
Kubiarkan Axell mengambil kesempatan untuk bicara, tiba - tiba Axell menghentikan langkahnya.
"Aku ... cuma nggak nyaman aja, sama temen baru kamu tadi." ucapnya yang membuat aku mengerti di balik sikap diamnya tadi.
"Nggak tau, rasanya aneh aja." aku mengangguk aku mencoba memahami Axell, kemudian kami sepakat untuk tidak membahasnya lagi.
Hari itu sepanjang hari, kami hanya menghabiskan waktu bersama. Tanpa memikirkan apapun, yang ada kebahagian.
Dan aku bahagia bersama Axell ....
Keesokan harinya ....
Suara ketukan yang amat keras di pintu kamarku terdegar sangat keras, sehingga membangunkanku dari tidurku.
Sekilas aku mendengar namaku disebut. dengan malas aku berjalan ke arah pintu kamar, lalu kubuka.
"Alexa, kamu masih belum siap, juga?" aku memastikan apakah aku masih setengah sadar, setelah mendapati. sosok Mama dihadapanku.
"Mama?"melihat tingkahku, Mama melihatku dengan tatapan penuh keheranan.
"Kamu, kenapa?" tanya Mama, begitu tersadar aku kembali menatap Axell, sambil menggelengkan kepala.
"Nggak ada, cuma kaget aja tiba - tiba lihat Mama, ada disini." jelasku, Mama sama sekali tak melepaskan pandangannya dariku.
"Kamu baik - baik aja kan, selama disini? atau kita kembali ke _ "
"Alexa baik - baik aja kok, Ma." selaku, Mama mengurungkan niatnya untuk bicara. dan memberikan kesempatan untukku agar bisa bicara.
"Lagian Alexa bisa jaga diri kok, Ma." sambungku. kulihat Mama menghela nafas.
"Iya iya, Mama lupa kalau anak Mama sekarang ... bukan anak kecil lagi." Mama membelai rambutku, aku tersenyum menatap Mama. Mama juga.
"Oh iya, sekarang kamu siap - siap, kita sarapan bersama, ya?" aku mengangguk, Mama berjalan ke arah pintu, kemudian keluar dari kamarku.
Beberapa saat kemudian ....
Aku melirik jam di tanganku, sepertinya sudah waktunya aku harus segera bergegas.
Dimeja makan ....
Aku melihat sekeliling, saat melihat sosok Mama. seketika aku merasa ada yang kurang tanpa ke hadiran Papa.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Mama, aku menggelengkan kepala. lalu melanjutkan makanku.
"Oh iya, Mama dengar, kamu memasukkan karyawan baru ya, dikantor?" aku tersedak, karena terkejut.
Kenapa Mama bisa tahu secepat ini?
"Alexa? apa itu benar?" tanya kembali bertanya, sementara aku berpikir keras apa yang harus aku katakan.
"Iya Ma, Maaf Alexa nggak kasih tau Mama, tapi Mama nggak usah khawatir Alexa udah cari tahu kok." ujarku, kulihat Mama belum memperlihatkan reaksinya.
"Jadi aku udah antisipasi, jauh - jauh hari sebelum Alexa ambil keputusan." Mama hanya mengangguk, ada apa dengan respon yang Mama berikan?
Sebelum aku pergi, aku menyalami tangan Mama.
Beberapa saat kemudian ....
Kini aku duduk berhadapan dengan Axell, entah ada angin apa dia datang ke kantorku di saat masih jam kerja.
"Jadi Mama kamu udah datang, dari New york?" aku mengangguk, raut wajah Axell terlihat senang. aku menatap penuh heran ke arahnya.
"Kamu kenapa, kayak seneng gitu?" tanyaku penasaran.
"Sayang, apa sekarang waktu yang tepat untuk menemui ibu kamu?" tanyanya, aku terdiam. pertanyaan Axell membuat aku larut dalam pikiranku sendiri.
Apa sekarang waktu yang tepat ?
"Sayang ... _ "
"Xell ... kamu yakin? buat menikahi aku?" raut wajah Axell langsung berubah, aku sekarang takut kalau ia marah karena ucapanku. bahkan sekarang aku tak berani menatap wajahnya.
"Xa, kamu ragu?" aku hanya bisa diam, sambil menatapnya sebentar lagi aku yakin ia akan menatapku dengan raut wajah kecewa.
Aku tidak tau harus apa, selain hanya bisa diam. Otakku berpikir keras untuk memikirkan jawaban yang tak membuat Axell marah, dan kecewa.
"Xel, aku cuma _ "
"Terserah Xa, gue udah nggak mau tau lagi." aku tertegun. sementara Axell pergi begitu saja meninggalkanku tanpa mengatakan apapun.
Untuk pertama kalinya Axell marah padaku ....
Selama 5 hari Axell tak ada mengabariku, padahal ia tak pernah seperti sebelumnya. hingga keesokan harinya aku memutuskan untuk menemuinya di kantornya.
Karena Axell ada metting penting, karyawan Axell memintaku menunggu di ruangan Axell.
Tak lama samar - samar aku mendengar langkah kaki mendekat, sepertinya Axell sudah selesai dengan mettingnya.
Kulihat pintu dibuka, kulihat Axell 'muncul di balik pintu, ia menatapku terkejut, kemudian berjalan menghampiriku.
"Kamu ngapain, disini?" tanyanya.
"Axell, kamu masih marah?" ia menatapku sedikit lama, setelah menghela nafas berat, ia menggelengkan kepala.
"Maaf, mungkin aku kesannya terlalu buru - buru, sampai aku tak sadar kalau aku telah memaksa kamu, maaf ya." tangan Axell terulur membelai kepalaku, aku meraih tangannya untukku genggam. lalu ku gelengkan kepalaku.
"Kamu nggak perlu minta maaf, aku yang salah, seharusnya lebih bisa ngerti kamu, maaf ya." Axell tersenyum, lalu menarikku untuk di bawah kedalam dekapannya.
__ADS_1
"Tapi kamu masih bisa kok, kalau memang kamu mau ketemu sama Mama aku, kamu masih mau ketemu, kan?" tanyaku, Axell tak langsung menjawab. aku menatap bingung ke arahnya.
"Maaf ya, bukan aku nggak mau, tapi lusa aku harus pergi ke paris." ucapnya. aku terkejut mendengarnya. mungkin karena aku baru mengetahunya.
"Paris?" tanyaku, Axell mengangguk.
"Berapa lama?" tanyaku.
"8 hari." aku tersenyum kecut, seraya mengangguk paham.
"Senyum dong, jangan kecut gitu," pintanya. sambil membuat simpul senyum di wajahku.
Axell tiba - tiba mendekapku kedalam dekapannya. aku rasa ia tahu kalau aku tak ingin ia pergi meski hanya 8 hari. tidak setelah 2 tahun akhirnya aku bertemu dengannya kembali.
Keheningan ini lama - lama mengintimidasiku, aku serasa semakin diselimuti rasa sedihku.
Mataku mulai mencoba menahan laju air mataku, yang mencoba untuk turun.
Aku masih diam didalam pelukkan Axell, rasanya sulit bicara disaat aku mencoba menahan tangisku.
Axell mengusap kepalaku dengan lembut, sedikit demi sedikit aku merasa tenang.
"Hanya 8 hari Xa, setelah itu aku akan segera kembali." Aku menghela nafas, aku menyadari aku tidak boleh menjadi penghambat untuk Axell.
"Iya, kamu boleh pergi." ucapku, Axell melepas pelukkannya untuk melihat wajahku.
"Xa _ "
"Maaf ya, aku nggak bermaksud _ " Axell menempelkan jari telunjuknya yang membuat aku seketika bungkam, Axell menatapku dengan serius kali ini.
"Xa, kamu tau nggak kalau cinta aku ke kamu sekarang semakin bertambah." Jari Axell mengelus pipiku dengan lembut, aku hanya tersenyum sambil menatapnya.
Hanya 8 hari Alexa ... hanya ....
Hari keberangkatan Axell ...
"Nggak ada yang terlupakan, kan?" tanyaku, Axell menggelengkan kepalanya seraya melirik jam ditangannya.
"Sepertinya sudah waktunya, aku berangkat." aku memasang senyum terpaksa, sambil menganggukkan kepala.
"Alexa?" aku memasang senyum terbaikku agar Axell tidak khawatir. tiba - tiba Axell meraih tanganku, membawaku kedalam dekapannya. kali ini ia memelukku sangat erat.
"Apa sebaiknya aku tidak pergi, ya?" aku yang terkejut mendengarnya, refleks melepaskan diri dari dekapannya.
"Jangan bercanda, jangan bikin aku jadi ngerasa nggak enak juga." Axell tertawa, lalu mengusap kepalaku lembut.
"Aku pergi ya, jaga diri kamu baik - baik." aku tersenyum, sambil menganggukkan kepala.
"Tunggu aku, ya." bisiknya kemudian, sebelum akhirnya ia pergi dengan kopernya, aku hanya tersenyum sambil melambai ke arahnya.
Kubiarkan Axell mengambil kesempatan untuk bicara, tiba - tiba Axell menghentikan langkahnya.
"Aku ... cuma nggak nyaman aja, sama temen baru kamu tadi." ucapnya yang membuat aku mengerti di balik sikap diamnya tadi.
"Nggak tau, rasanya aneh aja." aku mengangguk aku mencoba memahami Axell, kemudian kami sepakat untuk tidak membahasnya lagi.
Hari itu sepanjang hari, kami hanya menghabiskan waktu bersama. Tanpa memikirkan apapun, yang ada kebahagian.
Dan aku bahagia bersama Axell ....
Keesokan harinya ....
Suara ketukan yang amat keras di pintu kamarku terdegar sangat keras, sehingga membangunkanku dari tidurku.
Sekilas aku mendengar namaku disebut. dengan malas aku berjalan ke arah pintu kamar, lalu kubuka.
"Alexa, kamu masih belum siap, juga?" aku memastikan apakah aku masih setengah sadar, setelah mendapati. sosok Mama dihadapanku.
"Mama?"melihat tingkahku, Mama melihatku dengan tatapan penuh keheranan.
"Kamu, kenapa?" tanya Mama, begitu tersadar aku kembali menatap Axell, sambil menggelengkan kepala.
"Nggak ada, cuma kaget aja tiba - tiba lihat Mama, ada disini." jelasku, Mama sama sekali tak melepaskan pandangannya dariku.
"Kamu baik - baik aja kan, selama disini? atau kita kembali ke _ "
"Alexa baik - baik aja kok, Ma." selaku, Mama mengurungkan niatnya untuk bicara. dan memberikan kesempatan untukku agar bisa bicara.
"Lagian Alexa bisa jaga diri kok, Ma." sambungku. kulihat Mama menghela nafas.
"Iya iya, Mama lupa kalau anak Mama sekarang ... bukan anak kecil lagi." Mama membelai rambutku, aku tersenyum menatap Mama. Mama juga.
"Oh iya, sekarang kamu siap - siap, kita sarapan bersama, ya?" aku mengangguk, Mama berjalan ke arah pintu, kemudian keluar dari kamarku.
Beberapa saat kemudian ....
Aku melirik jam di tanganku, sepertinya sudah waktunya aku harus segera bergegas.
Dimeja makan ....
Aku melihat sekeliling, saat melihat sosok Mama. seketika aku merasa ada yang kurang tanpa ke hadiran Papa.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Mama, aku menggelengkan kepala. lalu melanjutkan makanku.
"Oh iya, Mama dengar, kamu memasukkan karyawan baru ya, dikantor?" aku tersedak, karena terkejut.
Kenapa Mama bisa tahu secepat ini?
__ADS_1
"Alexa? apa itu benar?" tanya kembali bertanya, sementara aku berpikir keras apa yang harus aku katakan.
"Iya Ma, Maaf Alexa nggak kasih tau Mama, tapi Mama nggak usah khawatir Alexa udah cari tahu kok." ujarku, kulihat Mama belum memperlihatkan reaksinya.
"Jadi aku udah antisipasi, jauh - jauh hari sebelum Alexa ambil keputusan." Mama hanya mengangguk, ada apa dengan respon yang Mama berikan?
Sebelum aku pergi, aku menyalami tangan Mama.
Beberapa saat kemudian ....
Kini aku duduk berhadapan dengan Axell, entah ada angin apa dia datang ke kantorku di saat masih jam kerja.
"Jadi Mama kamu udah datang, dari New york?" aku mengangguk, raut wajah Axell terlihat senang. aku menatap penuh heran ke arahnya.
"Kamu kenapa, kayak seneng gitu?" tanyaku penasaran.
"Sayang, apa sekarang waktu yang tepat untuk menemui ibu kamu?" tanyanya, aku terdiam. pertanyaan Axell membuat aku larut dalam pikiranku sendiri.
Apa sekarang waktu yang tepat ?
"Sayang ... _ "
"Xell ... kamu yakin? buat menikahi aku?" raut wajah Axell langsung berubah, aku sekarang takut kalau ia marah karena ucapanku. bahkan sekarang aku tak berani menatap wajahnya.
"Xa, kamu ragu?" aku hanya bisa diam, sambil menatapnya sebentar lagi aku yakin ia akan menatapku dengan raut wajah kecewa.
Aku tidak tau harus apa, selain hanya bisa diam. Otakku berpikir keras untuk memikirkan jawaban yang tak membuat Axell marah, dan kecewa.
"Xel, aku cuma _ "
"Terserah Xa, gue udah nggak mau tau lagi." aku tertegun. sementara Axell pergi begitu saja meninggalkanku tanpa mengatakan apapun.
Untuk pertama kalinya Axell marah padaku ....
Selama 5 hari Axell tak ada mengabariku, padahal ia tak pernah seperti sebelumnya. hingga keesokan harinya aku memutuskan untuk menemuinya di kantornya.
Karena Axell ada metting penting, karyawan Axell memintaku menunggu di ruangan Axell.
Tak lama samar - samar aku mendengar langkah kaki mendekat, sepertinya Axell sudah selesai dengan mettingnya.
Kulihat pintu dibuka, kulihat Axell 'muncul di balik pintu, ia menatapku terkejut, kemudian berjalan menghampiriku.
"Kamu ngapain, disini?" tanyanya.
"Axell, kamu masih marah?" ia menatapku sedikit lama, setelah menghela nafas berat, ia menggelengkan kepala.
"Maaf, mungkin aku kesannya terlalu buru - buru, sampai aku tak sadar kalau aku telah memaksa kamu, maaf ya." tangan Axell terulur membelai kepalaku, aku meraih tangannya untukku genggam. lalu ku gelengkan kepalaku.
"Kamu nggak perlu minta maaf, aku yang salah, seharusnya lebih bisa ngerti kamu, maaf ya." Axell tersenyum, lalu menarikku untuk di bawah kedalam dekapannya.
"Tapi kamu masih bisa kok, kalau memang kamu mau ketemu sama Mama aku, kamu masih mau ketemu, kan?" tanyaku, Axell tak langsung menjawab. aku menatap bingung ke arahnya.
"Maaf ya, bukan aku nggak mau, tapi lusa aku harus pergi ke paris." ucapnya. aku terkejut mendengarnya. mungkin karena aku baru mengetahunya.
"Paris?" tanyaku, Axell mengangguk.
"Berapa lama?" tanyaku.
"8 hari." aku tersenyum kecut, seraya mengangguk paham.
"Senyum dong, jangan kecut gitu," pintanya. sambil membuat simpul senyum di wajahku.
Axell tiba - tiba mendekapku kedalam dekapannya. aku rasa ia tahu kalau aku tak ingin ia pergi meski hanya 8 hari. tidak setelah 2 tahun akhirnya aku bertemu dengannya kembali.
Keheningan ini lama - lama mengintimidasiku, aku serasa semakin diselimuti rasa sedihku.
Mataku mulai mencoba menahan laju air mataku, yang mencoba untuk turun.
Aku masih diam didalam pelukkan Axell, rasanya sulit bicara disaat aku mencoba menahan tangisku.
Axell mengusap kepalaku dengan lembut, sedikit demi sedikit aku merasa tenang.
"Hanya 8 hari Xa, setelah itu aku akan segera kembali." Aku menghela nafas, aku menyadari aku tidak boleh menjadi penghambat untuk Axell.
"Iya, kamu boleh pergi." ucapku, Axell melepas pelukkannya untuk melihat wajahku.
"Xa _ "
"Maaf ya, aku nggak bermaksud _ " Axell menempelkan jari telunjuknya yang membuat aku seketika bungkam, Axell menatapku dengan serius kali ini.
"Xa, kamu tau nggak kalau cinta aku ke kamu sekarang semakin bertambah." Jari Axell mengelus pipiku dengan lembut, aku hanya tersenyum sambil menatapnya.
Hanya 8 hari Alexa ... hanya ....
Hari keberangkatan Axell ...
"Nggak ada yang terlupakan, kan?" tanyaku, Axell menggelengkan kepalanya seraya melirik jam ditangannya.
"Sepertinya sudah waktunya, aku berangkat." aku memasang senyum terpaksa, sambil menganggukkan kepala.
"Alexa?" aku memasang senyum terbaikku agar Axell tidak khawatir. tiba - tiba Axell meraih tanganku, membawaku kedalam dekapannya. kali ini ia memelukku sangat erat.
"Apa sebaiknya aku tidak pergi, ya?" aku yang terkejut mendengarnya, refleks melepaskan diri dari dekapannya.
"Jangan bercanda, jangan bikin aku jadi ngerasa nggak enak juga." Axell tertawa, lalu mengusap kepalaku lembut.
"Aku pergi ya, jaga diri kamu baik - baik." aku tersenyum, sambil menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Tunggu aku, ya." bisiknya kemudian, sebelum akhirnya ia pergi dengan kopernya, aku hanya tersenyum sambil melambai ke arahnya.