
Sambil memesan makanan, aku melirik Axell yang masih terlihat banyak pikiran.
"Axell yang gue kenal, nggak pernah banyak pikiran kayak gini." ucapku, Axell langsung melirikku.
"Walaupun banyak pikiran, Axell akan terlihat baik - baik aja, dan Axell pasti bisa dengan cepat menyelesaikan masalahnya." Axell tersenyum mendengarnya, lalu meraih tanganku untuk kembali di bawahnya dalam genggamannya.
"Gue nggak akan paksa lo buat cerita, tapi ... kapanpun lo butuh gue, gue siap." ucapku sambil tersenyum penuh percaya diri. ia tertawa, mencubit gemas pipiku.
"Kyakk, Axell!" seruku, melihatku mendengus kesal, ia tertawa. aku memanyunkan bibirku, sambil mengusap pipiku.
Tiba - tiba saja ada anak kecil yang menabrak waiters di kafe yang mengalihkan perhatian kami, waiters itu langsung jatuh di lantai. begitu juga pesanan pengunjung yang ia bawa.
"Aduh, Mama bilangkan jangan lari - lari." seorang rekan kerjanya membantu waiters itu berdiri, lalu bersama - sama membereskan makanan yang berserakan di lantai.
Anak itu yang tadi menabrak waiters, berdiri di kejauhan menatap ibu, dan waiters itu dengan takut.
Aku mengamati anak itu, wajahnya memerah kerena ketakutan. tangannya meresmas pakaian.
Aku menghampiri anak kecil itu.
"Maaf, tapi apa bisa bicara baik - baik dengan anak kecil? apa lagi dengan anak sendiri?" aku memperhatikan anak kecil itu yang sedang menunduk takut. ia mengikuti arah pandangku.
Wanita itu menghela nafas sebentar, lalu tersenyum.
"Kaila, Sayang ... sini." panggil wanita itu dengan lembut, meski masih ragu -ragu ia mendekati ibunya laku memeluknya.
Ia mengelus kepala putrinya, aku tersenyum melihat mereka.
"Sekarang kamu minta maaf, sama om yang kamu tabrak." pinta wanita itu, dengan kepala tertunduk gadis itu menurut.
"Om, maaffin Kaila ya, Kaila janji nggak bandel lagi." waiters itu mengangguk, wanita itu membawa putrinya ke kasir untuk membayar ganti rugi.
Axell yang sejak tadi memperhatikanku, menghampiriku setelah keduanya pergi.
"Nggak akan ada masalah, kan?" tanyaku Axell, aku berharap nggak akan ada masalah dengan anak itu.
Beberapa saat kemudian ....
Setibanya di rumah dengan diantar oleh Axell, aku langsung segera masuk ke dalam rumah.
Mama langsung memperhatikanku, yang sebelumnya tampak sibuk dengan ponselnya.
Aku menghampiri Mama, Mama menatapku seolah mengamati.
"Mama perhatikan, Kamu sering diantar cowok, siapa?" tanya Mama yang terlihat penasaran
"Temen Ma." jelasku, mama menatap penuh curiga ke arahku, aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.
__ADS_1
"Bibik mana? biasanya nganterin minum?" tanyaku. Mama masih belum mengalihkan pandangannya. aku menghela nafas.
"Beneran cuma temen, Ma." Mama akhirnya melepaskan tatapannya itu dariku.
"Ma, Aku ke kamar dulu." pamitku.
Aku takut Mama akan semakin bertanya mengenai Axell, sementara aku belum tau banyak.
Keesokan harinya ....
Satu persatu teman - teman kelasku, meninggalkan kelas begitu kelas selesai setelah tanggal ujian telah di tentukan. akupun bersiap pulang.
Seminggu kemudian, tibalah hari ujian yang telah di tentukan.
Sesuai kesepakatan, aku dan yang lain akan ujian hari ini. semua tampak tegang termasuk diriku tentunya.
Semua tampak bersiap begitu ujian hendak dimulai, tapi aku bisa melihat raut keresahan di wajah mereka. sebenarnya aku juga sama.
Beberapa saat kemudian ....
Axell yang tadi pergi entah kemana, kemudian kembali dengan memberikan satu gelas Creamy Latte capuccino kepadaku.
"Makasih Axell." ucapku, ia hanya tersenyum lalu menyeruput minumannya.
"Gimana ujiannya?" pertanyaan Axell yang tiba - tiba itu, membuatku tersadar bagaimana selama ujian berjalan.
"Kenapa masam begitu?" tanya Axell, aku menghela nafas.
"Gue takut, gue kurang maksimal ngerjain ujian tadi." jelasku, Axell tersenyum sambil mengelus kepalaku.
"Usaha nggak akan menghianati hasil, karena kamu sudah berusaha, jadi hasilnya pasti nggak akan mengecewakan kamu." aku tersenyum, tak lama ponsel Axell berbunyi.
Begitu Axell membukanya Axell tampak terkejut, jari bergerak dengan cepat membalas pesan tersebut.
"Axell, lo baik - baik aja, kan?" tanyaku hati - hati. takut di anggap mencampuri urusan pribadinya.
"Nyokap gue masuk rumah sakit." ucap Axell dengan raut sedih, seketika aku ikut merasakan apa yang ia rasakan.
"Gue harus ke rumah sakit sekarang," ujarnya bersiap untuk pergi. aku menahan tangan Axell.
"Gue boleh ikut, kan?" tanyaku, tanpa banyak bicara iya mengiyakan perkataanku. kami pun bersama - sama pergi ke rumah sakit.
2 jam kemudian ....
Axell membuka pintu dimana katanya ibunya di rawat, kami melihat sosok wanita dewasa tengah terbaring di tempat tidurnya.
"Mama ... " lirih Axell dengan raut wajah cemas ia langsung menghampiri ibunya itu.
__ADS_1
Aku berdiri dengan canggung di samping Axell, wanita itu menoleh, tatapannya seolah mengamati sesuatu.
"Axell, kamu sama siapa kesini?" tanya ibunya, yang kini melirik ke arahku. Axell itu melirik ke arahku yang berdiri di sampingnya.
Aku gugup, rasanya berhadapan dengan calon mertua, aku bingung harus menjawab apa.
"Saya Alexa, temannya Axell tante." ucapku sambil berusaha bersikap tenang.kaa
Ibunya tampak ingin duduk di tempat tidurnya, hingga Axell bergerak membantunya duduk di tempat tidurnya.
Setelah itu kami mengobrol banyak hal, hingga jam berkunjung usai.
Di pakiran rumah sakit ....
"Alexa maaf, aku nggak bisa nganter kamu pulang, aku harus jagain Mama, selagi Papa dalam perjalanan kesini." aku mengangguk paham.
"Gue ngerti kok, gue bisa minta supir gue bawa mobil gue kesini." Axell tersenyum.
"Atau gue panggilin taxi?" tawar Axell, aku segera menggelengkan kepala. aku tak mau membuat Axell tertahan lebih lama bersamaku.
Aku segera pergi dari rumah sakit, ketika mobilku telah tiba. tanpa banyak tanya, sopirku itu terus menjalankan mobilnya. selagi aku sibuk dengan pikiranku sendiri.
Tiga hari Kemudian ....
Aku baru bersiap meninggalkan kelas, tiba - tiba Deon muncul, dan menghampiriku.
"Deon? ada apa?" tanyaku, menatap bingung. tiba - tiba Deon membuatku terkejut dengan memelukku tiba - tiba.
Aku mencoba menjauhkan Deon, namun pelukkannya semakin erat.
"Deon, lo ngapain sih?! lepasi gue, atau gue teriak!" Deon bergerak mundur, tatapannya yang penuh menyesal kini tak berani menatapku.
"Lo ngapain sih?" tanyaku.
"Maaf, tapi gue nggak bisa nahan perasaanku lebih lama lagi, gue suka sama lo Xa, dan gue pengen lo jadi pacar gue." aku hanya bisa diam, pikiranku mencoba mencerna apa yang ia katakan barusan secara tiba - tiba.
"Atau lo bakal nolak gue, karena Axell?" aku diam tak menjawab.
"Gue bakal ngerti, kalau lo lebih milih Axell." ucapnya, aku tidak tau harus merespon bagaimana.
"Gue tau, lo lebih tau mana yang terbaik buat lo." ucapnya lagi - lagi aku hanya bisa diam.
"Deon, sejak kapan lo suka sama, gue?" tanyaku hati - hati.
"Itu dia, gue sendiri nggak tau jawabannya," ujarnya. tatapannya tampak menerawang.
"Tapi itulah cinta, datang tanpa diminta, dan tanpa kita bisa memilih." Deon menghela nafas, lalu tersenyun kecil. sembari melengos ke arah lain.
__ADS_1
Apa gue udah jahat, ke Deon?