
Jika boleh jujur, Herdi tak pernah mencintai Cynthia ibunya Rihana. Pernikahannya dengan Cynthia adalah batu loncatan agar bisa lebih dekat dengan Rihana.
Kecantikan Rihana ba' bidadari, mampu memikat hati setiap laki-laki yang memandangnya.
Tidak terkecuali Herdi, pria hidung belang yang tak akan tahan bila melihat wanita cantik dengan postur tubuh yang langsing dan seksi.
sedari kecil, Rihana sudah terlihat memiliki paras yang ayu, manis dan cantik. Berani bertaruh jika disandingkan dengan bidadari dari kaiyangan, kecantikannya dijamin tidak akan terkalahkan.
Contohnya, walaupun saat itu beberapa bagian tubuh dan wajah Rihana dipenuhi memar, namun tetap raut kecantikannya masih tampak jelas.
Rihana yang memang merasakan haus, tanpa banyak pikir dan tanpa menaruh curiga sedikit pun, tangannya menyambut uluran gelas berisi air bening itu dari tangan Herdi.
Rihana meminumnya hingga tandas, tak tersisa walau setetes.
Herdi tak berkedip, terus mengawasi Rihana sambil senyum iblisnya lebih mengembang.
"Akankah malam ini menjadi waktu yang istimewa bagiku untuk menghisap manis madu tubuhnya...?" Ucap Herdi dalam hati, semakin tak sabar ingin segera melampiaskan hasratnya kepada gadis di bawah umur itu.
__ADS_1
"Alhamdulillaah..., terimakasih Ayah, sepertinya Hana sedikit membaik setelah meminum air ini. Nyeri dan ngilu yang sejak tadi terasa, berangsur pulih." Rihana melemparkan senyum manisnya pada Herdi.
Rihana gadis yang baik, sudah menanggalkan kecurigaan kepada ayah tirinya. Sebab Rihana gadis polos itu merasa yakin bahwa ayah tirinya sangat menyesali perbuatan kasarnya selama ini. Tampak dari gestur dan tutur katanya yang berubah.
"deg..."
Ada perasaan dag dig dug saat Herdi melihhat bibir mungil nan merah muda Rihana. Jika tidak ingat ia sedang bersandiwara, mungkin sudah Herdi terkam bibir ranum itu.
Setelah menunggu beberapa saat, obat perangsang mulai bereaksi.
"Ayah, Hana mau dibaju dulu. Boleh Ayah keluar kamar dulu sebentar..." Pinta Rihana.
Herdi hanya mengangguk lemah, menuruti permintaan Rihana. Ia pun melangkah keluar.
Lima menit kemudian, ketika Rihana hendak membuka lemari pakaian, ia merasakan sesuatu yang aneh dengan kondisi tubuhnya.
Mendadak terasa panas dan gerah. Kepalanya berdenyut, pandangannya pun berkunang-kunang. Padahal Rihana belum sempat mengenakan pakaian gantinya.
__ADS_1
"Ada apa ini..... hmm... haruskah aku memanggil Ayah..." Batin Rihana yang juga merasakan gelisah, takut bila sendirian.
Namun, hawa panas di dalam tubuh Rihana semakin menjadi-jadi.
*ehhhh..... Aya... sini, jangan tinggalkan Rihana sendirian..." Perkataan itu begitu saja meluncur dari bibir Rihana.
Herdi yang mengintip dari celah kecil jendela kamar, tentu mengetahui apa yang tengah terjadi pada Rihana.
Perasaan Rihana kian tak terkendali. Pengaruh obat perangsang yang ia minum tanpa sadar.
"Sip... ini saatnya aku berbuat..." Senyuman Herdi melebar, jantungnya sudah berdetak tak beraturan. Membayangkan pusaka kejantanannya menari-nari di taman syurga.
"Ada apa Nak, apa yang telah terjadi dengan putri Ayah ini...?" Tanya Herdi pura-pura histeris. Padahal, ada yang sudah tidak mau diam ingin segera keluar dari sangkarnya.
"Aayyaah..." Rihana malah menggelayut manja di dada bidang Herdi, yang kini berada tepat di hadapan Rihana dengan posisi berjongkok.
Suara ******* Rihana, lirih perkataannya, dan sayu sorot tatapannya, meporak porandakan benteng kelaki-lakian Herdi. Terlebih, kulit mulus Rihana yang belum sempat mengenakan pakaian, langsung bersentuhan dengan permukaan kulit tangan Herdi.
__ADS_1
Sungguh rasanya lain, bisa merangkul wanita yang diinginkannya. Sangat indah dan nikmat. Meski hal itu bukan kali pertama baginya.