Rihana Gadis Taruhan

Rihana Gadis Taruhan
RGT032


__ADS_3

Takdir memang terasa kejam. /terutama bagi Hendrik saat itu.


Kenyataan yang sulit diterima, kaki kanannya mati, tak sedikit pun bisa digerakan.


“aaaaart! Sialaaaaan!” Teriak Hendrik.


“dug, dug, dug!” Kepala Hendrik berkali-kali dibenturkan pada jeruji besi penjara.


Darah pun mulai menetes di sela-sela permukaan kepalanya, membasahi rambut hitamnya.


“Aku sudah tidak punya lagi harapan hidup!” Teriak Hendrik lagi, dengan tak henti membenturkan kepalanya itu.


“bruk!” Hendrik pun tergeletak tak sadarkan diri. Sepertinya tak sanggup menanggung beban nasib diri menjadi seorang tuna daksa.


“tak tok, tak tok….” Dari kejauhan terdengar suara langkah seseorang semakin mendekat pada sel tempat Hendrik dikurung.


“hahahaha, begini sekarang keadaanmu hah! Manusia tak tahu diri! Beginilah akibatnya jika engkau berani bermain-main dengan Kuncoro! Hahahaha”


Rupanya, laki-laki yang kini berada di hadapan jeruji sel Hendrik adalah Polisi Kunkun, dengan tatapan sinisnya kea rah Hendrik.


“heh dengar ya, meski Rihana gagal ditangkap oleh anak buahku, tapi aku tidak akan berhenti untuk mendapatkannya. Apa lagi aku sudah tahu di mana Rihana berada sekarang. Hahahaha, malang benar nasibmu Hendrik!” Ucap Polisi Kunkun dengan senyum iblisnya mengembang di antara kumis baplang dan janggut yang terurai mirip janggut kambing.


………….


Malam kian larut. Suasana sangat sepi di rumah tahanan itu. Hanya sesekali terdengar sayup suara dengkurang sebagian penghuni penjara yang terlelap dalam mimpinya. Berselang dengan suara langkah sepatu seorang petugas Lapas yang berjaga, berkeliling ruangan memmastikan keamanan di ruang tahanan itu.


Lain hal dengan seorang laki-laki berperawakan tegap dan tampan, ia duduk terpekur di balik jeruji besi di sudut rumah tahanan itu.


“Aku harus berbuat sesuatu…: Gumam Josep.


Sudah beberapa hari lamanya, Josep maupun Hendrik menjadi penduduk rumah tahanan.


Tatapan Josep menyapu ke seluruh dinding sel yang kokoh. Sesekali pandangannya menyisir bagian bawah dinding penjara. Namun selang berikutnya, ia melihat ke atap penjara. Seperti yang menditeksi adakah celah untuk dijadikan jalan kabur olehnya.


Semenjak kecil, Josep memang terkenal jago memanjat. Hingga kebiasaan Josep waktu usia anak-anak, suka memanjat rumah orang. Tiba-tiba ia sudah berada di atap rumah.


Padahal Josep tidak menggunakan tambang atau tali semisalnya.


Entahlah, Josep mempunyai kemampuan memanjat dinding, meski permukaan dinding itu rata.


“ah itu dia!” Josep tersenyum sambil menunjuk bagian atap penjuru ruangan.

__ADS_1


Tampak sebuah lubang dengan diameter 35, menganga seperti melambai pada Josep.


“Ternyata ada juga celah di penjara ini!” Batin Josep.


….


Di tempat lain,


Rihana yang sudah tersadar dari pingsannya, menggilirkan pandangannya ke sekitar tempatnya berada.


Rihana terbaring di atas tumpukan jerami, di sebuah ruangan remang-remang. Di sekelilingnya dipenuhi dengan baru-batu lancip sebesar kepalan tangan orang dewasa. Dinding ruangan itu pun tersusun dari batu-batuan yang berlumut. Angin lumayan berhembus menerpa tubuhnya.


“Di mana aku sekarang….?” Lirih Rihana.


Tepat di sampingnya, sejumlah buah-buahan beraneka macam, menumpuk tergeletak begitu saja.


“Buah-buahan…..? siapa yang telah menyimpan semua ini? Untuk siapa juga buah-buahan itu? Lalu siapa juga yang melakukannya?” Banyak pertanyaan dan kepenasaran Rihana berkecamuk dalam benaknya.


“Hauuuus!” Gumamnya pelan.


Rihana mencoba bangkit dari pembaringannya.


Terlihat juga oleh Rihana, sebuah batok kelapa berisi air bening. Rihana menggelengkan kepalanya, seakan tak percaya dengan apa yang dialaminya saat ini.


Sekejap, air dalam batok sudah berpindah mengalir membasahi tenggorokan Rihana yang kering.


“ah sedikit lega…..” Rihana membuang nafasnya.


Tubuhnya bersandar pada dinding menonjol di ruangan itu.


“Mirip gua tempat ini…..” Pandangan Rihana tak henti menyelisik ke setiap sudut ruangan asing itu.


“Lapar…..” Rihana pun memberanikan diri mulai mengambil satu buah yang tergeletak sembarang itu.


“Ah, enak juga, terasa kembali segar……” Ucap Rihana.


Wajah Rihana kembali terlihat sedikit bercahaya lagi. Sedikit demi sedikit tenaganya mulai kembali.


“Tubuhku gerah, sepertinya sudah siang…..” Rihana mencoba melangkah mencari jalan keluar dari ruangan itu.


Alangkah terkejutnya Rihana. Sekeliling tempat berdiamnya tadi, banyak pepohonan menjulang tinggi dengan daunnya yang sangat rindang. Menghalangi cahaya matahari masuk. Pantas saja cuacanya sangat adem dan dingin.

__ADS_1


Rihana pun menoleh ke tempat tadi ia keluar.


Betapa Rihana terkejut, dilihatnya sebuah mulut gua menganga di balik punggungnya.


“Ini berarti, aku tinggal di gua….!” Wajah Rihana menjadi pucat.


Semakin penuh tanda tanya dalam hatinya. Mengapa bisa terjadi semua ini. Rihana mencoba mengingat kejadian yang dialaminya terakhir kali.


“wuk wuk wuk!”


Suara Gorila besar membuat Rihana terhenyak. Lamunannya seketika buyar.


“Si si siapa kau…!” Rihana mundur beberapa langkah.


Tubuhnya bergetar, ketakutannya memuncak, melihat seekor Gorila besar di hadapannya, dengan mulut yang menyeringai dan tangan yang melambai-lambai tak mau diam.


“wuk wuk wuk!” Lagi-lagi Gorila itu berseru, seolah ia mengatakan jangan takut Nona.


Bola mata sang Gorila pun tidak menunjukan tatapan musuh. Malah sebaliknya, pandangan Gorila seperti tatapan penuh persahabatan.


Namun tetap saja. Bagi Rihana Gorila itu ancaman terhadap keselamatannya.


“wuk wuk wuk!” Seakan mengerti bahwa Rihana masih takut kepada dirinya, Gorila itu melompat ke dahan-dahan pohon dan pergi menjauh.


“Ah, apa lagi ini? Bagaimana caranya aku bisa keluar dari tempat ini….. Rupanya aku sekarang berada di sebuah hutan.” Rihana termenung.


Dengan langkah yang lemas, Rihana menghampiri sebuah pohon besar dan terduduk di atas akarnya yang merambat membelah tanah.


Oe “Iya, aku mulai teringat. Semalam aku berlari dikejar para personil kepolisian. Dan aku tak tahu bahwa aku memasuki kawasan hutan ini. Tapi paling tidak, aku masih besyukur bisa selamat dari kejaran mereka. Namun bagaimana dengan nasib Tuan Hendrik…..?”


Raut muka Rihana menjadi muram. Wajah Hendrik membayang di kelopak matanya.


Saat itu Hendrik bersimbah darah, buah perbuatan Polisi Kunkun yang memerintahkan anak buahnya menembak Hendrik.


“Mungkin Tuan Hendrik bisa ditangkap oleh mereka……” Rihana membuang nafasnya kasar.


…….


Cukup dulu ya efisod kali ini…..


Tapi jangan lupa ya Guys untuk kembali membaca kelanjutannya……☺️

__ADS_1


Boleh kok silaturahminya di kolom komentar…..😊


Sampai ketemu di efisod berikutnya ya…..😁


__ADS_2