Rihana Gadis Taruhan

Rihana Gadis Taruhan
RGT002


__ADS_3

Minuman yang sudah tercampur dengan pil perangsang itu, baru akan diberikan oleh Herdi ketika sang putri cantik sudah tersadar dari pingsannya


Tatapan jalangnya tak henti-henti menyelisik setiap lekuk tubuh molek Gadis Remaja itu.


"Benar-benar cantik. Apa lagi dadanya sangat montok. Meski usianya masih remaja. Membuat aku semakin tak tahan."/Herdi melihat gadis itu dengan tatapan jalangnya.


Sudah tidak lagi menganggap anaknya, atau sebagai anak perempuan yang harus ia lindungi.


Nafsu binatangnya membuat Herdi gelap mata.


Tak peduli lagi siapa yang ada di hadapannya.


Baginya, yang lebih penting adalah ketika nafsu bejatnya bisa disalurkan.


Terlebih, sepeninggal Cynthia istrinya, Herdi belum kembali memiliki pasangan.


Sekian lamanya, kebutuhan biologisnya tak terpenuhi.


Pantas, ketika melihat Rihana gadis yang sangat cantik itu, seperti seekor kucing yang melihat ikan di depannya.


Sahwatnya semakin menggebu-gebu.


Di sekitar rumah itu, tak ada seorang pun yang lewat, sungguh sangat sepi.


Sehingga aksi kejinya tak mungkin seorang pun mengetahuinya.


Sesaat kemudian, tubuh Rihana terusik dan menggeliat.


Manik matanya dengan bulu lentik, menyisir ke setiap penjuru kamar.

__ADS_1


Keningnya mengkerut, mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi.


Seluruh tulang sendinya terasa sakit dan ngilu.


Namun, Rihana terhenyak, ketika pandanganya beradu dengan sorot mata laki-laki hidung belang, yang tak lain adalah ayah tirinya.


Tubuhnya bergeletar, beberapa luka memar masih tampak di sevagian tubuhnya. Rihana pun teringat lagi dengan penyiksaan ayah tirinya itu padanya.


"Jangan..., aku mohon Ayah, jangan sentuh tubuhku..."


Rihana memelas dengan suaranya yang terputus-putus.


Ia mencoba bangkit dari pembaringannya, dan menyingkapkan kain sarung yang menutupi tubuhnya.


Tapi...


"aaarg!"


Baju dasternya sudah tergeletak sembarang, di lantai dekat pintu kamar.


Sobekan pada dasternya, menandakan pakaian Rihana dibuka secara paksa.


Hati Rihana semakin hancur. Tak sangup membayangkan apa yang telah ayah tirinya lakukan pada dirinya.


Kepalanya tertunduk dalam, seiring bulir air mata menggenang di wajahnya.


Gadis cantik berusia 15 tahun itu, hanya bisa meratapi nasib ketirnya.


Jalan terakhir, mungkin Rihana memohon dengan pasrah, kepada Tuhan yang Maha kuasa.

__ADS_1


Seperti yang diajarkan oleh mendiang ibunya sewaktu Rihana kecil.


Ibunya sering bilang, bahhwa ketika kita mengalami peristiwa pahit yang kita tidak mampu melawan atau merubahnya, maka berdoalah kepada Tuhan untuk mendapatkan perlindungan dan pertolongan.


Itulah nasihat ibunya, yang coba Rihana lakukan saat itu.


"Semoga Tuhan mendengar rintihanku..." Begitulah harapan terakhir Rihana akan datangnya sebuah keajaiban dari langit.


Dan benar saja...


Herdi tidak menunjukan lagi sikap garangnya seperti semula.


Tutur katanya pun sangat lembut dengan senyuman dan wajahnya yang hangat penuh persahabatan.


Rihana pun melongok, tidak percaya dengan perubahan yang terjadi secepat itu.


Langkah Herdi mendekat.


"Hana, ayah minta maaf atas petrlakuan kasar ayah tadi. Tak semestinya itu ayah lakukan kepada putri cantik, yang sebenarnya ayah sayangi ini."


Tangan Herdi mengelus punggung Rihana.


rihana merasakan kehangatan telapak tangan Herdi yang mengusap lembut punggungnya.


Entah mengapa, Rihana merasa tenang dan nyaman dengan sentuhan itu.


"Mungkinkah ini adalah keajaiban sebagai jawaban Tuhan terhadap rintihan Doaku..." Batin Rihana menerka-nerka dengan perasaannya.


"Sungguh ayah menyesal nak, telah tega melukaimu. Baiklah..., pasti kamu haus bukan, ayah sudah siapkan segelas air putih. Semoga dengan meminumnya, putri ayah ini akan kembali segar." Ucap Herdi sambil menyodorkan minuman itu.

__ADS_1


Tapi ada yang aneh, seiring dengan tangan Herdi yang mengusap punggung Rihana, ada yang bereaksi menegamg di bawah sana.


__ADS_2