Romantika Kisah Cinta

Romantika Kisah Cinta
Sikap Manis Axell


__ADS_3

Keesokan harinya ....


Aku meraih kunci mobilku yang kuletakkan di meja ruang tamu, namun Mama mengambil alihnya dari tanganku.


"Mama?" Mama tak langsung menjawabku, ia menatap ke arahku.


"Hari ini kamu nggak boleh bawa mobil sendiri, Mama sudab siapkan supir untuk kamu." ucap Mama, sontak hal itu membuatku terkejut.


"Tapi, Ma _ "


"Alexa, Mama nggak suka dibantah." setelah mengatakan itu, Mama pergi meninggalkanku.


Seorang lelaki menghampiriku, ia mengbungkuk hormat.


"Non, apa kita berangkat sekarang?" tanyanya, aku menghela nafas. lalu mengangguk kepada sopir baruku itu.


2 jam kemudian ...


Para karyawan tampak senang, ketika mendapat kabar kalau aku sudah sembuh.


Tanpa aku sadari, kalau aku masih harus menyelesaikan masalah di kantor.


"Bagaimana, soal masalah di kantor?" Mereka tak langsung menjawabku, mereka saling menatap.


"Sekarang masalah itu sudah selesai buk, semua sudah di atasi oleh istri dari pemilik perusahaan ini, sekaligus ibu anda," ungkap salah satu karyawanku.


Mama?


"Ternyata karyawan baru, yang ibuk bawa masuk ke perusahaan, adalah mata - mata, Buk." aku tertegu, hal itu membuatku kehilangan kata - kata.


Maksudnya, adik angkat Shintia ?


Shintia yang gue percaya sebagai sahabat gue, udah bawah mata - mata ke kantor gue?


Informasi yang gue terima membuat kepalaku sakit, hingga membuatku nyaris pingsan.


"Buk, Ibuk baik - baik aja?" aku mengangguk, sambil memicit keningku.


"Saya keruangan, saya dulu." pamitku, perlahan aku menuju ke ruanganku.


Ting!


Aku mendengar suara notif pesan masuk ke ponselku, aku meraih ponselku, ternyata aku baru saja mendapat pesan chat dari Axell.


Setelah cukup lama mengirim pesan dengan Axell, aku pun mengakhiri chat dengan Axell. setelah itu aku kembali fokus dengan pekerjaan.


Ketika memasuki jam istirahat makan siang ....


Aku memasuki area pakiran, aku berencana menemui Shintia di kafe.


Setibanya di kafe, aku melihat sekeliling, mencari sosok Shintia.


Kudapati Shintia berada di sebuah meja yang terletak paling sudut, aku bergegas menghampiri mejanya.


"Hai Xa, Lo mau _ "


"Lo tega ya sama gue." mataku menajam, sementara Axell menatap bingung ke arahku.


"Ma-maksud lo, apa?" tanyanya dengan nada sedikit terbata.


"Lo pikir lo sahabat gue, tapi gue nggak bakal nyangka lo baka lakuin ini ke gue, Shintia!" seruku, mataku mulai berair.


"Xa, lo bicara apa sih, gue nggak ngerti." ucapnya.


"Mulai sekarang, kita bukan sahabat lagi." setelah mengatakan itu, aku pergi meninggalkannya di kafe itu.


Meski di dalam mobil, aku masih tetap tak bisa menahan laju air mataku, bersamaan dengan itu dadaku seketika terasa sesak.


Aku tak pernah menyangka, sahabat yang selalu aku percaya, dan selalu aku dukung. tega menghianatiku ....


ting !


Disela aku yang tengah termenung, sambil menatap ke arah luar jendela mobil. Axell mengirim sebuah share lock, ia memintaku untuk menemui disana.


pantai?


Aku meminta sopirku untuk mengantarku ke pantai, disana suasananya benar - benar terasa. panas, dan desiran ombak yang terdengar cukup keras.


Aku keluar dari mobil, kulihat Axell berjalan ke arahku.


"Sudah sampai? mau berenang?" aku tersenyum, lalu mengangguk.


"Tapi aku nggak bawa baju ganti, aku tunggu di bibir pantai aja, ya." Axell mengelus rambutku, lalu mengangguk seraya tersenyum menatapku.


Axell pun berenang sekitar 30 menit, setelah itu ia kembali menghampiriku.


Untuk menghilangkan kegugupanku, aku mengajaknya untuk berfoto. aku pun mengambil foto kami berdua.


Tapi ketika itu, tiba - tiba ombak datang. dan mengenai kami berdua.


"Yah ... jadi basah." aku tersenyum melihat Axell tersenyum.


Axell tiba - tiba berdiri di belakang, Axell melepas jasnya. Lalu memasangkannya kepadaku.


Axell memelukku dari belakang, sesaat aku merasakan nafas Axell yang berat di telingaku.


"Kita seperti ini sebentar ya, sambil mengeringkan tubuh kita." Aku tersenyum, sambil mengangguk.


10 menit kemudian ...


Axell melepas pelukkannya, dengan sengaja aku meletakkan telapak tanganku, di atas telapak tangan Axell.


Kutarik tangan Axell, kubawah Axell berjalan - jalan mengelilingi pantai. sedikit bergerak bisa mencairkan suasana.


Drttt !!!

__ADS_1


Tiba - tiba, ketika beelum sampai setengah perjalanan mengelilingi pantai. ponsel Axell berbunyi, membuat Axell harus menjawabnya.


Kira - kira ... dari siapa ya?


Kutatap punggung Axell, ada kesan yang aneh dari pria itu.


Ada apa, ya?


Aku berjalan mendekat, dan berdiri di samping Axell. Axell menyudahi telponnya, aku bergerak memeluknya.


"Xa." ucap Axell, dengan nada datar. aku melepaskan pelukkan, dan beralih menatap Axell.


"Ya?" tanyaku. Axell menatapku, namun ia seperti memikirkan sesuatu.


"Tidak, tidak apa - apa." ucapnya sambil tersenyum. lalu merangkulku, untuk membawaku kembali ke mobil.


Aneh, kenapa sikap Axell tiba - tiba berubah?


Didalam mobil aku hanya sibuk dengan pikiranku sendiri, sementara Axell fokus menyetir.


Sejak saat itu, Axell bersikap seolah tak terjadi apa - apa. kecuali kesengan yang terjadi di pantai.


Hari berikutnya ....


Tak seperti biasanya, pagi ini meja makan di penuhi oleh menu sarapan.


Aku berpikir, apakah akan ada tamu yang datang. sehingga Mama masak sebanyak ini.


Mama masih berkutak pada masakannya, sambil menyajikannya di meja makan.


Sementara bibik sedang sibuk membuat minuman, Bibik yang satunya pun sedang sibuk dengan bagiannya. jadi dirumah mempunyai dua asistent rumah tangga.


Ponsel yang sejak tadi berada di genggamanku berbunyi, tanda ada panggilan yang masuk. membuat Mama dan kedua Bibik menyadari keberadaanku.


"Sayang, ayo sarapan dulu." ajak Mama, aku mengangguk lalu berjalan ke arah meja makan.


"Mama masak segini banyak, ada perayaan apa?" tanyaku, Mama tak langsung menjawab.


"Nggak ada perayaan apa - apa, cuma ada tamu yang datang." ucap Mama, sambil tersenyum.


Tamu siapa?


"Siapa, Ma?" tanyaku, Mama menghela nafas sebelum menjawabku.


"Adalah ... nanti juga kamu tahu." aku hanya bisa diam, kalau masalah membuat penasaran. Mama memang selalu menjadi ahlinya.


Setelah selesai sarapan, dan pamitan. aku berangkat ke kantor.


Setibanya di kantor, aku langsung di sambut oleh karyawanku, dengan ekpresi seperti orang yang tengah kebingungan.


"Ada, apa?" tanyaku. ia menatap takut ke arahku, sehingga membuatku tambah bingung.


"A-anu Buk, ada seseorang yang menunggu Ibuk, diruangan Ibuk." ucapnya.


Hah? siapa?


"Dia tidak mau menyebutkan nama Buk," jelasnya.


"Saya benar - benar minta maaf, Buk." ucapnya dengan kepala menunduk karena takut.


"Saya sudah mencoba mengusirnya, tapi dia tetap mau menunggu Ibuk, di ruangannya." Aku menghela nafas, lalu mengangguk.


"Yasudah, kamu boleh pergi." ia mengbungkuk hormat, lalu pergi meninggalkanku.


Setelah ia pergi, aku langsung menuju ke ruanganku. tak ada firasat apapun, sampai aku tiba diruanganku.


Aku membuka pintu ruanganku, kulihat seorang wanita tampak familiar tengah duduk di kursi tamu, sambil sibuk dengan ponselnya.


Shintia?!


Mau apa ia ke kantorku?


Aku menarik nafas dalam - dalam, mencoba mengendalikan emosi sebelum memghadapinya. kemudian menghampirinya.


"Xa." begitu melihatku, ia langsung berdiri. sambil memasang senyum menyebalkan bagiku.


"Kau ada perlu apa, kesini?" tanyaku dengan nada dingin.


Shintia menatap wajahku, dengan mata berkaca - kaca. untuk sesaat aku ikut merasakan kesedihannya.Tapi aku tidak mau lagi terjebak dalam permainannya.


"Xa, lo masih belum bisa maafin, gue?" tanyanya, dengan raut wajah memelas.


"Gue tahu gue salah, gue mohon maafin gue, Xa." Aku tak tahu harus merespon apa, aku memilih diam. menunggu apa yang akan ia katakan selanjutnya.


"Lo, bisa hukum gue apa aja, asal lo mau maafin gue, Xa." perempuan bernama Shintia itu tiba - tiba meraih tanganku.


"Xa, gue mau kita tetap menjadi sahabat, Xa." aku menyingkirkan tangan Shintia, lalu melipat kedua tanganku.


"Lo bilang lo mau gue hukum, kan?" tanyaku, gadis itu hanya diam. tapi matanya tetap memperhatikan.


"Shin, gue nggak punya kuasa buat menghukum lo, lagian bukan wewenang gue juga buat menghukum lo, Shin." ia tak menunjukkan respon yang berarti, selain hanya menyimak apa yang aku katakan.


"Dan buat jadi sahabat lo lagi, sorry gue bener - bener nggak bisa, gue udah telanjur kecewa." kepala gadis itu tertunduk, raut wajahnya menunjukkan penyesalan. tak lama ia mulai menangis.


"Gue ada metting, jadi gue permisih dulu, sorry." kulihat gadis itu segugukkan menahan tangisnya, namun aku tetap pergi meninggalkannya.


Aku yakin, 10 menit lagi aku tetap bersamanya. aku tidak akan bisa mengendalikan diriku.


Malam harinya ....


Pekerjaan selesai, aku bersiap untuk pulang.


Saat aku menuju ke mobilku, kulihat sosok pria yang aku kenal tengah bersadar pada pintu mobilku. seraya memperhatikan sekitar.


Axell?

__ADS_1


Pandangan kami saling bertemu, aku tersenyum. Sementara Axell memasukkan tangannya ke saku jas yang ia kenakan. lalu dengan tenang menghampiriku.


"Hai, malam cantik." aku tersenyum. tak lama ia menyikap rambutku ke belakang telingaku.


"Mau ikut aku, sebentar?" tanyanya tiba - tiba.


"Mau kemana?" tanyaku.


"Mmm ... ketaman?" aku tersenyum, lalu mengangguk.


Beberapa saat kemudian ....


Aku duduk di kursi


panjang di sebelah Axell, Aku bedandar pada bahu Axell, kulihat Axell menghirup udara perlahan. aku memandangi langit malam yang dipenuhi oleh bintang.


"Cantik, ya." aku mengangguk dalam diam, mata kami tetap memandangi langit malam.


Disaat itu juga, tiba - tiba angin berhembus dengan kencang membuat dedaunan berterbangan.


Aku dibuat terkejut melihat Axell memiringkan badannya ke arahku, agar menghalangi daun - daun yang bertebangan tidak mengenaiku.


Axell hampir memelukku, karena posisi kami yang cukup dekat. mata kami yang salimg bertemu membuat kami saling menatap satu sama lain.


Begitu Axell tersadar, Axell langsung bergerak menjauh begitu angin berhenti berhembus.


"Sepertinya angin malam tak baik untukmu, aku akan mengantar kamu pulang, gimana?" aku hanya bisa mengangguk, lalu kami beranjak dari danau untuk segera pulang.


Sepulangnya aku dari taman, aku bergegas membersihkan diriku, begitu keluar dari kamar mandi. aku melihat Mama terpaku menatap Mama yang tengah duduk di pinggir tempat tidurku, aku datang menghampiri.


"Mama sedang apa, di kamarku?" tanyaku, mama mengabaikan pertanyaanku, karena kini ia menatap serius ke arahku.


"Apa ada masalah di kantor, sampai kau pulang malam begini?" tanya Mama, dengan tatapan mengintimidasi.


"A-anu Ma, Alexa _ "


"Dengar Alexa, biasakan pulang sebelum makan malam, bisakan?" tanyannya, aku hanya bisa mengangguk, karena tak berani membantahnya.


Setelah tak ada lagi yang ingin di bicarakan, Mama meninggalkan kamarku. aku segera pergi tidur.


Pagi harinya ....


Aku berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya, sebelum berangkat Mama masih saja memperingatkanku agar segera pulang sebelum jam makan malam.


Aku kembali bekerja, hingga tak lama Lala , dan Theo datang ke ruanganku secara bersamaan.


"Ada apa?" tanyaku, sambil menatap mereka bergantian.


"Buk, kami ingin melaporkan, bahwa pihak dari perusahan Turner group menanyakan apakah kontrak kerja sama kita, akan di perpanjang, atau tidak?" jelasnya, aku tampak berpikir.


"Buk Alexa, saya ingin melaporkan, belakangan ini, kami mendapati info dari keamanan bahwa belakangan ini, mereka sering melihat Glen yang pernah bekerja di kantor kita, bekeliaran di dekat kantor kita." aku refleks berdiri, karena terkejut.


"Lala, minta pihak mereka untuk menemuiku, Theo minta pihak keamanan memberikan laporan mereka." mereka mengangguk patuh, lalu bergegas keluar dari ruanganku.


Aku melanjutkan pekerjaanku, ketika mencapai setengah hari. pintu ruanganku di ketuk. .


Tak lama pintu terbuka, akhirnya pihak keamanan menemuiku untuk memberikan laporan. Setelah itu aku meminta mengambil tindakkan yang di perlukan.


Setelah tak ada lagi yang perlu di bicarkan, mereka keluar dari ruanganku untuk melanjutkan pekerjaan mereka seperti biasa.


Ketika jam pulang kerja ....


Aku menghapiri Axell, yang berdiri di depan mobilku. aku berjalan menghampirinya dengan langkah berat.


Kami diam sejenak, dan memperhatikan suasana sekitar.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Axell.


Aku menghela nafas, sebelum akhirnya menceritakan apa yang terjadi.


"Glen itu benar - benar cari masalahnya, mau aku bantu urus dia?" aku menggelengkan kepalaku dengan cepat, sepertinya Axell sangat mengkhawatirkan ku, aku tersenyum untuk menunjukkan aku baik - baik saja.


Axell memandangiku dalam diam, kemudian meraih tanganku untuk di genggam.


Tatapan Axell berubah, menjadi lembut dalam seketika.


Ini pertama kalinya, aku merasa ada yang berbeda darinya. sosok tegas yang tadi ia perlihatkan, menjadi lunak dalam seketika.


Samar- samar aku mendengar suara, tapi aku tidak tau dari mana arahnya. aku melihat sekeliling, Axell tampak memperhatikanku.


"Ada apa, sayang?" tanyanya, aku langsung menggelengkan kepala.


Aku merasa aku tengah di awasi, apakah cuma perasaanku saja?


"Yaudah yuk, kita cari jalan sekaligus mencari makam malam, buat kamu." aku mengangguk.


"Kamu nggak bawa, mobilkan?" tanyanya, aku menggelengkan kepalaku menanggapinya.


"Nggak, semenjak aku terbiasa bareng kamu, aku nggak lagi bawa mobil, lumanyankan irit bensin." ucapku sambil tertawa kecil, Axell juga.


"Yaudah yuk, masuk." ajaknya. aku mengangguk, Axell membuka pintu untukku layaknya pria sejati, aku masuk ke dalam mobil Axell. lalu kami berangkat.


Aku ingin bertanya pada Axell kemana kita akan pergi, tapi pertanyaan itu justru tak keluar dari mulutku.


Namun pikiranku, memilih untuk mengikuti kemana Axell akan membawaku.


Aku tersentak, ketika mengetahui Axell membawaku ke rumahnya.


Aku melihat sekeliling, sepertinya tak ada jalan untuk mundur lagi.


"Axell, kenapa kamu nggak bilang sih, aku kan belum siap!" seru, ekpresinya masih terlihat tenang.


"Siap apa sih, sayang?" ucapnya dengan nada lembut.


"Ya, aku kan baru pulang dari kantor, belum juga _ " Axell menempelkan jari telunjuknya ke bibir, membuat diriku bungkam seketika.

__ADS_1


"Sayang ... kamu tenang, ya." aku menghela nafas, aku hanya bisa tertunduk.


Kulihat jam di tanganku, sudah menunjukkan pukul 19 : 00, ah Mama pasti mengomel lagi. untuk sebelumnya aku sudah mengirim pesan kepada sopir baru itu, sehingga ia bisa memberikan penjelasan ke Mama. Kalau Mama mencariku.


__ADS_2