
Akhirnya, gadis sebatang kara itu diboyong dibawa kemobil polisi setelah dipasangi gelang besi pada kedua lengannya. Rihana yang tertunduk, hanya bisa pasrah dengan beban berat yang menyesakan dadanya saat itu
Kelopak matanya sudah tak lagi memproduksi bulir mata. Membuat mata Rihana mengering seketika. Air matanya begitu laku, diborong habis oleh juragan takdir yang sangat kaya raya dengan kenistaan pada diri seorang Rihana.
Lidahnya semakin kelu untuk merintih bermunajat pada Sang Ilahi. Anggapan Rihana, nasibnya merupakan ulah jahil Tuhan tak yang tak pernah pandang bulu untuk menetapkan suratan takdir buruk, termasuk pada dirinya. Sekurang-kurangnya, Rihana sudah mengibarkan bendera permusuhan dengan pengatur kehidupan jagat raya.
Lindasan ban mobil berselang deru mesin kendaraan tertutup milik kantor kepolisian itu terus melaju membelah jalanan raya. Membawa 4 raga di dalamnya, menepi di sebuah tempat yang akan merubah status Rihana menjadi tersangka.
*******
"Ahh..., sungguh pengap ruangan ini..., sampai kapan aku harus mendekam di balik jeruji besi ini...." Gumam Rihana yang baru saja diantar masuk penjara oleh dua orang petugas Lapas.
Rihana yang kini menyandang gelar nara pidana, diponis 18 tahun penjara, berdasarkan keputusan majelis hakim pada persidangan yang sangat singkat dan tak berpihak pada Rihana. Menjalani proses dakwaan di kmeja hijau seorang diri tanpa penasihat hukum, cukup bagi Rihana menjadi pertanda bahwa ia akan kembali menelan pil pahit dari lanjutan lembar takdirnya.
Beberapa pasang mata menatap tajam Rihana penuh selisik. Mereka adalah penghuni senior lapas khusus wanita itu. Salah seorang di antaranya, yang berbadan tinggi besar penuh tato ular Anaconda, mendekati Rihana sambil tersenyum sinis. Sedangkan yang lainnya membuntutinya dari belakang.
__ADS_1
"Hei bocah ingusan, sini kamu...!"Jeni melambaikan tangannya kasar kepada Rihana. Rambutnya yang diikat gelung, membuat jelas terlihat jidatnya yang menonjol, dipenuhi juga tato Anaconda.
"Ada apa Bu..." Rihana mengangkat kepalanya menatap wanita di hadapannya, yang postur tubuhnya jauh lebih tinggi dari Rihana.
"Hei, kamu sudah lancang ya memanggil aku Ibu. Memangnya aku perempuan yang melahirkanmu. Jaga bibirmu, jangan berani kurang ajar padaku. Dengarrrr... panggil aku dengan sebutan tuan nyonya...!" Ucapnya mengancam.
"Memangnya kenapa, kenyataannya kamu Ibu-ibu bukan..." Rihana tak peduli.
Bagi Rihana tak ada pilihan lagi. Sama saja, mau bagaimana pun posisinya tidak menguntungkan dalam penjara itu. Tetap akan dibuli dan hadirnya dia di situ akan diperlakukan seperti perbudakan.
"Betul-betul lancang ya kamu...!" Amarah Jeni memuncak, tak sanggup lagi diredam.
" plak, plak, plak. ....'" Nara pidana itu dengan kasar menampar pipi Rihana berulang kali.
"aaarg..." Kepala Rihana ikut terbanting dengan tamparan yang menghantam pipinya dari dua sisi berlawanan.
__ADS_1
Namun, Jeni tidak menghentikan aksinya, malah semakin brutal.
"Bagus bos..., hahaha... terus hajar bocah tak tahu diri itu!" Teriak Wati salah seorang anak buah Jeni.
Mendengar ada yang berteriak, Jeni menoleh
"Apa kamu bilang! aku ini Tuan Nyonya... bodoh!" Jeni menyeringai
Wati spontan mundur ke belakang dengan kedua lututnya bergeletar, saking takutnya.
"Oh iiiyaa Tu tu tuan Nyonya bodoh..." Karena takutnya, latah Wati pun kambuh. Malah menirukan ucapan sang majikan..
"bug!" Sebuah tinjuan mendarat di hidung Wati. Darah segar pun mengalir dari lubang hidungnya.
*******
__ADS_1