Romantika Kisah Cinta

Romantika Kisah Cinta
Deon


__ADS_3

"Hai, ada perlu sesuatu?" tanyanya. sudah kuduga dia akan bicara seperti itu.


"Ki-kita cuma mau kenalan aja, kok." aku melihat seliling, saat mereka tengah mengobrol. semua orang yang melewati tampak melirik ke arah kami. dan aku mulai merasa tak nyaman.


Aku merapatkan tubuhku kepada Shintia, aku mendekatkan wajahku, untuk membisikkan sesuatu.


"Gue rasa kita harus pergi sekarang." bisikku, Shintia langsung menoleh ke arahku, dahi mengekerut. sudah terlihat jelas ia sulit berpisah dengan Deon.


"Shin, semua orang liatin kita." bisikku lagi. kini Shintia mendekatkan wajahnya ke telingaku.


"Udah sih, cuekkin aja." bisiknya, dengan nada santai. seolah tak terusik.


"Sorry, kalian ngobrol aja, gue mau ke kelas, ada kelas tambahan soalnya." kakiku bergerak dengan sendiringa, dan siapa sangka Shintia akan menahanku untuk pergi.


"Gue ikut." ucapnya, aku menatap bingung ke arahnya.


"Kalau begitu kita pergi, dulu." pamit Shintia, seraya mengaitkan tangannya ke lenganku. lalu kami pergi bersamaan.


Tiba - tiba Shintia menghentikan langkahnya, diujung sana adalah kelasku.


"Ada apa?" tanyaku, menatap bingung ke arahnya.


"Xa." ucapnya dengan ekpresi sedih ke arahku.


"Gu lupa minta nomor, Deon masa," ujarnya. aku menghela nafas berat..


"Gue kira, apa." ucapku dengan tatapan malas, lalu berjalan mendahului.


Pukul 12  : 00, di kantin kampus.


Aku bersiap untuk meninggalkan kelas, aku tidan bisa langsung pulang karena aku masih ada kelas. setelah merapikan barang - barangku, aku berangkat ke kantin.


Saat hendak memesan makanan di kantin, aku melihat Jessica, dan Axell memasuki kantin, lengan Jessica bergelayut pada lengan Axell.


Sejak hari itu aku sadar, semua yang keluar dari mulut Axell hanya bualan belaka.


Meski aku tidak tau apa yang terjadi, tapi aku tetap biaa melihat kedekatan mereka. dan kenapa rasanya sesak?


1 jam setelah dari kantin ....


"Alexa?" aku menoleh untuk melihat siapa yang memanggilku. kudapati Deon yang berjalan menghampiriku.


"Deon?" ia tersenyum, dan menatapku.


"Ada apa?" tanyaku. ia dengan ekpresi tersipunya, menggaruk tengkuk lehernya.


Aku menatap pen uh heran ke aranya.


Ia merogo kantongnya, lalu mengeluarkan ponsel miliknya. Yang lalu ia sodorkan kearahku, aku menatap bingung ke arahnya.


"Lo ngapain, kesini?" tanyaku, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. aku menatap aneh ke arahnya.

__ADS_1


"Gue kebetulan dideket sini, terus nggam sengaja liat lo, jadi gue kesini nyamperin lo," ujarnya. aku mengangguk paham.


Suasana tiba - tiba hening, karena tak ada yang mulai pembicaraan. hingga ....


"Maaf, tapi kalau boleh gue mau minta nomor lo." ucapnya. aku tertegun mendengar permintaannya.


"Apa? nomor gue?" tanyaku, ia mengangukkan kepala. dengan sambil tersenyum.


Ya tuhan ... meski aku tidak tau apa tujuannya, aku berharal ia tidak punya maksud buruk.


"Lo nggak mau kasih, ya?" tanyanya, ekpresinya seolah menutupi rasa kecewanya.


Karena merasa tidaknya, Aku mengambil ponsel miliknya dari tangannya. lalu mengetikkan nomorku ke ponsel milikknya, setelah itu aku kembalikan lagi.


"Terimakasih, gue berharap kita bisa berteman baik." ucapnya, aku tersenyum. lalu tampa sadar menganggukkan kepala.


"Tadinya mau mengobrol lama sama lo, tapi gue ada kelas 10 menit lagi," ujarnya. aku mengangguk paham.


"Gue ngerti, pergi sana." ia tersenyum, lalu pergi meninggalkanku.


Setelah pembicaraan singkat dengan Deon tadi, membuat aku yakin kalau dia adalah orang baik.


Tiba - tiba ....


Aku refleks berbalik ke belakang untuk menoleh, karena aku merasa bahuku ada yang sentuh.


"Axell?" aku mematung, aku rasa hari ini akan menjadi hari yang panjang buatku.


Ditaman kampus ....


Ketika tiba di taman, tiba - tiba suasana yang hening membuat cannggung. padahal kami sebelumnya tidak pernah seperti ini.


"Lo dan Jessica ... kalian makin dekat, ya?" iya tampak terkejut dengan ucapanku, namun dengan cepat ia kembalikan lagi ekpresinya.


"Semua tak seperti yang lo lihat," ujarnya, aku menatap bingung ke arahnya.


"Maksudnya?" tanyaku, aku menunggu Axell menjelaskan lebih lanjut. tapi ia masih tak kunjung bicara.


"Apa belakangan ini dia, menganggu?" tanyanya, aku terdiam mendengar pertanyaannya yang tiba - tiba itu.


Aku hendak bertanya, tapi tiba - tiba ponsel Axell berdering. ekpresinya tampak dingin saat menatap layar ponselnya, lalu menyimpan kembali ponselnya.


"Aku harus pergi sekarang, ada yang harus aku selesaikan," ujarnya. aku mengangguk paham, ia tak melepas pandangannya dariku.


"Dah." aku membalas dengan ucapan yang sama, lalu ia pergi.


Ini cuma perasaanku, atau memang ada yang aneh?


3 jam kemudian ....


Tiba di rumah, aku langsung berhambur masuk ke dalam rumah. setelah keluar dari dalam mobil. tiba - tiba ....

__ADS_1


Kulihat sebuah tangan hendak meraihku, hingga akhirnya mendekapku dalam pelukkannya.


"Alexa, sayang." ucapnya. sementara aku mematung, karena tidak tau harus melakukan apa.


Rasanya hangat, rasanya rinduku selama ini kepada mereka telah terbayarkan. tak lama pelukkan yang hangat itu di lepas.


"Kamu baik - baik aja, kan?" tanya Mama. sambil membimbingku duduk.


"Tunggu, ya." Mama berjalan ke arah dapur, dan keluar dengan membawa nampan. yang berisi minuman, dan makanan yang terlihat lezat. aku mulai mencicipi makanan itu.


"Gimana sayang?" tanyanya. aku menatap ke arah Mama.


"Enak, Ma." jawabku, Mama hanya tersenyum.


"Gimana kuliah kamu, baik - baik aja, kan?" tanya Papa, refleks aku menoleh ke arah Papa.


"Baik, Pa." ucapku sambil tersenyu. Papa membalas dengan senyuman.


Sesaat, aku teringat soal mereka yang begitu sulit di hubungi. apa aku bisa tanya hal itu sekarang?


"Pa, Ma, kenapa kalian susah dihubungi, akhir - akhir ini? setelah kalian pergi?" tanyaku, kulihat Papa dan Papa saling tatapan satu sama lain.


Mamam meraih tanganku, untuk di genggam. aku tahu mereka pasti punya alasan.


"Maaf ya, kami belakangan ini sibuk, sampai nggak sempat menghubungi kamu." jelasnya dengan raut menyesal. kusambut tangan Mama, dengan senyum terbaikku.


"Alexa, mengerti Ma, Alexa cuma khawatir." Mama hanya tersenyum, seraya mengelus kepalaku.


3 hari kemudian ....


Sebuah laut dengan air jernih, memantulkan cahaya matahari yang berkilau.


"Lo ngapain sih, ngajak gue ke pantai." ucapku, dengan tatapan penuh heran.


"Emang lo nggak suntuk, kuliah mulu?" tanyanya, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.


Tak jauh dari tempat kami ... itu Deon, yang kulihat tengah bermain voli dengan teman - temannya.


Sepertinya aku memahami sesuatu ....


"Lo ngajak gue kesini, bukan kerena Deon, kan?" tanyaku, Shintia menoleh ke arahku,  ia menatapku.


Ia mengabaikan pertanyaanku, lalu melangkah beberapa langkah ke depan. ia merentangkan tangan, kulihat ia kini menghirup nafas dalam - dalam.


Langkahku terhenti ketika aku sudab berada tepat di belakang Shintia, aku menatap punggungnya dari dekat.


"Shintia ... " aku tak langsung menyelesaikan kalimatku, ia tampak berbalik menoleh ke arahku. ia menatapku.


"Apa lo suka, sama Deon?"


****

__ADS_1


Ig : S_anastayha


__ADS_2