Romantika Kisah Cinta

Romantika Kisah Cinta
Sebuah Kabar


__ADS_3

Setibanya dirumah, aku menyadarkan tubuhku ke sofa. lalu menghela nafas berat.


Samar - samar aku mendengar langkah kaki mendekat, kulihat Mama berjalan kearahku dengan membawa segelas minuman.


"Ini, kamu minum ya." pinta Mama, aku menerima gelas yang disodorkan ke arahku, dan langsung meminumnya.


Tanpa aku sadari, Mama tampak mengamatiku, saat aku menoleh ke arahnya ia tersenyum.


Saat aku menatap mata Mama, aku melihat ada yang berbeda dari sorot matanya. seperti ada yang ingin di sampaikan, sesuatu yang penting ....


"Mama ... kenapa?" tanyaku, seraya menatap penuh heran.


Kulihat Mama menghela nafas berat, lalu kembali menatapku.


"Sayang ... kenapa kamu nggak pernah cerita masalah kamu, di kampus?" tanya Mama.


Pertanyaan yang tiba - tiba itu membuatku terdiam, aku kehilangan kata - kata karena bingung harus menjawab apa.


"Ma-maksud Mama?" tanyaku gugup, sambil pura - pura tidak mengerti. ia kembali menghela nafas.


"Mama dapat kabar, kalau kamu di skors dari kampus, dan sekarang Papa sedang mengurus masalah ini." aku terkejut mendengar hal itu, sepertinya aku tidak bisa mengelak apapun.


"Maafin, Alexa Ma." ucaoku, dengan kepala menunduk. Mama meraih daguku, dan membuat aku menatap wajah Mama sekali lagi.


"Kamu nggak usah minta Maaf, Mama yakin kamu nggak salah," dengan mata berair aku memeluk tubuh Mama, kurasakan kehangatan seorang ibu dari pelukkan Mama yang sambil mengusap punggungku.


"Kalau kamu mau, Papa juga bisa urus kepindahan kamu dari kampus itu, gimana?" tawar Mama. aku tampak berpikir.


Kulepas pelukkan Mama, kuatatapn wajah Mama. haruskah aku pindah?


Mungkin yang dikatakan Mama, itu bukan ide yang buruk. dengan begitu aku tidak akan berurusan lagi dengan Jessica, tapi ....


Axell ....


Tunggu! kenapa aku malah memikirkannya?


"Ma, Alexa bisa pertimbangin dulu, nggak?" tanyaku, tangan halusnya mengelus kepalaku, sambil tersenyum. lalu menganggukkan kepala sambil menatapku hangat.


Aku tersenyum, lalu kembali memeluk Mama. Mama negelus lembut punggungku.


Keesokan harinya ....


Sinar matahari yang mengenaiku, membuatku terbangun dari tidur lelapku, kulihat sosok Mama di hadapanku. menunggu untuk segera bangun.


"Mama?" aku duduk ditempat tidur, Mama duduk disebelaku. sambil membelai kepalaku.

__ADS_1


"Bangun sayang, waktunya kamu ke kampus." aku menunggu beberapa saat, hingga akhirnya aku bisa mencerna maksud dari perkataan Mama.


Mungkin ini yang di maksud Mama kemarin, dengan Papa mengurus masalahku di kampus.


"Semangat ya sayang, kalau ada apa - apa lagi di kampus, kasih tau Mama, dan Papa, ya." aku tersenyum, lalu menganggukkan kepala.


Mama merentangkan tangan, lalu kusambut dengan memeluk Mama.


"Mama doang nih, yang di peluk ... Papa nggak?" aku menoleh ke asal suara, kulihat sosok Papa yang ikut merentangkan tangannya, aku terkekeh lalu berhambur memeluk Papa.


"Ingat ya sayang, kalau ada apa - apa lagi, langsung cerita." aku mengangguk, seraya mengiyakan.


"Kalau ada apa - apa lagi, Papa akan langsung pindahin kamu, dan berhentikan  donatur Papa ke kampus kamu itu, atau kalau perlu Papa buat tutup kampus itu sekalian."  aku menahan tawa, tapi aku hanya mengangguk, lalu mengiyakan.


"Yaudah, Mama dan Papa keluar, kamu siap - siap ke kampus." aku mengangguk, lalu mereka keluar dari kamar.


Sekarang aku sendiri, duduk di pinggir tempat tidur. Tak tau harus melakukan apa.


Tak lama aku tersadar kalau harus ke kampus, aku meraih handuk. lalu pergi mandi.


Saat tengah menuruni anak tangga, aku mendengar suara klason mobil. aku langsung sedikit menambah kecepatanku, untuk menuruni anak tangga.


Aku berlari menghampiri pintu, dan membukakan pintu.


Dari sana, sosok Axell muncul. ya Axell kini sudah berdiri di hadapanku entah sejak kapan.


Ini gila, aku pikir Axell tidaj akan pernah menghampiriku kerumah. tapi kini dia berdiri tepat dihadapanku.


"Kok bisa kesini? lo tau dari mana, rumah gue?" tanyaku, seraya menatap penuh heran.


"Gue ... cari tahu." ekpresinya itu, ada apa dengan ekpresinya itu.


"Lo kayaknya lagi senang , kenapa?" tanyaku, dengan tatapan penuh heran.


"Sudah jelas, karena mulai sekarang Jessica nggak akan mengganggu kamu lagi." seketika aku menatap bingung ke arahnya, aku benar - benar tak mengerti maksud dari ucapnnya.


"Apa maksud, lo?" tanyaku, dengan tatapan penuh penasaran.


"Bicaranya bisa lanjut lagi nanti, nggak?" tanyanya.


"Udah hampir telat nih." aku tersadar, dsn segera menganggukkan kepala. hari itu untuk pertama kalinya aku berangkat ke kampus bersama Axell.


1 jam kemudian ....


Baru keluar dari mobil Axell, aku disugukan oleh pemandangan Deon yang tengah bersama Shintia.

__ADS_1


Aku dan Axell lanjut menuju ke kelas, aku memilih diam dengan apa yang telah aku lihat.


Pukul, 12 : 00


Di kantin kampus


Ingatan tentang apa yang aku lihat kembali terlintas, tapi aku tak berani bertanya karena takut menyinggung perasaannya.


Dengan tangan berpangku dagu, kulihat Shintia mengaduk makanannya. lalu kemudian menghela nafas.


"Xa, ternyata ngeluluhin hati Deon itu susah juga, ya." aku terkejut medengar ucapannya yang tiba - tiba itu, aku tidak tau harus merespon seperti apa.


"Kenapa memangnya?" tangaku, sambil menyuapkan makananku ke mulut. seraya tak melepaskan pandanganku darinya.


"Yah ... dia kayak, biasa aja." aku mengangguk paham, ia menghela nafas.


"Apa gue nyerah aja, ya?" tanyanya, aku tidak tau harus merespon apa atas pertanyaannya itu.


Aku mencoba memikirkan cara, untuk menenangkannya. tapi apa yanv bisa aku lakukan?


"Kalau lo beneran suka sama Deon, bukannya lo harus usaha lebih?" ia menatapku, lalu mengangkat bahunya.


"Nggak tau ah, gue duluan ya." ia beranjak dari tempatnya, lalu pergi meninggalkanku.


Ketika aku tiba di lapangan kampus, kulihat Deon tengah mengobrol dengan beberapa temannya.


Apakah aku harus menghampirinya?


Baru saja aku hendak melangkahkan kakiku, namun seseorang menahan pundakku sehingga membuatku menahan langkah kakiku.


Aku menoleh, kulihat sosok Axell sudah berada di belakangku.


Aku baru bertanya kepada Axell,  tetapi Deon menghampiri kami. kini aku terjebak di antara kedua orang ini.


"Lo mau nemuin guekan, Xa?" aku melirik ke arah Axell sekilas, lalu menganggukkan kepala.


"Lo mau nemuin, Deon?" tanya Axell. Deon menoleh ke arah Axell, yang tampak tak senang, aku mulai cemas kalau mereka akan berkelahi.


Ia berdiri tepat di hadapan Deon, keduanya saling menatap tajam. aku bisa lihat betapa tidak akurnya mereka, untuk melerai mereka.


"Ga boleh? Alexa nggam boleh mencariku?" tanya Deon seolah menantang Axell, ku lihat Axell mengepalkan tangannya. sambil menatap tajam ke arah Deon.


Aku bisa merasakan mereka berdua akan beradu pukulan, tak mau menimbulkan masalah. aku mendekati Axell, lalu menggandeng tangan Axell. keduanya tampak terkejut.


"Kita bicara lain kali saja Deon, aku pergi." aku menggandeng lengan Axell, dan membawa Axell menjauh dari Deon.

__ADS_1


Aku tidak tau dengan apa yang aku lakukan, tapi sementara .... mereka tidak akan beradu pukulan.


__ADS_2