
Jeni mendekati Polisi Kunkun dan menyodorkan kepalan tangannya yang melaju cepat ke arah kepala pria itu. Polisi Kunkun yang melihat ada serangan mengancam kepalanya, tangannya bergerak menangkis bulatan jeruk bali itu.
"Awww...!" Tak terelakan, bentrokan kedua tangan yang diisi tenaga kuat di udara, menimbulkan suara yang beradu, seperti batu karang yang ditimpuk oleh besi.
Jeni menjerit kesakitan dan memegangi tangan kanannya dengan tangan kirinya. Bibir tebalnya meringis, tubuhnya melenting ke belakang.
NamunPolisi Kunkun tak menghentikan jurusnya. Ia bergerak dengan kuda-kuda agak menyerong, menghentakan kakinya menyapu betis Jeni yang sedang berusaha kembali berdiri setelah tadi terdorong ke belakang akibat tangkisan Polisi Kunkun.
"bruk..."
Badan jumbo Jeni tersungkur, hampir saja hidungnya yang sebesar kodok nongkrong itu, menyentuh lantai ruang penjara. Sungguh sangat menyakitkan terasa oleh Jeni, kembali dipermalukan di depan para anak buahnya yang setia.
Memang, Jeni bukan kali pertama bertarung dengan Polisi Kunkun. Tempo laluu, ketika Jeni marah, tidak terima dirinya disuruh menggosek wc oleh Polisi Kunkun, dalam aksi kerja bakti membersihkan rumah tahanan, Jeni pun malah mengajak berkelahi kepada Polisi Kunkun. Hanya, kekalahanlah yang lagi-lagi yang dialami Jeni
"Awas lihat saja nanti..." Gerutu batin Jeni saat itu.
__ADS_1
"Rihana, sekarang kamu ikut aku. Aku punya ruang khusus untukmu yang lebih baik dari ini. Mulai detik ini,,kamu jangan bergabung dengan para begundal seperti mereka." Polisi Kunkun menuntun tangan Rihana, membawanya meninggalkan Jeni dan kawan-kawan yang hanya diam melongok.
"Heh kamu Emak Gendut, dengarkan ya, dalam pertaruhan ini, aku yang menang dan berhak penuh atas gadis cantik ini! Kamu paham kan..."
Polisi Kunkun menatap tajam Jeni, dengan sorot matta yang sulit diartikan. Dibalas sayu wajah Jeni yang mengbuang nafasnya kasar.
"Aku lebih nyaman di sini Pakk..." Ucap Rihana.
Gadis remaja itu menarik lengannya yang dipegang erat Polisi Kunkun. Rihana mulai menaruh curiga terhadap sikap Polisi Kunkun yang menurutnya sangat aneh
"Tapiiii..."
"Sudahlah, tak usah banyak pikiran. Semua akan baik-baik saja." Polisi Kunkun meyakinkan.
Rihana pun akhirnya mengikuti langkah sang kepala Lapas yang menuntunnya.
__ADS_1
Tampak gigi Jeni menggigit bibir bawahnya, dengan tatapan yang terus membuntuti langkah kedua makhluk berlainan gender, berlalu meninggalkan medan jurit dadakan itu.
"Beginilah nasibku..." Gumam Jeni tanpa sadar keluar begitu saja dari mulutnya, yang langsung mengundang senyum kocak kawan-kawannya.
Di ruangan lain, Rihana terlihat duduk di tepi spring bed empuk dengan raut wajah bingung. Bola matanya bergilir menyelusuri sekeliling ruangan yang sangat jauh berbeda, bila dibandingkan keberadaannya di sel sebelumnya.
Penerangan yang cukup, tempat tidur empuk lengkap dengan bantal guling serta selimut bulu, kamar mandi yang tampak di sudut ruangan, televisi 32 inci bertengger di atas sebuah bupet minimalis , bersebelahan dengan piring keramik berisi cemilan lezat, bersanding segelas air jeruk yang sepertinya menyegarkan.Membuat Rihana berdecak kagum, sekaligus heran terhadap segala keanehan yang tiba-tiba itu.
"Permisi Nona..."
Seorang wanita paruh baya masuk ruangan, setelah memberi salam hormatterlebih dahulu kepada Rihana.
"Maaf Nona, saya Mbok Darmi. Saya diperintahkan Tuan untuk melayani Nona. Jadi, jangan ragu jika Nona membutuhkan sesuatu, Nona bisa memanggil si Mbok." Ucapnya sambil tersenyum.
*******
__ADS_1