
Kini beberapa pasang mata mengarah pada kami, aku berpikir Jessica sengaja melakukannya untuk membuatku malu.
Sudah kurang lebih 20 menit, kafe ini.yiba menjadi hening dari sebelumnya.
"Xel, gue heran sama lo, meski kita udah bertunangan, kenapa lo masih nempel sama wanita murahan kayak gini!" serunya.
Plakk!
Tanganku refleks menampar Jessica, mataku menatap tajam ke arahnya. ia jiga menyorotkan tatapan tak terima.
"Jaga mulut lo, atau lo bakal gue buat menyesal." ucapku denga. nada mengancam.
Aku mengambil barang - barangku untuk bersiap untuk pergi, lalu pergi tanpa mengatakan apapun.
Axell hendak menahan Axell yang ingin mengejarku, namun gagal.
Aku hendak masuk ke dalam mobil, namun Axell buru - buru menarik tanganku menjauh dari mobil.
"Xa, please kasih gue waktu." aku mendorong Axell menjauh, dan bergegas masuk ke dalam mobil.
Kebiasaanku yang kurang fokus menyetir saat menangis kembali muncul, ketika tiba - tiba tangisku pecah.
Beberapa saat kemudian ...
Diteras rumah Mama tampak menyambut kepulanganku, aku pergi menghampiri, lalu mengobrol sebentar. kemudian bersama - sama masuk ke dalam rumah.
Malam harinya Mama datang ke kamarku, saat itulah Mama menyadari kalau aku menangis, karena ketika Mama masuk ke dalam kamarku aku tengah terisak.
"Sayang kamu baik - baik aja, kan?" aku menggeleng, aku tak kuasa menahan laju air mataku, Mama menghapus air mataku dengan lembut.
"Sayang, cerita ke Mama." Aku masih dalam keadaan terisak, lalu Mama mendekapku dalam pelukkannya yang selalu terasa hangat.
Aku terkejut, namun masih terisak dalam dekapan Mama.
"Sayang ... kamu tau kan, Mama nggak akan bisa bantu kamu, kalau kamu nggak cerita."
Mama melepaskan pelukkannya, menatapku lekat. aku mengangguk lemas. lalu menceritakan semuanya.
"Kurang ajar ya dia, perlu di kasih pelajaran kayaknya." Mama langsung berdiri, aku menahan tangan Mama.
"Udahlah Ma, tenang dulu." Mama mengabaikan perkataanku, lalu sibuk dengan ponselnya.
"Mama sudah kasih tau , Papa, dan keputusan kami, kami akan memindahkanmu ke, new york." aku terkejut, hingga refleks berdiri.
"Tapi, Ma _ " Mama mengabaikan apa yang aku akan katakan, dan pergi keluar dari kamarku begitu saja.
Keesokan paginya ....
__ADS_1
Drttt!!!
Aku meraih ponselku, hampir saja aku lupa kalau harus segera ke kampus.
Begiti selesai bersiap, aku buru - buru menuruni tangga. hingga saat aku sudah berdiri di pintu. tiba - tiba ....
"Alexa, kamu mau kemana?" tanya Mama dari belakangku.
Aku berbalik, menatap Mama yang kini menunggu jawabanku.
"Mau ke kampus Ma, kenapa?" tanyaku bingung.
"Kamu nggak usah ke kampus, ya." ucap Mama sambil tersenyum kecil, aku menatap bingung ks arahnya.
"Nggak usah ke kampus? kenapa Ma?" tanyaku, menatap penuh heran.
"Kita ke new york malam ini, jadi kamu segera kemasih barang - barang kamu." sebenarnya aku masih ragu mengenai pergi ke new york, aku hanya diam tak merespon ucapan Mama.
"Mama mau pergi dulu, ingat setelah Mama pulang, kita langsung ke bandara," ujarnya yang langsung pergi meninggalkanku.
Tiba - tiba saja ponselku berbunyi, sebuah pesan masuk dari Axell.
Xa, lo nggak ke kampus?
ting!
Xa, gue perlu bicara sama lo
3 jam kemudian ....
Aku menatap lekat ke arah luar jendela, aku baru selesai mengemas barang - barangku. agar tidak berkejaran dengan waktu.
Tak lama tiba - tiba, kehebohan di luar kamar membuat perhatianku teralihkan. aku berusaha untuk mengabaikan kehebohan di luar, hingga akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari kamar.
Aku membuka pintu, aku melihat 3 pekerja di rumahku berdiri di depan kamarku dengan kepala tertunduk.
"Ada apa, ini?" tanyaku, aku menatap mereka bergantian. sementara mereka menatap takut ke arahku.
"Maaf non, ada tamu untuk Non," ujarnya, aku menaikkan sebelah alis, menatap mereka penuh menyelidik.
"Siapa?" tanyaku.
"Katanya namanya Axel, sekarang dia menunggu di ruang tamu." aku langsung berhambur ke ruang tamu.
Aku berdiri dengan canggung di depan Axell, Pria itu menoleh tatapan terlihat berbeda dari sebelumnya.
"Alexa, lo kenapa nggak ada di kampus, chat gue juga cuma lo read, lo ada masalah?" tanyanya tiba - tiba aku merasa gugup, aku bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Gue ... gue ... nggak enak badan, iya nggak enak banda." aku tidak menyangka sulit untukku bilang kalau aku akan pergi ke new york pada Axell, hingga aku harus berbohong.
Axell berdiri, menatap cemas ke arahku.
"Lo sakit, sakit apa?" tanyanya. tanganya kini menempel di keningku. aku segera menyingkirkan tangan Axell, aku takut ia akan curiga kalau aku telah berbohong ke padanya.
"Kepala gue cuma pusing biasa aja kok, istrirahat sebentar juga bakal hilang." ucapku sambil memaksa senyum.
"Lo, yakin?" tanya Axell, kini ia menatapku dengan tatapan penuh menyelidik.
"Gue baik - baik aja, serius ... cuma butuh istirahat aja." Axell yang tadinya sulit untuk percaya, akhirnya menyerah.
"Kalau gitu gue pulang, biar lo bisa istirahat." aku mengangguk. lalu mengantar Axell hingga ke mobilnya.
Didepan mobil Axell, aku mencari - cari bahan untuk dijadikan bahan pembicaraan untuk mengusir kecanggunggan.
"Axell." axell menatapku, kenapa tiba - tiba aku menjadi gugup?
Ia masih menatapku, sontak aku memalingkan wajahku. tak lama aku menghela nafas panjang.
"Ada yang ingin gue sampaikan." ucapku. Axell menatap lekat kearahku.
Aku melihat Axell, entah kenapa kami berdua jadi saling pandang satu sama lain.
Saat itulah aku tersadar, sementara Axell melipat tangannya.
"Lo mau bilang, apa?" tanyanya, aku bingung di hadapannya. aku hanya bisa tersenyum kikuk. rupanya Axell menyadari ada yang salah dariku.
"Xa, semua baik - baik aja, kan?" aku menghela nafas berat, lalu menggelengkan kepalaku.
"Ada apa?" tanyanya, dengan raut wajah mulai cemas.
Aku diam sejenak, otakku mencari - cari rangkaian kata yang hendak aku sampaikan kepada Axell.
Aku pikir hanya mengucapkan kata perpisahan cukup mudah bagiku untuk dilakukan, ternyata tak semudah di bayangkan.
Saat aku hendak bicara, pikiranku mulai berkelana membayangkan bagaimana melihat reaksi Axell setelah mengetahui soal kepergianku.
"Gue mau pamit, sama lo" kataku perlahan, reaksi Axell di luar dugaanku.
Aku pikir ia akan terkejut, tapi ia malah mengangguk - angguk sambil memperhatikan sekeliling.
"Lo kenapa tiba - tiba ngomong gitu?" tanyanya dengan nada datar.
Aku menghela nafas berat, lalu kembali menatap Axell lekat.
"Karena ... karena gue akan ke new york." tidak ada reaksi apapun, Axell tampak larut dalam pikirannya.
__ADS_1
Lagi - lagi suasana canggung menyelimuti kami, aku tak kuasan menahan laju air mataku. namun aku tetap menahan sesak yang mulai menyiksaku karena perpisahan.
"Gue pamit, gue pamit Axell dari hidup lo."