Romantika Kisah Cinta

Romantika Kisah Cinta
Suka Dengan Deon


__ADS_3

Aku dan Axell terus belari, dengan tanganku yang masih memeganging tangan Axell.


Aku terus lurus, yang aku tau itu menuju pakiran. aku segera menghentikan langkahku ketika Axell menahan tanganku.


Aku melihat ke sekeliling, aku kembali melihat ke arah Axell.


"Alexa." Aku menelan ludah, aku sepertinya tau apa yang akan dia bicarakan.


"Sejak kapan lo, dekat dengan, Deon?" tanyanya. aku merangkai kata sebelum menjawab pertanyaannya, agar ia tak salah paham.


Aku menceritakan segalanya, namun tal ada respon setelahnya.


"Ada apa? kenapa tiba - tiba diam?" tanyaku, menatap penuh heran.


Aku memperhatikan Axell yang raut kesal, aku ingin bertanya. kira - kira apakah ia mau menjawabnya?


"Alexa, apa lo suka sama, Deon?" raut wajahny membuatku yakin kalau ia menahan cemburu, namun karena sesuatu ia mencoba menutupinya.


Sebuah ide untuk menggoda Axell muncul, kira - kira akan seperti apa reakasinya?


"Bisa jadi sih ... nggak tau deh." aku mengalihkan pandanganku dari mata Axell, aku meringis kesakitan saat Axell tiba - tiba mencubit gemas pipiku.


Tanganku menahan kedua tangan Axell, tatapan kami saling bertemu. tatapan Axell yang tanpa jeda, memberikanku kenyaman yang enggan aku lepaskan begitu saja.


"Kenapa? katanya suka sama Deon, tapi kenapa menatap gue  begitu?" tanyanya dengan nada dingin.


Aku tak kuasa menahan tawaku, hingga membuatku melepaskannya.  Axell tanpa menatap bingung ke arahku, namun masih terlihat kesal.


Aku kira hanya perasaanku, ternyata Axell benar - benar. Dan entah kenapa melihatnya yang tengah cemburu seperti ini membuatku menjadi gemas.


"Kau cemburu? benar?" tanyaku dengan nada menggoda, ia langsung mengontrol ekpresinya.


"Nggak, siapa bilang aku cemburu?" saat itu sesuatu terlintas di kepalaku.


"Hai, De _ " belum sempat aku melangkahkan kaki menghampiri Deon, Axell menahan lenganku.


"Lo sengaja, ya?" tanyanya dengan nada kesal, aku tertawa.


Tiba - tiba Axell berjalan mendekat kepadaku, membuatku refleks mundur.


Tiba - tiba jari telunjuk dan jari tengahnya menyentuh jidatku, lalu didorongnya. membuat aku meringis kesal.


Sekarang tiba - tiba Axell mengecup keningku, membuatku mematung.

__ADS_1


"Xa, ikut gue, yuk." ketika tersadar, aku menggercapkan mata. tanpa menunggu  jawaban ia menarikku.


Entah kenapa sekarang aku malah menaikki mobil Axell, dan selama dalam perjalan dengan mobil ia tak melepaskan tanganku.


"Axell, kita mau kemana?" tanyaku seraya melirik Axell yang berada di sebelahku. Axell tampak fokus ke jalan.


"Ke taman?" tanyanya sambil melirikku sekilas. dan terus melajukan mobilnya.


Taman?


Setelah tiba di sebuah taman, kami keluar dari mobil. tak lama kemudian tiba - tiba ....


Brukk !!!


Saat kami tengah asik menulusuri taman, seorang anak kecil menabrakku, membuat aku dan anak kecil itu duduk di lantai. ia menatapku, dan Axell penuh ketakutan.


"Alexa, lo nggak apa - apa, kan?" aku mengangguk, lalu Axell membantuku berdiri.


"Khisk ... " aku langsung menjauhi Axell, lalu berjalan mendekati anak kecil itu.


"Kau tidak apa - apa?" tanyaku, ia mengangguk. namun tak berani menatapku, sepertinya ia ketakutan.


"Ma-maaf, tadi aku lagi main sama temanku, aku _ " melihatnya ketakutan seperti itu membuatku jadi tidak tega. sepertinya aku tahu apa yang harus aku lakukan.


"Ayo kakak bantu, jangan khawatir kakak nggak marah, kok." ia tersenyum kecil, lalu  menurut.


"Dia nggak baik - baik saja, kan?" aku mengangguk, tiba - tiba Axell menjadi diam, dan tanpak tenggelam dalam pikirannya.


"Axell, lo kenapa?" tanyaku, ia menoleh ke arahku, lalu menggelengkan kepalanya.


"Gue ... tiba - tiba teringat adik, gue Xa." aku mengangguk paham, lagi - lagi Axell diam.


"Usianya 5 tahun waktu itu," aku tertegun mendengarnya. semoga bukan seperti yang aku pikirkan.


"Waktu itu?" tanyaku hati - hati.


"Ia meninggal dua tahun lalu, karena tabrak lari." seketika aku menutup mulut ku untuk diam, karena tidak tau harus berkata apa setelahnya.


Setelah puas mengeliling taman, aku akhirnya menangkap sosok penjual es krim di salah satu bawah pohon.


Tak jauh dari sana ada bangku taman, aku meminta Axell menunggu disana. tanpa banyak bertanya Axell duduk di bangku taman itu.


Tak lama setelah selesai memberi ek krim, aku kembali ke tempat Axell. yang masih menungguku.

__ADS_1


"Axell." ia langsung menoleh begitu aku panggil. aku mengulurkan ek krim yang sempat aku beli, ia menerimanya dari tanganku.


"Jadi lo pergi barusan, buat beli ec krim?" aku mengangguk, lalu memakan es krim milikku, ia menggelengkan kepala seraya mengulum senyum. lalu ikut memakan es krim miliknya.


"Katanya, Es krim bisa buat memperbaikki mood." ucapku, Axell menolehku, ia tampak memperhatikanku yang tengah menikmati es krim.


"Lo masih suka makan es krim? bukannya  cum buat anak kecil?" tanya Axell. aku langsung menoleh ke arahnya.


"Siapa yang bilang?" tanyaku hendak protes, tiba - tiba Axell mendekatkan wajahnya yang membuatku menjauhkan wajahku darinya. wajahku sekarang pasti merona.


"Gue, kenapa?" tanyanya, kini entah kenapa kami tiba - tiba saling diam, tak ada yang bicara, kami saling tatapan satu sama lain.


Melihat wajah Axell dari jarak sedekat ini, entah kenapa rasanya dantungku berdetak dua kali lebih cepat.


"Alexa." ucapnya, aku tak bergeming. namun masih mendengar apa yang ia katakan.


"Aku sayang kamu." pipi pasti tambah memerah, ditambah ia yang kini tiba - tiba mengecup keningku. lalu menempelkan jidatnya.


"Please, stay with me." dengan lembut kini Axell mengusap kepalaku, aku tersenyum menatapnya. lalu menganggukkan kepala.


"I stay with you, forever." ia tak merespon ucapanku, malah memandangiku dalam - dalam.


"Lo kenapa mandangi gue, kayak gitu?" tanyaku menatap penuh heran. sekaligus bingung.


"Nggak, cuma lucu aja." ucapnya, aku menatap bingung ke arahnya.


"Lucu? lucu kenapa?" tanyaku.


Ia mengabaikan pertanyaanku, dengan hanya tersenyum ke arahku, lalu lanjut  memakan es krim miliknya.


Ck, menyebalkan!


Seakan tak terjadi apa - apa sebelumnya, Axell mengajakku jalan - jalan lagi. melihat Axell yang berusaha kuat untuk membahagiakan aku, itu cukup membuatku bahagia. karena aku bisa melihat ketulusan di matanya.


Lelaki yang ada di dekatku ini, harus melewati berbagai hal karena masalahku, dan Jessica. aku berharap Jessica tidak akan menganggu kami lagi.


Aku tahu betul bagaimana menghadapi Jessica, meskipun di ajak bicara baik - baik. ia tetap pada keinginannya.


Hatiku masih terasa sakit, setiap kali mengingat bagaimana Jessica mengganggu kehidupanku.


Aku melirik ke arah Axell, kulihat Axell begitu fokus ke jalan. yang kini hendak mengantarkan aku pulang.


40 menit kemudian ....

__ADS_1


Dari arah ruang makan, samar - samar aku mendengar suara seseorang yang mengobrol.


Aku langsung berjalan ke arah ruang makan, melihat ada siapa disana.


__ADS_2