
"Siapa yang berhasil menangkapku, maka dialah yang paling berhak menjadi pimpinan di kelompok ini." Ucap Rihana asal ceplos.
Semua orang terdiam, sibuk dengan penafsiran masing-masing. Hingga ...
"Pasti aku yang akan berhasil menangkapmu gadisku...!" Jeni berteriak, dan tangannya terbentang lebar siap menerkam sang buruan.
Seakan dikomando, yang lain pun saling menyusul hendak menangkap Rihana. Meski entah apa yang mereka pikirkan ketika sudah berhasil menyergap gadis belia itu. Paling tidak, ikut meramaikan suasana. Begitu mungkin jika diperkirakan.
Rihana pun bergerak cepat menghindari sekawanan perampok itu. Terkadang Rihana melompat, atau merangkak di antara kaki salah seorang wanita pasukan Jeni, demi keselamatannya.
"Aduuuuh...!!!"
Insiden pun terjadi, saat Wati dan Cika berrgerak dari arah yang berlawanan, Rihana segera menjatuhkan badannya dan berguling menjauhi medan tempur itu. Membuat Wati bertabrakan dengan Cika saling beradu kening.
"dug... bruk..."
Hampir bersamaan, Wati dan Cika berjatuhan dengan posisi badan Wati yang terlentang, dan Cika menindih di atasnya.
__ADS_1
"hahaha, wah, sungguh pemandangan yang indah..."
Rihana tertawa girang. Seperti menyaksikan serial komedi di layar lebar.
Suasana gaduh di ruang tahanan itu, termonitor oleh Polisi Kunkun yang sedang memeriksa berkas penting di meja kerjanya. Langsung kepala Lapas itu meninggalkan pekerjaannya, dan melangkah terburu-buru menuju ruang sel di mana Jeni dan kawan-kawan sedang sibuk menangkap Rihana.
"Hei, apa yang kalian lakukan...! membuat gaduh suasana saja tahu!" Pria paruh baya itu berseru, dengan sebuah pentungan yang diayunkan di tangannya
Polisi Kunkun berdiri gagah di depan jeruji penjara, sedangkan sepasang tangannya bertolak di pinggang ratanya..
Bola mata kepala Lapas itu pun mengintai ke seluruh penjuru ruang tahanan. Tak terkecuali para nara pidana di dalamnya, yang mendadak terdiam menunjukan ekspresi ketakutannya. Sebab, Polisi Kunkun terkenal Polisi yang sadis dan bengis. Jika ada nara pidana yang berlaku melanggar aturan atau membuat kekacauan, ia tak segan untuk memberikan hukuman berat. Misalnya, satu minggu menjadi pelayan bagi semua penghuni Lapas, juga harus memijiti seluruh badan para penghuni rumahtahanan itu.
Tatapan PolisiKunkun menepi pada sosok Rihana, seorang gadis remaja dengan postur dan kecantikan yang sempurna. Baru kali itu Polisi Kunknkun bisa memperhatikan Rihana lebih detil.
Sewaktu Rihana tiba di Lapas, ia hanya menandatangani berkas serah terima terdakwa yang sudah menerima putusan hukuman peradilan, menjadi seorang narapidana, tanpa bertemu terlebih dahulu dengan putri mirip bidadari itu.
"Kamu Rihana bukan...?!" Tanya Polisi Kunkun dengan mata yang tak berkedip sama sekali, seperti terpana dengan keindahan makhluk ciptaan Tuhan bernama Rihana itu.
__ADS_1
"Iya..." Rihana mengangguk lemah.
Polisi Kunkun berlalu dan tak lama kembali dengan segantung kunci di tangannya.
"ceklek..." Polisi Kunkun membuka rantai yang membelit kuat pintu besi ruang tahanan itu.
"Sini kamu..." Polisi Kunkun melambaikan tangannya ke arah Rihana.
Rihana menghampiri Polisi Kunkun tanpa menaruh curiga. Hanya batinnya bertanya-tanya tentang apa yang akan dilakukan Kepala Lapas itu pada dirinya.
"Jangaaaan...!!!" Jeni berdiri dan berlari.
Jeni langsung memegangi tangan Rihana. Ada rasa cemburu dalam hatinya, melihat gelagat aneh dan sorot mata genit dari Polisi Kunkun.
"Diam kamu, jangan berani ikut campur dengan urusanku! atau mau ini...!" Bentak Polisi Kunkun kepada Jeni sambil kembali mengancam dengan pentungannya.
"Hei, tidak bisa seenaknya begitu dong! Ini kan milikku." Jeni yang sudah terbakar api cemburu, menjadi nekad. Tak memikirkan lagi akibat dari perbuatannya itu.
__ADS_1
*******