Romantika Kisah Cinta

Romantika Kisah Cinta
Liontin Matahari


__ADS_3

Aku mencoba mengatur nafasku, ketika Axell tiba - tiba mendekapku ke dalam pelukkannya.


Axell yang sejak tadi menunjukkan sikap tenangnya, entah kenapa langsung berubah menjadi was - was.


"Lo bakal balik lagi, kan?" tanyanya, aku menghela nafas. lalu menggelengkan kepala.


Aku tidak mau memberikan harapan palsu dengan bilang aku akan kembali, dan aku tidak mau membuat janji yang tidak bisa aku tepati.


Aku dan Axell kembali diam, kini Axell tampak memikirkan soal kepergianku.


"Xa, apa lo bisa janji satu hal, sama gue?" tanya Axell, aku menatap ragu ke arahku.


"Lo harus balik lagi, untuk dengar sesuatu yang penting dari gue." aku hanya diam, tak tau harus menjawab apa.


"Kalau ada sesuatu yang penting yang mau lo bicaraain sama gue, kan bisa sekarang." Axell menggelengkan kepalanya, membuatku menatap penuh heran ke arahnya.


"Lo harus kembali dulu, dan langsung temui gue." ucapan Axell lagi - lagi membuatku terdiam.


Ketika tersadar sesuatu, sesuatu terpikirkan olehku, aku melepas liotin berbentuk matahari yang melingkar dileherku selama ini, lalu aku menyerahkannya ke Axell.



"Xa, ini _


"Itu salah satu kalung berharga untukku, suatu saat aku akan mengambilnya kembali." potongku, Axell tampak mengamati liotin itu


"Sampai saat itu, gue mohon jaga liotin itu baik - baik." ucapku, Axell tampak menggegam liotin itu erat - erat. lalu mengangguk seraya menatap ke arahku.


"Matahari itu simbol ke hangatan, dan memiliki arti harapan, itulah yang selama ini gue rasain saat bersama lo, Axell."


30 menit kemudian ....


Axell mulai memasuki mobilnya, aku ingin menahannya lebih lama. tapi entah kenapa aku tidak melakukannya.


Malam harinya ....


Semua sudah datang, kecuali Axell yang ternyata tidak menemuiku di bandara, kami hampir selesai, dan bersiap menuju ke pesawat.


Baru saja aku mau pergi, saat Axell akhirnya tiba. Axell terlihat tidak semangat, dan terlihat lesu.


Axell letakkan sesuatu ke tanganku, bersamaan dengan Mama yang berdiri di sebelahku, kini ia memperhatikan kami.


"Mama tunggu kamu di pesawat ya, sayang." aku mengangguk lalu mama meninggalkan kami. seolah ia memberikan kami ruang.



Axell memperhatikan aku, yang masih sibuk dengan liontin pemberiannya. Axell berjalan mendekat. lalu tiba - tiba mendekapku dalam pelukkannya.

__ADS_1


"Sampai ketemu lagi, Xa." aku tertegun, kemudian tersenyum dalam pelukkan Axell.


Sampai ketemu lagi, Tuan Axell ....


3 tahun kemudian ....


Aku tengah berdiri di tepi conveyor belt, menunggu koperku lewat.


Aku memutuskan kembali dari new york, begitu tak ada urusan lagi disana. kutatap setiap koper yang melewatiku.


Meski awalnya sulit untuk rasanya kembali, karena masalalu yang masih membayangiku. namun setelah di pikir lagi, tak ada gunanya larut dalam bayangan masalalu, kan?


Aku tetap membuktikan, kalau aku mampu.


Koperku mulai terlihat, kuraih koper itu, dan kuperiksa keadaannya. kemudian aku melangkah ke area penjemputan.


Beberapa mata tampak melirik ke arahku, namun aku tetaop tenang.


Seorang lelaki yang kukenal menoleh ke arahku, lalu dengan tenang menghampiri.


"Selamat datang, nona Alexa." Aku hanya tersenyum menanggapinya.


"Bagaimana perjalanan anda?" tanyanya.


"Menyenangkan." ia hanya tertawa, lalu mengambil alih koperku.


Entah kenapa suasana hatiku mendadak berubah, mengingat masalalu yang mungkin akan kembali membayangiku.


Bayangan orang yang aku cintai yang membuat hubungan kami berakhir begitu saja tampa di mulai, memenuhi pikiranku.


"Kira - kira bagaimana, kabarnya, ya?" gumamku.


Keesokan paginya ....


Saat ini aku berada di kafe, untuk bertemu sahabatku sewaktu SMA. Namanya adalah Agatha.


Agatha adalah sahabatku terbaikku, karena kami sangat dekat. Namun setelah lulus SMA, ia dan keluarganya pindah ke amerika. dan belum lama ini berada di tempat yang sama denganku, jadi aku memutuskan untuk menghubunginya.


Agatha melihatku tengah termenung, dia menyikut lenganku, kami bertatapan sejenak.


"Lo ngapain termenung gitu, kangen mantan?" tanya Agatha menggodaku, aku terkekeh.


"Apaan sih, siapa juga kangen mantan? lagian mantan gue yang mana yang lo maksud?" ia tertawa lepas, aku ikut tertawa melihatnya.


"Emang mantan lo berapa banyak?" tanyanya kembali menggodaku.


"Udah sih ... kenapa malah bahas mantan? lo berapa lama disini? bakal balik lagi ke amerika?" tanyaku, ia mengangguk.

__ADS_1


"Sekitar dua bulan baru gue balik, lo sendiri baru pulang ngajak gue ketemuan, nggak capek?" tanyanya, aku tertawa, lalu menggelengkan kepala.


Pelanggan di kafe itu mulai berdatangan, namun kami berdua masih sibuk mengobrol.


"Pak Axell, selamat datang." Axell datang bersama beberapa orang, namun aku belum menyadarinya karena masih mengobrol dengan Agatha.


Tiba - tiba Agatha menunjukkan gestur untuk diam, lalu menunjuk ke suatu arah.


Aku mengerti maksudnya lalu terkekeg, kemudian mengikuti arah yang di tunjuknya.


"Ganteng ya, coba bisa gue gebet." aku hanya diam tak merespon ucapan agatha.


Aku sibuk memperhatikan Axell, yang tengah tertawa bersama teman bisnisnya. disaat Agatha tengah sibuk mengoceh mengangumi sosok Axell.


"Xa?" Aku menoleh ke arah Agatha, seraya mengangguk paham. aku bersiap untuk pergi kafe itu.


"Lah terus ini lo mau, kemana?" tanya Agatha seraya memperhatikan aku yang tengah bersiap - siap untuk pergi.


"Mmm ... anu ... gue ada urusan, gue balik duluan, ya." aku bergegas keluar dari kafe itu, sementara Agatha tampak kebingungan melihat sikapku yang tiba - tiba seperti menghindar.


Tak lama setelah aku pergi, entah dari mana keberanian itu. Agatha menghampiri meja Axell setelah ia hanya tinggal seorang diri.


"Hai." sapa Agatha rama. Axell menoleh lalu memperhatikan Agatha.


"Gue Agatha, lo?" tanya Agatha sambil mengulurkan tangannya.


Axell menatap aneh ke arah gadis itu, namun ia tetap menjabat tangan gadis itu.


"Axell." ucapnya.


"Btw, boleh gue duduk?" tanyanya, Axell tampak berpikir sesaat sebelum akhirnya ia mengangguk.


"Sorry, tapi gue nggak ada maksud apa - apa kok, gue cuma tertarik sama carisma lo."


Axell yang mendengar hal itu tiba - tiba menjadi tersedak, lalu meraih gelas didepannya untuk di minum Axell menatap aneh gadis yang saat ini ada di depannya.


"Lo nggak apa - apa? apa barusan gue salah bicara?" ia menatap gadis itu beberapa saat, lalu menggelengkan kepalanya. kemudian lanjut menyeruput minumannya.


Gadis itu kini memperhatikan Axell, hal itu membuat Axell merasa tam nyaman. ternyata gadis itu menyadari kalau Axell merasa tak nyaman.


"Sorry, gue udah buat lo nggak nyaman, ya?" tanya gadis itu, Axell hanya diam.


"Jangan cuek gitu dong, nanti gantengnya hilang loh." gadis itu berpangku seraya menatap Axell sambil tersenyum, sementara Axell menatap aneh ke arahnya.


Drrttt!!!


Tiba - tiba ponsel gadis iti berbunyi, gadis itu melirik sekilas ke ponselnya. lalu kembali melihat ke arah Axell, yang tampak sibuk dengan ponselnya. ia tampak mengabaikan gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2