Romantika Kisah Cinta

Romantika Kisah Cinta
Hidup Ataukah Sudah Mati


__ADS_3

"Lo? ngapain lo disini?" tanyaku, aku tak menyangka Shintia akan mendatangiku, sebelumnya ia minta bertemu disuatu tempat. tapi dari mana dia tahu kalau aku disini?


"Ada yang gue sampaikan ke elo," ujarnya.


Dari ekpresinya itu hal serius, kalau tidak tidak mungkin ia repot - repot menemuiku, kan?


"Apa?" tanyaku.


"Gue ... malam ini akan pergi ke paris, gue dapat tawaran pekerjaan disana." sebenarnya aku senang mendengarnya, tapi aku menungggu kata - kata yang hendak ia sampaikan selanjutnya.


"Gue mau lo tahu soal ini, bagaimanapun juga, nggak perduli semarah, sebenci, atau apapun lo sekarang _ "


"Bagi gue lo tetep sahabat gue, Xa gue udah berubah." sambungnya. aku tidak tahu harus menanggapinya seperti apa, selain membiarkannya mengeluarkan semuanya.


"Tapi kalau lo masih nggak percaya sama gue, gue nggak masalah kok, gue bisa ngerti itu." tak ada yang bicara dari kami, seketika suasana menjadi canggung.


"Gue seneng kalau lo udah berubah, dan selamat atas pekerjaan baru lo." ucapku sambil tersenyum. ia ikut tersenyum menatapku.


"Makasih Xa, gue seneng dengernya." mungkin aku memang harus melupakan apa yang sempat terjadi diantara kami, dan menjalani apa yang ada dihadapan kami.


Biarkan yang lalu, menjadi masalalu hang tak perlu di ingat.


"Gue juga mau ngasih sesuatu buat lo, semoga lo mau nerimanya, meski lo tahu ini dari gue." kulihat ia merogo sesuatu di tasnya, dan mengeluarkan sebuah buku dari dalamnya



"Ini ... kenapa tiba - tiba _ "


"Tolong lo jangan baca sekarang ya, baca pas lo udah sampai dirumah."


potongnya, aku menatap cukup lama buku itu.


"Gue harus pergi sekarang, karena masih ada hal harus gue urus, seenggaknya gue udah ketemu sama lo," ujarnya.


Aku tidak tahu harus apa, selain tubuhku bergerak dengan sendirinya untuk memeluknya.


"Jangan lupa kabarin gue, ya." ucapku, Shintia melepas pelukkan kami dan menatapku.


"Xa, lo _ "


"Gue bakal beneran marag, kalau lo nggak ada ngabarin gue selama di paris." ia tertawa, aku juga. tapi air mata kami tak terbendung, yang cukup menggambarkan jelas betapa sedihnya kami karena akan berpisah. Shintia memelukku kembali, akupun membalas pelukkannya.


Beberapa saat kemudian ....


Setelah Shintia pergi, Axell mendekatiku, dengan senyum lebar diwajahnya. aku bertanya - tanya ada apa dengan senyumannya itu.


"Udah selesai, masalahnya?" aku terkejut mendengar pertanyaannya yang tiba - tiba itu, sepertinya Axell tahu kalau aku habis bertemu dengan Shintia. akupun menganggukkan kepalaku, ia tersenyum.


"Mau pulang sekarang, atau mau jalan - jalan?" tanya Axell, aku mengatakan untuk pulang karena aku sudah sangat lelah. Axell pun membawaku pulang.


Didalam mobil, Axell terus menatapku sepanjang perjalanan. aku tak dapat menahan rasa gugupku, ketika Axell menatapku.


"Kamu kenapa liatin aku gitu, sih?" tanyaku, sembari malingkan wajahku.


"Kenapa? karena istri aku cantik." aku terkekeh, lalu balik mencubit pipi Axell gemas.


"Suami aku juga ganteng kok, hehe ... " Axell tersenyum menatapku, lalu mengelus kepalaku, kemudian mengecup keningku, lalu kembali fokus menyetir


Aku merasa jantungku berdegub dua kali lebih cepat, tapi aku dengan cepat menenangkan diriku kembali.


Tak lama Axell kembali menoleh ke arahku untuk melihatku, dan itu saatnya Axell meraih salah satu tanganku untuk digenggamnya.


Axell tiba - tiba mengecupkan bibirnya pada tanganku, dan meletakannya disampingnya.


Tangannya yang hangat membakar kulitku, dan aku tak dapat menahan kesenangan ini.


Setibanya dirumah, aku berusaha memasang wajah tanpa emosi saat memasuki rumah dan melihat ternyata gadis itu masih berada disana.


"Hai, Ma." mereka menoleh ke arah kami, aku dan Axell berjalan mendekati mereka.


"Duduklah, kita ngobrol bersama." gadis itu tersenyum licik ke arahku, andai saja saat ini aku bisa menunjukkan betapa aku tidak suka melihatnya.


Tapi aku tidak bisa menunjukkannya didepan ibu mertuaku, aku takut ia akan berpikir buruk padaku, seolah - olah aku cemburu dengan keberadaannya.


30 menit kemudian ....


"Sayang, kamu pasti ingin istirshat, kan?" tanyany, seolah ia tahu apa yang aku rasakan saat ini.


Aku mengangguk, Axell merangkul bahuku, sementara Jessica tampak memalingkan wajahnya.


Kami pamit ke kamar, aku berjalan disebalah Axell dengan sangat perlahan. karena aku tidak mau menghirup udara yang sama dengannya dalam waktu lebih lama lagi.


Aku pergi kekamar untuk mengambil waktu sendiri. tapi Axell yang tetap ingin bersamaku, ia tetap berada disampingku, aku yakin ia khawatir kalau aku akan kepikiran soal Jessica yang masih berada di rumah kami.


Kami tentunya tidak tahu kalau ketenangan itu, akan kembali di hancurkan oleh Jessica.


Disaat yang sama, aku menerima pesan dari Ayahku.


Sayang, Papa dapat tiket bulan madu untuk kalian


Jadi bagaimana kalau kalian pergi, kesana?


Aku baru selesai membalas pesan dari ayahku, dan mendapati Axell tampak memperhatikanku.


"Kenapa kamu, liat aku kayak gitu?" tanyaku, seraya menatap penuh heran.


"Kamu, habis chattan sama siapa?" tanyanya, aku kembali menatap penuh heran ke arahnya.


"Papa, kenapa?" tanyaku, ekpresinya kembali berubah tak seperti sebelumnya.


"Papa, bilang apa?" tanyanya kembali. aku. menghela nafas, lalu menunjukkan isi chattanku dengan ayahku ke hadapannya.


Ia tersenyum, dan aku memperhatikan raut wajahnya yang terlihat aneh.


"Sayang, bagaimana kalau kita liburan?" pertanyaan itu terlalu tiba - tiba, sehingga aku memerlukan waktu untuk menjawabnya.


Axell meletakkan telapak tangannya pada pipiku, ia mengusapnya lembut.

__ADS_1


Kemudian ia tersenyum padaku, tapi senyum itu bukan senyum biasa yang aku lihat.


Ada sesuatu yang ia inginkan, tapi tak bisa ia katakan.


"Baik - baiklah, jadi kita terima tiket dari, Papa?" setelah membahas itu selama beberapa menit.


Aku melihat Axell tampak sibuk dengan ponselnya, aku bertanya - tanya apa yang membuatnya demikian.Tapi aku merasa akan mendapat jawabannya segera.


"Aku sudah urus masalah di kantor, jadi kita bisa liburan dengan tenang." aku tersadar setelah Axell mengatakan itu, aku masih harus mengurus masalah dikantor.


"Axell, kamu yakin kita _ "


"Yakin dong sayang, yakin banget, sekarang kamu siapin semua keperluan kita ya." aku menghela nafas berat, lalu mengangguk.


"Yaudah, aku ke kamar mandi dulu." aku mengangguk untuk menanggapinya. Axell segera menuju ke kamar mandi di kamar kami, setelah Axell masuk aku neyiapkan keperluan kami untuk liburan bulan madu.


Aku butuh waktu, untuk menyiapkan semuanya. Tapi akhirnya selesai ketika tepat saat Axell keluar dari kamar mandi.


"Axell, apa nggak nanti aja kita perginya?" tanyaku, Axell mendekat padaku, dengan tatapan penuh heran. kurasa ia akan bertanya sekarang.


"Kenapa?" tanya Axell, aku harus jawab apa, apa aku harus kasih tahu kalau aku masih memikirkan masalah di kantor?


"Aku tahu, kamu pasti mikirin masalah dikantor, kan?" bagaimana ia tahu. tapi itu tebakan yang beruntung.


"Sayang, bagaimana kalau aku bahas masalah ini lagi dengan Papa, kamu nggak masalah, kan?" tanyaku, mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Aku ... aku cuma _ " Aku agak salah tingkah, tapi tidak bicara apapun setelahnya.


"Sayang, biar aku yang urus semuanya, ya." aku menatap kedua mata Axell, kulihat pantulan wajahku disan. bertanya - tanya apa yang akan dilakukan Axell.


Aku tahu Axell tak bisa dilarang, jadi aku biarkan saja ia melakukan apa yang ia inginkan.


"Sayang, mau buatku aku sesuatu?" tanyanya, aku mengangguk seraya tersenyum malu - malu, dan meninggalkan Axell sendirian di kamar.


Mama mertuaku datang menghampiriku didapur, dan sudah berada disebelahku.


"Axell, mana?" tanyanya.


"Ada dikamar, Ma." jawabku, sambil sibuk mengaduk minuman untuk Axell.


"Kata Axell kalian akan pindah, karena Axell sudah beli rumah baru untuk kalian. benar?" tanyanya, aku bingung harus menjawab apa. karena aku sendiri tak tahu menau soal rumah baru itu.


"Ma." kami menoleh ke asal suara, dan mendapati Axell menghampiri kami.


"Mama, kenapa tanya itu sama menantu Mama? Alexa juga baru tahu belum lama ini," ujar Axell. yang berdiri disebelah Mamanya.


"Axell, kamu ini benar - benar, ya." disaat yang sama Axell mendapat pesan diponselnya, dan Axell hanya melihatnya.


Disela Axell memeriksa pesan yang masuk, aku mendekati Axell dengan membawakan minuman yang tadi aku buat.


"Mama, mau Allexa buatkan, sesuatu?" tawarku, ia tersenyum lalu menggelengkan kepala. Tak lama Mama mertuaku itu keluar dari dapur.


Setelah beberapa saat Axell menariku, dan membuatku duduk di kursi diruang makan. dan mulai menikmati minuman yang tadi aku buat.


"Ummm ... Axell, kamu sudah bahas kepindahan rumah, sama Mama sebelumnya?" tanyaku hati - hati, Axell menatapku, lalu meletakkan gelas yang ia minum.


"Terus, apa jawaban Mama?" tanyaku.


"Mama agak keberatan sih, tapi aku yakin nanti Mama bakal ngerti, kok," ujarnya dengan tenang.


"Lagian Mama nggak melarang juga, kan jadi nggak ada masalah, kan?" aku melihat betapa yakinnya Axell atas ucapnya barusan, sementara aku sedikit ragu dengan Mama yang keberatan kami yang akan segera pindah.


Aku pura - pura tak memikirkan masalah itu lagi, dan menikmati suasana yang terjadi saat ini.


Malam harinya ....


Aku melihat Ibu mertuaku itu, duduk diruang tamu sendirian dan melamun.


"Ma." wanita itu menoleh, aku berjalan menghampirinya dan duduk disebelahnya.


"Mama, ngapain sendirian disini? melamun lagi, Mama nggak kenapa - napa, kan?" tanyaku cemas.


"Mama baik - baik aja kok, oh iya gimana soal liburan kalian, jadi berangkat besok?" tanyanya, aku mengangguk pelan.


"Semoga lancar ya, kalian baik - baik selama disana." ucapnya penuh perhatian, aku tersenyum seraya dengan cepat menganggukkan kepalaku.


"Yaudah, kamu kekamar, dan istirahat." pintanya.


"Kasihan Axell, pasti nungguin kamu, iyakan?" aku baru sadar, kalau Axell menungguku di kamar.


Dasar Alexa bodoh! bagaimana kamu bisa lupa dengan suami kamu sendiri!


"Umm ... Tapi, Mama?" ia tertawa, sementara aku menatapnya dengan bingung. memangnya ada yang lucu dengan pertanyaanku?


"Tidak perlu pikirkan Mama, Mama baik - baik saja, sekarang temui saja suamimu, mengerti?" aku mengangguku, dengan perasaan cemas. aku pergi meninggalkan ruanh tamu dan menuju ke kamar.


Aku baru membuka pintu kamar kami, dan melihat Axell menghampiriku.


Ia menghampiriku dengan tenang, dan memperhatikanku. aku hanya menatapnya dengan penuh kebingungan.


"Axell, kenapa kamu lihat aku seperti itu?" tanyaku, seraya menutupi rasa salah tingkahku.


"Kenapa, apa aku tidak boleh melihat wajah istriku?" aku menghela nafas, dan mendahuluinya ke tempat tidur. ia ikut berbaring disebelahku, dan kamipun pergi tidur.


Keesokan harinya ....


Setelah paginya kami mendapat tiket dari Papa, tak lama kami terburu - terburu, hingga kami tak memperhatikan kalau aku sekarang tiba di bandara, dan langsung menuju ke dalam pesawat.


Pada saat itu aku mendengar pilot bicara, dan ia bicara cukup baik dan penerbangan cukup aman menuju paris.


Tak lama kemudian ....


Kami tiba di kota paris, aku melihat melalui jendela pesawat. sudah saatnya kami keluar dari pesawat.


Butuh waktu untuk kami menuju ke hotel, dari dalam mobil kulihat orang - orang terlihat buru - buru menuju ke rumah.


Namun, aku harus menghentikan kegiatanku mengamati sekitar. Ketika kami tiba di hotel.

__ADS_1


Kami pergi ke kamar kami, untuk berganti pakaian dan istirahat sejenak.


Beberapa jam berlalu dengan cepat, hingga tak terasa tibanya waktu makan malam.


Aku menuju kesana, dan menemukan Axell sudah disana. pantas saja aku tak berhasil menemukannta dimana - mana.


Meja tampak dihiasi dengan bunga - bungan, dan lilin. Dan itu terlihat romantis.


Axell menghampiriku, dan mengundangku untuk duduk.


Semua makanannya lezat, dan kami menikmati semuanya makanan kami. dan sesekali berbicara tentang apa yang terlintas dipikiran.


Tak lama kemudian ...


Kami sedang berdiri di dekat jendela besar, kami sedang mengamati pemandangan malam diluar.


Axell begitu dekat denganku, hingga aku bisa merasakan hangatnya tubuhnya.


Dan tiba - tiba langit terlihat begitu gelap, dan angin berhembus tampak kencang. Tak lama aku tersentak mundur karena kilatnya menyambar begitu dekat, dan menimbulkan suara yang keras sekali.


Axell memelukku untuk menenangkanku, Axell berdiri menghadapku dan memelukku. dan menarikku untuk sedekat mungkin dengannya.


Satu - satunya yang memisahkan kami adalah pakaian kami.


Hal berikutnya yang aku rasakan adalah bibir Axell yang menciumku dengan lembut.


Rasanya membuatku seperti kembang api yang meledak, didalam hatiku.


Aku tak dapat menolak suamiku, dan aku membalas ciumannya dengan penuh gairah.


Kami menghambiskan beberapa jam berikutnya dengan menikmati ciuman masing - masing.


Beberapa saat kemudian ....


Waktunya telah tiba sudah saatnya kami pergi tidur, karena malam sudah sangat larut.


Keesokan harinya ....


Aku tiba dimobil yang axell sewa dengan cepat, dan melihat Axell berdiri didepan pintu mobil menungguku.


Aku sangat beremangat untuk jalan - jalan mengilingi pari bersama Axell, dan menikmati waktu bersama Axell setiap saat.


Aku berharap, kebersamaan kami tak akan berakhir.


Tak lama kemudian kami tiba disebuah kafe, mengingat kami belum sarapan. aku bisa menebak Axell berniat mengajakku sarapan.


Saat aku melihat sekeliling kafe, aku melihat seseorang yang duduk disana.


Tak lama sosok itu berbalik, dan tatapan kami saling bertemu.


Dan aku hampir teriak, karena terkejut dengan apa yang aku lihat dihadapanku.


Itu ... Glen?


Apakah itu benar - benar Glen?


Aku yakin aku sudah salah lihat, itu pasti bukan Glen, aku berusaha mengabaikan apa yang aku lihat. Dan membawa Axell mencari tempat untuk kami duduk.


Saat aku diam - diam mencuri pandang ke arah yang aku lihat sebelumnya, ia tersenyum menatapku, seolah - olah ia mengebalku, dengan cepat aku memalingkan wajahku.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Axell, seraya menatapku penuh heran.


"Nggak, nggak ada apa - apa." aku mengendalikan ekpresiku, dan berusaha bersikap baik - baik saja.


Tak lama perhatian kami teralihkan, dengan waiters yang mengantarkan pesanan kami.


Satu setengah jam kemudian ....


Kulihat tatapan kami kembali bertemu, aku terkejut ketika melihatnya berjalan ke arah kami.


"Alexa? ternyata benar, Alexa." aku tidak tahu harus merespon seperti apa, kini aku dihadapi oleh situasi yang sulit.


Bukankah Glen sudah mati? tapi kenapa sekarang ia sudah ada dihadapanku?


Atau jangan - jangan kematian itu, sebuah kebohongan?


Apa yang sebenarnya terjadi?


Aku melirik Axell untuk melihat bagaimana reaksinya, aku hanya takut ia salah paham. Ternyata Axell tak menunjukkan reaksinya yang membuatku cemas.


"Sayang, kamu kenal?" tanya Axell, aku melirik sekilas pria itu untuk memberikan jawaban yang tepat untuk Axell.


"Tidak."


"Kenal, dia pacarku." selanya.


Habis sudah Axell benar - benar akan marah, sekali lagi aku melihat ke arahnya untuk melihat ekpresinya. dan sekarang bisa aku lihat ia menahan rasa cemburunya.


Akhirnya aku menceritakan segalanya apa yang pernah terjadi diantara kami, dan sayangnya Axell hanya diam saja menaggapinya.


Aku memastikan memberitahu Axell setiap detailnya, sebelum Axell cemburu dan salah paham. dan saat aku meminta waktu untuk bicara berdua dengan Glen.


"Apa maksudnya ini?!" tanyaku langsung. dengan tatapan marah.


"Oh, Wow ... santai dong, kamu kenapa kelihatan marah gitu, tenang ok?" Aku menatap tak percaya kearahnya, sekarang aku merasa gerah bersamanya.


"Bagus, bagus sekali, permainanmu sungguh luar biasa, bagaimana caramu melakukannya?"


Hari itu sikapnya seolah biasa saja tanpa penyesalan membuatku sangat tidak senang.


Aku lelah sekali, aku tidak sanggup terlalu lama bersamanya.


Pada akhirnya aku memutuskan untuk kembali kepada suamiku, namun ia menahan tanganku.


"Mau tahu, alasannya?" tanyanya, sementara aku menatap bingung kepadanya.


"Aku bosan dengan hubungan kita, apalagi setelah kamu tahu semuanya." aku tak tahu harus melakukan apa, tapi saat ini rasanya aku ingin menamparnya dengan sangat keras.

__ADS_1


Tapi pada akhirnya aku tidak melakukannya, karena aku tahu persis dimana aku berada saat ini. Begitu ramai orang.


__ADS_2