
Hal yang pertama bukan hal baru bagiku, tapi hal yang kedua adalah berita baru bagiku. Dan itu sangat mengejutkan.
"Nggak, gue belun tau." ucapku, dengan berusaha mengendalikan ekpresiku.
"Yah, ketinggal berita dong, maka berbaur dong anak lambe turah." aku memutar bola mata malas, memerhatikan sekeliling.
"Tukang gosip maksud, lo?" tanyaku, ia langsung menoleh ke arahku, ia terkekeh.
"Btw, rumah lo sepi? nyokap lo kemana?" tanyanya. aku terdiam.
"Ada perjalanan bisnis." jawabku, gadis itu mengangguk paham.
"Jadi ke mall, nggak?" ia menatapku, aku tampak mempertimbangkan sesuatu.
"Gue siap - siap, dulu." aku bergerak dari tempatku, lalu pergi menuju ke kamarku.
2 jam kemudian ....
"Heh, cowok itu gantengkan?" tanyanya seraya mengedipkan mata untuk menggodaku, aku menatap malas.
"Ish, pantesan lo jomblo, cuek gini." keluhnya, sambil berdesis kesal. aku menghela nafas.
"Udah deh, nggak usah jelalatan tuh mata, masih mau belanja, nggak?" tanyaku, mulai menahan kesal.
"Kalau nggak, gue mau pulang, gue capek," ujarku, gadis itu langsung merangkulku.
"Entar dulu dong, temenin gue beli satu barang lagi, ok?" tanyanya. dengan memasang wajah sok manis.
"Ck, nggak usah sok mani, buru," ujarku, kemudian berjalan mendahului. Shintia tampak belari kecil menyusulku.
"Ih, kok malah di tinggal, nyebelin banget sih lo!" keluhnya, dengan dahi mengekerut, dan bibir manyun.
Yah tuhan, dosa apa aku sampai bisa punya sahabat seperti dia.
"Yaudah, kita mau kemana sekarang, atau beneran gue tinggal." ia semakin memanyunkan bibirnya, lalu melihat sekeliling.
"Yaudah, ikut gue." aku menghela nafas, lalu mengekorinya di belakang.
Tapi kalau di pikir - pikir, jarang - jarang aku mengabisin waktu seperti ini bersama Shintia. padahal kita bisa bersama kapan saja, tapi entah sejak kapan kita jadi sok sibuk masing - masing.
40 menit kemudian ....
Di pakiran ...
"Astaga, belanjaan lo lebih banyak dari gue masa." ia mengabaikan perkataanku, dan malah memamerkannya.
Meski sudah berteman cukup lama, ternyata tidak membuat sisi menyebalkannya hilang.
"Habis ini, kita ke kafe yuk?" ajaknya, aku memikirkan ajakkannya untuk beberapa saat.
"Boleh, tapi jangan lama - lama, gimana?"/tanyaku, ia mengangguk kepala seolah setuju.
__ADS_1
Setelah tempat tujuan selanjutnya telah di tentukan, kami masuk ke dalam mobil. Dan langsung menuju kafe terdekat.
40 menit kemudian ....
Aku melihat sekeliling, karena aku cukup sering datang ke kafe ini. bisa aku lihat kafe ini lebih ramai dari biasanya.
Shintia mengakat tangannya, untuk memanggil waiters. tak lama seorang waiters menghampiri kami.
Setelah mencatat pesanan yang disebutkan oleh Shintia, tak lama waiters itu pergi untuk mengambilkan pesanan.
Saat aku menoleh ke arah pengunjung yang baru datang, aku pikir aku salah mengenali orang.
Ternyata benar, itu adalah Axell, dan Jessica.
Pandanganku mengekor, pada mereka yang menempati kursi yang tak jauh dari tempatku, aku bertanya - tanya apa Axell menyadari keberadaanku.
Bukan, apa mereka berdua menyadari keberadaanku?
Suasana hatiku semakin tak karuan, beberapa kali aku berpikir untuk pergi tanpa disadari oleh mereka.
Tapi bagaimana dengan Shintia?
"Lo liatin apa, Xa?" tanyanya, dengan tatapan penuh penasaran. aku langsung menoleh ke arahnya, ia tanpa menunggu penjelasanku.
"Bukan apa - apa." aku memasang senyum terpaksa, ia tanpa masih tak percaya dengan yang aku katakan.
Aku menduga Shintia akan menyadari keberadaan mereka berdua, tapi tidak.
Keesokan harinya ....
Aku berharab kalau aku tidak akan bertemu dengan Axell, karena setelah kemarin aku tidak tau harus bersikap seperti apa di depannya.
Samar - samar suara Axell terdengar, bahkan saat aku menuruni tangga.
"Alexa." aku menoleh ke asal suara, kulihat Axell sudah berada di hadapanku.
Aku hanya tersenyum, pura - pura terlihat baik - baik saja.
"Sorry, gue harus ke kelas sekarang." ketika sekali aku mendengar suara yang terlihat familiar, aku menoleh ke asal suara.
Dari raut wajahnya, ia tampak memberi isyarat kalau aku harus pergi. seakan tak suka aku berada di dekat Axell.
Ekpresi Axell berubah, ia mengikuti arah pandangku, tanpa berkata apapun ia membawaku pergi menjauh dari Jessica.
"Alexa." saat Axell menyebut namaku, aku hanya terdiam. pikiranku seolah mencoba mencerna sesuatu.
"Alexa, gue nggak mau lo terus menghindar dari Jessica." ucapnya lagi - lagi aku hanya bisa diam.
"Dan gue nggak mau dia terus menganggu lo, gue bakal pikirkan sebuah cara." aku diam beberapa saat, ucapnya memberikan sebuah pencerahan bagiku.
"Lo benar, Axel." ucapku, sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
"Tapi lo nggak usah lakukan apapun, gue bisa atasi ini sendiri." ucapku, aku hendak pergi detik itu juga, tapi Axell menahanku dengan tangannya.
"Kenapa gue ngerasa ada yang beda, dari lo?" tanyanya, tatapannya seolah mengamatiku.
"Berubah? apa?" tanyaku, pura - pura tak mengerti dengan maksudnya.
Ia melepas tangannya, lalu mengangkat bahunya.
"Entahlah, dari sikap lo kayak ada sesuatu yang beda, atau cuma perasaan gue?" aku diam beberapa saat, lalu memberikan sedikit senyum.
"Cuma perasan lo aja kali, nggak ada yang berubah sama sekali." ucapku, tatapannya kembali seolah mengamatiku. apa dia menyadari sesuatu?
"Axell." bersamaan kami berdua menoleh, tampak Jessica berjalan mendekat.
"Lo tau Jessica tak mengenal kata menyerah, termasuk mengejar cinta lo." ucapku, seraya melirik sekilas ke arah Jessica yang semakin dekat. Axell tiba - tiba menjadi diam.
"Aku pergi dulu." pamitku.
Aku berjalan meninggalkan Axell, dan Jessica tampak sudah berdiri di dekat Axell.
"Jes, lo kenapa nggak pernah berhenti ngusik gue?" tanya Axell, seraya menahan emosi, dan nada penuh prutasi.
"Gue capek, lo nggak capek apa?" Axell berjalan pergi meninggalkan Jessica, Jessica tampak mencoba menahan. tapi percuma, Axell sulit untuk dicegah.
3 hari setelahnya ....
Pukul, 10 : 00 di kampus
Tiba - tiba Shintia menarikku begitu saja, tetapi aku melepaskan cengkraman Shintia dari tanganku.
"Duh, lo apaan sih, narik - nari, gue." ucapku dengan kesal kepada Shintia.
"Lo tau nggak, katanya di fakultas sebelah, ada mahasiswa baru ganteng, dan anak kolomerat." ucapnya dengan semangat.
"Terus?" tanyaku, dengan tatapan bingung. ia menepuk jidatnya.
"Yaampun, nggak heran ya, kenapa lo sampe sekerang masih jomblo juga." aku memutar bola mata malas. ia juga ikut menatapku malas.
"Yaudah, kalo lo nggak mau, cogannya buat gue aja, tapi lo temenin gue buat ketemu dia, ok?" aku menghela nafas, tampa menunggu jawaban dariku, tanganku kembali di tarik.
30 menit kemudian ....
Di lorong kampus, mata kami tertuju pada sosok pria yang tengah mengobrol dengan dua orang lainnya.
Tangannku di tarik oleh Shintia, kami mengarah pada pria itu.
"Hai, Deon." Sapa Shintia dengan nada ramah.Ia melihat ke arahku, namun aku memalingkan wajahku ke arah lain.
Kini giliran Shintia yang memalingkan wajahnya ke arahku, ia menatapku.
Kenapa ditatap oleh Shintia rasanya aneh, ya? apa dia takut aku akan merebut Deon?
__ADS_1