Rihana Gadis Taruhan

Rihana Gadis Taruhan
RGT005


__ADS_3

Mata hari menyembul di balik pegunungan. Cahayanya yang hangat, menerobos masuk di antara rimbunnya dedaunan. Menerpa wajah ayu nan polos Rihana yang masih tergolek di atas ranjang pagi itu. Berselang suara cuitan burung pipit yang mengejar sambil tak henti bersiul. Lainnya, ada yang terbang, ada pula yang hanya bertengger di salah satu batang pohon, berkumpul bersama anak-anaknya.


Cahaya sang surya yang menyentuh paras cantik Rihana, membuatnya sedikit menggeliat. Gorden jendela kamar yang tak tertutup rapat, cukup menjadi celah cahaya matahari masuk, ditambah angin pagi yang masih segar, terhirup melalui hidung Rihana, sehingga ia merasakan hawa yang berbeda pada tubuhnya.


"aahhh..., jam berapakah ini...? sepertinya sudah pagi..." Rihana perlahan mulai membukakan matanya, berkedip dan mengumpulkan kembali nyawa dan kesadarannya.


Namun, ketika Rihana membalikan badan, terlihat olehnya sosok laki-laki yang tak lain adalah Herdi ayah tirinya. Herdi berbaring tidur di sebelahnya, memungggungi Rihana. Herdi tertidur tak mengenakan baju. Bahkan berselimut pun tida.


"deg... terrrtr..." Hati Rihana bergetar, wajahnya memerah menahan amarah yang spontan bergemuruh dalam dadanya. Saat Rihana tersadar dengan keadaan tubuhnya, sama tidak mengenakan sehelai pun pakaian. Seluruh tulang sendinya pun terasa seperti remuk dan lemas tak bertenaga.


Rihana merasakan sakit di bagian intinya, dan yang membuat Rihana kaget, tampak bercak darah di beberapa ruas seprei. Kata Ibunya dulu, jika seorang perempuan menikah dan melakukan malam pertama dengan suaminya, biasanya dia akan merasakan kesakitan, kemudian keluar darah seperti luka. Itu pertanda dia masih gadis.

__ADS_1


Mendadak Rihana menjadi mual, amarahnya sudah tak terbendung lagi. Pandangannya menyisir ke seluruh penjuru kamar. Kemudian Rihana beranjak, melangkah mendekati meja rias.


"Ini dia..." Rihana menyeringai, wajahnya berubah menakutkan, sambil memegang kuat gunting rambut di tangannya.


Biasanya, Rihana suka berkaca dan sedikit merapikan rambutnya dengan gunting itu. Tapi, entah apa yang akan Rihana lakukan dengan gunting yang kini ia cengkram kuat.


Hawa amarahnya yang sudah naik sampai ke ubun-ubun, otomatis mendikte langkah Rihana kembali ke tempat peraduan. Herdi semakin mendengkur tak menyadari apa pun yang terjadi di sekitarnya. Hanya posisinya yang sedikit berubah, dari posisi meminggir menjadi terlentang.


Hingga Rihana melakukan tindakan kejam yang sebelumnya tak pernah terlintas sedikit pun dalam benaknya. Rihana gadis lugu, sekarang menjadi sangat beringas.


"bret ..." Dddengan sekali gunting, Herdi menjerit kesakitan yang luar biasa. Darah langsung mengalir deras membanjiri tempattidur.

__ADS_1


"aaarg... apa yang kamu lakukan Hana!?" Herdi yang terhenyak dan terbangun dari tidurnya, merungkup alat vitalnya yang hampir putus itu, dengan kedua tangannya.


Rihana tak menjawab sepatah kata pun, sorot matanya tajam menembus jantung Herdi penuh kebencian. Herdi mulai menyadari terhadap perubahan pada diri Rihana. Namun ketika Herdi mencoba bangkit,


"bret, tos, bruk!" Rihana berulang kali menghujani tubuh Herdi dengan hujaman gunting yang bertubi-tubi.


"aaaarg.. ..." Herdi mengerang kesakitan. Tak diberi kesempatan untuk melawan. Gnting itu menusuk perut, dada kiri, dan leher Herdi. Darah yang terus keluar, akhirnya membuat Herdi terkulai dengan lidah terjulur


Herdi meregang melepas nyawanya mengenaskan. Mati di tangan putri tirinya sendiri, setelah ia ruksak kesucian dan masa depan Rihana. Itu pun memetik hasil perbuatan kejinya.


Namun, Rihana seperti belum puas. Tidak berhenti sampai di situ, Rihana mengambil korek, mengesekannya, kemudian melemparkan korek yang xudah berapi itu pada jasafd Herdi.

__ADS_1


__ADS_2