
Rihana memandangi Mbok Darmi yang meminum air jeruk itu hingga tandas. Saking ingin mengusir rasa takut dan trauma pada diri Rihana. Memang, Mbok Darmi orang yang baik, rela menjadi kelinci percobaan untuk membuktikan bahwa minuman itu aman. Sehingga Rihana tidak perlu khawatir.
"Betul kan Nona, tidak terjadi apa pun pada diri si Mbok. Soalnya minuman ini si Mbok yang bikinnya, Nona. Nah sekarang tunggu sebentar ya Cah Ayu, si Mbok buatin minuman yang baru." Ucap Nbok Darmi penuh percaya diri.
"Oh iya Mbok..." Jawab Rihana lirih.
Kita tinggalkan dulu Rihana yang sedang menunggu Mbok Darmi selesai meracik jeruk Sunkist menjadi minuman yang menyegarkan.
Di ruangan lain, tapak Polisi Kunkun alias Kuncoro Diningrat, tengah berbincang dengan Jono seorang nara pidana pria yang sengaja ia undang ke ruang kerjanya.
"Kamu paham kan apa yang harus kamu lakukan?" Polisi Kunkun menatap Jono tajam.
"Jangan khawatir Tuan, asal janji Tuan benar-benar dibuktikan. Ya, membebaskan aku tanpa syarat dari penjara ini." Jono membalas tatapan Polisi Kunkun sambil memasang wajah garangnya.
__ADS_1
"Hahaha baiklah, baiklah, aku akan mengabulkannya untukmu. Sepertinya gadis itu sekarang sudah meminum air jeruk itu. Pastinya dia akan segera merasakan reaksinya kurang lebih setengah jam kemudian. Kamu harus tahu, bahwa gula pasir yang berada di dapur ruangan khusus itu, sudah kucampur dengan serbuk perangsang birahi. Jadi Mbok Darmi tidak akan menaruh curiga terhadap gula yang ia bubuhkan pada air jeruk bikinannya."
"Memang Tuan, Polisi yang hebat dan licik... hahaha. Eh, dan cerdas maksudku..."
"Kurang ajar, kamu berani mengatakan licik kepadaku!" Polisi Kunkun mengepalkan tinjunya.
"Ti ti tidak Tuan, bukan bermaksud begitu..." Jono tertunduk takut.
"Sekarang sudah waktunya kamu mendatangi ruangan khusus itu." Perintah Polisi Kunkun tegas.
"Saat Jono memaksa putri cantik itu untuk melayaninya, barulah aku muncul, seolah-olah aku yang telah menyelamatkannya dari terkaman harimau lapar itu. Dengan begitu, Rihana akan menganggap aku sebagai pahlawan. Sehingga ia merasa punya hutang budi kepadaku. Hahaha..." Gerutu batin Polisi Kunkun.
Sedangkan di ruang khusus rumah tahanan itu, Rihana merasakan ada sesuatu yang ingin dikeluarkannya di bawah sana. Terlebih perutnya yang terasa mulas, tidak bisa dirayu untuk diabaikan. Rihana pun bergegas berlari menuju kamar mandi di sudut ruangan.
__ADS_1
Mbok Darmi yang berada di dapur, merasakan ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Keringat tampak membasahi keningnya, nafasnya terdengar engos-engosan seperti sudah berlari jauh.
"Kenapa terasa gerah begini ya..." Gumam Mbok Darmi, menganbil kipas dan menggerakannya membuat gulungan angin kecil menerpa tubuhnya.
Air jeruk yang sudah tertuang di gelas, kembali ia teguk untuk sedikit mengusir dahaganya yang tiba-tiba saja datang dan semakin menjadi-jadi.
"Biar Cah Ayu aku bikinkan yang baru saja. Kok gerah begini ya, tidak biasanya aku merasakan begini. Kepalaku pun mulai pusing, pandanganku berkunang-kunang. Aku harus bertahan, kalau tidak ingin Tuan murka. Aku harus tetap bisa melayani Nona Rihana, sebagaimana yang telah diperintahkan Tuan kepadaku." Ucap Mbok Darmi mengusap wajahnya kasar.
Meski sempoyongan, Mbok Darmi memaksakan diri melangkah kembali ke ruangan semula, dengan segelas air jeruk terbaru yang ia buat.
"Tok, tok, tok"
Saat Mbok Darmi menyimpan segelas air jeruk itu di atas bupet, terdengar gaun pintu diketuk dari luar. Sedangkan Rihana masih berada di dalam kamar mandi.
__ADS_1
*******