Romantika Kisah Cinta

Romantika Kisah Cinta
Salting


__ADS_3

"Lo mau curhat, tentang apa memangnya?" tanyaku. aku baru sadar ada yang berbeda dari gadis itu.


Apa mungkin .... dia mau curhat tentang cowok?


"Yaampun Xa! tau nggak gue habis kenalan sama cowok, genteng .... pakek banget." aku mematung, aku tak tau harus merespon seperti apa ketika melihatnya begitu bersemangat.


"Yaampun, gue kira lo mau curhatin soal apa." seketika aku menatap malas, sementara gadis itu menatap tajam ke arahku, kemudian menepuk bahuku.


"Tha, sakit tau!" seruku, ia mengabaikan perkataanku.


"Dasar, temen nggak guna." gumamnya, aku menatap tajam ke arahnya.


"Gue denger, ya." Ia mengangkat bahu, lalu beralih sibuk dengan ponselnya.


"Balik sana, nyebelin." aku hendak pergi ke kamar, tapi tanganku lebih dulu ditahan olehnya.


"Mau kemana?" tanyanya.


"Ke kamar, kenapa?" tanyaku balik, ia mendengus sebal.


"Entar dulu kek, temen dateng juga." aku menghela nafas, lalu kembali duduk.


"Menurut lo, dia udah punya pacar belum?" tanyanya, aku mengangkat bahu untuk menanggapi. ia menatap kesal ke arahku.


"Percuma ya gue curhat sama lo, nggak guna." ia mendadak berdiri, lalu mengeluarkan ponsel dari tasnya. ia tidak memperdulikanku yang masih memperhatikannya.


"Mau ngapain lo?" tanyaku.


"Pulang." jawabnya dengan nada maaih terdengar kesal.


"Ok, hati - hati." ia melotot ke arahku, sementara aku sibuk dengan ponselku.


"Xa, sumpah ya, gue kira lo nggak senyebelin ini, deh." aku menatap ke arahnya, lalu mengangkat bahu. hal itu sukses membuatnya semakin kesal.


Agatha tiba - tiba kembali duduk disebelahku, lalu memegang tanganku.


"Lo ngapain?" tanyaku, menatap penuh heran.


"Lo mau kan, bantuin gue?" tanya Agatha dengan tatapan penuh harap.


"Astaga ... minta bantu apaan, sih? lo mau gue ngapain?" tanyaku. ia tak langsung menjawab pertanyaanku, dan beralih berbisik ke telingaku.


"Gue mau, lo cari informasi soal dia." aku mematung, gadis itu tersenyum. aku menatap tajam ke arahnya.


"Lo kira gue intel, cari sendiri sana, males gue."  aku meninggalkan Agatha begitu saja, sementara Agatha pergi mengejarku yang sedang menuju ke kamarku.


Gadia itu sekarang tiba - tiba menghadang jalanku, dengan berdiri tepat di depanku, dia tampak masih belum menyerah soal permintaannya.


"Apa?" tanyaku dengan nada datar.


"Please dong Xa, masak lo nggak mau bantuin gue." aku menghela nafas, entah bagaimana caranya agar sahabatku ini bisa mengerti.


"Ok fine, siapa? siapa orangnya?" tanyaku, gadis itu terlihat senang ketika aku bersedia membantunya.


"Mmm .... Axel, iya namanya Axel." aku terlonjak kaget setelah aku mendengar nama Axell keluar dari mulutnya. aku menatap bingung ke arahnya.


Axell?


Bukan Axell yang aku tahu, kan?


"Kayak gimana orangnya?" tanyaku.


Agatha menyebutkan ciri - ciri yang mirip dengan Axell yang aku kenal, aku tak merespon setiap ucapannya karena terkejut.


"Xa, gimana?" tanyanya, aku menghela nafas. lalu menganggukkan kepala. wajah gadis itu langsung sumringa.


Keesokan harinya ....


Aku tidak tidak perduli dengan orang - orang berada di kafe yang tengah memperhatikanku, pikiranku hanya dipenuhi oleh permintaan Agatha. Tak lama kemudian ....


"Alexa?" aku menoleh, aku terkejut ketika melihat Axell yang berada di depanku.


"Axel? lo ngapain disini?" tanyaku, menatapnya penuh heran.


"Gue ada janji, lo sendiri?" tanya Axell.


"Lo ada janji sama, Jessica ya?" tanyaku, Axell hanya diam. suasana seketika menjadi canggung.


"Lo kenapa tiba - tiba, bahas Jessica?" tanya Axell yang nadanya terdengar dingin.


Apa aku baru saja salah bicara?


Axell tiba - tiba menyentil dahiku, aku menatap tajam ke arahnya.


"Jangan di ulangi." aku mendengus kesal, Axell memperhatikanku yang tengah mengusap dahiku. hingga jantungku berdegub lebih cepat.


"Lo ngapain merhatiin gue kayak gitu sih, bikin salting aja." ucapku tanpa sadar, begitu sadar aku mengalihkan pandanganku untuk menutupi wajahku yang memerah karena malu.


"Lo salting, Xa?" tanya Axell dengan senyum jahil di wajahnya, aku mengedarkan pandanganku ke arah lain.


"Xa?" aku masih tak merespon, sekarang pipiku pasti memanas.


"Xel udah dong gudain guenya, lo nggak tau betapa malunya gue sekarang?" ia tertawa, lalu mengusap kepalaku, seketika aku mematung dengan sikap manisnya tersebut.


Tapi, aku baru sadar sikapnya itu yang membuat aku rindu, dan hingga membuatku tersiksa selama di new york.


Aku tersenyum, dan menatap Axell lekat. Aku tak tau, apa aku masih punya harapan untuk mengulang semuanya kembali ke awal atau tidak.


Karena aku sadar, Jessica masih bersama dengan Axell.

__ADS_1


"Xel, kali ini gue serius nanya, lo dan Jessica, gimana?" aku meremas bajuku di bawah meja, seraya menunggu Axell menjawab pertanyaanku.


Terasa sekali, kalau aku masih tak bisa terima bahwa Axell bersama Jessica.


"Gue dan Jessica, sudah lama berakhir, Xa." bisa kalian bayangkan betapa senangnya aku mendengar hal itu, namun aku berusaha menutupinya.


Sejujurnya, aku takut untuk bertanta lebih lanjut. tapi aku sudah terlanjur di dorong oleh rasa penasaran, hingga aku memberanikan diri untuk bertanya.


"Kenapa?" tanyaku, ia tak langsung menjawab malah menatapku.


"Lo masih tanya, kenapa?" aku menatap bingung ke arahnya, kulihat Axell menghela nafas panjang.


"Karena lo, Xa." aku terkejut, tapi tak melepaskan pandanganku dari Axell.


"Karena cuma lo, yang gue sayang dan gue cinta selama ini, apa lo masih nggak ngerti juga?" semua yang aku rasakan bercampur aduk menjadi, hingga aku tak tau harus apa selanjutnya.


Aku tahu kami berdua saling berdua saling mencintai, tapi karena satu orang membuat kami sulit untuk bersama.


Axell langsung duduk disebelahku, dan langsung meraih tanganku untuk di genggamnya. tanpa bersuara sama sekali.


"Gue seneng lo balik lagi, itu artinya kita bisa mulai lagi dari awal, kan?" tanyanya. dengan ekpresi penuh harap.


Aku berharap aku bisa langsung menjawab iya, tapi kenapa mulutku sulit sekali untuk mengakatakan apa yang aku inginkan.


"Xa?" aku mengehela nafas panjang, lalu menatapnya sambil tersenyum.


"Kita coba, ya." ucapku, Axell yang senang mendengar hal itu langsung mendekapku dalam pelukkannya.


Aku berusaha mengontrol diri sendiri untuk tetap tenang, karena laju detak jantungku yang berdetak semakin cepat.


Axell melepas pelukkannya, lalu beralih menatapku dengan sikut yang bertopang pada meja makan.


"Lo _ " belum selesai kalimatku, Axell langsung memotongnya.


"Kamu." ucapnya, aku menatapnya bingung.


"Bagaimana sekarang kita coba panggilan, pakai aku kamu?" ucapnya. aku menatap penuh heran ke arahnya.


"Memangnya kalau pakai lo, gue kenapa?"  tanyaku. ia hendak protes namun aku lebih dulu menyelanya.


Aku tertawa, tatapannya tak lepas dariku.


"Yaudah, iya." Axell tersenyum, lalu mengelus kepalaku. rasanyaman yang ia berikan, membuatku merasakan kembali jatuh cinta.


Kedua kalinya aku jatuh cinta, dan pada orang yang sama.


Axell apa kita benar - benar bisa terus bersama?


Tapa ada kali ini yang menghalangi ....


Tak lama Axell melirik jam di tangannya, sepertinya ia akan segera pergi.


"Aku baik - baik aja kok, lagian aku harus kembali ke kantor." ia tersenyum sambil menatapku.


"Sampai jumpa lagi, nanti malam bagaimana kalau kita diner?" ajaknya, aku tak langsung menjawab.


"Kita lihat nanti, ya." ia mengangguk, setelah berpamitan ia pun pergi.


Ting !


Bisa kita bicara?


Aku harus menahan kebahagian ini lebih duli, dan fokus dengan hal lain. kerena tiba saja Jessica mengirim pesan chat kepadaku.


Aku kembali meletakkan ponselku, lalu memikirkan apakah aku harus menemuinya atau tidak.


"Mau apa lagi sih, dia." gerutuku.


Aku tidak menghiraukan notip yang masuk secara beruntun, aku baru sadar kalau Jessica benar - benar keras kepala.


Aku hanya menghela nafas panjang, dan lanjut menyeruput minumanku.


Masih tersisa waktu 20 menit, untuk kembali kantor. sebelum akhirnya aku juga akan di cari oleh orang kantor.


"Hallo Alexa, lama tidak bertemu." aku menoleh, betapa terkejutnya diriku ketika melihatnya dihadapanku.


"Hai." sapanya lagi, aku hanya diam. sementara ia tersenyum.


"Dari mana lo tau, gue disini? btw lo keras kepala juga, ya."  ia hanya tersenyum, lalu langsung duduk di kursi di depanku.


Seperti aku sudah terbiasa denga. hawa tak nyaman saat keberadaannya, meski sudah lama tak bertemu. sementara ia hanya memperhatikanku.


"Lo bilang ada yang mau lo bicarakan, lo mau bicara soal apa?" tiba - tiba ia melempar senyum ke arahku, lalu menyodorkan sesuatu ke arahku.


"Foto lo, dan Axell? untuk apa lo kasih ini ke gue." tanyaku, sambil menatap aneh ke arahnya.


"Gue cuma mau lo tau, dari dulu sampai sekarang, gue nggak pernah menyerah buat dapetin Axell." aku terdiam, meski banyak yang ingin aku katakan aku menunggu ia bicara lebih lanjut.


"Xa, sama seperti dulu, gue nggak akan biarin lo, dapetin Axell dengan mudah."


Ketika mendengar itu,  seketika aku merasa menyesal membiarkan ia menyelesaikan apa yang hendak ia katakan.


Aku menghela nafas, sampai kapan ia akan terus berada di antara aku dan Axell?


"Ok, semangat ya." ucapku, sambil bersiap pergi. sementara ia hanya memperhatikanku.


"Gue pergi dulu." aku pergi dari hadapannya, namun ia terus memperhatikan aku yang perlahan menghilang dari pandangannya.


Keesokan harinya ...

__ADS_1


Di kantorku pukul 10 : 00


Hari itu hari yang panjang bagiku, setelah bertemu dengan Axell. aku juga di pusingkan soal rapat dadakan.


Aku melirik ke arah Axell, yang tampak dan santai selama rapat berjalan.


2 jam kemudian ....


Satu persatu semua meninggalkan Ruang rapat, aku menghampiri Axell yang masih berada di ruangan.


"Axell, gue mau tanya sudah berapa lama,  kamu mimpin perusahaan?" Axell langsung berdiri dari kursinya, lalu beralih berdiri di hadapanku.


"2 tahun mungkin, kenapa?" tanyanya, aku entah kenapa tiba - tiba aku menjadi kikuk di depannya.


"Ti-tidak, dibanding kamu tadi, aku tiba - tiba merasa kalau aku tidak ada apa - apanya."


Aku melihat Axell mengulurkan tangannya, lalu meraih pinggangku,  kemudian melingkarkan tangannya di pinggangku.


Aku berpikir untuk melepaskan tangannya, namun sepertinya ia tidak ingin aku melakukannya.


"Kau itu hebat, jadi jangan bicara seperti itu lagi." aku tersenyum, Axell juga.


"Aku berpikir ... "


"Apa?" tanyaku, sambil memperhatikannya.


"Bagaimana kalau, kita menikah?" karena aku terlalu terkejut, aku bahkan tidak tau harus merespon seperti apa. hingga ...


Axell menyodorkan sebuah cicin kehadapanku, lalu memasangkannya di jariku.


Aku langsung berpikir, apa yang harus aku lakukan agar Axell tak marah dan kecewa padaku ?


Karena tahu kalau aku tidak bisa menerima cincinnya, setidaknya tidak untuk saat ini.


"Cantik." ucapnya, aku hanya tersenyum menatap cicin yang kini melingkar dijariku.


"Alexa kenapa kamu hanya diam saja, apa kamu tidak suka dengan cincinnya?" aku hanya diam, sepertinya diamku membuatnya tak nyaman. sehingga ia terlihat cemas.


"Aku ... aku suka  ta _ " belum selesai aku menyelesaikan kalimatku, Axell memotong saat aku bicara.


"Kalau begitu kita menikah, kamu setujukan?" aku terdiam.


Aku tidak mau membuat Axell marah, dan kecewa, apalagi jadi membenciku karena menolak lamarannya.


"Axell, aku _ " tak berapa lama, ponsel Axell tiba - tiba berbunyi sehingga perhatiannya jadi teralihkan.


Ia pergi menjawab telpon, begitu selesai ia kembali menghampiriku.


"Aku harus kembali ke kantor," ujarnya. aku mangguk paham. setelah ia mengecup keningku ia pergi meninggalkanku.


Aku berusaha untuk fokus, karena lamaran Axell sebelumnya membuat jantungku berdegub kencang.


Membayangkan .... kalau aku akan menikah dengan Axell !!!


Aku berjalan keluar dari ruangan rapat, melewati lorong menuju ke ruanganku.


Di ruanganku ....


Sambil tersenyum bagaimana aku, dan Axell tadi. aku melangkah masuk ke ruanganku.


Malam harinya ....


Aku berjalan menuju pakiran, sambil melirik jam di tanganku.


Karena lembur, aku harus pulang malam. masih pukul 7 malam, aku yakin masih aman untuk perjalanan pulang.


Tanpa menghiraukan suasana malam yang membuat perasaanku tak karuan, aku terus menyetir dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi.


Sementara di kafe ....


"Apa? Alexa yang sering lo ceritain itu, yang katanya tinggal di new york itu, dia balik lagi, Jes?"  gadia itu mengangguk, sementara kedua temannya tak percaya.


"Lo pasti takut kan, sekarang?" teman sebelahnya menyikut perutnya, seolah memberi isyarat untuk tidak bicara sembarangan. sementara Jessica menatap tajam.


"Maksud lo, apa ngomong gitu?" ucap Jessica dengan nada meninggi.


"Santai dong, kok gitu aja emosi sih, jangan - jangan bener lagi, lo takut?"


"Sha." Thia menatap kedua temannya itu bergantian, dengan tingkat waspada yang tinggi kalau - kalau mereka akan bertengkar hebat.


"Lo takut kan, usaha lo selama dua tahun, jadi sia - sia, benarkan?"


Brakk!!!


Gadis itu menggebrak meja karena tak mampu mengendalikan emosinya, Thia ikut berdiri melihat sahabatnya itu bediri dan siap berkelahi dengan sahabatnya yang lain.


"Jes, tahan emosi lo, liat sekarang kita dimana."  ucapnya mengingatkan, kemudian beralih ke sahabatnya bernama Mesyah.


"Syah, lo juga, jangan pancing emosi Jessica dong." gadis itu melengos seolah menunjukkan sikap tidak perduli.


"Males gue, sama lo berdua." ia mengambil tasnya dengan kasar, lalu pergi begitu saja dengan tanpa bicara apapun.


"Lo, sih." gadis itu mengangkat bahu, kemudian beralih sibuk dengan ponselnya.


Keesokan harinya ....


Aku duduk dengan bersandar di bawah pohon disebuah taman, karena akubbaru saja melakukan joging.


Samar - samar aku mendengar langkah kaki, perlahan aku mengangkat kepala, dan mendapati Axell sudah berdiri di hadapanku.

__ADS_1


"Axell? kamu ngapain disini? tau dari mana kalau aku ada disini?" tangannya terulur didepanku, aku menatap Axell dengan bingung.


__ADS_2