
"Gue angkat telpon dulu, ya." Axell hanya diam, gadis mendengus sebal. lalu pergi untuk menjawab telpon.
Dirumahku ....
Pikiranku kini dipenuhi argumen tentang Axell, mengapa Axell terlihat tak berubah? atau ... gue yang berubah?
Aku mencoba mengatur nafas yang tak beraturan, setelah bertemu kembali dengan Axell.
Tiba - tiba saja Axell muncul dari arah dapur, dengan membawa segelas jus untukku.
Ia kemudian kembali ke dapur, sementara aku beralih ke ponselku.
Beberapa saat kemudian, Shintia masuk dengan membanting pintu, sontak hal itu mengejutkanku.
"Lo sopan banget ya, kerumah orang banting pintu rumah orang." gadis itu mendengus kesal, lalu duduk di sebelahku.
"Lo kenapa nggak ngabarin gue kalo udah balik, dari new york?" aku menghela nafas panjang, aku mengerti alasan dibalik sikapnya ini.
Aku langsung menatapnya, Shintia menatapku dengan tatapan sendu.
"Sorry, ini juga dadakan kok, karena ada yang harus gue urus." jelasku.
Shintia mulai tenang, ia tampak menimbang kata - kataku, lalu ia tersenyum.
"Btw, oleh - oleh buat gue ada, kan?" tanyanya. aku menatap menatap malas.
Tiga hari kemudian ....
Mahardika Group ...
Sesaat setelah keluar dari mobil, aku masuk ke dalam gedung Mahardika Group. aku sedikit terkejut mendapati sosok Axell di depanku.
Karena kami sudah agak lama tidak bertemu, suasana menjadi agak
canggung.
"Pak Axell, ini nona Alexa, yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita." aku hanya mengangguk, sambil tersenyum canggung. sementara Axell tak melepaskan pandangannya dariku.
"Bisa biarkan kami bicara, berdua?" mereka mengangguk patuh, lalu pergi meningalkan kami berdua.
"Axell, lama ya kita tidak _ "
"Bertemu ... " Aku sedikit terkejut karena Axell tiba - tiba memelukku. aku hanya bisa mematung di dalam dekapannya.
Aku bisa merasakan beberapa mata tertuju arah kami yang tengah berpelukkan. namun Axell sama sekali tak menghiraukannya, sementara aku tak kuasa menahan malu.
30 menit kemudian ....
__ADS_1
Axell membuka pintu ruangannya, dan mempersilahkan aku masuk lebih dulu.
Tiba - tiba Axell menatapku lekat, lalu menangkup wajahku.
Tanpa aku sadari aku berharap tatapannya itu hanya untukku, begitu tersadar aku berjalan agak menjauh.
Axell yang tampak terkejut, hanya diam diam saja. sementara aku mengalihkan pandanganku ke sekeliling ruangan Axell.
Grebb!!!
Axell memelukku dari belakang, aku terkejut dengan tindakkan Axell yang tiba - tiba itu.
"A-Axell?" Axell hanya diam, ia justru menenggelamkan wajahnya.
"Gue kangen sama lo, Xa." samar - samar aku mendengar ucapannya, namun aku bingung harus merespon seperti apa.
"Lo nggak akan pergi lagi, kan?" Axell membalik badanku, sehingga membuatku menatap wajahnya. entah kenapa seketika merasa canggung di hadapan Axell.
"Xa?" mulutku masih bungkam, meski aku ingin menyimbatnya.
"Ma-Mama lo, gimana? apa kabarnya? baik - baik aja, kan?" Axell diam sebentar, menatapku yang mengalihkan pembicaraan.
"Dia baik, lo nggak nanya kabar gue?" aku terdiam.
Suasana yang tiba - tiba hening, membuat suasana menjadi sangat canggung. aku tertawa, Axell menatap penuh heran ke arahku.
"Gue nggak baik - baik aja, Xa." ucapannya, membuatku tertegun.
Sekretarisnya masuk, dan memberitahu kalau sekarang jadwalnya Axell meetting bersamaku, kami berdua refleks menganggukkan kepala.
Sekretarinya itu jalan lebih dulu, saat aku hendak menyusulnya. Axell menahan tanganku yang hendak melewatinya.
"Setelah ini kita masih harus selesaikan pembicaraan kita, ada yang harus kita selesaikan."
"Sangat banyak." aku diam sejenak, kemudian mundur beberapa langkah, memberi jarak antara aku dan dia. sementara Axell kemudian pergi mendahuluiku.
Apa dia masih Axell, yang sama?
Aku memasuki ruang rapat sambil berusaha bersikap seperti biasa, seperti tidak terjadi apa - apa.
Tiba - tiba Axell beranjak dari tempatnya, kemudian menghampiriku dengan ekpresi yang sulit ditebak.
Tangan kanannya bersandar di meja, tatapan tak lepas dariku, di tambah jarak kami yang begitu cepat. membuat semua orang disana menatap curiga ke arah kami.
"Bagaimana .... kalau nona CEO muda ini, yang akan mulai presentasi?" aku tertegun, kemudian melihatnya dengan tatapan penuh curiga.
"Bagaimana, Nona Alexa?" kami berdua menatap kesumber suara, Axell mengubah posisinya. membuat aku bisa bernafas beberapa saar, aku menganggukkan kepala.
__ADS_1
3 jam kemudian ....
"Permisih Nona Alexa, tuan Axell." mereka berpamitan dengan cara formal, lalu pergi meninggalkan kami berdua.
Ketika ruangan rapat menjadi kosong, kami punya banyak waktu untum bicara. sehingga membuat Axell tak melewatkan kesempatan untukku menghampiriku, yang bersiap pergi.
"Apa kita bisa mengobrol, sekarang?" aku menghela nafas, aku menganggukkan kepala karena tidak ada pilihan lain. kulihat ia tersenyum yang terlihat menyebalkan bagiku.
Kami mengobrol banyak hal, termasuk Axell menjelaskan kesalah pahaman yang mungkin sempat terjadi di antara kami.
Ia kini menatapku dalam - dalam, entah kenapa tatapannya membuat jantungku bergedub kencang.
"Xa." aku hanya diam, aku menatap bingung ke arannya.
"Dari dulu perasaan gue, sama lo nggak berubah, lo juga kan?" aku terdiam, aku tidak tau harus menjawab apa.
"Xa?" aku menghela nafas, lalu menatap Axell lekat.
"Gue nggak tau, Xel." ucapku dengan nada lirih.
"Udah banyak yang terjadi selama aku di new york, dan setelah gue ketemu lagi sama lo, gue jadi nggak yakin dengan perasaan gue sendiri." aku bisa melihat jelas raut kecewa di wajahnya, namun ia berusaha menutupinya.
"Xel, lo nggak marah, kan?" kulihat Axell menghela nafas sebentar, lalu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arahku.
Axell mencium keningku dengan lembut, aku terkejut perlakukan seperti ini sudah lama tak kudapat dari Axell semenjak kepergianku.
Jantungku berdegub 2 kali lebih cepat dari biasanya, sejak itu aku sadar.
Kalau perasaanku ternyata masih sama ....
Beberapa saat kemudian ....
Di pakiran kantor Axell ....
"Makasih sudah bekerja sama dengan perusahaan kami, dan terimakasih sudah kembali." aku terkekeh, lalu mengucapkan salam perpisahaan dengan Axell. lalu kemudian pergi dengan mobilku.
Sepanjang perjalanan menuju pulang ke rumah, aku banyak memperhatikan sekitar yang telah aku lewati. kecuali pikiranku yang tak bisa lepas dari Axell.
Tiba di rumah, tak di sangka Agatha akan menyambutku di rumah.
"Lo ngapain, di rumah gue?" tanyaku, menatap heran, seraya menghampirinya.
dan menatapnya dengan penuh heran.
"Lo dari mana? jamuran tau gue nungguin lo, dari mana?" tanyanya, aku menatap malas ke arahnya. lalu melangkah masuk menuju ke dalam rumah.
"Salah sendiri kenapa nghak tanya dulu, lagian ada perlu apa, sih?" kami berdua segera duduk di kursi tamu, tak lama pekerja rumahku menghampiri kami dengan membawa minum.
__ADS_1
"Sebenarnya, gue mau bilang sesuatu sih, curhat lebih tepatnya." aku menatap aneh ke aranya, namun aku juga penasaran.
Kira - Kira Agatha mau curhat tentang, apa ya?