Romantika Kisah Cinta

Romantika Kisah Cinta
Pelaku Sebenarnya


__ADS_3

Secara bersamaan kami keluar dari mobil, sehingga di teras kulihat Mama Axell yang tampak tengah menunggu kedatangan kami.


"Kalian sudah datang?" tanyanya dengan nada ramah. aku hanya tersenyum canggung.


"Malam, Tante." sapaku, ia tersenyum ke arahku. aku juga.


"Masuk yuk, makan malam sudah siap." aku dan Axell mengangguk, Axell merangkul untuk membawaku masuk kedalam rumahnya.


Meski mereka menyambutku dengan hangat, entah kenapa rasanya ada menjanggal. tapi apa?


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Axell yang berada di sebelahku, seakan menyadari kalau ada yang salah denganku. dengan cepat aku menggelengkan kepala, aku tak ingin Axell jadi cemas.


"Kamu, yakin?" tanyaku, aku menghela nafas. lalu kembali menganggukkan kepalaku.


Tak lama ia menyodorkan gelas yang isinya jus jeruk kepadaku, dengan senyum terbaikku, aku menerima gelas itu dari tangannya. sementara Mama dan Papa Axell memperhatikan kami berdua dengan senyuman.


Aku langsung mencicipi jus, yang aku ketahui sebagai buatan Mamanya Axell.


"Gimana Alexa? enak?" tanya Mama Axell, aku mengangguk, Mama Axell tersenyum, lalu lanjut fokus dengan makanannya.


Disela obrolan kami yang berlanjut, tiba - tiba berbunyi. ternyata itu panggilan dari Mama.


"Maaf." ucapku pamit, lalu menjawab panggilan dari Mama.


Seperti biasa Mama mengomeliku yang belum pulang, sementara Axell dan keluarganya hanya memperhatikanku yang tengah mengobrol dengan Mama di telpon.


Begitu tak ada lagi yang di bicarakan, aku mematikan sambungan telponku.


Aku menaruh ponselku, lalu menatap Axell dan keluarganya bergantian.


"Kamu dicariin, ya?" dengan sedikit canggung, aku mengangguk.


"Maaf ya Om dan Tante, aku nggak ada maksud buat nggak sopan." ucapku, dengan raut wajah bersalah.


"Nggak apa - apa, Om dan Tante ngerti, kok." ucapnya, aku semakin tidak enak setelah mendapat pengertian dari calon mertuaku.


Namanya juga punya anak perempuan, iya kan, Pa?" kata wanita itu kepada suaminya, pria itu hanya mengangguk sambil tersenyum.


Beberapa saat kemudian, Axell mengatar aku pulang. didepan rumah tampak Mama sudah berdiri di depan pintu rumah dengan wajah dinginnya.


"Kamu yakin , mau nemuin Mama?" tanyaku, dengan raut wajah khawatir. ia mengangguk dengan raut wajah tenang.


"Malam, Tante." sapa Axell, dengan raut wajah yang kulihat masih sama tenangnya.


"Malam Axell, Axell bisa atur pertemuan dengan, orang tua kamu?" tanya Mama tiba - tiba, yang membuat aku terkejut.


"Mama Ngapain _ "


"Diam dulu Alexa, mending kamu masuk ke dalam sekarang." aku mengehela nafas, lalu menuruti perintah Mama.


Setelah masuk kedalam kamar, pikiranku di penuhi oleh Axell yang berhadapan Mama. hingga malam itu berlalu dengan aku yang tertidur pulas dengan sendirinya.


Keesokan harinya ...


Turun dari mobil, aku langsung lari memasuki kantorku, dan tiba - tiba langsung di hadang oleh sosok yang tak ingin aku lihat.


"Lo! lo ngapain di kantor gue, Jessica?" tanyaku dengan nada tidak senang.


"Gue cuma mau peringatin lo, untuk terakhri kali, Alexa." ucapnya dengan nada mengancam.


"Jauhin Axell, atau gue nggak akan segan - segan buat nyelakain lo," sambungnya.


"Ok, gue mau lihat, sejauh apa lo bisa nyelakain gue." ucapku, dengan nada menantang.


"Ok, kita lihat nanti." setelah itu, ia pergi begitu saja. aku menghela nafas mencoba menahan diriku.


Aku berjalan ke ruanganku, dan mulai bekerja. kuraih laptopku, dan segera mengerjakan pekerjaanku.


50 menit kemudian ....


Sayup - sayup aku mendengar suara dari arah depan ruanganku, membuat perhatianku teralihkan. aku memutuskan untuk keluar dari ruanganku, untuk memeriksa keadaan di luar.


Kulihat Axell menyodorkan buket bunga ke arahku, sehingga mendapat respon yang berlebihan dari karyawanku.


Aku menarik Axell masuk kedalam ruanganku, karena aku tidak tahan menjadi pusat perhatian.


"Kamu ngapain, disini?" tanyaku.


"Kangen." jawabnya sambil memainkan rambutku.


"Apa sih, tadi malam ketemu juga, tiap hari juga ketemu!" seruku, ia hanya tertawa melihar reaksiku.


"Sayang, memangnya kenapa kalau aku kangen, dengan calon istriku ini?" ucapnya dengan nada menggodaku.


"Calon istri? siapa yang bilang?" akhirnya aku memutuskan untuk menggoda Axell, dan itu sukses membuatnya kesal.


"Oh, gitu? serius?" aku nenahan tawa, ia hanya menatapku dengan tatapan dingin.


Sesaat, rasa aku ingin menghela nafas, tetapi tidak. priaku ini layak mendapat perlakuan yang terbaik.


"Aku hanya bercanda, jangan kecut gitu dong mukanya." aku mencubit gemas pipi Axell, namun dengan sergap ia meraih tanganku.

__ADS_1


"Sesuai permintaan Mamamu, aku sudah atur pertemuan kedua orang kita." aku terdiam, karena terkejut mendengar Axell mengatakan hal itu secara tiba - tiba.


"5 hari lagi, gimana?" tanyanya, aku tidak tau harus menjawab apa. karena semuanya masih terlalu tiba - tiba bagiku.


"Apa nggak terlalu cepat?" tanyaku, kulihat Axell menatap penuh heran ke arahku.


"Kan Mama kamu yang minta, gimana? apa kita perlu bicara sama Mama, kamu?" tanya Axell, aku menggelengkan kepala, karena aku tahu betul jawaban Mama.


Akhirnya aku menyetujui mengenai 5 hari itu, meski ada yang menganggu pikiranku.


40 menit kemudian, pertemuan kami harus di akhiri. Karena Axell yang harus kembali ke kantor.


Malam harinya ....


Karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan, aku terpaksa pulang sedikit malam.


Saat perjalanan menuju mobil, aku mendengar sebuah suara. aku terus mengikuti asal suara, hingga aku sadar aku telah jauh dari mobilku.


Langkahku terhenti, mataku menatap arah sosok bayangan hitam yang tak aku kenali pemiliknya.


Aku melihat sosok itu mendekatiku, memegang sebilah pisau di tangannya.


Sosok itu terus mendekatiku, seraya menodongkan pisaunya ke arahku.


Tak seperti yang kuharapkan, tak ada siapapun yang bisa dimintai tolong.


Mungkin hanya beberapa menit saja, sudah pasti aku sudah habis di tangannya.


Sekarang aku benar - benar dalam bahaya, aku harus segera mencari pertolongan.


Atau aku akan mati di tangannya ....


Aku melihat sekeliling, aku mencoba menyelamati diri dengan berlari sebisaku, aku hanya perlu bertemu seseorang. dengan begitu aku bisa meminta perlindungan.


Aku tidak tahu harus apa lagi, karena aku yang mencoba memaksakan lari meski rasanya tak sanggup untuk aku lakukan. kerena orang itu pantang menyerah mengejarku, sepertinya ia benar - benar ingin membunuhku.


Baru saja aku berhenti untuk mengatur nafasku yang tak beraturan, orang itu entah bagaimana memegangi tanganku, membuatku tak bisa berkutik lagi.


Tapi aku tak boleh pasrah, aku bisa membiarkannya menghabisiku begitu saja. itu sebabnya aku melakukan perlawanan yang bisa aku lakukan. .


Ini pertama kalinya aku menghadapi hal seperti ini, dan untuk sesaat aku pikir aku akan mati. tapi ternyata aku masih pumya waktu untuk menyelamatkan diri.


Aku tak tahu berapa lama aku akan bisa bertahan, yang hanya aku pikirkan bagaimana aku bisa selamat dari seseorang yang mencoba menghabisiku.


Dan satu hal yang mengganggu pikiranku, siapa?


Siapa orang yang mencoba menghabisiku?


Pandanganku seketika gelap, yang jelas ketika kesadaranku menghilang. Aku tak ingat apapun.


Ketika aku mendapatkan kembali kesadaranku, aku mendapatiku berada disebuah ruangan yang penuh dengan warna putih. Yang aku kenali sebagai kamar rumah sakit.


Saat akhirnya pintu ruanganku di rawat terbuka, aku pikir yang datang adalah Axell.


Tapi .... yang datang adalah orang lain.


"Sean?" ia tersenyum, lalu mendekat ke arahku.


"Gimana? udah baikkan?" tanyanya, aku mengangguk pelan. Sean membantuku untuk duduk di tempat tidur.


"Mmm ... Sean, sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku, ia tampak menghela nafas sebelum menjelaskan kepadaku lebih lanjut.


"Aku nggak sengaja liat kamu dikejar sama orang misterius, jadi aku ikutin, terus _ "


"Orang itu gimana, apa sudah di tangkap?" tanyaku. kulihat ia tampak memikirkan jawaban atas pertanyaanku.


"Aku sempat kejar, tapi ia berhasil kabur sialnya." aku menghela nafas, itu artinya aku akan terus di teror oleh orang misterius itu.


"Tapi lo nggak usah khawatir, kalau ada apa - apa lagi, lo bisa lapor polisi." aku mengangguk, lalu menyandarkan kepalaku.


"Umm ... Sean, apa gue bisa pulang?" tanyaku.


"Gue juga belum tau, mau gue bantu tanyain?" tanyanya, aku hanya menganggukkan kepala. lalu kemudian ia keluar dari ruanganku di rawat. dan tak lama kemudian ia kembali ke ruanganku.


"Lo boleh pulang, mau gue anter?" aku memikirkan soal tawarannya itu, tapi setelah di pikir-pikir ia telah menolongku, dan aku tidak mau merepotkannya lebih dari ini.


"Terimakasih, tapi gue bisa pulang sendiri." ucapku, saat aku mencoba untuk bangkit, entah bagaimana aku hampir jatuh, namun dengan sigab Sean menangkap kedua bahuku sehingga tak jatuh.


Mata kami saling bertemu, wajah kami yang begitu dekat membuatku bisa melihat pantulanku di matanya.


Begitu aku tersadar, aku segera menjauh dari Sean. karena hal itu kecanggungan diantara kami terjadi.


"Maaf." ucapku, untuk mengusir kecanggungan.


"Nggak, apa - apa." jawab Sean.


Berjalan keluar dari ruanganku di rawat, dan mendapati Axell berada didepan.


"Axell?" ia tak menanggapi terkejutanku kerena melihatnya tiba - tiba berada di rumah sakit, kulihat Axell menatap ke arah Sean dengan tatapan tidak senang.


"Lo, siapa?" tanya Axell, dingin.

__ADS_1


"Sean." jawab Sean singkat.


"Axell, Sean ini yang sudah menolong, dan membawaku ke rumah sakit." Axell tampak mengontrol ekspresinya dan kini ia tersenyum, bahkan ia mengajak Sean berjabat tangan.


"Axell, pacarnya gadis disebelahmu." ucapnya dengan nada seolah menegaskan status kami. Sean menerima jabat tangan dari Axell.


Aku hanya menatap mereka dengan tatapan was - was, kalau - kalau saja mereka akan berkelahi didepanku.


"Umm ... kenapa kau bisa ada disini?" tanyaku.


"Apa itu sangat penting, untuk di jawab?" tanya, ini pertama kalinya Axell bersikap dingin seperti itu kepadaku.


Ada apa sebenarnya?


Apa dia marah?


"Haruskah nada bicaramu, seperti itu?" sahut Sean.


"Se-Sean _ " tanpa mengatakan apapun, Axell pergi begitu saja. pergi meninggalkanku bersama Sean.


Tanpa menunggu lama, aku langsung mengejar Axell. meski sempat di tahan oleh Sean. tapi ... aku tak bisa membiarkan Axell marah kepadaku dalam waktu lama.


Sedikit lagi Axell sampai ke mobilnya, hingga aku berhasil mengejarnya dan menahan tangannya. Yang berhasil membuatnya berhenti.


"Axell, apa kau marah?" tanyaku, tak ada respon darinya. yang langsung ku anggap sebagai jawaban iya.


Aku melepas tanganku dari tangan Axell, lalu beerganti menjadi memeluk Axell tapi dari belakang. masih tak ada respon dari Axell, tapi aku tidak akan pernah menyerah.


"Axell, jangan marah padaku, ya." ucapku dengan nada memelas.


"Kalau kamu mau, aku bisa menjelaskan semuanya, aku _ " Axell berbalik, dan tiba - tiba menempelkan jari telunjuknya ke bibirku yang membuatku langsung diam, kemudian memelukku.


"Aku nggak marah, kok." ucapnya tiba - tiba, aku mencoba sedikit melirik kearah Axell. meski alu masih berada dalam pelukkannya.


"Cuma nggak suka aja, liat kamu bareng dia, dan melihat kebersamaan kalian tadi." aku terdiam. ternyata Axell melihat sewaktu Sean menolongku.


"Axell, itu _ "


"Udah jangan dibahas ya, nanti aku jadi tambah kesal." tak ingin membuat Axell marah, akhirnya aku menuruti permintaannya untuk tidak membahasnya.


"Sekarang, aku antar kamu pulang, ya," ujarnya. aku tersenyum menatapnya, lalu kemudian mengangguk.


Setelah Axell membawaku masuk ke dalam mobilnya, Axell menjalankan mobilnya menuju pulang ke rumahku.


Selama dalam perjalanan, dimobil aku menceritakan apa yang terjadi, dan apa yang aku alami. respon Axell tak membuatku kecewa, tapi juga membuatku terkejut. karena saat itu juga, ia menyuruh orang untuk mencari orang tersebut.


Tiba dirumah, aku langsung keluar dari mobil Axell. disaat bersamaan Axell juga ikut keluar dan menghampiriku.


"Xa, soal orang itu, apa ada seseorang yang kamu curigai?" tanyanya, aku tekejut mendengar pertanyaan yang tiba - tiba itu, tapi aku tetap harus memikirkan jawabannya.


"Sebenarnya aku menyimpan, satu nama." ucapku ragu.


"Siapa?" tanya Axell dengan antusias.


"Apa aku harus memberitahunya?" pikirku.


"Xa? Alexa? sayang?" aku tersadar, ketika Axell menjentikkan jarinya di depan wajahku. aku langsung berusaha bersikap tetap tenang.


"Tapi ... kita tidak bisa menuduh orang tanpa bukti, kan? benar, kan?" Axell menatapku cukup lama, seolah ada yang ia cari.


"Alexa, jangan - jangan kau punga seseorang yang kau curigai, dan kau mencoba melindunginya?" tanya Axell, dengan menatap curiga ke arahku.


"Ke-kenapa aku melindunginya, benarkan kita tidak bisa menuduh orang sembarangan tampa bukti, benar kan?"


Kami sama - sama terdiam, membuat suasana hening, dan menjadi canggung.


Kulihat Axell menghela nafas berat, sebelum akhirnya ia kembali menatapku.


"Aku mencoba melindungimu, karena aku khawatir." ucapnya. ada yang berbeda dari nada bicaranya, dan kenapa aku merasa jadi tidak enak? apa aku sudah melakukan kesalahan?


"Kau mengerti itu, kan?" tanyanya, aku hanya diam, rasanya tangisku akan tumpah.


Tidak! tidak didepan Axell!


"Kau mengerti, kalau aku tidak bisa selalu ada untukmu, iya kan?" lagi - lagi aku hanya bisa diam, mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Axell.


Kecewa ... nada bicara Axell terdengar seperti kecewa, apa aku membuatnya kecewa.


"Axell, aku tahu tapi kan _ " aku menarik nafas panjang, sebelum akhirnya aku melanjutkan kalimatku.


"Ok! aku akan sebutkan nama orang yang aku curigai."


Haruskah? apa benar - benar harus?


"Siapa?" tanya Axell sekali lagi, sebelum aku menyebutkan nama orang yang aku curigai, aku menceritakan apa yang terjadi, dan menjelaskan alasannya.


Ia cukup tekejut, marah, dan respon lainnya. tapi aku hanya bisa diam. Karena aki sendiri kini sibuk dengan pikiranku sendiri.


Dan untumu Jessica ....


Apakah benar kau pelakunya?

__ADS_1


Apa ini caramu menyingkirkanku dari kehidupan Axell?


__ADS_2