
Flashback Off
Sekita aku merasa kakiku seketika lemas, bahkan aku bisa saja ambruk saat ini juga.
Ingatan yang berputar di kepalaku, seperti film horor yang menakutkan. dan aku aku tak sanggup melihatnya!
Tak lama entah bagaimana mereka ternyata sadar akan keberadaanku, aku mematung di tempatku, mereka tampak menatap penuh heran ke arahku, lalu berjalan menghapiriku.
"Alexa? sayang? kamu baik - baik aja?" tanya Mama, dengan raut wajah cemas. aku hanya tersenyum kecut.
"Alexa?" tanpa banyak bicara, aku berjalan ke pintu keluar. mereka tampak kebingungan dengan sikapku, namun aku tidak terlalu memusingkannya.
Hari demi hari telah aku lalui setelah keluar dari rumah sakit, dan akhirnya semua ingatanku kembali.
Aku fokus menyetir, namun air mata yang dari tadi aku coba untuk aku tahan. akhirnya tak berhasil aku bendung, tangisku pecah saat itu juga.
"Kenapa? kenapa aku baru ingat sekarang? khiks ... " tak tampak ada orang yang menghampiri mobilku, aku anggap tak ada yang terusik dengan keberadaan mobilku yang berada di pinggir jalan.
Sesaat, rasanya aku ingin menghela nafas, dan mencoba mengontrol emosiku.
Tetapi tidak berhasil, tangisku tetap pecah seolah aku ingin menumpahkan semua yang aku tahan selama ini.
Keesokan harinya ....
Aku menoleh ke arah Mama, yang tengah sibuk menyiapkan sarapan, dan ku lirik Papa yang berada di sebelahku yang tengah sibuk dengan ponselnya.
Kupastikan aku akan mendapat informasi yang aku mau, tidak perduli apa yang terjadi nanti.
Mama meletakan sarapan untukku, saat Mama hendak menarik tangannya aku menahannya.
Mama berbalik, dan menoleh ke arahku. Kini dia menatap penuh heran ke arahku.
"Alexa? ada apa?" tanya Mama, Papa kini mengalihkan perhatiannya ke arah kami berdua.
"Ada yang ingin aku tanyakan, ke Mama." ucapaku dengan ragu, Mama tampak tak melepas pandangannya dariku.
"Soal, Glen." aku bisa lihat betapa Mama terkejut saat aku menyebut namanya, namun Mama terlihat lebih memilih menutupi rasa terkejutnya.
"Ingatanmu, sudah kembali?" Meski sempat ragu, pada akhirnya aku menganggukkan kepala. tak ada respon apapun dari Mama.
"Mama senang ingatanmu kembali, tapi kenapa kamu tiba - tiba bahas, Glen?" tanya Mama dengan nada dingin. seharusnya aku sudah tidak heran, karena sejak awal Mama dan Papa tidak suka dengannya.
__ADS_1
Sejak aku memberitahu mengenai hubungan kami ....
"Kenapa? karena Mama dan Papa nggak suka? Ma aku cuma mau tau dimana Glen sekarang." ucapku, dengan menekan di beberapa kalimat.
"Anak itu sudah meninggal, sekarang kamu mau apa?" tanya Mama sinis, aku menatap Mama tak percaya.
"Dimana dia di makam, kan?" tanyaku pada akhirnya, dengan mata berair.
Beberapa saat kemudian ....
Langkahku melambat, tiba - tiba ada yang mengganggu pikiranku.
Beberapa menit kemudian langkahku terhenti, kini aku menatap nisan bertuliskan nama Glen.
Kulihat sebuah buket, yang berisikan bunga segar berada di makamnya. aku bisa mengambil kesimpulan kalau buket itu masih sangat baru diberikan.
Tak seperti yang ku harapkan, kini lelaki itu tak akan pernah kembali lagi. tangisku pecah saat itu juga.
Mungkin kami sempat bertengkar, tapi itu bukan sesuatu yang aku inginkan.
Ingatan bagaimana perdebatan kami, hingga kecelakaan itu terjadi memenuhi pikiranku saat ini. Membuat tangisku semakin sulit untuk di bendung, karena rasa penyesalan yang kini menyelimutiku.
Aku melihat sekeliling, tak ada siapapun disana. aku mulai menghapus air mataku.
Aku melihat jam di tanganku, sepertinya sudah waktunya aku harus kembali kerumah. sebelum Mama mencariku.
Hembusan angin yang lembut mengenaiku, sehingga membuatku menghentikan langkahku untuk menikmati hembusannya.
Malam harinya, pukuk 21 : 00
Aku tiba di rumah setelah perjalanan yang melelahkan, sesaat aku pikir semua orang sudah tidur. Namun ternyata aku salah Mama ternyata menunggu kepulanganku.
"Jam segini baru pulang? kemana aja?" tanya Mama dengan nada dingin. aku berpikir keras untuk mencari alasan.
"Alexa?" aku tersentak karena terkejut, aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.
Aku tidak tahu berapa lama pikiranku kosong, yang jelas kesadaranku kembali ketika Mama menyadarkanku.
"Kamu beneran pergi ke makam, Glen?" tanya Mama dengan tatapan menyelidik, aku hanya menganggukkan kepala.
"Sayang _ " saat Mama ada sesuatu yang ingin disampaikan, aku memotongnya.
__ADS_1
"Ma, Alexa mau istirahat, Alexa ke kamar nggak Papa, kan?" aku melihat Mama tampak diam, seketika aku merasa bersalah.
"Ma?" tanyaku, Mama tiba - tiba tersenyum kepadaku.
"Sayang, kamu pergi saja ke kamar kamu, nanti lain kali kita bicara lagi." dari nada bicaranya tampak lemas, namun aku hanya bisa menatap kepergiannya yang meninggalkanku.
Saat aku akhirnya tiba di kamarku, aku menatap keluar jendela.
Aku tidak tahu kenapa ini bisa terjadi kepadaku, padahal selama aku pikir semuanya baik - baik saja.
Ku buka laci di meja riasku, ketika aku melihat ada bingkai foto. kukeluarkan bingkai foto itu dari laci riasku, kutatap foto itu cukup lama.
Kurasa, sudah jelas kenapa aku kehilangan ingatan tentang Glen. Glen itu adalah orang yang ingin aku lupakan ketika aku mengetahui faktanya bahwa ia selingkuh di belakangku.
Aku baru berpikir harus bagaimana setelah aku mengingat semuanya, tetapi dering di ponselku mengalihkan perhatianku.
Seseorang membuka pintu kamarku, dengan segelas susu ditangannya Mama melangkah masuk ke kamarku.
Seketika aku terdiam, Mama menyodorkan susu yang ia bawa. aku menerim susu itu dari tangannya.
"Makasih, Ma." ucapku, ia tersenyum seraya mengangguk kepala.
Kulihat Mama memperhatikan kamarku, aku menatap penuh heran ke arahnya.
"Aku sudah mau tidur?" tanya Mama, aku menganggukkan kepala. aku sibuk menghabiskan susu yang di buat oleh Mama.
Ketika aku selesai, aku memberikan gelasnya ke Mama. Mama menerima gelas itu dari tanganku.
"Kalau gitu Mama keluar ya, supaya kamu bisa istirahat." aku mengangguk, setela mengusap pucuk kepalaku, Mama pergi meninggalkan kamarku.
Tak lama aku berjalan ke arah tempat tidurku, lalu duduk di pinggirnya.
Keesokan harinya ....
Kulihat Shintia berjalan menaikki tangga, sementara buku tergeletak di lantai.
"Kebiasaan nih anak, barangnya sampe jatuh gini." aku berlari mengejar Shintia, nafasku berpacu mengimbangi langkahku menaikki anak tangga.
Dengan gesit aku meraih pengangan untuk menaikki tangga, namun entah bagaimana aku kehilangan keseimbangan.
Aku pikir aku akan jatuh, namun ketika aku membuka mataku, kulihat Axell tengah menahan bahuku agar tidak jatuh.
__ADS_1
Mata kami saling bertemu, Axell tidak menungguku bangun dari tubuhnya yang menahan tubuhku, namun aku langsung menjauh dari Axell.
"Ternyata kamu ceroboh juga, ya." aku baru mau menyela ucapannya, tetapi tiba - tiba ponselku berbunyi.