Romantika Kisah Cinta

Romantika Kisah Cinta
Prolog


__ADS_3

Samar - samar kudengar suara, namun aku tak bisa bergerak.


"Biar aku yang bawa mereka, ke rumah sakit." ucap seseorang yang masih terdengar samar - samar.


Aku merasakan tubuhku di angkat, sebenarnya apa yang terjadi?


3 hari kemudian ....


Sepasang mata menatapku dengan senyum, Namun di wajahnya terlihat jelas kalau ada yang di tutupinya.


"Syukurlah, kamu sudah sadar." tangannya dengan lembut membelai pucuk kepalaku, aku menatapnya penuh heran.


"Ma, kenapa aku bisa di rumah sakit?" tanyaku, menatap bingung meminta kejelasan.


Tiba - tiba Mamaku memeluk tubuhku dengan erat, seakan ia sudah menahan rindu cukup lama.


"Kamu kecelakaan, dan kamu baru sadar sekarang," ungkapnya. hal itu membuat aku tertegun.


"Tapi syukurlah, kamu sekarang sudah sadar." Aku melihat sekeliling, tampaknya yang di ceritakan oleh Mama benar adanya. meski ingatanku masih terasa samar - samar.


Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10 pagi, ah sepertinya sudah jadwal pemeriksaanku.


Pintu ruanganku di buka, kulihat suster dan dokter sudah siap mengerjakan pekerjaan mereka.


"Bagaimana, kondisi anak saya?" tanya Papa dengan raut wajah cemas. ini pertama kalinya aku melihat itu di wajahnya. Rasanya sulit untuk di percaya.


"Kondisi anak anda, sudah lebih stabil, mungkin dua hari lagi dia bisa pulang," ungkapnya. terlihat Mama dan Papa menarik nafas lega bersamaan.


"Kalau begitu, kami permisih." pamitnya, Mama dan Papa secara bersamaan menganggukkan kepala.


Dokter dan suster berjalan ke arah pintu, tampak Papa mengantar mereka keluar.


"Sekarang kamu istirahat, ya." aku menurut, Mama tampak membelai kepalaku dengan lembut.


5 hari kemudian ....


"Hua! Axell!" teriak histeris para wanita pengagum Axell.


Axell Alexander Julian adalah anak tunggal dari Alexander, orang yang merupakan pengusaha, dan kolomerat ternama.


Meski beberapa tahun ini kami berada do kampus yang sama. dia benar - benar angkuh dan dingin kepadaku meski aku tak tau alasannya.


"Meski angkuh dan dingin, dia tetap banyak yang suka, ya." aku hanya mengangguk mulutku selalu terasa berat tiap kali membahas soal Axell.


Shintia mengaitkan tangannya ke lenganku, lalu bersama - sama berjalan ke kelas kami.


Di kelas ....

__ADS_1


"Menurut lo, gimana Axell?" aku tak menjawab, tetapi tanganku mulai sibuk menuliskan sesuatu di bukuku.


Tak lama, ia mengambil alih bukuku sontak perhatianku beralih ke arahnya.


"Shintia!!! balikin nggak?!" tak lama, ia menyodorkan bukuku  itu embali kepadaku.


Aku langsung mengambil buku dari tangannya, gadis itu masih tak megalihkan pandangannya dariku.


"Lo tuh ya, di ajakkin ngombrol juga," keluhnya. aku hanya menghela nafas berat.


"Gue tanya sekali lagi, gimana Axell, menurut lo?" tanyanya, dengan tatapan serius. gue berbalik menatapnya penuh heran.


Tiba - tiba ponselku berbunyi, mendengar ponselku berbunyi. Shintia melirik matanya sekilas ke ponselku, lalu mengalihkan pandangan kembali kepadaku.


"Gue angkat dulu, ya." ia menganggukkan kepalanya, lalu beralih sibuk dengan ponselnya. sementara aku pergi menjauh untuk menjawab panggilan yang masuk tersebut.


Ketika selesai menjawab telpon dari Mama, aku menghela nafas karena setiap 2 jam sekali Mama pasti menelpon untuk menanyakan keadaanku.


Sangat berlebihan, tapi aku tidak tau harus melakukan apa untuk menghentikannya.


Aku bergegas menuju ke kelasku, cepat - cepat aku menuju ke kelasku karena waktuku tak banyak. tapi .....


Brakk!!


Karena kurang hati - hati, aku menabrak seseorang, dan orang itu adalah ....


Axell!!!


Aku raih barang - barangku yang berhamburan di lantai, dan kumasukkan kedalam tas yang ku bawa. dari pada nanti berhamburan lagi!!


Akhirnya barang - barangku selesai aku bereskan, saat aku hendak berdiri. sebuah tangan terulur dihadapanku, dengan mengabaikan uluran tangannya aku pun berdiri.


Tampak ia mengepalkan tangannya, namun aku tak mempermasalahkannya.


"Kalau tidak salah kau, Alexa kan?" tanyanya, aku menganggukkan kepala menanggapinya.


"Ada yang ingin kau, sampaikan?" aku diam, namun sepertinya aku paham maksudnya.


"Maaf, yang barusan aku tidak sengaja." ucapku, entah bagaimana ia pergi begitu saja. sepertinya benar dia hanya ingin mendengar itu dariku.


Tanpa berlama berpikir aku langsung lanjut lari menuju ke kelasku, begitu sampai aku langsung berhambur masuk.


Kuraih buku dari dalam tasku, tak lama dosen yang mengajar di jam selanjutnya datang.


Aku segera mengontrol diri, agar terlihat  baik - baik saja, meski sebenarnya nafasku masih sedikit terengah karena lari saat menuju ke kelas.


Pukul 15 : 34

__ADS_1


Buru - buru aku meninggalkan kampus, begitu tak ada lagi kelas. dari pada nanti dicariin lagi!


Tak ada waktu


Setelah sedikit Stres kerena kondisi jalanan yang macet, akhirnya aku tiba di rumah.


Turun dari mobil, aku langsung lari memasuki rumah. dan langsung di hadang oleh sosok yang kurang familiar bagiku.


"Tante ini, siapa?" tanyaku, aku mencoba mencari informasi mengenai wanita paruh baya di hadapanku, namun aku tak berhasil mengingatnya.


"Dia temen Mama, sayang." sela Mama, saat aku berniat bertanya langsung.


"Oh, Hallo Tante." sapaku, dengan senyum ramah.


"Hallo sayang, kamu cantik sekali seperti Mama kamu." pujinya, aku tersenyum sambil tersipu.


"Ma, aku izin ke kamar dulu, ya." Mama menganggukkan kepalanya sebagai ganti jawaban. setelah berpamitan aku langsung menuju ke kamarku.


Aku menghampiri tempat tidurku, dan merebahkan tubuhku diatasnya. rasanya benar - benar nyaman.


Saat aku memejamkan mata, aku di buat tersentak ketika ada sesuatu yang muncul di pikiranku, mungkin itu ingatanku yang hilang.


Aku tampak masih terkejut, suara ketukan di pintu mengalihkan perhatianku.


Tak lama pintu kamarku, kulihat Mama melangkah masuk ke kamarku.


"Sayang, kamu mau istirahat sekarang?" tanyanya, aku berbalik menatap bingung ke arah Mama.


"Kenapa, Ma?" tanyaku, ku lihat Mama menatap penuh heran ke arahku.


"Sayang, kamu nggak mau ngobrol dulu sama tamu kita?" tanyanya. akhirnya aku mengerti maksud dari perkataan Mama.


"Iya Ma, Alexa ganti dulu." ucapku, ia mengangguk, lalu setelah mengatakan beberapa hal lain Mama pergi meninggalkan kamarku.


Sayup - sayup, aku mendengar pembicaraan Mama dan temannya dari kejauhan. aku merasa kedaan mulai tak kondusif, dan hanya menyisakan suasana tegang.


"Lalu apa yang terjadi setelahnya? aku dengar Alexa bersama pacarnya saat itu, dan kabarnya dia meninggal, apa itu benar?"


Tiba - tiba, kepingan - kepingan puzzel itu menyatu dan menjadi memory yang utuh.


Aku ingat semuanya ....


Flashback ....


Malam itu turun hujan deras, Glen pacarku yang mengemudi malam itu, dan dalam kondisi marah.


"Harus berapa kali aku bilang, itu nggak seperti yang kamu bilang!" respon yang aku berikan terhadap penjelasannya sepertinya membuatnya kecewa, hingga membuatnya marah.

__ADS_1


"Bohong, aku sudah sering liat kalian jalan bersama, mau bohong apa lagi! buktinya juga sudah ada, kan?!" kulihat Glen semakin marah, ia menambah kecepatan laju mobilnya.


"Glen! kamu udah gila, ya!!!" aku tidak tau bagaimana ekpresi panikku saat ini, yang jelas aku sangat panik.


__ADS_2