Romantika Kisah Cinta

Romantika Kisah Cinta
Lo Dan Axell Pacaran?


__ADS_3

Semakin langkahku mendekat, suara itu tak lagi terdengar. begitu masuk ke ruang makan, kulihat Mama yang tengah menyiapkan makan malam, dan Papa yang tengah memperhatikan Mama.


"Ma, Pa, kalian disini?" tanyaku, mereka langsung menoleh ke arahku, begitu mendengar suaraku.


"Sayang? kamu dari mana pulang jam segini? dan kenapa kamu suruh supir bawah mobil kamu? memangnya kamu pulang sama siapa?" ucap Mama menanyaiku dengan bertubi - tubi.


"Aku cuma pergi bersama teman, Ma." ucapku, mereka terlihat terkejut mendengar jawabanku, dan kini menatapku serius.


"Teman? siapa? laki - laki atau perempuan? anak siapa? dari keluarga mana? kamu yakin cuma teman?" aku menghela nafas berat, sementara kini keduanya menatapku dengan lekat. menunggu menjelaskan lebih lanjut.


Kenapa aku bisa terjebak seperti ini?


30 menit kemudian ...


Aku merasa lega, ketika mereka percaya dengan penjelasan yang aku berikan. saat  mereka bertanya aku menjawab semampu yang aku bisa. sehingga mereka bisa segera melupakan pertanyaan, dan tak membahasnya lagi.


Setelah itu kami langsung kembali ke pembahasan selanjutnya.


"Tadi aku sempat mendengar Papa dan Mama mengobrol, kalian ngobrolin apa?" tanyaku, entan kenapa mereka menjadi diam. dan saling pandangan satu sama lain.


Pirasatku mengatakan ada yang mereka hendak bicarakan, tapi apa?


"Ma? Pa? kalian nggak mau kasih tau, Alexa?" keduanya yang dari tadi aku perhatikan hanya diam, akhirnya mulai hendak angkat bicara.


"Papa, mau pergi ke New York, sayang." Mama tiba - tiba berpindah tempat duduk, menjadi duduk disebelahku, dan mengusap rambutku.


"Kapan berangkat? kali ini berapa lama?" tanyaku dengan nada dingin. aku melihat keduanya kini menghela nafas.


"Besok malam, 8 bulan." jawab Mama dengan ragu.


Aku mulai mencerna semuanya, jika selama itu, berarti masalah tidak kecil, sebenarnya apa yang terjadi?


Sampai Papa harus pergi ....


"Alexa." kini perhatianku beralih ke arah Papa, yang kini menatapku dengan lekat.


"Perusahaan Papa disana membutuhkan Papa, kamu bisa mengerti kan?" tanyanya.


Lalu aku? memangnya aku tidak membutuhkan kalian disini?


Entah kenapa rasanya selalu sulit melepas mereka pergi, padahal semua ini sudah biasa terjadi. tapi ....


Kali ini rasanya sangat berat ....


Untuk ditinggalkan oleh keluarga kita satu - satunya.


Beberapa saaf kemudian aku tersadar, lalu kembali menoleh ke arah Papa. aku menatapnya cukup lama, lalu aku menganggukkan kepalaku.


Keduanya kini tersenyum menatapku, lalu kembali sibuk dengan makan malam yang sudah tersaji.


Keesokan harinya ...


Berbagai pikiran kini berkecamuk di kepalaku.

__ADS_1


Kepergian Papa yang terkesan di tutup - tutupi.


Dan lamanya Papa disana.


Apa yang sebenarnya terjadi?


dan ....


Apa yang sebenarnya  yang mereka sembunyikan dariku?


Akupun memutuskan untuk pergi ke taman kampus, untuk mengusir semua yang mengganggu di pikiranku untuk pergi.


Seseorang menepuk pundakku dari belakang dengan lembut, aku berbalik untuk menoleh. melihat siapa yang ada di belakangku.


Tepat saat itu, kulihat Deon sudah berdiri dibelakangku, seketika aku bingung harus  bagaimana.


"Hai, Xa." sapanya, dengan senyum ramah. aku tersenyum, sambil membalas sapaannya.


"Hai, lo ngapain?" tanyaku canggung.


Deon tak langsung menjawab pertanyaanku, lalu berpindah duduk di sebelahku.


"Gue boleh duduk di sebelah lo, kan?" tanyanya, aku melihat sekeliling. Sambil menghela nafas berat, aku menganggukkan kepala. Deon masih menatapku, yang kini sibuk dengan ponselku.


"Lo dan Axell, pacaran?" aku tak mengerti maksud dari pertanyaannya, namun aku tak mempunyai jawaban atas pertanyaannya.


Lalu aku harus bagaimana?


Deon tersenyum sebentar, lalu memperhatikan aku yang pergi meninggalkannya.


Aku menghela nafas lega, bisa aku rasakan bagaimana rasanya berada di dekat Deon. meski tak nyaman.


Ketika aku melihat sosok Shintia, Shintia buru - buru pergi. mataku mengekor padanya, lalu pergi menyusulnya.


Aku berhasil mengejarnya, ketika aku menarik tangan Shintia untuk berhenti. langkahnya terhenti, dan lansgung berbalik menoleh ke arahku.


Aku tersenyum ke arahnya, tapi Shintia tak membalas senyumanku. aku menatap penuh heran ke arahnya.


"Lo kenapa? lo baik - baik aja, kan?" tanyaku, ia mengabaikan pertanyaanku dengan melepaskan tanganku dari lengannya. entah kenapa pirasatku seketika menjadi tidak enak.


"Shintia ... lo baik - baik aja, kan?" tanyaku kali ini dengan hati - hati.


"Gue baik - baik aja, tapi hati gue yang nggak baik, Xa." aku tertegun, mata Shintia kini mulai berair.


"Hati gue sakit, setiap kali liat lo biaa sebegitu deketnya dengan Deon, tapi gue?" ucapan Shintia membuatku terdiam, saat aku ingin menjelaskan, Shintia pergi begitu saja.


Shintia sepertinya sangat sedih, karena Deon cuma mengaggapnya sebagai teman. apa yang bisa aku lakukan untuk Shintia?


Malam hari tiba, aku telah selesai belanja keperluanku, dan beberapa cemilan. aku tinggal bersiap untuk pulang.


.***


Sejak kajadian hari itu, selama 5 hari sikap, dan hubunganku dengan Shintia berubah menjadi canggung.

__ADS_1


Apa hanya sampai disini persahabatan kami? karena hanya seorang pria?


Aku pikir persahabatan kami lebih dari sekedar itu .....


Apa ada cara untuk memperbaikinya?


Di taman kampus, pukul 10 : 00


"Xa, lo baik - baik aja, kan?" tanyanya, tatapan Axell seakan mengamati, sekaligus menyelidik.


Aku menghela nafas berat, lalu menganggukkan kepala. kusandarkan kepalaku di bahu Axell, agar memberikan aku sedikit kekuatan untuk bercerita.


Mataku menerawang lurus kedepan, Axell hanya memperhatikanku tanpa banyak bicara, dan bertanya.


"Gue baik - baik aja, tapi hubungan gue dan Shintia yang nggak baik - baik aja." ujarku.


Aku menjauhkan kepalaku dari bahu Axell, lalu mengalihkan pandanganku ke arah lain dari Axell.


Aku mendengar Axell menghela nafas, refleks aku menoleh kearahnya. yang membuatku menatap wajahnya.


"Masalahnya, apa?" tanya Axell, seolah ia ingin membantuku mencari jalan keluar.


Aku menceritakan antara masalahku, dan Axell. Axell tanpa mencoba nencerna semua yang aku katakan.


Kami berdua hening sejenak, saling larut dalam pikiran satu sama lain. membiarkan sedikit jeda agar biaa berpikir.


"Xa, sepertinya hanya ada satu jalan keluar." aku menatap ke arah Axell, aku memutuskan untuk mengikuti apa yang di katakan Axell.


2 jam kemudian ....


Saat menuju ke perpustakaan, aku melihat Shintia tengah berdiri memperhatikan Deon yang tengah bermain basket bersama teman - temannya.


Apakah sekarang saatnya?


Aku memegang erat buku yang aku bawa ke depan dada, lalu memajukan langkahku kedepan ke arah Shintian.


Namun baru beberapa langkah, aku terpaksa menghentikan langkahku, ketika aku melihat sosok Jesssica menghampiri Shintia.


Apa yang sedang dilakukan Shintia bersama Jessica?


Dan sejak kapan mereka menjadi dekat?


selama ini .... apa saja yang sudah aku lewati tentang mereka?


Dan Jessica ....


Apa yang kau rencanakan terhadap sahabatku?


****


Ig : s_anastayha


fb : anastayha silfa

__ADS_1


__ADS_2