
Aku hanya diam di tempatku, menunggu apa yang akan aku saksikan di depan mataku.
"Benarkan kata gue, Alexa itu tipe sahabat pagar makan tanaman." kulihat Shintia hanya diam, raut wajahnya terlihat sedih.
"Saran gue lo nggak usah berteman lagi sama Alexa, dari pada lo bakal di tusuk lebih dalam lagi, benarkan?" aku mengepalkan tangan, kalau saja aku tidak sedang menahan diri, mungkin aku akan menghapiri Jessica, dan menjambak rambutnya itu.
Aku melihat Jessica bersiap pergi, sementara Shintia masih diam di tempatnya.
Ponsel Jessica berbunyi, ia melihat sekilas ponselnya, kemudian tersenyum.
"Gue tinggal dulu." Shintia hanya mengangguk, Jessica pergi meninggalkan Shintia di tempatnya.
Aku masih memperhatikan Shintia dari kejauhan, aku tak berani menghampirinya. Takut malah memperburuk keadaan.
Saat ia berbalik ke arahku, ia akhirnya menyadari keberadaanku. ia bergegas pergi, dan aku langsung menyusulnya
Aku menarik tangan Shintia, hingga akhirnya ia berhasil di hentikan. ia menghempas kasar tanganku.
"Shintia, lo kenapa jadi kayak gini sih, hanya karena cowok?" ia mengabaikan ucapanku, dengan melengos ke arah lain.
"Shin, persahabatan kita lebih dari itu, kan?" ia terdiam, namun masih belum mau menatapku.
"Shin, please jangan kayak gini, jangan buang persahabatan kita hanya karena cowok." ia hanya diam, dan memandang ke arah lain.
"10 Deon bakal gue kasih ke elo, nggak masalah, tapi jangan kayak gini, please." ia menghela nafas berat. ia kini menatapku.
"Percuma Xa, masalahnya bukan itu, masalahnya cinta Deon, cuma ke elo." aku tertegun, aku kehilangan kata - kata untuk membalas ucapannya.
"Gue yang begok, mengejar cinta seseorang, yang orang itu sendiri nggak cinta sama gue," ujarnya, kulihat mata Shintia mulai berair.
"Apa lo puaskan, sekarang?" aku hanya diam, sementara Shintia mulai berjalan meninggalkanku.
Disaat itu juga, aku merasa awan mendung mulai menyelimuti hatiku, membuat bukan hanya perasaanku tak karuan, tapi juga dadaku terasak sesak karenanya.
Axell mengakat daguku, membuatku menatap wajahnya. entah sejak kapan datang, yang jelas kini dia ada untukku.
Axell mengusap pipiku yang entah kapan air mataku membasahi pipiku, axell tersenyum dan senyumannya itu ternyata menular. karena aku ikut tersenyum.
Axell mengusap pipiku, posisi kami sangat dekat. mata kami saling bertemu, saling tatap satu sama lain.
"Xa, lo tau sesuatu, nggak?" tanya Axell. aku menggelengkan kepala, tanpa mengalihkan pandanganku darinya.
"Lo terlihat cantik, kalau tersenyum." aku mengulum senyum, namun semua itu tak berlangsung lama.
"Dan lo tau sesuatu nggak?" tanyaku, Axell kini menatap bingung ke arahku.
__ADS_1
"Kita ini sedang di kampus, bisa mencuri perhatian orang." Axell segera tersadar, Axell langsung bergerak menjauh begitu mendengar hal itu.
Aku menahan tawa, Axell sibuk melihat sekeliling.
"Nggak ada kelas lagi, kan? kita pergi sekarang?" aku hanya bisa mengangguk, kami beranjak dari kampus.
Axell segera membawaku masuk kedalam bioskop, sementara aku membawakan minuman, dan pop corn.
Film favorit telah dimulai, aku dan Axell mulai larut dalam adegan di dalam layar.
beberapa saat kemudian ....
Aku baru dari kamar mandi, aku melihat Axell terpaku menatap ponselnya. aku datang mendekat.
"Axell, lo lagi liatin, apa?" tanyaku, ia menoleh kearahku. lalu menggelengkan kepala, kemudian menyimpan ponselnya.
"Mau pulang sekarang?" tanyanya, aku menganggukkan kepala.
Sepanjang perjalanan Axell hanya diam, dan ekpresinya seperti orang yang sedang banyak pikiran.
Keesokan harinya ....
Aku datang ke kampus 1 jam lebih awal dari jadwalku, karena ada tugas yang harus aku kumpulkan.
Aku baru selesai dari ruangan dosen, hingga tak lama Axell datang menghampiriku. ia terlihar lebih baik dari yang aku bayangkan.
"Hai, Xa." aku tersenyum, tangannya bergerak merapikan rambutku.
"Bukannya kelas kamu, 30 menit lagi?" tanyanya. aku mengangguk menanggapi pertanyaannya.
"Aku habis dari ruangan dosen ngumpulin tugas, jadi datangnya lebih awal." Jelasku, Axell mengangguk paham.
Saat kami tengah mengobrol, dua orang yang melewati kami seraya memperhatikan kami. hingga berhenti di hadapan kami.
Dan tiba - tiba mereka mengatakan sesuatu yang membuatku sangat terkejut.
"Xa, lo jadi cewek murahan banget sih, Deon lo deketin, Axell lo embat juga." mereka menatap jijik ke arahku, lalu pergi begitu saja.
Axell hendak menyusul mereka, namun tanganku begerak menahan Axell. Axell berbalik, ia menatapku.
"Xa, tapi, kan _ " Aku menggelengkan kepala, Axell menghela nafas. ia terlihat tidak puas, suasana hening seketika.
"Gue baik - baik aja, Xell" Axell menghela nafas, ia manatapku.
"Tapi Xa, mereka tadi itu udah keterlaluan." ucapnya, aku memgangguk setuju. tanganku bergerak menyentug bahu Axell.
__ADS_1
"Tapi meladeni mereka, hanya memperburuk keadaan, Xell." Axell tak lagi bicara, lalu menghela nafas berat. lalu bergegas membawaku pergi menjauh.
2 jam kemudian ....
Jessica menghampiri Axell, yang sedang duduk di salah satu bangku taman kampus.
Mereka saling diam sejenak, seraya memperhatikan suasana sekitar.
"Ada apa lagi? bukannya lo udah di depak ya dari kampus ini, kok lo masih bisa bekeliaran?" tanya Axell dengan nada dingin.
"Memangnya itu penting ya? kayaknya nggak deh, iya kan?" Axell mengabaikannya, Jessica duduk disebelahku, kemudian memegang tangan Axell.
Tatapan tajam Axell, sama sekali tak membuat gadis itu gentar.
"Axell, kamu tau kan, kalau aku nggak akan pernah nyerah buat dapetin kamu, permainan baru saja di mulai, kita lihat aja nanti." setelah mengatakan itu, Jessica pergi begitu saja.
Sosok yang tegas itu, kini sudah kehabisan kesabaran. namun ia hanya bisa menahan dirinya.
Tak lama aku menghampiri Axell, suasana begitu dingin dan canggung. karena Axell tak kunjung bicara.
Biasanya Axell jika ada sesuatu yang dibicarakan, Axell akan bicara langsung. tapi kali ini dia hanya diam.
Telponku berdering, aku aku segera mengangkatnya.
Saat kututup telpon, kukihat Axell masih diam. sebenarnya ada apa dengan Axell? apa yang sedang dipikirkannya? apa semuanya baik - baik saja?
Aku takut mencampuri urusannya, maka dari itu aku takut bertanya kepadanya.
Tapi ... kalau hanya sekedar menanyakan keadaanya, nggak masalah kan?
"Axell, lo baik - baik aja, kan?" tanyaku, Axell tak merespon apapun. Axell tampak seperti orang yang penuh dengan banyak pikiran.
Aku mmikirkan cara untuk mengalihkan perhatiannya, hingga sebuah ide terpikirkan olehku.
"Duh ... kok gue laper, ya." Axell langsung melirik ke arahku, lalu menggenggam tanganku.
"Ikut gue, yuk." ajaknya, aku menatap bingung.
"Kemana?" tanyaku.
"Katanya laper, cari tempat makan lah, caffe, atau ke kantin?"
Aku tersenyum sambil menatap Axell, disaat ia terlihat banyak masalah, bisa - bisanya ia memikirkanku, tanpa memikirkan dirinya sendiri.
Aku menghela nafas, aku menganggukkan kepala. aku mengeratkan genggaman Axell yang masih berada di tanganku.
__ADS_1