
Axell pergi meninggalkanku, sepertinya ia mencoba memberi ruang untukku agar bisa leluasa menjawab telpon.
Aku memilih menyipan telponku, dan siap - siap untuk lanjut mencari Shintia untuk mengembalikan barangnya.
Puas mencari, dan akhirnya aku bisa menemukannya. kulihat Shintia tengah kebingungan.
"Lo kenapa?" tanyaku pura - pura tak tahu, ia menatapku dengan raut wajah sedih.
"Buku gue, kayaknya ada yang jatuh, deh." tidak tega melihat raug sedih di wajahnya, aku menyerahkan buku milik Shintia yang aku temukan.
Ketika kusodorkan bukunya, seketika ia melihat ke arah buku yang berada di tanganku dengan wajah sumringa.
"Makasih ya, Alexa sayang." ia tampak mengecek bukunya, kemudian menyimpab bukunya ke dalam tas miliknya.
"Sama - sama, asal jangan keterusan aja, ya," ia memutar bola mata malas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kenapa?" tanyaku, menatap penuh heran ke arahnya.
"Gue cuma bingung aja, kenapa lo bisa tau gue disini?" tanyanya, menatap bingung ke arahku.
"Gue ngikutin lo, menurut lo gue punya kemampuan cenayang, gitu?" ia tertawa, entah kenapa aku ikut tertawa melihatnya.
"Btw lo ada perlu apa kesini, ada perlu sama seseorang?" dia diam, aku pikir kalau dia diam begini artinya iya.
Aku berharap Shintia akan menjawab pertanyaanku, tapi sepertinya dia memilih diam di banding menjawab pertanyaanku.
Shintia yang kupikir selalu terbuka, ternyata bisa tertutup juga.
Aku sudah tak ingin mendengar jawabnnya, Shintia kini bahkan telah mengalihkan topik pembicaraan ke arah lain.
Kulihat sekeliling, memikirkan kira - kira apa yang bisa mengalihkan perhatiannya.
Sambil memikirkan cara untuk menghadapi Shintia yang tak juga mau bicara. aku mengeluarkan ponsel dan melirik jam yang tertera disana.
"Gue harus cabut sekarang, kalau lo ada urusan lo lanjut aja, ok?" ia mengangguk.
"Lo mau kemana?" tanyanya, aku menatapnya.
"Ke perpus, balikin buku, dah." aku pergi meninggalkan Shintia setelah mengucapkan salam perpisahan.
Di perpus ....
Aku tengah mencari - cari sebuah buku, aku hendak meraih sebuah buku. namun tanganku tertahan ketika aku melihat ada tangan lain yang ingin mengambil buku itu.
"Lo mau ambil buku, itu?" tanyanya, sambil tersenyum kikuk aku menganggukkan kepala.
Entah kenapa ia membiarkan aku mengambil buku itu, setelah mengambil buku lain ia pergi meninggalkanku.
__ADS_1
Aku memilih untuk tak tinggal diam, aku langsung bergerak menyusulnya.
Tanpa sadar aku bergerak kepadanya, aku menatap Axell yang tengah mengantri untuk mencatat bukunya di bagian peminjaman.
Ia tampak santai, dan rileks. dan tak ada ekpresi tengang, dan kaku seperti yang selama ini aku lihat.
Ini pertama kalinya aku melihat cukup lama seperti ini, tapi dari caranya di benar - benar memukau. tak heran kenapa para wanita di kampus bisa sangat menyukainya.
Aku mulai paham, bagaimana pria yang dikenal cuek, dan dingin tetap banyak yang suka.
Aku yakin, ada banyak hal yang belum semua orang tau mengenai Axell. kalau dipikir - pikir lagi, aku bahkan tidak tau apapun soal Axell.
Aku tidak tau, ada takdir apa yang mengikat kami kedepannya.
Tapi, aku tidak akan banyak berharap. apalagi aku masih merasa bersalah mengenai Glen.
Kalau di pikir - pikir lagi, kenapa aku begitu? apa aku masih mencintai Glen? setelah apa yang dia lakukan ?
Sampai sekarang aku masih sulit percaya, kalau Glen menghinatiku, dan karena kecelakaan yang kami berdua alami dia sampai meninggal.
Tapi hanya dengan mengingat semua itu, apa aku bisa terus maju kedepan?
Kurasa ... apapun yang telah terjadi, tidak akan mengubah apapun. Termasuk menghidupkan Glen.
Bahkan, aku pernah mendengar kata bahwa hidup terus berlanjut.
Aku berjalan ke arah Axell, aku ingin mengembalikan, dan mencatat buku yang ingin aku pinjam.
Aku berbali untuk mencari Axell, tetapi Axell sudah lenyap. Entah pergi kemana.
Aku langsung bergerak meninggalkan perpustakaan, tanpa aku sadari aku mencari - cari keberadaan Axell sembari menuju kembali ke kelas.
Saat aku tiba di sebuah lorong, aku hanya mendapati pemandangan yang membuat aku terkejut, dan sebuah pertanyaan terlintas dibenakku.
Sedang apa Axell, bersama seorang wanita?
Axell, dan wanita itu berdiri saling berhadapan. ekpresi Axell tampak biasa saja, tapi gadis itu tersipu di hadapannya.
Sebenarnya ada apa ini? ada apa diantara mereka?
Gadis itu tampak menyodorkan sesuatu ke hadapan Axell, Axell tampak memperhatikan.
"Kak, aku suka dengan Kakak." tak percaya dengan apa yang kudengar, kakiku seakan bergerak dengan sendirinya. menjauh dari mereka, takut jadi mengganggu mereka.
"Tapi aku menyukai wanita lain, Alexa." aku tak kuasa menahan rasa terkejutku, setelah mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Axell.
Apa maksud Axell, menyebutku sebagai wanita yang dia sukai?
__ADS_1
Apa yang sebenarnya tengah terjadi di hadapanku saat ini ?
Axell siap pergi meninggalkan gsdis itu, tapi gadis itu menahannya. seolah tak rela Axell pergi begitu saja.
Aku hanya diam di tempatku, menyaksikan apa yang tengah terjadi diantara mereka.
"Alexa?" aku menoleh ke asal suara, kulihat karena suara itu Axell dan gadis itu jadi menyadari keberadaanku, dan ikut menoleh ke arahku.
Gawat!
Aku tak bergerak sama sekali, kini ketigamya mendekat ke arahku. seketika aku bingung harus bagaimana.
"Lo kok, bisa disini?" tanya Axell, menatapku menyelidik.
"A-anu, aku nggak sengaja lewat." ia memasukkan tangannya ke dalam sakunya, lalu mengamatiku.
Apa dia percaya?
"Kebetulan ketemu lo, disini." sela orang yang memanggilku tadi, aku menoleh ke arahnya.
"Ada perlu apa?" tanyaku, menatap bingung.
"Lo di cariin tuh, sama dosen," jawabnya.
"Kalau nggak salah, Buk Tita." sambungnya, aku mengangguk paham. setelah mengatakan itu, ia pergi setelah berpamitan.
"Gue permisih." pamitku, lalu meninggalkan Axell, dan gadis itu.
Selepas kejadian itu, aku berharap tak akan bertemu Axell lagi. karena rasanya akan sangat canggung, di tambah setelah apa yang aku dengar.
3 jam kemudian ....
Saat aku hendak keluar dari kelasku, yang kebetulan keluar terakhir sekali karena harus merapikan barang - barangku, dan memeriksanya kembali.
Seseorang menahan tanganku, yang hendak meninggalkan kelas. aku menoleh untuk melihat siapa pemilik tangan tersebut.
"Axell? ada perlu apa sampai datang ke kelasku?" tanyaku, dengan tatapan penuh heran.
"Ada yang ingin aku bicarakan," jawabnya. aku menatap bingung ke arahnya
"Soal kejadian tadi, apa kau dengar semuanya?"
Kini, tinggal aku yang dihujani pertanyaan - pertanyaan di benakku, pertanyaan - pertanyaan tentang apa yang telah aku dengar.
Haruskah aku bertanya untuk memastikan? tapi apa dia mau menjawab pertayaan itu?
Aku tidak mau menghadapi Axell, dengan keadaan seperti orang kebingungan. tapi nyatanya aku memang tengah kebingungan untuk menjelaskan kepada Axell.
__ADS_1