Romantika Kisah Cinta

Romantika Kisah Cinta
Keberadaan Jessica


__ADS_3

Aku mengatakan segalanya, mengenai betapa terkejut, dan aku senangnya aku dengan kejutan yang ia berikan.


Kami hampir lupa, kalau kami akan segera menikah.


Kami sudah berada di taman lama sekali, dan itu membuatku membayangkan hidupku tanpanya.


Karena selama ini ia sudah memperlakukanku dengan cinta, dan rasa hormat.


Dan kebaikkannya menyalakan kembang api yang telah sempat lama dilupakan dalam diriku.


Kami menghabiskan sisa hari, dengan bicara dan saling bertukar cerita.


Axell mengatarku pulang ke rumah, setelah beberapa jam lamanya di taman.


Keesokan harinya ....


Aku sedang berjalan di lorong, saat aku menemukan sesuatu di depan pintuku.


Seseorang meninggalkan aku buket bunga.


Kemudian aku mendengar suara hak sepatu didepanku, dan melihat Mama menghampiriku.


"Sayang, kamu sudah siap?" tanyanya. aku menarik nafas dalam - dalam, lalu mengangguk.


Aula pernikahan ...


Axell mulai memasankan cincin pernikahan kami, aku tersenyum, Axell juga.


Axell dan aku mempunyai waktu luang, setelah selesai mengobrol dengan tamu yanh hadir hari itu.


Kami minum bersama, dan Axell memberitahu rencana bulan madunya.


Dan apa yang terjadi selanjutnya? kami berpesta, dan melakukan malam pertama kami.


Keesokan harinya ...


Pagi itu aku menerima pesan beruoa chat dari Karina, pesan itu berisi kalau ia membutuhkan bantuanku di kantor.


Saat aku ingin bangun, aku lupa kalau tangan Axell masih diatasku. Tak lama Axell membuka matanya, ia mengubah posisinya menjadi miring menatap ke arahku.


"Pa-pagi." sapaku dengan kikuk, Ia tersenyum, kemudian menempelkan keningnya ke keningku.


"Pagi, sayang." ia beralih memeluk, kalau Axell seperti ini bagaimana aku bisa pergi?


Kami berpelukkan cukup lama hari itu, hingga tanpa kami sadari kami tertidur kembali. tapi itu menyenangkan.


Beberapa saat kemudian ....


Kami berdua bangun dari tidur pulas kami, Axell pergi mandi sementara aku membersihkan dan merapikan tempat tidur dan seisi kamar.


Yang terlihat bersih dan rapi pada akhirnya, dan itu yang aku suka. melihat kamar bersih dan rapi.


Setelah itu aku pergi ke dapur, menyiapkan Axell sarapan, dan untuk keluarganya juga tentunya.


Ah iya! aku lupa bilang kalau aku pindah ke rumah Axell saat hari pertama pernikahan kami.


Setelah 30 menit aku memasak, tiba - tiba seseorang memelukku dari belakang. sehingga membuatku terkejut.


"Axell? bikin kaget saja, sih." ia terkekeh, sementara aku lanjut memasak.


"Kenapa nggak bibik aja, hmm?" tanyanya. dengan cepat aku menggelengkan kepala.


"Aku bisa kok, Bibik cukup bantuin aku aja." orang tua Axell tiba di dapur. akhirnya Axell menghentikan kegiatannya mengangguku memasak.


"Kamu ini Axell, kenapa mengganggu istri kamu masak?" tanya Mama, aku menahan tawa melihat sikap Axell yang tampak salah tingkah.


"Rencana kalian, akan bulan madu dimana?" tanya Papa tiba - tiba. untung saja aku sedang tidak makan ataupun minum, kalau tidak mungkin aku sudah tersedak sekarang karena terkejut.


Mereka membicarakannya tiba - tiba, aku tahu bulan madu hal yang sewajarnya bagi pasangan yang baru menikah.


Dan juga. ini kesempatan untuk menghabiskan waktu kami hanya berdua lebih lama.


"Sayang, bagaimana menurut kamu?" tanya Axell, astaga! Axell kenapa menanyakannya padaku?!


"Axell ... kamu kenapa bertanya pada istri kamu?" tanya Mama Axell. aku selamat berkat Mama. Axell hanya tertawa.


"Sayang, nanti kamu ikut aku sesuatu tempat ya, mau kan?" tanyanya, mau kemana, ya? pada akhirnya aku hanya mengangguk menanggapi ajakkannya.


Tak lama kami dalam perjalanan entah kemana, aku sudah bertanya tapi Axell tidak ingin menjawab.


Aku melihat Axell yang tampak fokus menyetir, aku memikirkan apa yang saat ini tengah di pikirkan oleh pria yang kini berstatus sebagai suamiku itu.


Apa ia berencana memberikanku kejutan, atau ada sesuatu yang lain? tapi apa?


Saat aku mengikuti arah pandang Axell, aku melihat ia tersenyum. apa ada suatu disana?


Itulah saat aku merasa, ada sesuatu yang dirahasiakan oleh Axell.


2 jam kemudian ia membawaku, kesebuah taman terbesar dikota.


"Sayang kenapa, kita disini?" tanyaku.


"Sabar ya, sayang." kami berjalan pelan melalui taman, ketika aku mulai sedikit tidak sabaran.


Kami berjalan kurang lebih hampir setengah jam, dan kami mendekati sebuah rumah sangat besar.


Rumah itu sangat indah, dengan taman kolosal yang mengelilingi rumah.


"Axell, ini rumah siapa?" tanyaku, dengan tatapan penuh kebingungan.

__ADS_1


"Tentu saja, rumah kita." selagi aku bertanya - tanya, apa maksud dari perkataannya.


Axell mulai mencari sesuatu di sakunya, tak lama ia mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya.


Axell membuka pintu, sebelum aku memiliki kesempatan untuk bertanya.


Ia meraih tanganku, dan membawaku ketangga atas, kesebuah ruangan lainnya.


Aku memandagi pemandangan diluar dari balkon, aku memanggil Axell untuk bergabung.


Ia membawaku kedepannya, dan menyuruhku melihat pemandangan dari depannya.


Axell datang di belakangku, memeluk pinggangku, dan menyederkan kepalanya dileherku.


Aku merasakahkan kehangatan tubuhnya, dan membuat darahku mendidih. aku tahu ia sengaja melakukannya.


Tapi ia melepasku, sebelum aku melakukan sesuatu dengan perasaanku.


"Jadi ... ini rumah baru kita, kamu suka?" tanyanya, aku dengan semangat mengangguk.


Aku tak dapat menahan diriku lagi, aku harus harus memeluknya.


"Terimakasih untuk ini, aku benar - benar tak menyangka, Axell." ia membalas pelukkanku, tangannya dengan lembut membelai rambutku hal itu seketika membuatku merasa nyaman.


kemudian ia menatapku, sementara wajahku terpantul dimatanya.


"Kenapa harus berterimakasih, inikan rumah kita." ucapnya, aku tertawa lalu mengangguk.


Ia meraih tanganku, dan kemudian mengecupnya. sambil menatap mataku sepanjang waktu.


Aku dan Axell sebentar dirumah baru kami itu.


Berhahari suatu hari, kamo akan menjalani hari di rumah ini dengan penuh bahagia.


Di malam hari ...


Aku dan Axell tiba ditaman didekat rumah baru kami, dan entah kenapa semuanya ada disana.


Aku dan Axell melewati kerumunan, dan mencari cara menghindari kerumunan. dan melihat ada api unggun.


Saat akan pergi, aku dan Axell mendengar suara yang familiar.


"Sial, kenapa bisa ada wanita ini." gerutuku dalam hati.


"Sedang apa kau, disini?" tanyaku dengan nada tidak senang. ia mengangkat bahunya dan berkata.


"Ini tempat umu, semua orang bisa datang, aku benarkan?" aku mengabaikan perkataannya, dan mengandeng lengan Axell untuk membawanya pergi.


"Aku belum selesai, Alexa." ia menahan tanganku, aku berbalik hingga mata kami saling bertemu.


"Jangan ganggu dia, Jessica." ucap Axell dengan nada penuh penegasan, sambil melepaskan tangan Jessica dari tanganku. lalu menarikku, sehingga membuatku menjauh dari Jessica.


Aku dan Axell sampai ke rumah lebih cepat, setelah malam itu.


Keesokan harinya ....


Pagi itu aku tampak bersemangat, dan saat aku tengah merias diri. tiba - tiba notif pesan muncul di ponselku.


Buk kami benar - benar butuh ibuk


Untuk kedua kalinya karyawanku mengirim pesan itu, aku rasa ity benar - benar hal yang serius.


Aku segera menyelesaikan riasan, dan bersiap untuk pergi ke kantor. aku berharap apapun masalah yang tengah terjadi di kantor, bukan sesuatu yang serius seperti terdengarannya.


Di ruang makan ...


Aku melihat Axell melambai ke arahku, tapi lalu aku melihat seseorang sudah duduk disana.


Apa yang dilakukan Jessica di rumahku, dan Axell?


"Apa - apaan, ini?!" sosok itu berbalik untuk melihat siapa yang datang. dan aku hampir berteriak karena marah.


Aku berusaha memasang tampang tanpa emosi saat memasuki ruang makan.


"Sayang, duduklah." pinta Axell, aku tersenyum menatap suamiku itu, lalu duduk.


"Sayang, kamu nggak keberatan kan, ada Jessica di rumah ini?" tanya Mama mertuaku itu, sementara Jessica tersenyum licik ke arahku.


Entah kenapa senyumannya itu terlihat menyebalkan itu, tapi aku tidak bisa berkata tidak pada mertuaku. seolah - olah Jessica sudah menjadi bagian dari keluarga kami.


Satu setengah jam kemudian .....


Aku bersiap untuk pergi, tampak semua orang kini melihat ke arahku.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Axell, aku menatap orang yang ada diruangan itu bergantian. apa aku harus mengatakan sebenarnya?


"Ada masalah dikantor, jadi aku harus kesana untuk melihatnya." ucapku, mereka saling menatap satu sama lain.


"Mau aku, temani?" aku melirik ke arah Jessica, wanita itu hanya memalingkan wajahnya.


Mungkin itu ide yang bagus, lagi pula aku tidak rela suami dan mertuaku makan bersama wanita itu.


Kami berdua berpamitan, dan meninggalkan rumah. sementara gadis itu kembali memasang senyum liciknya.


Aku dan Axell dalam perjalan menuju ke kantor, sebenarnya aku tidak ingat kapan Axell terakhir kali datang ke kantorku.


Axell tentunya tidak tahu, bahwa masalah di kantorku sangat serius di banding kedengarannya.


Aku hanya menikmati waktu berdua bersama Axell selama dalam perjalanan, meski Axell sendiri tampak fokus menyetir.

__ADS_1


Dan terus melihat ke arah jalan, yang ada dihadapannya.


Sekali lagi aku melirik ke arah Axell, dan kembali menoleh kejalan. disaat bersamaan, aku menerima pesan dari Karina.


Aku senang mendengar ibuk akan ke kantor hari ini, kami benar - benar membutuhkan ibuk


Aku membalas pesan tersebut dan menyimpan ponselku setelahnya, aku jadi ingin cepat sampai kesana.


Didepan Karina terlihat sudah menungguku, saat aku sampai di kantor ia langsung menghampiriku.


"Buk, syukurlah anda datang." aku menatapnya penuh heran, melihatnya yang tampak terlihat panik.


"Ada masalah apa, sebenarnya?" tanyaku, ia memintaku masuk keruanganku setelah itu ia akan memberikan laporannya. akupun setuju.


Aku menemukan ada yang menjanggal dari laporan itu, tapi aku masih mencoba mencaritahu.


Aku hanya menyimak apa yang Karina katakan, sehingga Karina melanjutkan apa yang hendak ia katakan.


"Kami sudah berusaha mengatasinya, tapi tak ada yang berhasil, maafkan kami buk." aku agak stres dengan apa yang terjadi di kantor, tapi aku tidak mengatakan apapun kepada Karina.


"Sudahlah, tidak usah khawatir, biar aku yang menanganinya dari sini." ujarku, ia mengangguk patuh.


"Kamu boleh pergi sekarang." ia membungkuk hormat, kemudian keluar dari ruanganku.


Tak lama Axell masuk keruanganku, dan bertanya apakah aku baik - baik saja.


"Aku baik - baik saja, makasih sudah bertanya sayang." ucapku, sambil tersenyum menatapnya.


"Mau keluar? mungkin kita bisa cari makan?" Aku tersenyum, lalu kemudian mengangguk.


Saat aku dan Axell tiba disebuah di dekat kantorku, seorang menghampiri kami dan bertanya apakah kami ingin memesan sesuatu.


Aku sudah menyebutkan pesanan yang ingin kami pesan, dikafe itu aku menceritakan segalanya padanya.


Disaat yang sama, aku menerima pesan dari Jessica. dan Axell hanya melihatnya dengan sikap yang biasa - biasa saja.


Jessica mengirim foto ia bersama ibu dan ayah mertuaku, aku yakin ia sengaja memanasiku, seolah ia ingin menunjukkan betapa dekatnya ia dengan kedua orang tua Axell.


"Tidak perlu ditanggapi sayang, kamu tahu seperti apa Jessica itu, kan?" aku setuju dengan apa yang dikatakan oleh Axell, jadi aku memutuskan untuk menyimpan ponselku.


Lalu seseorang memutar lagu yang bersemangat, dan lagu itu langsung memperbaiki moodku yang sempat rusak.


Kami menikmati makanan yang ada dihadapan kami, dan memikmani suasana dengan bahagia.


Semua orang disana tampak menikmati musik yang dimainkan. setelah beberapa saat Axell tiba - tiba meraih tanganku, dan menggenggam tanganku.


Aku bisa melihat, ada yang ingin ia katakan.


"Axell, ada yang ingin kau katakan, sayang?" akhirnya aku yang bertanya, sementara Axell tampak berpikir.


"Bagaimana, kalau secepatnya kita pindah ke rumah baru kita, bagaimana menurut kamu?" tanyanya, aku tidak tahu harus menjawab apa karena pertanyaan itu yang begitu tiba - tiba.


Lamunanku terhenti, karena pesan dari Shintia.


Hai apa kabar? bisa bertemu sebentar?


Untuk beberapa saat, aku berpikir apakah aku harus menjawab pesan itu atau tidak. hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengabaikan pesan itu.


Shintia mengirim foto yang tengah berada di depan rumah Axell. terlihat jelas kalau ia sedang berusaha menarik perhatianku.


"Sayang, kau baik - baik saja?" tanya Axell.


Sepertinya ia bertanya karena memperhatikan ekpresiku yang tampak kesal, aku berusaha mengontrol ekpresiku didepannya.


"Aku baik - baik, saja." ucapku sambil tersenyum, aku melakukannga agar terlihat lebih meyakinkan.


Tak lama kemudian, Axell mendapat notifikasi diponselnya. aku penasaran kira - kira dari siapa itu.


Ia membuka notifikasi itu, dan melihat pesan yang tidak disangka - sangka. kulihat ekpresi Axell ikut berubah saat membaca pesan itu, itu semakin penasaran dengan dengan siapa yang mengirim pesan pada Axell.


Jika aku tanya, apa Axell akan menjawab dengan jujur?


Rasanya tak baik mencurigai suami sendiri, jadi aku memutuskan untuk menyimpan pertanyaan itu untuk diriku sendiri.


Jika Axell mau, dia akan cerita dengan sendirinya. dengan begitu aku akan tahu pada akhrinya.


"Ummm ... Axell, setelah ini, kamu pergi sendiri, ya." ucapku, ia tampak menatap penuh heran ke arahku.


"Kenapa?" tanya Axell.


Aku harus jawab apa? apa aku harus bilang Shintia memaksaku untuk menemuinya?


"Ada seseorang yang minta bertemu," ungkapku. kulihat ekpresi Axell berubah.


"Siapa?" tanya Axell, dari nada bicaranya terlihat jelas kalau ia tengah menahan cemburu.


"Temanku, kamu juga kenal, kok," ujarku, Axell tampak mimirkan perkataanku barusan.


"Mantan teman, lebih tepatnya." sambungku, ia semakin keras berpikir.


"Shintia, masa kamu lupa? memangnya aku punya banyak teman, ya?" ia hanya mengangguk - angguk, setelah berhasil mengingat orang yang aku maksud.


"Mau apa, dia ketemu kamu?" tanyanya, aku hanya mengangkat bahu menanggapinya.


"Aku juga nggak tahu, tapi nanti juga tahu." Axell mengangguk setuju, setelah itu kami bersiap untuk pergi.


Aku lebih dulu ke mobil, sementara Axell masih di dalam kafe untuk mengurus pembayaran.


"Alexa?" aku menoleh, aku pikir Axell yang datang, ternyata salah.

__ADS_1


__ADS_2