Romantika Kisah Cinta

Romantika Kisah Cinta
Kantor


__ADS_3

Setelah Axell pergi, aku pergi menuju taman. melihat orang ditaman bersama pasangan, dan keluarga kecil mereka.


Rasa ada yang aneh, karena biasanya aku selalu bersama Axell. tapi sekarang ia pergi selama 8 hari.


Tak lama,  tiba - tiba samar - samar aku mendengar langkah kaki mendekat ke arahku.


Aku mengankat wajahku, kukihat sosok laki - laki yang kukenal sebagai orang yang pernah menolongku di sebuah acara berdiri di depanku.


"Cuma sendirian?" dengan ragu aku menganggukkan kepala.


"Aku kesini menemani adikku," aku mengangguk.


Padahal tak ada yang bertanya, tapi kenapa ia memberitahuku?


"Kau sedang banyak pikiran, ya?" tanyanya, aku hanya diam. kulihat ia merasa tidak enak dari raut wajahnya.


"Maaf, kalau begitu aku pergi dulu." aku hanya mengangguk, ia pun benar - benar pergi meninggalkanku.


Sebenarnya aku merasa tidak enak, karena mengabaikannya seolah tak menginginkan keberadaannya.


Tapi saat ini aku benar - benar butuh waktu sendiri ...


5 hari kemudian ....


Seorang gadis tanpa menunggu seseorang, sesekali ia sibuk dengan ponselnya. ia tanpa gusar seolah tak sabar menunggu.


"Jes." gadis itu menoleh, laki - laki itu duduk di kursi di depan gadis itu.


"Ada Info, apa?" tanyanya.


"lo berani bayar berapa, untuk info yang akan gue kasih?" tanyanya, dengan senyum licik di wajahnya.


"Apa? bayaran? gue udah bayar lo lunas. ya!" laki - laki itu hanya tersenyum miring, sementara gadis itu menatap tajam ke arahnya.


"Gue mau, setiap info yang akan gue kasih, gue minta bayaran." ucapnya. gadis itu siap menyatakan keberatannya.


"Apa? lo gila, ya?! lo mau meras, gue?!" lagi - lagi ia hanya tersenyum licik.


"Kalau lo nggak mau, yaudah." laki - laki itu mendekatkan wajahnya, sebelum akhirnya ia kembali bicara.


"No info, dan ... gue bakal bongkar semuanya." ancamnya, entah kenapa senyum licik yang di pasang oleh laki - laki itu, membuatnya semakin kesal.


"Lo berani ngancam gue?! lo lupa siapa yang udah bayar lo?!" dengan santainya ia mengangkat bahunya, gadis itu semakin bertambah kesalnya.


"Hahhhh ... buang - buang waktu gue disini, dapet uang juga enggak." ucapnya, seraya bersiap untuk pergi. sementara gadis menggertakkan giginya karena kesal.


"Gue pergi dulu, panggil gue lagi kalau udah ada uangnya."


"Tunggu!" laki - laki menghentikan langkahnya, ia berbalik menoleh gadis itu.


"Berapa yang lo minta?" tanya gadis itu, laki - laki itu memasang smirk di wajahnya.


"500 juta." ucapnya, gadis itu refleks berdiri. ia sekarang menunjukkan keberatannya.


"Lo bener - bener mau meras gue, ya?!" laki - laki ia mengangkat bahunya. dengan sikap tenangnya.


"500 juta, atau harganya akan naik menjadi 1 miliar." laki - laki itu pun pergi.


"Argg!!" geramnya.


Ia mengeluarkan ponselnya, lalu mencoba menghubungi seseorang.


"Hallo." ucapnya.


"Heh?! orang macam apa yang lo jadikan untuk di ajak kerja sama, hah?!" sentaknya tanpa basa - basi.


"Lo ngomong apa, sih?" tanyanya dengan nada bingung.


"Jangan belaga pilon deh, barusan adek angkat bohongan lo itu, habis meras gue!" serunya, dengan nada sedikit tinggi.


"Apa? lo serius?" tanyanya.


"Pokoknya gue nggak mau tau, lo urus dia, atau gue seret kalian atas tuduhan pemerasan." tanpa bicara apa - apa lagi, Jessica langsung memutus sambungan telponnya.


Sementara itu, sudah beberapa hari sejak Axell pergi ke paris, aku masih berusaha untuk sabar menanti kepulangannya 3 hari lagi.


Aku menggunakan waktu santaiku, salah satunya menikmati kopi di kafe.


Aku bersyukur, meski sibuk Axell masih menyempatkan diri untuk menghubungiku. meski karena itu aku semakin ingin menyusulnya ke paris.


Aku mengalihkan pandanganku dengan menoleh ke arah pintu kafe, kulihat Jessica masuk didampingi oleh Shintia. ia menuju ke meja yang sedikit jauh dari tempatku, diam - diam aku memperhatikan mereka dari mejaku.


Selama memperhatikan mereka, pikiranku dipenuhi oleh berbagai pertanyaan, salah satunya.


Sejak kapan mereka menjadi akrab?


Apa mereka merencanakan sesuatu dibelakangku?


Aku berusaha keras, mengedalikan rasa penasaranku. karena rasa penasaranku berulang kali mendorongku untuk mengahampiri mereka.


Karena posisinya agak jauh, dan kafe juga agak berisik. jadi sulit bagiku untuk menguping pembicaraan mereka.


Ting!


Tiba - tiba saja suara notif pesan di ponselku, mengalihkan perhatianku.


Buk Ada sedikit masalah dikantor


Setelah membaca pesan itu, aku langsung bergegas pergi. seketika aku mengabaikan mereka yang ada di kafe.


"Apa?! 500 juta, atau harga naik jadi 1 miliyar kalau kita nggak segera kasih?!" Shintia mencermati Jessica, ia masih tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Jessica.

__ADS_1


"Bener - bener keterlaluan dong, dia berarti."


"Makanya, lo urus dia, jangan sampai gue yang turun tangan." ucapnya dengan nada mengancam.


"Kalian akan menyesal, kalau gue yang tangani kalian, mengerti?" Sesaat Shintia hanya diam, kemudian ia menganggukkan kepalanya pelan.


Tak lama kemudian mereka sama - sama diam, Shintia meneguk minumannya karena tidak tahu lagi harus apa.


Mereka minum dalam diam, waktu itu Shintia manfaatkan untuk mengamati gadis di depannya itu.


"Lihat saja nanti Jessica, jika saatnta sudah tepat, aku yang akan menghancurkanmu." batin Shintia.


Sementara itu, di kantor ku ....


Brakk !!!


Aku menggebrak meja, mataku menajam menatap karyawanku bergantian.


"Kenapa bisa muncul masalah besar, seperti ini?!" kutatap wajah mereka satu persatu, tak ada satupun yang berani bicara.


"Apa kalian cuma akan, diam?!"


Brakk!!


Sekali lagi aku menggebrak meja, hingga membuat mereka menuduk takut.


"Ma-maaf buk, kami sedang berusaha menyelidik hal ini, kami _ "


"Sudah sampai sejauh mana, anda menyelidiki masalah ini?" ia hanya diam, kesabaranku sudah mencanpai puncaknya.


Brakk !!!


Semua tersentak ketika aku, menggebrak meja untuk ketiga kalinya.


"Kalau aku sampai tau, siapa dalang di balik bocornya dokumen penting tentang perusahaan, akan aku pastikan ia akan sangat menyesal." semua yang ada diruangan iti hanya diam, karena tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, aku langsung pergi meninggalkan ruangan itu.


Sementara mereka menghela nafas lega, karena setelah sempat merasa ketegangan.


Setelah rapat itu, aku kembali ke ruanganku, semua masalah yang terjadi membuat kepalaku sakit.


"Aku harus bagaimana, untuk mengatasi masalah ini." aku menghela nafas, lalu membenamkan wajahku ke meja kerjaku.


Tok tok!


Kudengar pintu ruanganku di ketuk, sehingga membuatku mengangkat pandanganku. aku menatap lurus ke arah pintu, tak lama pintu itu di buka.


"Permisih, Buk." ucapnya.


"Ada apa?" tanyaku dengan nada dingin, membuatnya menunduk karena takut.


"A-anu, Buk hari ini Ibuk ada janji temu, dengan _ "


"Baik, Buk." ia membungkuk hormat, lalu keluar dari ruanganku. sementara aku mengusap kasar wajahku, setelah gadis itu pergi.


Lagi - lagi aku memikirkan masalah yang terjadi, padahal aku berusaha keras untuk  tidak memikirkannya. tapi percuma dan gara - gara itu aku kembali teringat dengan Axell yang selalu ada untuk dalam keadaan apapun.


Sepertinya, ini saat yang tepat untuk menghubungi Axell. tapi tak lama aku mengurungkan niatku, karena takut akan mengganggunya.


Aku mengubah posisiku menjadi menghadap jendela, sembari mempelajari berkas yang ada di tanganku saat ini.


Aku mendaratkan tubuhku di tepi jendela, tanpa aku sadari yang aku lakukan hanya membolak - balik berkas itu. karena aku sama sekali sulit untuk fokus.


Kubereskan tasku, lalu keluar dari ruanganku.


Setelah berada di mobilku, aku langsung berangkat yang tujuannya masih belum aku tentukan.


Karena puas jalan - jalan dengan mobilku tampa tujuan, aku memutuskan untuk pulang.


Saat dalam perjalanan pulang, tiba - tiba pandanganku menjadi samar, kepalaku sakit. Hingga ....


Brakk !!!!!


***


Samar - samar aku mendengar banyak suara, namun aku tak bisa bergerak.


Aku merasa tubuhku di angkat, sebenarnya apa yang terjadi?


Aku mencoba menanyakan apa yang terjadi, tetapi suaraku sama sekali tak bisa di keluarkan.


Aku bisa merasakan tubuhku di bawa menelusuri sebuah lorong, nafas orang disekelilingku terasa berat. pandanganku pun seketika menjadi gelap.


Aku tersentak, aku melihat sekeliling. tampaknya aku berada di rumah sakit.


Kulihat jam di ponselku, yang ternyata di letakkan di sampingku, menunjukkan pukul 9 pagi. Ah sedah lama aku tak sadarkan diri?


Saat aku mendengar suara pintu terbuka, aku refleks menoleh ke arah pintu.


"Sayang, sudah sadar?" tanya Mama, yang terlihat cemas.


"Mama, sudah berapa lama aku tak sadar?" tanyaku, Mama tak langsung menjawabku, tangannya yang lembut membelai rambutku, yang seketika memberikan sensasi nyaman tersendiri bagiku.


"Tidak perlu pikirkan itu, yang penting sekarang kamu sudah sadar." aku menghela nafas, aku tahu saat Mama berkata begitu. itu artinya aku tidak boleh bertanya lagi.


Mama tanpa fokus pada buah yang ia bawah, ia mengupas buah apel, lalu kemudian menyodorkannya ke arah mulutku.


Mama sebenarnya adalag orang yang perhatian pada anaknya, tapi karena kesibukkannya terkadang membuatnya terpaksa menjadi harus mengabaikan aku.


Meski sejak kecil Mama yang membesarkanku, dan selalu bersamaku, Mama adalah orang yang benar - benar peduli padaku.


"Sayang, setelah keluar dari rumah sakit, Mama minta kamu banyak istirahat ya, jangan pergi ke kantor dulu, ya?" aku hanya mengangguk, entah kenapa mulutku terasa berat sekali untuk bicara.

__ADS_1


Mama meletakan piring berisi buah, lalu meraih gelas berisi air. untuk di berikan kepadaku.


"Ma, masalah kantor _ "


"Mama minta, kamu jangan pikirkan masalah kantor dulu, bisa kan?" mulutku langsung terkunci, kulihat Mama mulai sibuk memotong kembali buah apel untukku. sementara pikiranku di penuhi oleh pertanyaan, bagaimana kondisi kantor selama aku tak sadarkan diri.


Tak lama, Mama kembali menyodorkan apel ke arahku, aku membuka mulutku, lalu melahap apel itu dari tangan Mama .


Drrttr !!!


Tiba - tiba aku mendengar ponselku berbunyi, aku meraih ponselku, kutatap nama yang ada di layar ponselku.


Axell?


Aku langsung semangat menjawab ponselku, rasanya bahagia yang sulit aku gambarkan ketika kembali mendengar suara yang sangat ingin aku dengar. setelah sempat tidak sadarkan diri.


"Hallo Axell." ucapku.


"Hallo, sayang? ini beneran kamu?" aku mengiyakan, aku masih bisa mendengar Axell menarik nafaa lega.


"Aku lega kamu udah sadar, sebentar lagi aku akan kerumah sakit, ya." mendengar ia akan ke rumah sakit, membuat aku bingung.


Bukannya ia di paris? dan baru pulang _


Tunggu, sebenarnya ... sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?


"Axell, kamu sudah pulang?" tanyaku, Axell diam sebentar.


"Sudah sayang, di hari aku mendapat kabar tentang kamu, aku langsung mengambil penerbangan tercepat dari paris." mendengar itu, aku hanya memikirkan apa aku sudah menganggu pekerjaannya? karena khawatir kepadaku?


"Sayang sudah dulu ya, aku mau ketempat kamu sekarang." Axell mematikan sambungan telponnya begitu saja, aku menaruh kembali ponselku di sampingku.


"Dari siapa?" tanya Mama, tanpa aku sadari aku lupa kalau Mama dari tadi di sampingku.


"Pacar kamu?" aku mengangguk, biar bagaimana pun cepat atau lambat Mama akan tahu. Mama tersenyum menatapku.


"Yaampun sayang, ternyata anak Mama udah besar, ya." Mama mengambil rambutku, lalu menyelipkannya di belakang telingaku. kemudian mengelus pipiku.


Beberapa saat kemudian ...


Tok tok tok !!!


Akhirnya orang yang aku tunggu datang, Axell menghampiriku setelah menyalami tangan Mama.


"Sayang, ini buat kamu." Axell menyodorkan sebuah buket bunga matahari, yang sebelumnya di sebunyikannya di balik badannya.


"Ekhm, sayang Mama keluar cari makanan, ya." pamit Mama.


"Ma, kok _ " Mama hanya tersenyum, lalu keluar dari ruangan aku di rawat. meninggalkan aku bersama Axell.


Hening, tak ada yang bicara satu sama lain. rasanya aku memulai duluan, tapi aku harus bicara apa?


"Gimana keadaan kamu, sekarang?" tanya Axell tiba - tiba, yang memecah lamunanku.


"Jauh lebih baik." jawabku, sambil tersenyum ke arahnya.


"Aku ingin pulang, kira - kira bisa nggak ya?" Axell hanya diam, lalu sibuk dengan ponselnya.


"Kata dokter, kalau besok kamu bener - bener pulih, kamu boleh pulang." ucapnya, aku menatap penuh heran.


"Kamu serius, aku boleh pulang?" tanyaku,  dengan raut wajah semangat. Axell mengangguk.


"Asal kamu, udah bener - bener dinyatakan sehat," ujarnya. seketika aku menjadi semangat untuk sehat, karena aku sudah tidak nyaman berada di rumah sakit.


Keesokan harinya ...


Setelah melakukan pemeriksaan, aku dinyatakan sembuh dan di izinkan untuk pulang. Dengan syarat aku harus istirahat yang cukup.


Setelah stres dengan jalanan yang macet, akhirnya aku sampai di rumah.


Turun dari mobil, aku segera memasuki rumah, dan langsung duduk di kursi tamu.


"Alexa, kamu sekarang ke kamar, terus istirahat, ya." pinta Mama, aku menghela nafas, lalu mengangguk patuh.


"Kalau begitu, Alexa ke kamar ya, Ma." pamitku, Mama menganggukkan kepala.


aku bergegas menuju kamarku.


Baru saja aku merebahkan badanku di tempatku, tiba - tiba ponselku berdering. aku menjawab telpon yang masuk tersebut.


"Hallo." ucapku.


"Hallo, sayang kamu lagi apa?" tanya Axell.


"Ada apa, Axell?" tanyaku. kudengar Axell tertawa kecil.


"Nggak apa - apa, cuma kangen aja." aku refleks tertawa, karena ini pertama kalinya Axell ngehalus seperti itu.


"Hahha ... kamu apaan, sih? kan tadi baru ketemu, masa udah kangen aja." ucapku seraya tertawa, Axell juga.


"Oh iya, besok ikut aku, yuk." ajaknya.


"Kemana?" tanyaku.


"Nanti juga kamu tahu." aku menghela nafas, akhirnya aku menyerah. tak ada pilihan lain selain mengikuti keinginan Axell.


"Yaudah, iya." ucapku pada akhirnya.


"Kalau begitu sampai ketemu besok, ya." aku mengiyakan, lalu Axell memutuskan sambungan telponnya.


Kini pikiranku dipenuhi rasa penaran, kemana besok Axell akan membawaku pergi ...

__ADS_1


__ADS_2