Romantika Kisah Cinta

Romantika Kisah Cinta
Tenggelam Dalam Pikiran


__ADS_3

Ketika malam harinya ....


Aku perlahan menaikki tangga untuk menuju ke kamarku, lalu kemudian perlahan mengetuk pintu kamar karena takut, karena sejak bertemu dengan Glen Axell sama sekali tak bicara apapun.


Saat aku pikir ia akan lama untuk membukakan pintu, Namun, ia membuka pintu dengan sangat cepat.


"Sayang, ada apa?" tanpa menjawab pertanyaanku, Axell membawaku masuk, dan memintaku untuk duduk di pinggir tempat tidur. sementara aku menatap bingung ke arahnya.


Saat aku memperhatikan jarak kami hanya berapa senti, saat aku merasakan jantungku mulai berdebar.


"A-axel?" Tangannya mulai menemukan jalan menuju punggungku di balik selimut.


Aku merasakan jari - jarinya bergerak semakin kebawah. Sementara rangsangannya semakin tak tertahankan.


Aku menginginkan dia malam ini, dan aku tahu suamiku juga menginginkanku, ia membelai rambutku.


Dan tangannya mulai menjelajah sedikit kebawah, aku merasakan sentuhan hangatnya dipahaku, dan aku kalah dalam pertempuran ini.


Aku menyerahkan diriku sepenuhnya pada seseorang yang sudah menjadi suamiku itu, dan aku tidak lagi menghiraukan sekelilingku.


Aku hanya mendengar, hanya suara detak jantung kami berdua yang terdengar sangat keras.


Axell mulai menciumku dengan penuh gairah, tapi lembut disaat bersamaan.


Aku merasakan berat tububnya diatasku, dan aku membiarkan kesenangan mengusaiku, setelah satu jam, aku tertidur diatas dada bidang suamiku.


Keesokan paginya ...


Sekarang hari minggu aku ingin tidur sedikit lama, tapi seseorang memanggilku, suamiku.


"Sebentar, sayang."


Ponselku di atas meja, dan kuperhatikan layarnya bekedip.


Satu pesan baru, dan itu dari Ibuku.


Sayang, bagaimana bulan madunya?


Aku selesai membalas pesannya dan pergi menghampiri Axell.


Aku berjalan keluar kamar, dan menuju dapur, Axell sudah menungguku didapur.


Oh iya kami pindah ke sebuah apartement, karena kami berencana akan sedikit lebih lama di paris.


Axell menghidangkan sarapan untukku, dan kamipun menikmatinya bersama - sama.


Baru saja kami hendak pergi, Axell mendapat notip pesan diponselnya.


Axell melihatnya sekilas, kemudian kami melanjutkan perjalanan kami.


Entah dapat ide dari mana, Axell membawaku kesebuah pusat pemberlanjaan di paris.


Aku sedang memilah - milah baju, saat menyadari Axell tidak ada disebelahku.


Aku menjelajahi tokoh, dan mencoba mencarinya. hingga akhirnya aku memutuskan untuk menelpon Axell.


Namun tidak diangkat, mungkin ia tidak mendengarnya di tengah keramaian. Jadi aku memutuakan, aku melanjutkan pencarian.


Saat memperhatikan toko - toko, dan mencari suamiku.


Aku melihat sosok pria di pintu masuk, ia tinggi, dan berambut hitam, persis seperti Axell.


Ia berbalik dan memandang ke arahku, ia bukan Axell, melainkan Glen.


Tak lama aku seperti mendengar suara Axell, aku menoleh kesana - kamari untuk mencarinya.


"Sayang, disana kau rupanya." aku menatap kesal kearahnya, sementara ia berjalan dengan tenang ke arahku.


"Kau kamana saja? kenapa meninggalkan istrimu sendirian?" melihatku yang kesal, ia terus berusaha menenangkanku.


Keramaian disana dan tatapan Glen, membuat keinginanku untum belanja hilang seketika.


"Sayang bagaiman, kalau kita cari makan siang untuk kita, kamu setujukan?" aku mengangguk, karena tak ada pilihan lain.


30 menit kemudian ...


"Selamat datang, mau pesan apa?" tanyanya dalam bahasa inggris.


Axell menyebutkan pesanan untuk kami, sementara waiters itu mencatatnya. setelah selesai mencatat ia pergi untuk mengambilkan pesanan kami.


Aku menyadari tatapan Axell, ada sesuatu di baliknya.


"Axell, kenapa kamu melihatku, seperti itu?" tanyaku dengan tatapan penuh heran.


Aku baru saja akan mengedarkan pandangan, dan melihat Glen ada di kafe yang sama dengan kami membuatku terkejut.

__ADS_1


Apa ia sengaja mengikutiku? apa memang kebetulan? rasanya terlalu menjanggal untuk disebut sebagai kebetulan.


Aku tak ingin bicara dengannya, karena ia sudah membuatku sakit sebelumnya dengan kenyataan pahit atas semua kebohongan yang ia beritahukan kemarin.


Axell menatapku, dan aku memberikan senyuman yang terbaik yang membuatnya ikut tersenyum.


Aku harus membuat Axell, tak menyadari keberadaan Glen.


"Sayang, apakah ada sesuatu yang terjadi? kenapa kamu terlihat tidak tenang?" tanya Axell, seketika aku tidak tahu harus menjawab apa. tapi aku harus cepat mencari jawaban agar Axell tidak curiga.


"Tidak, tidak ada apa - apa." jawabku, meski Axell masih memperhatikanku, ia tidak membahas itu lagi.


Beberapa jam kemudian, kami dalam perjalanan menuju apartment kami.


Kami tiba di apartement, tepat matahati terbenam. karena sebelumnya kami harus mampir ke sebuah tempat.


Dan Axell dan aku, sudah menyiapkan segalanya untuk makan malam kami.


Kami menghabiskan beberapa jam berikutnya, dengan menikmati kebersamaan kami.


Kadang Axell melakukan sesuatu yang membuatku terhibur, dan membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya.


Pada suatu waktu kami menjadi lelah, dan tertidur sangat pulas.


Keesokan paginya ....


Pagi itu yang tenang, dan cerah. aku terbangun karena aku merasakan belaian dikepalaku.


"Axell?" aku mengedipkan mataku, lalu kemudian duduk ditempat tidur.


Axell tampak merogo sakunya, dan mengeluarkan sebuah kotak hadiah kecil.


Aku mengambil kotak tersebut, dan merasa senang untuk mengetahui isi didalamnya.


Kemudian aku melihat sebuah gelang, dengan liontin yang sangat indah.


"Apa kamu suka?" tanyanya, sementara aku menatap suamiku itu dengan tatapan bingung.


"Kapan kamu, membelinya?" ia menceritakan segalanya, akhirnya terjawab kemana hilangnya ia kemarin.


Ia mengambil gelang tersebut, lalu dengan lembut ia memasangkannya kepergelangan tanganku.


Ia menatap tajam ke tanganku, aku memperhatikan matanya ada sesuatu yang tidak aku lihat sebelumnya.


Jantungku yang sudah berdebar, berhenti berdetak dalam sekejab. Dan kedekatan kami hampir membuatku tak bisa bernafas.


Hal berikutnya yang aku tahu, bibirnya sudah berada dibibirku.


Dia memberikan ciuman yang lembut, tapi aku masih bisa merasakan kalau dirinya gugup.


Tak lama Axell melepaskan ciumannya, mata kami saling bertemu.


"Sayang ... " sementara ia belum menyelesaikan kalimatnya, aku menatap bingung kearahnya.


"Aku lupa kamu belum mandi, dan belum menggosok gigi." mataku melotot, dan refleks aku memukul bahu Axell karena kesal dan kemudian mendorongnya menjauh.


Aku bangkit dari tempat tidur, dan hendak menuju ke kamar mandi. namun Axell tiba - tiba memelukku dari belakang.


"Sayang, jangan marah ya." aku hanya diam, sementara Axell semakin mengeratkan pelukkannya.


"Sayang?" Aku kembali mengabaikannya, sementara ia kini menggelamkan wajahnya ke leherku, aku bergerak menjauh.


"Aku mau pergi mandi, jangan ganggu aku, mengerti?" aku berjalan kearah pintu kamar mandi, dan membukanya lalu menutupnya kembali.


Sementara aku mandi di kamar mandi, aku mendengar langkah kaki Axell menjauh.


Kemana, Axell pergi?


Saat keluar dari kamar mandi, aku mencium aroma masakan yang lezat.


Aromanya lezatnya begitu menggoda, aku berganti pakaian. setelah itu keluar dari kamar.


Makanan tampak sudah siap tersaji dimeja makan, dihiasi bungan yang cantik.


Aku bisa lihat, bagaimana ia mencoba membuat suasana sarapan kami menjadi romantis


"Axell?" panggilku, ia menoleh dan menatapku sambil tersenyum. aku berjalan mendekat.


"Kamu ngapain?" tanyaku, ia meraih tanganku, dan membuatku duduk.


"Kita sarapan, setelah itu baru kita pergi." Axell mulai menikmati sarapannya, sementara aku memperhatikannya dengan ekpresi bingung


Kami mengobrol sejenak, waktu berlalu dengan cepat dan udarapun mulai terasa dingin.


Beberapa saat kemudian ...

__ADS_1


Kami menoton tv bersama, aku menyandarkan kepala pada bahunya. dan ia menyisir rambutku dengan jari - jarinya.


Aku menatap matanya dan terbawa kedunianya. dia tersenyum dan mulai menciumku.


Suara ponsel membuat kemi kembali kenyataan, kami menoleh kearah ponsel kami, dan ternyata itu berasal dari ponsel Axell.


Axell menjauh untuk menjawab telpon, sementara aku menatap layar tv, dan memikirkan apa yang Axell bicarakan.


Aku melihat layar ponselku, dan tak ada apapun disana.


Aku mendekati jendela, dan melihat sekilas ke arah jalan. jalanan tampak ramai.


Aku melihat seorang disana, tampak kesana dan kemari. kemudian ia tiba - tiba menatap lurus ke arahku.


Aku segera menutup jendela, dan kembali menoton tv. sepertinya aku tidak akan tenang selama di paris.


"Sayang, kamh baik - baik saja?" tanya Axell, aku segera mendekatinya, dan memeluknya erat. sementara ia menatap bingung.


"Sayang?" aku melepaskan pelukkan, lalu menatap Axell sambil tersenyum.


Aku tidak boleh membuatnya khawatir, jadi aku menggelengkan kepalaku.


Saat itu aku benar - benar merasa tak berdaya, tapi aku juga ingin membahagiakannya dengan cara apapun.


"Kita pergi, sekarang?" tanyanya. dengan cepat aku menganggukkan kepala.


Axell membukakan pintu mobil untukku, dan mempersilahkan akh masuk. aku tersenyum, lalu kemudian duduk.


Didalam mobil pikiranku kacau, perasaanku bercampur aduk, aku berharap apa yang aku lihat sebelumnya cuma perasaanku saja.


Aku sangat lelah dengan pikiranku, akhirnya aku memutuskan untuk sibuk dengan ponselku, sementara Axell tampak fokus menyetir, sembari sesekali memperhatikanku.


Disaat yang sama, aku mendapat notif pensan, dan pesan itu dari Shintia.


Kalian di paris?


Kejam! kenapa tidak mengabariku?


Aku terkekeh, kemudian membalas pesan dari Shintia.


Ting!


Tak lama aku kembali mendapat notif pesan, dan itu balasan dari Shintia.


Bagaimana kalau kita bertemu?


"Axell, bisa kita mampir ke sebuah kafe? dekat kok, nggak jauh, gimana?" tanyaku, ia tampak melirik kearahku sekilas.


"Boleh, kemana?" aku memberikan lokasi yang dikirimkan oleh Shintia, dan Axell langsung mengarahkan mobil kami ke lokasi tersebut.


"Sayang, kau menunggu dimobil saja ya, nggak masalah, kan?" tanyanya, aku menganggukkan kepala.


Beberapa saat kemudian ....


Aku memasuki kafe, dan melihat Shintia duduk sendirian.


Ia merasakan kehadiranku, mengangkat kepalanya, dan melambaikan tangannya.


"Hai Shintia, akhirnya kita bertemu lagi." ia mendekatiku, dan memelukku erat, kemudian kami berdua duduk.


"Bagaimana kabarmu, selama di paris?" tanyaku, ia hanya tersenyum.


"Baik, katanya kau bersama Axell, mana dia?" tanyanya, sambil melihat sekitar mencari keberadaan Axell.


"Dia menunggu di mobi, kenapa kau mencarinya?" tanyaku, dengan nada sedikit nyolot.


"Aku hanya bertanya, jangan cemburu begitu, bisa kan?" kami mengabiskan kopi, mengobrol sambil berbagi cerita, dan aku kembali ke Axell yang masih menunggu di mobil.


Bertemu, dan mengobrol sejenak dengan Shintia membuatku sedikit melupakan masalahku.


"Jadi apa saja yang, kalian bicarakan?" tanya Axell tiba - tiba.


"Banyak, kamu sendiri ngapain delama dimobil?" tanyaku.


"Banyak." jawabnya singkat.


Sudah waktunya menceritakan semuanya.


"Baiklah sayang, kamu jangan cemas ya." aku tersenyum, perasaanku sedikit tenang setelah cerita.


Tapi ... apa itu tidak apa - apa?


Kami hanya dia, seraya dalam perjalanan menuju tempat yang Axell ingin datangi.


Dalam perjalanan aku diam sendiri, dan kembali tenggelam dalam pikiran.

__ADS_1


__ADS_2