
Axell menyodorkan tangannya lebih dekat ke arahku, aku menatapnya.
"Bangun dulu, gimana?" aku tersenyum, aku menyambut uluran tangannya. Axell membantuku berdiri.
"Kamu nggak, ke kantor?" tanyaku.
"Nanti, sekarang aku mau nemenin calon istri aku dulu." pipiku memerah, jantung berdetak dua kali lebih cepat rasanya. karena ucapan Axell. aku tersenyum lebar ke arah Axell.
"Udah sarapan? kita cari sarapan buat kamu, gimana?" aku mengangguk, Axell menggegam tanganku, lalu kami berjalan bersama - sama.
"Tapi kantor kamu gimana? serius aku nanya?" ucapku.
"Kamu sendiri, kantor kamu gimana? kamu tinggal jonging gini?" tanyanya.
Rasanya menyesal karena sudah bertanya seperti itu, ketika menjadi bumerang untuk diri sendiri.
Ketika tiba di kafe, aku sedang memainkan ponsel sambil, sementara Axell memperhatikan aku dengan lesu.
"Xa." panggilnya lembut.
Aku meletakkan ponselku, lalu menatapnya. aku cukup mengerti kalau ia tak ingin di abaikan olehku.
"Apa?" tanyaku.
"Nanti kamu ikut aku, ya." ajaknya. aku menatap bingung ke arahnya.
"Mau kemana?" tanyaku.
"Nanti juga kamu tahu." aku menghela napas, lalu menyetujui ajakkannya.
2 jam kemudian ...

Aku melihat sekeliling, kemudian menatap Axell dengan bingung.
"Xell, ini apa? kenapa kita kesini?" tanyaku, Axell tersenyum lalu berdiri di depanku.
"Aula ini akan menjadi tempat, melangsungkan pernikahan kita." aku terkejut, lalu mengedarkan pandanganku kesetiap sudut ruangan itu.
Ternyata Axell benar - benar serius dengan ucapannya, bahkan ia sudah menyiapkan aula di hadapanku saat ini.
"Nanti kita pakai wo ya, untuk ngurus semuanya, biar kamu nggak terlalu capek." aku bingung harus menanggapinya seperti apa, karena semuanya masih terlalu tiba - tiba untukku.
Namun saat melihat ketulusan di wajah Axell, aku tidak mau membuatnya kecewa.
"Axell, apa ... semuanya tidak terlalu cepat?" tanyaku dengan hati - hati.
"Ya ... maksud aku, kamu bahkan belum kenal keluarga aku, terus _ " aku langsung diam ketika Axell, menempelkan jari telunjuknya di bibirku, aku mejgdarkan pandangan ke arah wajahnya.
"Aku tau, apa perlu aku pergi ke new york, sekarang?" aku bingung menanggapinya dengan bagaimana, kini kepalaku di penuhi pertanyaan. bagaimana ia bisa bilang untuk pergi ke new york begitu mudahnya? aku benar - benar tidak mengerti jalan pikirannya.
"Axell, tapi kan _ " belum sempat aku menyesaikan kalimatku, Axell lebuh dulu memotong perkataanku.
"Aku cuma nggak mau kehilangan kamu untuk kedua kali, lagi pula kenapa harus ditunda lama - lama, kan?" ia lalu meraih tanganku untuk di genggamnya, lalu menatapku dengan ekpresi yang sulit aku gambarkan.
"Xa, aku cuma nggak mau ada yang mengusik hubungan kita lagi, dan membuat kamu menjauh dari aku lagi." aku terdiam. sementara Axell masih menunggu responku selajutnya.
Apa maksudnya Jessica?
Tak lama Axell melepas tangannya, aku tak melepaskan pandanganku darinya.
"Tapi aku nggak akan maksa kamu, kita akan lakukan pernikahan kita begitu kamu siap, ok?" aku tersenyum sambil menatapnya. lalu mengangguk.
"Tapi kalau malam ini aku kenalin ke orang tua aku, kamu siap kan?" tanyanya. aku tertegun.
"Kenapa selalu mendadak, sih!" seruku kesal, ia tertawa diatas kekesalanku kepadanya.
"Gimana, sayang?" tanyanya dengan nada lembut, dan terlihat tenang. sementara aku berusaha menutupi wajahku yang memerah karena salah tingkah.
Sialan! Axell benar - benar lihai meluluhkan hati wanita. kira - kira sudah berapa banyak wanita yang ia pacari selama aku new york? apa dia juga memanggil sayang ke mereka? tiba - tiba hal itu terlintas di pikiranku.
Dan .... tiba - tiba saja, aku cemburu tanpa alasan ....
"Xa?" aku menghela nafas, lalu mengiyakan ajakkannya.
"Tapi ... mereka bakal suka aku, kan?" Axell tertawa, lalu mendekapku dalam pelukkannya. belainya yang lembut di kepalaku berhasil membuat wajahku memerah. untungnya Axell tidak melihat wajahku yang tengah memerah.
"Sayang ... nanti malam aku jemput, ya." aku hanya mengangguk, dan selanjutnya kami cukup lama berpelukkan.
30 menit kemudian ....
Di pakiran ....
Kami berada di depan mobil Axell, sambil tersenyum Axell membukakan pintu untukku, aku segera masuk kedalam mobil Axell.
Waktu bersantainya sudah berakhir, sekarang waktunya kembali bekerja ....
Jam kerja telah usai, ponselku berdering aku segera ke pakiran. sesuai dengan apa yang ia katakan ia datang menjemputku.
Aku berjalan menghampiri Axell, kulihat Axell melambaikan tangan ke arahku, aku tersenyum.
Kini Axell ikut memperhatikan aku, yang tengah menghampirinya.
"Kita berangkat sekarang?" tanyanya.
"Dengan seragam kantor? memangnya nggak apa - apa?" tanyaku.
"Nggak lah, kamu tetap terlihat cantik." pujinya. aku tidak merespon karena sibuk menutupi wajahku yang merah. kami pun segera menuju ke rumah Axell.
Drrtt !!!
__ADS_1
Dalam perjalanan tiba - tiba ponsel Axell berbunyi, Axell mengecek ponselnya sekilas. lalu meletakkannya kembali.
"Siapa?" tanyaku.
"Mama." jawabnya.
"Mama?" Axell menoleh ke arahku, ia tersenyum. sementara aku hanya termenung menatapnya.
Pikiranku saat ini dipenuhi oleh, fakta bahwa aku akan menemui calon mertuaku.
1 jam kemudian ....
Kulihat Axell mengetuk pintu rumahnya, tak lama seorang wanita paruh baya muncul di balik pintu yang terbuka.
"Axell?" wanita itu sekarang melihat ke arahku, aku tersenyum kikuk di depannya.
"Ini siapa?" tanyanya.
"Ini Alexa Ma, yang sering aku ceritain." ucapnya. ia tersenyum, lalu mendekatiku.
"Cantik, jadi ini calon istri kamu?" Axell mengiykan pertanyaan Mamanya, seketika aku tersipu malu.
"Oh iya, ayo masuk." Axell merangkul ku masuk ke dalam rumahnya, malam itu makan malam dengan keluarganga cukup lancar. hingga aku merasa semuanya juga akan berjalan lancar.
Orang tua Axell ramah, dan baik. hingga aku bisa menyimpulkan kalau mereka bisa menerima aku dengan baik.
Dan aku senang karena karena itu ....
Keesokan harinya ....
Aku tiba di sebuah kafe tak jauh dari kantorku. untuk menemui sahabatku.
Aku mengedarkan kesekeliling kafe, kulihat Shintia tengah sibuk dengan ponselnya. Tadi pagi tiba - tiba saja gadis ini meminta bertemu denganku ketika jam istirahat. aku pergi menghampiri mejanya.
"Shintia." panggilku, gadis itu langsung menolehku. aku duduk di kursi di depannya.
"Ada apa?" tanyaku. aku melihatnya terlihat ragu - ragu. aku menatap penuh heran ke arahnya.
"Xa, dikantor lo ada lowongan kerjaan, nggak?" tanyanya. aku terkejut mendengar pertanyaan yang tiba - tiba itu.
"Lowongan kerjaan?" tanyaku menatap bingung ke arahnya, gadis itu mengangguk seraya menatap penuh harap ke arahku.
"Kenapa tiba - tiba nanya lowongan kerjaan ke gue, memangnya siapa yang mau kerja?" tanyaku.
"Mmm ... Adik gue." ucapnya. seingatku Shintia itu anak tunggal, tapi tidak mungkin Shintia berhohong kan?
"Adik? bukannya lo anak tunggal?" tanyaku, ekpresi Shintia langsung berubah seperti orang yang tengah kebingungan.
"Iya, adik angkat maksud gue," Jelasnya, aku menatapnya penuh menyelidik.
Aku tidak berani banyak bertanya, aku takut membuatnya tak nyaman dengan pertanyaanku.
Tapi ... siapa adik angkatnya yang dimaksudnya itu?
"Astaga Xa, banyak yang lo nggak tau soal gue, jadi gimana bisakan dia kerja tempat lo?" aku tampak berpikir sejenak, menimbang dengan penuh pertimbangan.
"Nanti gue pikir - pikir dulu, ya." ia tersenyum kecut, aku tau ia kecewa. tapi aku memang harus memikirkan semuanya, agar tidak ada masalah kedepannya.
3 hari kemudian ...
Malam ini aku akan menghadiri sebuah acara, aku segera bergegas. sembari mencari tahu dimana ruangan itu.
Ternyata acara itu berada di lantai dua, sebelum ke lantai dua aku pergi ke kamar mandi lebih dulu untuk bersiap.
Saat selesai, aku ingin keluar. Namun tiba - tiba kamar mandi tidak bisa di buka.
Aku mencoba menarik gagang pintu, namun hasilnya tetap sama. Aku tidak bisa membukanya.
Aku terus menggedor pintu, sambil meminta tolong. tak lama terdengar suara laki - laki dari arah luar. aku menarik nafas agar tenang, agar bisa menjelaskan situasinya.
Kulihat pintu di dorong paksa, akhirnya pintu terbuka. seketika aku menarik nafas lega, kulihat soso pria dengan setelan berjalan menghampiriku.
"Lo nggak apa - apa?" tanyanya. aku mengangguk.
"Sean." tangannya terulur ke arahku, aku menjabat tangannya sambil tersenyum.
"Alexa." ucapku ikut memperkenalkan diri.
"Terimakasih sudah menolongku." ucapku, ia hanya tersenyum menanggapiku.
Suasana tiba - tiba menjadi hening, membuat suasana menjadi canggung.
"Sepertinya aku harus pergi, sekarang." Aku berencana langsung pergi setelah berpamitan, tapi ia menahan lenganku.
"Apa kita akan, bertemu lagi?" tanyanya, aku menatap aneh ke arahnya.
"Permisih." pamitku sambil tersenyum kecil, setelah melepaskan tangannya, dari lenganku.
Beberapa saat kemudian ....
Mataku tak lepas dari pria berstel yang tengah mengobrol dengan sseseorang, ia yang tadi menolongku ternyata kami berada di acara yang sama.
Sebenarnya aku penasaran siapa ia yang sebenarnya, tapi aku segera aku tepis rasa penasaran itu.
Aku kulihat ia beralih ke arah salah satu bangku, lalu duduk disana.
"Ganteng ya," aku yang refleks terkejut langsung menoleh, kulihat gadis itu mengikuti arah pandanganku.
"Gladis, nama gue Gladis." ucapnga memperkenalkan diri. lalu kemudian mengulurkan tangannya.
"Alexa." ucapku sambil menjabat tangannya, seraya tersenyum.
__ADS_1
"Wah ... akhirnya gue punya temen bicara juga, dari tadi gue cangung banget, lo tau kenapa?" aku menatap aneh ke arahnya.
"Kenapa?" ia melihat sekililing, lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku, ia berbisik.
"Karena orang - orang disini, sombing - sombong." aku tidak tau harus merespon apa, aku hanya memperhatikan orang - orang sekitar.
"Btw, lo suka ya sama cowok tadi?" tanyanya menggeleng.
"Nggak, lagian aku udah punya pacar." gadis itu mengangguk paham, seterusnya kami hanya menikmati acara, dan mengobrol banyak hal.
Hari berikutnya ...
Kafe Elevent night ....
Seorang gadis menghampiri seseorang, yang sedang menunggu pesanan.
"Shintia, gimana? apa lo barhasil nyusupin mata - mata lo, di kantor Alexa?" tanyanya.
"Jes, lo bisa sabar, nggak? lo pikir bujuk dia itu gampang." ucapnya dengan nada sedikit kesal.
"Katanya sahabat, masak bujuk dia aja nggak bisa." Shintia mencoba menahan amarahnya, dengan mengabaikan setiap perkataannya.
"Ok gini, gue kasih waktu seminggu, gimana?"
Di tempat lain ....
Aku menyodorkan ponselku ke arah Shintia, tapi ia tak bereaksi. ia tampak berpikir sebelum mengambil ponselku.
"Kenapa? tadi masukin nomor adik angkat lo." ia tetap tak merespon, tak lama ia mengehela nafas, sebelum ia menatapku.
"Xa, untuk apa perlu nomornya?"," aku Xa e menjawab, aku menatap penuh curiga ke arahnya.
"Nggal usah khawatir, gue mau tanya - tanya aja kok, sebelum gue putusin buat nerima dia, dan jangan lupa minta dia temui gue." kuliat ia menghela nafas, lalu menganggukkan kepalanya.
Meski Shintia sudah memasukkan nomor adik angkatnya itu ke ponselku, entah kenapa aku merasa ada yang menjanggal.
Begitu Shintia pergi, aku memutuskan untuk menemui adik angkatnya itu. aku mengirim pesan agar menemuiku di kafe tempat aku berada saat ini.
30 menit kemudian ....
"Buk Alexa?" aku menoleh, kudapati sosok pria tersenyum ramah ke arahku. aku menatapkmya dengan tatapan mengamati.
"Apa ... lo adiknya, Shintia?" tanyaku, ia mengangguk. aku mempersilahkan untuknya agar segera duduk.
Kini Kami berdua saling berhadapan, dari yang alu lihat. Sepertimya ia pria yang baik.
"Rasanya tidak sopan kalau aku tidak memperkenalkan diri, namaku Glen." aku tertegun. entah kebetulah, atau tidak namanya sama dengan Glen yang sudah pergi meninggalkanku untuk selamanya.
Meski butuh waktu, aku akhirnya mengambil kesimpulan kalau itu hanya kebetulan.
Begitu pembahasan soal pekerjaan selesai, kami berpisah di kafe itu saat itu juga.
Selanjutnya aku akan menuju ke kantorku, untuk memeriksa beberapa pekerjaan.
Pagi berikutnya, Aku dan Axell menuju ke taman hiburan. Axell berencana menghabiskan waktu seharian di hari libur kantor denganku.
Semalam sudah aku bilang, kalau aku akan mengurus semua keperluannya.
Meski butuh waktu, dan perdebatan. Axell akhirnya setuju.
Kami akan menuju kesana pagi ini, untuk mengantisipasi segala kendala. seperti macet.
Beberapa saat kemudian ....
Axell merogo kantongnya, lalu menyodorkan tiket masuk ke taman bermain ke arahku.
Aku tersenyum, lalu memeriksa tiket itu, kemudian menyimpannya ditasku.
Langkah kami terhenti di pintu masuk, lalu melanjutkan perjalanan begitu urusan selesai.
Diluar dugaan, tempat itu ternyata ramai pengunjung.
Axell merangkulku, sehingga kami tetap bersama.
Dari arah belakang aku mendengar suara langkah kaki, tak lama ada yang menyentuh pundakku. aku berbalik, dan bersiap untuk melakukan perlawanan jika di perlukan, begitu juga Axell.
"Ternyata bener lo, Alexa." ucap gadis itu sambil tersenyum ramah, Axell tampak menatap kami bergantian dengan tatapan bingung.
"Sayang, kamu kenal?" tanya Axell, dengan tatapan meminta penjelasan.
"Sayang? oh ... jadi ini pacar yang kamu maksud?" aku hanya tersenyum canggung, sementara Axell tampak masih menatap bingung ke arah kami.
"Dia Gladis, kita ketemu pas aku menghadiri sebuah acara." jelasku, Axell mengangguk paham.
Gadis itu mendekati Axell, lalu mengulurkan tangannya ke arah Axell. aku mengamati apa yang hendak ia lakukan.
"Gladis." ucapnya memperkenalkan dirinya sendiri.
"Axell." jawab Axell, tanpa menjabat tangannya. sepertinya Axell mencoba menjaga perasaanku, aku mengulum senyum.
Jujur aku sempat khawatir, tapi Axell membuat kekhawatiranku hilang dalam sekejab.
"Lo sendiri?" tanyaku, gadis itu beralih menoleh ke arahku. lalu menggelengkan kepalanya.
"Gue bareng temen - temen gue, cuma kita habis misah." ucapnya sambil tersenyum kikuk, aku hanya mengangguk menanggapinya.
"Sayang, bisa kita pergi sekarang?" sela Axell tiba - tiba. aku beralih menoleh ke arah Axell. lalu menganggukkan kepala.
Axell menggenggam tanganku, kemudian kami pergi setelah berpamitan.
Sepanjang perjalan kami berdua hanya diam, membuat suasana menjadi tidak nyaman buatku. akhirnya aku memutuskan untuk bicara lebih dulu.
__ADS_1
"Axell, kau baik - baik saja, kan?" tanyaku.
Akhirnya hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulutku lebih dulu ....