
"Aa ampun Tuan Nyonya..." Wati meringis menahan sakit dan tubuhnya sudah ambruk duluan.
"Ini akibatnya jika ada yang berani menghina atau melawanku." Jeni membusungkan dadanya yang nyaris bidang seperti tak berpenghuni, berbeda dengan wanita pada umumnya.
Semua anak buah Jeni hanya terdiam mematumng, tak sepatah kata pun keluar dari bibir mereka. Bahkan nafas pun sekuat tenaga ditahan. Situasi pun menjadi hening mencekam.
"Sekali lagi aku peringatkan kepada kalian, bagi siapa pun yang membangkang, aku tidak akan segan-segan menindaknya dengan tanganku sendiri...! Paham kalian...?!" Ancam Jeni sambil memperagakan tinjunya pada dadanya sendiri.
uuhhhh..., Ternyata sakit juga pukulanku. Pantas, bagian ini yang mengenai dadaku." Jenis meringis kesakitan, wajah garangnya mendadak merengut menahan isak batinnya agar tidak bobol keluar dan didengar anak buahnya. Bisa berabe akibatnya. Tangan Jeni memegangi cincin batu ali di jari tengahnya.
Semua anak buah Jeni spontan memalingkan muka melihat wajah bosnya yang tampak menahan tangis. Mereka mengulum senyum dengan kekonyolan Jeni. Bisa-bisanya Jeni yang SD pun tidak tamat, menjadi penguasa ruang tahanan di balik jeruji itu, kalau bukan karena kekuatan ototnya.
Jeni terus mengoceh, langkah mundurnya semakin mendekati tubuh Rihana yang tergeletak tak sadarkan diri, setelah menerima tamparan maut Jeni tadi. Tatapan tajamnya mengintai setiap jasad anak buahnya yang masih setia berdiri.
__ADS_1
Hingga akhirnya.....
" Aarg ...!" Jeni terpelanting jatuh, kakinya terbelit menginjak tubuh Rihana. Badan Jeni yang berukuran jumbo itu pun menindih Rihana yang berpostur mungil.
"hahahahaha..." Dewi dan Cika yang sedari tadi menahan tawanya, akhirnya bedah juga. Bibir keduanya terbuka lebar, terbahak menikmati adegan komedi di hadapannya. Terpingkal-pingkal melepas geli yang sudah mengganjal di perut mreka.
Mata Jeni membulat sempurna, seakan mau loncat. Wajahnya merah padam, gigi grahahamnya saling beradu menimbulkan suara gemeretak.
Langkah panjangnya dengan cepat mendekati kedua pelaku pelecehan dengan tawanya tadi. Dewi dan Cika sudah memucat, kakinya bergerak mundur menjauhi Jeni yang menghampiri keduanya, dikawal amarahnya yang sudah di puncak ubun-ubun.
Namun, tiba-tiba Jeni menghentikan langkahnya. Keningnya mengerenyit, seperti seorang profesor yang sedang berpikir tentang teka-teki pada penelitiannya. Telunjuknya yang tak kalah besar dengan ukuran buah mentimun, menempel di tengah jidatnya, di antara pertemuan alis tebalnya.
"Say..., jangan begitu dong..." Tangan Jeni menyentuh pipi Dewi dan Cika dengan lembut.
__ADS_1
"Aaarg..." Hampir bersamaan, Dewi dan Cika menjerit. Dalam bayangannya, sentuhan itu adalah pukulan Jeni yang mampu meremukan tulang pipi mereka. Tapi setelah dirasa, hanya sentuhan biasa saja. Padahal, sewaktu sentuhan itu datang, badan Dewi dan Cika sudah terperanjat. Tanpa sadar, tangan keduanya mengusap bekas sentuhan Jeni, dan benar tidak ditemukan luka sedikit pun.
"Dengar baik-baik, hukuman bagi kalian adalah ....."
Dewi dan Cika kembali menegang. Merasakan panas dingin yangmendadak menyerang sekujur tubuhnya. Aura Jeni yang mengintimidasi, membuat bulu kuduk berdiri.
"Sekarang juga, kalian gotong gadis itu, pindahkan ke tempat tidurku... cepat!" Perintah Jeni tanpa basa-basi.
"Sekarang Tuan Nyonya...?" Cika berinisiatif bertanya.
*Sekarang apa nanti yaa.....?" Jeni menggeleng-gelengkan kepalanya menguras pikirannya yang lemot.
"Ah, sekarang juga bodoh...!" Seru Jeni yang kembali garang.
__ADS_1
*******