Romantika Kisah Cinta

Romantika Kisah Cinta
Tunangan?!


__ADS_3

"Oh iya, tapi kita masih bisa berteman, kan?" aku tersenyum, lalu menganggukkan kepala. Deon tersenyum.


Kami bersama - sama keluar dari kelasku,   kami berpisah ketika tiba di depan fakultas Deon.


Aku bersandar pada pintu mobilk


u yang tertutup, entah apa yang membuat perasaanku bercampur aduk.


"Alexa." aku langsung menoleh, kulihat sosok Shintia menghampiriku.


"Shintia?" ia berdiri tepat di hadapanku, dengan senyum terpancar di wajahnya.


Ada apa ini? bukannya dia lagi marah? tapi sekarang ....


"Lo bukannya lagi, marah sama gue?" tanyaku, ia menggelengkan kepala. aku menatap bingung ke arahnya.


"Gue nggak marah sama lo, yah ... gue cuma butuh waktu aja, lo sendirikan yang bilang persahabatan kita lebih berharga dari pada cowok, benar kan?" aku tersenyum, ia tertawa.


Meski ia mengatakan hal itu, entah kenapa aku merasa ada menjanggal. tapi karena tak mau berburuk sangka, aku segera menepis pikiran itu.


Kami mengobrol cukup lama, sebelum akhirnya Shintia pamit karena harus pergi.


17 : 00


Dirumah ....


Pintu kamarku di ketuk, kulihat Mama sudah berdiri dengan membawa segelas susu.


"Susu?" tanya Mama, seraya berjalan menghampiriku. aku duduk di tempat tidur, Mama duduk di sebelahku. aku menerima segelas susu dari tangan Mama.


Aku menatap Mama yang tersenyum ke arahku, dengan tatapan penuh heran.


"Mama, kenapa ke kamar aku? ada yang mau Mama bicarakan, sama Alexa?"


Kulihat Mama menghela nafas berat sebentar, lalu menganggukkan kepalanya. sebuah pertanyaan muncul dikepalaku.


"Sayang ... kamu ... setelah kamu lulus nanti, kamu ikut Mama nyusul Papa ke new york, ya?" aku hanya diam, pikiranku masih mencoba mencerna ucapan Mama yang tergolong tiba - tiba.


"Sayang?" begitu tersadar aku langsung menoleh ke arah Mama, ia tampak masih menunggu jawabanku.


"Memangnya Papa, nggak bakal balik lagi kesini, Ma?" tanyaku, Mama tampak ragu untuk menjawab, sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalaku.


"Mama juga nggak tau sayang," jawabnya singkat.


Kenapa nada bicara Mama seperti ada yang di tutupi?

__ADS_1


kenapa mereka sulit sekali memberitahuku?


kenapa mereka membuat aku merasa seperti orang bodoh?


"Mama, keluar kalau gitu, kamu istirahat, ya." aku mengangguk, Mama bersiap pergi.


Sebelum pergi, Mama memberikan pelukkan hangat. sebelum akhirnya Mama keluar dari kamarku.


"Apa aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi?" pikirku.


Keesokan harinya ....


"Hai, Xa." aku baru saja keluar dari mobil, tiba - tiba sosok yang tak ingin aku lihat sama sekali kini tiba - tiba sudah berdiri di hadapanku.


"Kenapa? bukan lo udah di keluarin dari kampus? ada urusan apa lagi lo sama gue?" tanyaku dengan nada nyolot.


"Kok nyolot gitu sih? santai dong, lo mau tau sesuatu, nggak?" tanyanya, demgan ekpresi sulit untuk aku artikan


"Gue dan Axell, bakal tunangan." hal itu membuatku terkejut bukan main, ketika aku hendak bicara, Shintia datang menghampiriku, menbuat aku tak jadi bicara. Jessica meningalkanku, ketika Shintia sudah ada di dekatku.


"Tadi Jessica, kan?" tanya Shintia, sambil melihat sekeliling.


"Ngapain dia, dia nggak ngapa - ngapain, kan?" aku mengangguk.


"Kekelas, yuk." ajaknya, aku mengangguk, lalu langkah kami beriringan menuju ke kelas.


Apakah mereka benar - benar akan bertunangan?


Atau ini bagian dari rencana Jessica?


"Aku harus bicara pada, Axell." pikirku.


Beberapa saat kemudian ....


Sambil berjalan, aku melirik sekitar mencari keberadaan sosok Axell. Axell hang biasanya selalu menghapiriku, entah kenapa ia kini ia tak lagi menemuiku.


Saat tersenyum ketika melihat Axell, yang bersandar di pintu mobilku, ia terlihat tengah memikirkan sesuatu.


Aku berpikir untuk langsung menghampirinya, tapi bagaimana jika Axell butuh waktu sendiri?


Dengan ragu - ragu, akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya. tapi ....


Brukk!!


Tiba - tiba, ada seseorang menabrakku, aku langsung jatuh. begitu juga barang yang aku bawa.

__ADS_1


"Alexa!" Axell langsung segera berhambur lari ke arahku, dan begitu sampai ia langsung memeriksa keadaanku.


"Lo nggak apa - apa?" tanya Axell, dengan raut wajah khawatir.


"Lo kenapa nabrak dia sih?! lo nggak punya mata apa, hah?!" Axell langsung membantuku berdiri, lalu bersama - sama merapikan barang - barangku yang berjatuhan.


Gadis yang tadi menabrakku bediri di kejauhan, menatap kami dengan takut.


"Gu-gue ... " Aku menoleh ke wanita lebih muda dariku itu, Axell menatap gadis itu dengan tatapan tajam. wajahnya tampak ketakutan. tangannya meremas tas yang ia bawah.


"Gue nggak sengaja, sorry." kepalanya menunduk, tatapannya tampak menyesal.


"Udah Xel, gue nggak Papa kok." ucapku menenangkan Axell, Axell menatapku.


"Lo yakin?" aku mengangguk, lalu membawa Axell pergi. semakin semua menjadi memburuk.


Tak lama setelah aku dan Axell pergi ....


"Gue udah lakuin yang kalian suruh, sekarang gue udah bebas, kan?" tanya gadis itu, tiba - tiba muncul sosok di belakang gadis itu.


Gadis itu berbalik, untuk menatap dua orang yang kini berdiri di belakangnya.


"Shintia, dan Jessica."


"Shintia, gue pikir lo sahabat Alexa, dan lo gue heran kenapa lo masih bekeliaran dikampus ini." Jessica berdiri di hadapan gadis, lalu meletakkan telunjuknya di jidat gadis itu untul di dorongnya.


"Lo itu cuma cewek cupu, kutu buku sama kayak Alexa, jadi nggak usah banyak bacot, itupun kalau lo bener - bener mau bebas dari kita." ucap Jessica  dengan nada mengancam.


"Atau gue bakal siksa lo lebih dari sebelumnya, sehingga lo merasa seperti di neraka, mau?" gadis itu menundukkan kepalanya, lalu menggelengkan kepalanya.


"Lagian lo nggak nabrak pakek kendaraan, jadi nggak usah lebay, sekarang pergi." Gadis itu bergegas pergi, sementara keduanya tersenyum puas.


"Shin, sekarang giliran lo." gadis itu hanya diam, lalu meninggalkan Jessica.


Jessica pergi tak lama setelah Shintia pergi, sementara aku dan Axell memasuki kafe di sekitar kampus.


"Lo beneran nggak apa - apa?" tanya Axell. aku menganggukkan kepala menanggapi pertanyaannya.


"Gue ke toilet dulu, ya." pamitku, Axell mengangguk. aku meletakkan tasku di meja, lalu setelah ke kamar mandi aku membersihkan tanganku, dan begitu selesai aku kembali ke tempat Axell.


Axell masih di tempatku, ia sedang mencicipi makanan yang telah di antar. begitu aku mendekat, Axell menatap ke arahku.


"Hai, Axell." Aku dan Axell menoleh. aku dan Axell sama - sama terkejut ketika melihat Jessica ada di kafe yang sama dengan kafe kami berada.


"Alexa, gue mau tanya dong, boleh? gimana rasanya makan bareng tunangan orang?" Aku menggeleng - gelengkan kepala. aku hendak bicara untuk menjelaskan, tiba - tiba Axell berdiri di antara aku dan Jessica.

__ADS_1


Apa yang Axell hendak Axell lakukan?


Dan Jessica kali ini drama apa lagi yang akan terjadi?


__ADS_2