
"Sementara kita simpan nama itu, meski aku yakin memang dia pelakunya." ucap Axell penuh keyakinan.
"Yaudah kamu masuk, dan istirahat." aku tersenyum kecil, lalu mengangguk. layaknya anjing penurut.
Setelah Axell pergi dengan mobilnya, aku melangkah masuk kedalam rumah.
Sesaat saat kulihat sekeliling ruang tamu kulihat kosong, tapi ...
"Alexa." aku menoleh ke asal suara, saat mendengar suara Mama memanggil.
"Mama?" aku melihat Mama berjalan ke arahku, aku datang mendekat.
"Kamu sudah pulang? memangnya dokter ngizinin?" tanya Mama, yang terlihat cemas.
"Alexa baik - baik aja kok, Ma." ucapku mencoba menenangkan Mama.
"Alexa, kita kembali ke New York aja, ya." aku terkejut mendengar ucapan Mama yang tiba - tiba itu, hingga aku tidak tahu harus merespon bagaimana.
"Ma _ "
"Mama Khawatir sama kamu ... " selanya.
"Alexa negerti Mama khawatir, tapi soal Mama minta ketemu dengan keluarga Axell, gimana? masa mau dibatalin gitu aja, benarkan Ma?" Mama tanpak berpikir, lalu menghela nafas. kemudian menganggukkan kepala.
"Iya, kamu benar Alexa." Mama mengusap lenganku lembut, aku menatap Mama sambil tersenyum kecil.
"Kamu bersih - bersih sana, habis itu kita makan sama - sama." aku mengangguk, lalu bergegas menuju ke kamarku.
Setelah selesai, aku keluar dari kamar. Dan menuju ke arah ruang makan. hari itu aku menikmati setiap detik makan bersama dengan Mama.
Hari berikutnya ....
Samar-samar Aku mendengar pintu kamarku di ketuk, tak lama aku mendengar namaku di panggil.
"Alexa! bangun, kamu memangnya nggak kerja?" Aku tersentak, lalu berhambur ke kamar mandi.
Aku harus segera ke kekantor, atau pekerjaan di kantor yang tengah menunggu. Tidak akan pernah selesai
Aku yang terjebak macet, membuatmu membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke kantor tempat aku bekerja.
Drtt!!
Saat aku hendak keluar dari mobilku, poselku berdering, aku langsung menjawabnya.
"Ya, Agatha?" ucapku.
"Lo dimana? gue mau ketemu lo, dong." tanyanya dengan nada gusar.
"Ada apa, emangnya?" tanyaku.
"Lo lupa, lo berhutang informasi mengenai cowok yang lagi gue incer?" aku mengiyakan, lalu memutuskan sambungan telpon. aku cepat-cepat menuju ke kantor.
Beberapa saat kemudian ....
Aku buru-buru keluar dari mobil, sebelum sempat memperhatikan arah jalanku.
Aku tidak melihat arah jalanku, aku terlalu sibuk dengan berkas dokumen penting saat hendak memasuki kantor, sampai aku di tabrak seeorang keras, karena tidak terlalu memperhatikan jalan.
Sehingga aku menjatuhkan berkas yang aku bawah, saat aku hendak memungut berkas yang berhamburan itu. Tangan kami secara tak sengaja bersentuhan, saat tangannya menyentuh kulitku, aku merasakan aliran listrik menjalar ke seluruh tubuhku.
"Kamu benar - benar ceroboh, ya." ucapnya dengan nada dingin.
Damn!!!
Lamunanku seketika buyar, setelah aku tahu siapa pemilik suara itu.
Mata kami saling bertemu, membuatku langsung berdiri.
"Inget ya, ancaman gue masih berlaku buat lo." setelah mengatakan itu, ia pergi begitu saja meninggalkanku.
Selama aku mengenalnya, aku selalu bertanya-tanya kenapa aku mendapat kesan buruk itu tentangnya.
Tapi akhirnya aku mendapat jawabannya, setelah bertemu dengannya hari ini.
Aku meraih berkasku, yang masih tergeletak di bawah, bersamaan dengan barang - barangku yang lain. lalu lanjut masuk kekantor.
Setelah masuk ke ruanganku, aku mengumpat setelah kembali mengingat kejadian sebelumnya.
Aku rasa aku akan lepas kendali, jika aku bersamanya barang 1 atau 2 menit.
Dia itu benar-benar menyebalkan sekali.
Karin salah saty mendapatiku sedang besandar pada kursi kerjaku, lalu berjalan menghampiriku.
"Ibuk, nggak kenapa - napa?" aku menghela nafas, lalu mengangguk kepala. aku rasa Karina tidak perlu tahu kejadian yang baru aku alami, karena ia bisa sangat heboh setelah mendengarnya.
"Ada perlu apa, keruangan saya?" tanyaku.
"Mmm ... Ibuk tahu sebentar lagi, perusahaan akan berulang tahu, kan?" aku hanya mengangguk.
"Terus?" tanyaku.
"Acaranya mau yang seperti biasanya, atau _ " aku mengela nafas, agar cepat aku menganggukkan kepalaku sebagai ganti jawaban iya.
"Kalau gitu, saya permisih," pamitnya. aku menganggukkan kepala, iapun meninggalkan ruanganku.
Aku bekerja keras hari itu, setelah Karina meninggalkan ruanganku, aku tidak bisa fokus dengan yang lain selain pekerjaanku.
Ketika jam istirahat ....
Aku mengintip pemadangan di luar, dari dalam jendela ruanganku. berharap ada yang menarik di luar sana.
Tak lama, kudengar pintu ruanganku kembali di buka, kulihat sosok Agatha disana.
"Xa, ke Kafe, yuk?" ajaknya, aku mengangguk kemudian menghampirinya.
Kafe Valery ...
Salah seorang pegawai kafe. menghampiri meja kami dengan membawa pesanan yang kami pesan.
Sementara waiters meletakan pesanan di meja, Karina tampak sibuk dengan ponselnya. aku penasaran sedang apa dia.
__ADS_1
"Lo, ngapain?" tanyaku, ia menoleh lalu langsung meletakkan ponselnya.
"Nggak, nggak ada," ujarnya. aku mengamati wajahnya seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan, tapi aku tidak tahu apa itu.
"Jadi ... lo dapet informasi apa, kira - kira?" tanyanya tiba - tiba, otakku berpikir keras atas jawaban yang akan aku berikan.
"Lo jangan kecewa ya, jangan sedih juga." ia menatap serius ke arahku, semakin membuatku bingung.
"Dia udah punya pacar, bahkan mereka mau nikah," ungkapku, tanpa sadar aku membicarakan diriku sendiri.
"Siapa?" tanyanya.
"Cantik? pasti masih cantikkan gue, iya kan?"
Sialan! dia ngatain gue jelek!
Beruntung aku masih bisa menahan diri, kalau tidak mungkin aku sudah menjambak rambutnya.
"Cantik, kok." ucapku.
"Tapi masih batas pacar, kan? berarti masih bisa gue tikung, selagi jalur kuning melengkung, dia masih bisa jadi milik siapa aja, benar kan?"
Enak aja!!!
"Dan lo, gue minta lo bantu gue, lo mau kan?" tanyanya, sementara aku hanya diam.
Jelas nggak mau, lah!!!
"Xa?" aku menghela nafas, lalu melirik ke arah jam di tanganku, sepertinya sudah waktunya aku kembali ke kantor.
Kebetulan sekali!
"Aduh ... kayaknya gue harus pergi, lo nggak ada masalah dengan itu, kan?" tanyaku, ia tampak memperhatikanku yang bersiap untuk pergi.
"Xa _ "
"Oh ya, soal tikung menikung, gue bukan ahlinya, sorry ya." setelah mengatakan itu, aku pun pergi meninggalkannya dan kafe itu.
Setidaknya aku terbebas, setibanya di depan mobil, aku langsung masuk dalamnya, dan menjalankan mobilku.
Drrttt!!!
Saat dalam setengah perjalanan menuju kantor, ponsselku berbunyi.
"Hallo." ucapku.
"Hai Alexa, ini aku Sean." aku diam beberapa saat, karena tak menyangka ia akan menelponku.
"Sean? ada apa?" tanyaku.
"Nggak, aku cuma mau tahu, apa mobil yang aku kirim udah sampai atau belum, udah sampai kan?" tanyanya.
"Iya udah kok, makasih udah anterin mobil aku, aku aja lupa." ujarku, ia tertawa.
"Sama - sama, ngomong - ngomong kamu, dimana?" aku terdiam kembali, utnuk apa ia menanyakan itu.
"Aku ... aku dalam perjalan ke kantor," ungkapku.
Aku tidak mau, kedekatan kami ini di salah artikan oleh Sean sendiri.
Dan aku tak ingin karena itu, membuat Axell marah dan kecewa padaku, kerena cemburu.
"Mmm .... Sean udah dulu ya, soalnya aku masih fokus nyetir." tanyaku, yang kini memutuskan sambungan telponnya.
Tiba di Kantor aku mendengar suara langkah kaki, dan mendengar suara cukup familiar.
Aku berbalik menoleh, kulihat tepat di belakangku ternyata ada Mama. Setelah aku pikir-pikir, Aku tak ingat kapan terakhir kali melihat Mama datang ke kantor.
Mama adalah gadis yang sangat sibuk, pada dasarnya aku yang selama ini di percaya menguru segala hal tentangnya. hingga membuatku terbiasa.
Mama berdiri di hadapanku, sementara aku menatapnya dengan ekpresi bingung.
"Sayang kamu dari mana?" tanyanya. aku berpikir jawaban apa yang harus aku berikan.
"Alexa? apa kamu akan cuma diam, dan nggak menjawab pertanyaan Mama?"
Sebelum akhirnya aku memiliki waktu untuk bereaksi, dan menjawab pertanyaannya. Dia mulai menyelidiki dari menatap wajahku.
"Jangan-jangan ... kamu habis bertemu seseorang ya, pacar kamu?" tanyanya, seraya menatapku dengan tatapan menyelidik.
"Nggak, Ma." aku menggeleng - gelengkan kepalaku, berbalik arah, dan mengajaknya keruanganku
Dengan rasa menjanggal di hatiku, ia tak memberikanku kesempatan untuk mengelak dari setiap pertanyaannya.
"Ngomong - ngomong, tumben Mama ke kantor." ujarku, kulihat ia menghela nafas, sementara Mama tak melepaskan pandangan dariku.
"Mama cuma mau ngecek kerjaan kamu dikantor, Mama cuma penasaran apa yang membuat kamu sering lembur, sampai lupa pulang ke rumah tepat waktu," ujarnya. Aku menghela nafas, ternyata Mama masih Membahas itu juga.
Beberapa saat kemudian, Aku mengatarnya Mama pulang, saat membuka pintu. ia seperti menahan sesuatu namun akan aku biarkan untuk sementara waktu.
Segera setelah sesudahnya mengantar Mama pulang, aku segera melanjutkan pekerjaanku.
Malam harinya ....
Aku keluar dari mobilku, aku menuju ke dalam rumahku. tiba di kamar aku bersiap untuk membersihkan diriku.
Beberapa saat kemudian ....
Saat aku mengeringkan rambutku, saat itulah pintu kamarku ketuk. kulihat pintu kamarku di buka, kemudian Mama pergi menghampiriku.
"Mama? kenapa melihatku begitu?" tanyaku, kulihat Mama masih mengamatiku.
"Alexa, kapan kamu akan membawa orang tua pacar kamu ke Papa, dan Mama?" Aku terdiam, kenapa tiba - tiba Mama membahas itu
"Mama, kenapa tiba-tiba bahas itu?" tanyaku, Mama tak menjawabku.
"Kenapa tidak jawab saja, pertanyaan, Mama?" tanyanya. aku menghela nafas.
"Minggu ini, Ma." ucapku dengan cepat.
Hari berikutnya....
__ADS_1
Saat mencari ibuku, aku mendapati Mama beristirahat di kamarnya. takut mengganggu, jadi aku biarkan.
Keesokan harinya ....
Kulihat pacarku itu sedang besandar pada pintu mobilnya, matanya mengarah padaku.
Saat aku hendak berjalan melewatinya, aku tak menyangka kalau ia akan langsung memelukku.
"Ada apa, ini?" tanyaku dengan nada bingunh, aku melepaskan pelukkannya agar bisa melihat wajah Axell.
"Ada, apa?" tanyaku, dengan menatap wajahnya.
Ia menatapku cukup lama saat aku berbalik untuk melihat wajahnya, aku menatap heran ke arahnya.
"Sebentar lagi kedua orang tua kita, akan bertemu," ujarnya. Aku menatap bingung ke arahnya, aku menunggu ia menyelesaikan kalimatnya.
"Kamu tahu, itu artinya, kan?"
Aku tak ingat kapan pertama dan terakhir ia menanyakan hal yang sama, aku pikir itu hal biasa. tapi kelihatannya itu hal serius.
"Hah? maksudnya?" ia menyentuh kedua bahunya, tatapannya menujukkan sebuah harapan.
Apa yang ia harapkan dariku?
Hal tentu saja menjadi pertanyaanku. Apakah pria di hadapanku ini, benar - benar di takdirkan untukku?
Secara tak langsung kenapa ia membuat aku merasakan hal itu?
Dia satu-satunya pria yang hadir dalam hidupku, dan berharap aku ada di hidupnya.
"Aku _ " ucapanku terhenti, aku menyingkirkan tangannya dari bahuku.
"Mulai sekarang, kita selalu bersama - sama ya." aku hanya tersenyum menanggapinya, kemudian Axell kembali mendekapku kedalam pelukkannya
Setelah selesai dengan pembahas kami Axell memgantarku pulang, dengan pikiran yang memenuhi kepalaku.
Keesokan harinya ....
Hampir setengah hari, aku tak melihat pacarku itu. dan tanpa sadar aku mencari, dan .... mengkhawatirkannya.
Begitu pekerjaanku selesai, aku pulang dan pergi istirahat.
Malam harinya ....
Pada saat itu aku mendengar seseorang mengetuk pintu ruanganku, aku melihat ke arah pintu yang mulai terbuka.
Aku terkejut, dan refleks berdiri. Ketika mengetahui kamarku di datangi oleh Mama dan ....
Papa?
"Pa-Papa?" entah kenapa di depannya aku rasanya sulit mengendalikan diriku, karena tak percaya bisa melihat keberadaan Papa dirumah.
"Bisa ikut, kami?" tanyanya, aku menatap aneh ke arahnya.
"Hah? kemana?" tanyaku dengan ekpresi bingung.
Tanpa menjawab pertanyaanku, ia pergi mendahuluiku, sontak saja aku mempertanyakan atas sikap mereka itu. meski pada akhirnya aku menyusul, dan pergi bersamanya.
Aku tiba di sebuah ruang tamu, aku melirik bingung ke arahnya yang kini ada dihadapanku
"Kalian, disini?" tanyaku, ia tak langsung menjawab. ia melihat ke arahku sekilas, lalu tertawa. orang tuaku ikut tertawa.
"Ish! di tanya juga!" dengan kesal, aku melengos, Mama mendekatiku.
"Menurut kamu, mereka ngapain disini?" tanya Mama, otakku mulai di buat penasaran, mencari jawaban atas pertanyaan Mama.
"Mau ketemu siapa lagi, ya kamu lah." aku terdiam, kenapa aku bisa lupa?!
Belum sempat aku berkata - kata, Axe sudah berdiri di hadapanku, membuatku kehilangan kata - kata.
Ia tersenyum menatapku, sementara aku tersipu didepannya.
"Ayo, kita makan." Kami berjalan beririgan, aku mengibangi langkahnya. yang tampak santai.
"Jadi kapan baiknya, mereka menikah?" mendengar itu, entah kenapa membuat tersedak.
"Menikah?" mereka yang terkejut mendengar pertanyaanku, menoleh ke arahku.
"Kenapa, sayang?" tanya Mama.
"Eh? Mmm ... Ma-maksudku, terserah kalian aja." ucapku, yang kemudian tanggapi senyuman lalu mereka kembali pada pembahasan.
Malam itu adalah malam yang panjang bagiku, tapi membahagiakan ....
Keesokkan harinya ....
Taman kota, pukul, 15 : 00
"Lo bakal, nikah?" tanya Agatha dengan raut wajah terkejut. aku kembali melanjutkan langkahku, lalu dengan cepat ia berdiri di hadapanku.
"Siapa, calonnya?" tanyanya dengan raut penasaran, aku tampak berpikir untuk jawaban yang akan aku berikan.
"Rahasia." ucapku yang kemudian kembali meninggalkannya.
"Alexa!" Rasanya aku ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi mengingat ia adalah sahabatku, membuatku mengurungkan niatku, aku menghela nafas. lalu tetap melanjutkan langkahku.
Beberapa saat, kemudian ....
Setelah selesai di taman, kami pergi ke sebuah kafe yang tak jauh dari taman yang kami datangi.
Ia tampak biasa saja, tapi kenapa aku sebaliknya, ya?
"Lo harus kasih tau siapa calon suami lo, Alexa." aku menggela nafas.
Hampir saja aku terpengaruh olehnya, rahasia tetap rahasia. dan ini demi menjaga perasaannya.
Aku segera fokus untuk menghabiskan makananku, agar bisa meminta kembali ke kantor untuk meneruskan pekerjaanku yang tertinggal.
Aku punya pirasat, malam ini aku akan lembur. andai saja aku tidam mengikuti kemauannya untuk pergi bersamanya ke taman.
Setibanya ke kantor, setelah aku memaksa untuk kembali. aku langsung berhambur masuk ke kantor, dan menuju ruanganku untuk melanjutkan kembali pekejaanku.
__ADS_1
Saat teringat apa yang terjadi, seketika rasanya aku dipemainkan oleh perasaanku sendiri.