Rihana Gadis Taruhan

Rihana Gadis Taruhan
RGT031


__ADS_3

Karena banyaknya darah yang terus keluar dari pangkal pahanya, kondisi tubuh Hendrik pun melemah drastis. Akhirnnya Hendrik terkulai tak sadarkan diri.


Polisi Kunkun memerintahkan anak buahnya untuk mengikatkan tali pada sepasang kaki Hendrik, lalu tubuh Hendrik ditarik paksa seolah hewan buruan yang berhasil dilumpuhkan.


“sreg”


Kulit di beberaapa bagian tubuh Hendrik terkelupas tergesek kasarnya permukaan tanah.


Pakaian yang dikenakannya pun robek compang-camping tak karuan.


Namun Hendrik hanya terdiam di bawah alam sadarnya.


Begitu pula denga Josep.


Setelah mati-matian membela diri dan melawa sekuat tenaga, akhirnya takdir berkata lain. Para anggota kepolisian yag mengepungnya berhasil menyergap, kemudian menangkapnya.


Sesampainya di rumah tahanan, Polisi Kunkun langsung menjebloskan Hendrik ke ruang tahanan bawah tanah yang pengap dan banyak binatang nocturnal.


Polisi Kunkun sengaja membiarkan Hendrik dalam kondisi terluka parah. Tak sedikit pun diberikan pertolongan medis.


Keadaan yang sangat mengenaskan dialami Hendrik, juga Rihana yang entah bagaimana nasibnya sekarang.


Josep pun mengalami nasib yang sama, meski sedikit beruntung. Josep ditempatkan di sel pojokan rumah tahanan.


Meski bau dann pengap, tapi sel tempat kurungan bagi Josep masih terbilang sedikit layak. Tempatnya tidak terlalu sulit dijanngkau, dan tidak terlalu lembab juga.


Hampir setiap hari, datang dua atau tiga orang laki-laki bertato, perawakan tinggi besar, otot-ototnya menonjol seperti olahragawan, memasuki ruang sel bawah tannah, di mana Hendrik dikurung, lalu berkali-kali menghajar dan menendangi Hendrik dengan brutal.


Seakan berdarah dingin, laki-laki itu terus menghujani Hendrik dengan kejam. Walaupun tahu, Hedrik dalam keadaan tak sadarkan diri.


…………………


Di tempat lain.


Rihana yang terus berlari, sangat menyulitkan anggota kepolisian yang mengejarnya.


Nafas yang hampir habis, terasa semakin sesak di dada, Rihana tak mempunyai pilihan lain kecuali terus berlari.


Terseok-seok, jatuh dan banngkit lagi. Begitulah Rihana saat itu.


Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara kokok ayam jantan. Rupanya waktu telah beranjak subuh.


Keadaan masih gelap. Rihana sedikit mengurangi kecepatan larinya. Ditatapnya, jalanan yang dilalui Rihana semakin terjal dan penuh dengan jerami. /terlihat pula akar-akar yang menjalar merambat membelah tanah.


Memang tidak terdengar derap lari orang-orang yang mengejarnya.


Rihana pun berhenti dan duduk bersandar di bbatang sebuah pohon yang tinggi menjulang.


Kepalanya terasa berat, perutnya sejak tadi berdisko meminta jatah. Tubuhnya kini terasa sangat lemah. Pandangannya lambat laun menjadi buram. Apa yang Rihana dengar pun semakin lama terdengar semakin menjauh dan mengecil.


“bruk”


Rihana pun jatuh terkulai tak sadarkan diri.


……..

__ADS_1


Tak lama kemudian, “drug drug drug” Suara lari sejumlah orang menggunakan sepatu but kian menndekati Rihana.


“Itu dia!” Seorang anggota kepolisian mnjulurkan telunjuknya kea rah Rihana yang sedang tersungkur.


“hahahaha, akhirnya….. ayok tangkap dia!” Ucap anggota kepolisian yang lain.


Dalam waktu yang singkat, Rihana yang terkulai itu pun sudah dikelilingi oleh para anggota kepolisian.


Namun,


“wuk wuk wuk!”


Entah dari mana asalnya, seekor Gorila muncul di balik rerimbunan.


“dreg!”


Sepasang kaki sang Gorila menapak di atas tanah, menghadang para anggota kepolisian sambil menngerucutkan mulutnya, dan tak berhenti bersuara.


“wuk wuk wuk!” Kini tangan sang Gorila pun seolah memberi ancaman dengan menggerakan cakarnya di udara.


Para anggota kepolisian itu pun saling menatap satu dengan yang lainnya.


Bingung, bagaimana menghadapi kenyataan seperti itu.


Seorang dari anggota kepolisian memberanikan diri melangkah maju.


“Jangan halanngi kami. Kami hannya sekedar melaksanakan tugas dari pimpinan kami.” Ucap Anggota kepolisian itu sedikit ragu.


Namun, Gorila dengan perawakan yang besar di hadapannya, tak bergeming sedikit pun.


Anggota kepolisian yang maju itu melirik ke belakang, menoleh kepada temann-temannnya.


“/tembaaaaaak!” Serunya memberi komando.


“dor dor dor!”


Sekejap keadaan tanah asing itu pun menjadi gaduh dengan suara peluruh yang melesat dari pistol-pistolpara anggota kepolisian.


“wuk wuk wuk!” . Sang Gorila melompat-lompat dengan sangat lincahnya, menghindari hujan peluruh.


“wus wus…..” Peluruh hanya menyisir angin.


Gerakan yang cepat dan lincah, Gorila membalas serangan-serangan tembakan para anggota kepolisian itu dengan membagikan cakarannya ke setiap anggota kepolisian.


Aaaart!” Jerit mereka.


Di antaranyaada yang langsung merungkup matanya dengan telapak tangan. Terlihat darah menetes di sela-sela sudut matanya.


Sedangkan yang lain, ada juga yang mengusap pipinya karena basah dengan darah yang keluar dari luka bekas cakaran sang Gorila.


Mau tidak mau, para angota kepolisian itu memilih mundur.


Tanpa dikomando, serentak semua anggota kepolisian itu lari tunggang langgang meninggalkan tanah yang aneh itu.


Setelah tak Nampak satu pun manusia di hadapannya, “wuk wuk wuk” Sang Gorila besar mendekati Rihana.

__ADS_1


“set”


Tubuh Rihana langsung diangkat dan dibawanya pergi.


………


Di balik jeruji besi, Hendrik akhirnya tersadar.


Bola matanya menyapu setiap sudut ruangan.


“uhuk uhuk….. di mana aku sekarang….?” Gumam Hendrik.


Darah di pangkal pahanya sudah tidak lagi mengalir.


“Rasanya tenggorokanku kering. Aku membutuhkan air minum…..” Hendrik berusaha bangkit dari pembaringannya.


Tiga hari lamanya, Hendrik terkulai tak sadarkan diri. Untung saja ia memiliki daya tahan tubuh yang lumayan kuat. Jika tidak, mungkin sudah sejak kemarin Hendrik meregang nyawa karena banyak kehilangan darah.


“aaaah! Tubuhku rasanya remuk dan lemas….” Hendrik kembali terjatuh.


Suasana yang sepi dan remang-remang, tak a da pencahayaan yang cukup, membuat Hendrik sedikit linglung.


“Ah, aku ingat……, pasti ini ulah si Kuncoro! Dasar bajingan dia!” Gerutu Hendrik dalam batinnya.


Hendrik sudah mulai teringat dengan kejadian terakhir sebelum akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri.


“Rihana…..” Hendrik berseru.


Itulah yang Hendrik khawatirkan. Iya, menngenai nasib Rihana. Meski Hendrik belum mengenal pasti siapa Rihana sebenarnya, tapi Hendrik merasa yakin bahwa Rihana adalah perempuan yang sangat baik.


Hendrik pun mencoba bangkit kembali.


“aaaaaart!” Hendrik lagi-lagi terjatuh.


“Ada apa dengan kakiku ini!?” Hendrik meraba kaki kanannya.


Pangkal paha yang terkena peluruh pun adalah bagian kanan dari kakinya.


“Sialan, apa yang terjadi…..! Sungguh, aku tidak bisa menggerakan kaki kananku…..”


Hendrik mulai merasakan keanehan pada kaki kanannya. Hendrik mulai gelisah dan cemas. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kakinya itu.


“Iya…., tidak bisa kugerakan sedikit pun…….” Hendrik merunduk. Terlihat tetes demi tetes air mata berjatuhan.


“Hana…..” Ucap lirih Hendrik.


“aaaaaaaaart!” Hendrik menjambak rambutnya sendiri berulang-ulang.


“Aku tidak terima semua ini!” Hendrik menjerit sejadi-jadinya.


////////////


Waaaaah kasihan ya Hendrik Guys……😭


Nantikan ya efisod selanjutnya…..

__ADS_1


Terimakasih tetap setia membaca kisah ini…… Jangan lupa komentarnya yaa…..😙


__ADS_2