
"Kelihatannya, kau baik - baik saja, Alexa." aku tersenyum, lalu menganggukkan kepala.
"Om juga, kelihatan sehat." ia mengiyakan perkataanku.
"Mmm ... om, aku ... maaf soal Glen." ia diam, seketika aku bingung harus bagaimana selanjutnya.
"Maaf, kalau aku salah bicara." ucapku, dengan raut menyesal.
"Tidak, om hanya tiba - tiba teringat, Glen." ia menyentuh pundakku, lalu mengelus pucuk kepalaku.
"Glen, pasti senang karena melihat kamu baik - baik saja." aku tersenyum, lalu mengalihkan kembali pandanganku ke arah buku yang tadi sempat aku ambil.
"Om perlu buku ini, untuk Thalia?" tanyaku, Thalia adalah adik Glen. ia saat ini duduk di bangku SMA, lebih tepatnya kelas 1 SMA.
"Iya, anak itu belakangan ini banyak pr dari sekolahnya," ujarnya, aku hanya tersenyum.
"Kalau begitu, buku ini untuk Thalia aja." ucapku, ia menggelengkan kepalanya. itu membuatku menatap heran ke arahnya.
"Jangan, kau yang lebih dulu, jadi buatmu saja." ucapnya, setelah mengatakan itu ia pergi meninggalkanku.
Aku masih di tokoh buku, mencari 1 lagi buku untuk bahan tugasku.
Keesokan harinya ....
Sesaat suasan di kelas hening, karena tak ada yang bicara sama sekali di dalam kelas. hingga dosen masuk, dan kelaspun di mulai ....
3 jam kemudian ....
"Alexa, belakangan ini, gue liat Axell sering nyamperin lo, sampai - sampai Jessica marah." aku ingin bertanya soal Jessica, barang kali ia tahu sesuatu, tetapi Aku rasa belum saatnya aku mengetahui banyak hal soal Jessica.
"Kalian nggak ada hubungan apa - apa, kan?" tanya yang tiba - tiba itu membuat aku tertegun. aku yang terkejut mendengar pertanyaan yang tiba - tiba itu, berusaha menutupi rasa terkejutku, di depan Shintia.
Langkah Shintia tiba - tiba terhenti, aku refleks menoleh ke arahnya.
"Kenapa lo diem aja? lo beneran pacaran sama, Axell?" lagi - lagi aku hanya diam, sebenarnya aku sendiri bingung harus menjawab apa. sementara Shintia menatap ke arahku yang terlihat mulai kesal.
"Ih kesel deh, gue! gue bicara sama manusia, atau batu sih?!" keluhnya, aku hanya memperhatikannya.
"Lo kenapa segitunya, sih?" tanyaku, seraya menatap penuh heran.
"Kenapa nggak boleh, segininya? gue kan penasaran, lo nggak tau apa, berita tentang lo banyak macam - macam yang beredar?" aku mencoba menjelaskan tentang hubunganku dan Axell, tapi ia tak langsung percaya dengan penjelasanku.
__ADS_1
"Yaudah terserah, yang penting gue udah kasih tau kebenarannya." perlu beberapa saat, hingga akhrinya ia percaya, dan berhenti membahas hal itu lagi.
"Terus soal masalah lo, sama Jessica, gimana? lo nggak mungkin biarin gitu aja, kan?" tanyanya.
"Gue nggak tau, yang jelas gue nggak mau cari gara - gara sama dia, bisa repot gue nanti." Shintia mengangguk kepala, sebagai isyarat kalau ia setuju.
***
Pukul 14 : 00
Saat baru keluar dari kelas, aku terkejut ternyata Jessica sudah berdiri didepan kelasku, seakan menunggu.
"Jessica? ngapain lo di depan kelas, gue?" tanyaku menatap penuh heran, gadis itu diam saja. aku yakin ia pasti memikirkan sesuatu. yang tak lain ada hubungannya denganku.
"Gue heran sama Axell, apa sih yang dia lihat dari lo?" tanyanya dengan nada tidak suka.
"Maaf?" ucapku tak terima.
"Kenapa? nggak terima?" tanyanya dengan nada sinis. aku menghela nafas untuk menekan emosi.
"Kalau lo, nyamperin gue cuma buat ini, lo cuma buang - buang waktu." aku langsung pergi meninggalkan Jessica di tempatnya, sementara Jessica menatap ke arahku dengan tatapan tajam.
Sementara itu, Jessica datang menemui Axell. setelah tak lama aku pergi.
Beruntung, karena mereka sudah selesai mengobrol, karena sepertinya tak banyak yang mereka obrolkan. tak butuh lama Jessica langsung menghampri Axell di tempatnya.
Axell selesai merapikan barang - barangnya, dan siap meninggalkan kelasnya. Namun karena Jessica yang menghampirinya, Axell mengurungkan niatnya.
"Ada apa?" tanya Axell dengan nada datar.
Tiba - tiba Jessica menghamburkan tubuhnya memeluk Axell, refleks Axell hendak menjauhkan tubuh Jesisca darinya, tapi pelukkan Jessica terlalu erat.
"Jes, lo apa - apaan, sih?!" tanya Axell, dengan nada tak senang. tak raut wajah tak nyaman.
"Axell, gue masih sayang sama lo," uajarnya dengan mata berair, dan raut wajah menyesal.
"Gue tau dulu gue pernah nyakitin lo, dan gue minta maaf atas itu, please terima gue lagi." Axell mengabaikan ucapan Jessica, ia melihat sekeliling. memastikan apakah ada orang yang melihat mereka.
"Gue cinta sama lo, gue sayang, gue nggak bisa tanpa lo, gue _ " belum sempat Jessica menyelesaikan kalimatnya, Axell mendoring Jessica menjauh darinya. Axell menatap Jessica tajam.
"Cukup, Jes! gue muak sama lo! gue muam sama drama lo! dan gue muak sama kelakuan lo!" makian Axel, membuat gadis itu terdiam.
__ADS_1
Gadis itu tampak ingin menangis, namun ia memilih menahannya.
"Kenapa? apa karena Alexa?" Axell tak menjawab, hal itu membuat Jessica semakin yakin.
"Lo liat apa yang akan gue lakuin ke, Alexa , siapapun nggak ada yang boleh milikkin lo selain gue, termasuk Alexa," ujarnya dengan nada mengancam.
"Lo _ "
"Kenapa? lo takut?" tanyanya dengan memasang senyum miring.
"Gue nggak main - main Axell, apapun yang gue mau, pasti gue dapetin, apapun itu caranya." setelah mengintimidasi Axell, Jessica pergi dengan raut wajah penuh kemenangan. sementara tangan Axell mengepal menahan emosi.
Begitu Jessica pergi, Axell langsung mencari keberadaanku.
Sementara aku bersiap - siap menuju pakiran, dan hendak meninggalkan kampus dengan mobilku.
Berbagai hal mengenai Jessica berputar di kepalaku, tapi pikiran - pikiran itu perlahan menghilang bersamaan aku yang semakin dekat dengan mobilku.
Tiba - tiba ponselku berdering, dan itu karena panggilan dari Axell.
"Hallo?" ucapku.
"Alexa, lo dimana?" tanyanya, aku merasa ada yang beda dari nada bicaranya. tapi kenapa?
"Dipakiran, kenapa? tunggu lo kenapa? lo baik - baik aja, kan?" tanpa sadar aku mencemaskannya.
"Tunggu, gue kesana." saat aku ingin bertanya, Axell mematikan sambungan telponnya begitu saja.
Beberapa saat kemudian ....
Aku melambai ke arah Axell, langkahnya begitu cepat ke arahku, aku menatap heran ke arahnya.
Tiba - tiba Axell memelukku erat, seakan ingin melidungiku dari sesuatu dengan badannya. sementara aku mematung dalam dekapan Axell.
"Lo nggak papa, kan?" tanyanya dengan raut wajah terlihat cemas, sementara ia melapas pelukkannya, aku sibuk mengamatinya yang tengah memeriksa keadaanku.
"Axell." panggilku, Axell tak bergeming, ia masih sibuk memeriksa keadaanku.
"Axell." panggilku sekali lagi, namun ia masih tak bergeming.
"Axell, gue baik - baik aja!" teriakku, yang berhasil membuat Axell langsung menoleh ke arahku.
__ADS_1
Tetapi, dalam matanya, pertama kalinya aku melihat Axell begitu cemas, sebenarnya apa yang sudah terjadi?
Apa Jessica mengatakan sesuatu padanya?