berteriak, karena matanya pun menangkap asap yang mengepul dari atap rumah Rihana yang terbawa angin.

__ADS_1


Sekejap, suasana kompleks menjadi riuh. Seorang nenek yang sedang menggendong cucunya pun tiba-tiba menurunkan cucunya, kemudian melompat-lompat sambil mengangkat kain sampingnya ke atas, berteriak-teriak saking paniknya. Tidak bisa dimengerti ucapan apa yang diteriakinya itu. Sekali-kali, terlihat badan nenek itu bergidig seperti berusaha menahan buang air kecil yang memaksa untuk dikeluarkan.


Warga yang baru keluar rumah pun saling bertanya satu dengan yang lainnya. Sebagiannya, sudah sibuk memadamkan api dengan air yang mereka ambil dari rumahnya atau dari mesjid kompleks. Tampak juga dua unit mobil pemadam kebakaran yang langsung terjun ke medan tempur. Sejumlah personil kepolisian pun sibuk mengamankan situasi. Rupanya sudah ada warga yang melapor kepada pihak berwajib mengenai kebakaran itu.


Kurang lebih 2 jam kemudian, api berhasil dipadamkan. Seorang petugas pemadam kebakaran muncul, setelah tadi menerobos masuk rumah, di sela kobaran api menggunakan baju anti api.


Ia segera menghadap kepala kepolisian yang bertugas menyelidiki kasus kebakaran itu.


*******

__ADS_1


__ADS_2