Romantika Kisah Cinta

Romantika Kisah Cinta
Balikkan?!


__ADS_3

"Axell, lo kenapa panik gitu?" ia hanya diam, lalu menggelengkan kepalanya.


"Gue cuma khawatir Jessica, ngapa - ngapain lo?" aku tertegun, ternyata benar Jessica penyebabnya.


"Axell, gue boleh tanya sesuatu?" tanyaku ragu. ia menatap bingung ke arahku.


"Kenapa lo segitu khawatirnya sama gue, emang gue siapa lo? apa gue segitu berartinya dalam hidup, lo?" kulihat Axell tampak berpikir, aku masih menunggu jawabannya.


"Axell?" ia masih tak bergeming, aku penasaran apa yang saat ini ada di pikirannya.


"Kalau lo nggak tau jawabannya, tolong jangan buat gue jadi salag paham, lo ngertikan?" tanyaku, aku hendak pergi meninggalkannya. namun tiba - tiba tanganku di tarik. Axell kembali membawaku dalam dekapannya.


"Selama ini gue udah memikirkan soal perasaan gue, cukup lama." dalam diam, aku mendengar apa yang disampaikan oleh Axell.


"Gue sayang sama lo, dan lo berarti dalam hidup gue." aku tertegun dalam dekapan Axell, aku hanya berharap tidak ada yang melihat kami saat ini yang tengah berpelukkan.


"Itu udah menjawab semua pertanyaan lo, kan?" aku tersentak dari lamunan, saat Axell melepas pelukkannya.


"Alexa? lo mau kan jadi pacar gue?" kini aku hanya diam, mencoba mencerna setiap perkataannya.


Pikiranku tak tenang, apalagi soal Jessica, dan sejak peristiwa itu apakah cintaku telah  berubah? apakah perasaanku telah berubah.


"Axell, Gue _ "


"Gue nggak akan maksa lo jawab sekarang, kok." ucapnya menenangkan.


"Jadi lo nggak usah khawatir, ya." aku tersenyum sambil menatapnya.


Axell tiba - tiba mendekatkan kepalanya untuk berbisik, sementara aku mematung.


"Tapi gue, tetap bakal menunggu jawaban lo." aku tertegun, ia menjauhkan kepala. kemudian menatapku sambil tersenyum.


Axell yang berada di hadapanku ini benar - benar berbeda dari yang selama ini aku tahu, apa dia benar - benar Axell.


"Mm ... gue ada kelas, gue tinggal nggak papa, kan?" tanyanya, aku menganggukkan kepala menanggapinya.


"Dah," ujarnya. aku menatap punggung Axell yang perlahan menghilang dari pandanganku.


Tak lama setelah Axell pergi, seseorang dengan kasar menarik tanganku, hingga aku berbalik menoleh ke arahnya.


Jessica!


"Mau apa lagi, lo?!" tanyaku dengan nada nyolot, sambil berusaha melepas tanganku yang berada dalam genggamannya.


"Lo bener - bener nggak bisa di bilangin, ya." ucapnya dengan nada penuh penekanan.


"Dasar, cewek jalang!"


Plakk!!


Tanganku refleks menampar Jessica, karena itu juga aku bisa menarik tanganku dari genggaman tangannya.


"Lo pikir gue bakal tinggal diam, atas semua perlakuan lo selama ini? nggak Jes, lo salah besar!" Ah, baru pertama ksli ini aku membalas Jessica, kira - kira datang dari mana keberanian itu?


Bahkan, gadis itu terlihat tak percaya dengan yang baru saja aku lakukan kepadanya.


"Kalau lo mau dapetin Axell, lo harusnya berusaha lebih keras lagi, bukannya malah neror gue, kayak yang lo lakuin selama ini." setelah mengatakan itu, aku pergi meninggalkan Jessica. sementara itu ia menggeram kesal.


15 : 00

__ADS_1


Tiba dirumah, aku merasakan suasana di rumah terasa berbeda dari biasanya. aku melihat sekeliling, rumah terlihat sepi.


"Non, sudah pulang?" aku menoleh ke asal suara, kulihat bibik berjalan menghampiriku.


"Mama mana?" tanyaku, dengan tatapan bingung.


"Nyonya, dan Tuan baru saja pergi," ungkapnya.


"Pergi? pergi kemana?" tanyaku.


"Saya kurang tau non, tapi katanya perjalanan bisnis." ucapnya.


"Perjalanan bisnis? jauh dong, berapa lama?" tanyaku lagi, mereka menggelengkan kepala.


"Maaf non, kami tidak di beri tahu." aku menghela nafas, lalu meminta mereka untuk pergi.


"Mereka pergi kemana?"


Sudah lima hari sejak Mama, dan Papa pergi. selama itu pula tidak pulang ke rumah, bahkan telponnya sangat sulit di hubungi. aku mulai cemas telah terjadi sesuatu kepada mereka


"Mama, sama Papa kenapa susah di hubungin beberapa hari ini, sih?!" ucapku kesal.


l


"Axell, lo kenapa panik gitu?" ia hanya diam, lalu menggelengkan kepalanya.


"Gue cuma khawatir Jessica, ngapa - ngapain lo?" aku tertegun, ternyata benar Jessica penyebabnya.


"Axell, gue boleh tanya sesuatu?" tanyaku ragu. ia menatap bingung ke arahku.


"Kenapa lo segitu khawatirnya sama gue, emang gue siapa lo? apa gue segitu berartinya dalam hidup, lo?" kulihat Axell tampak berpikir, aku masih menunggu jawabannya.


"Axell?" ia masih tak bergeming, aku penasaran apa yang saat ini ada di pikirannya.


"Kalau lo nggak tau jawabannya, tolong jangan buat gue jadi salag paham, lo ngertikan?" tanyaku, aku hendak pergi meninggalkannya. namun tiba - tiba tanganku di tarik. Axell kembali membawaku dalam dekapannya.


"Selama ini gue udah memikirkan soal perasaan gue, cukup lama." dalam diam, aku mendengar apa yang disampaikan oleh Axell.


"Gue sayang sama lo, dan lo berarti dalam hidup gue." aku tertegun dalam dekapan Axell, aku hanya berharap tidak ada yang melihat kami saat ini yang tengah berpelukkan.


"Itu udah menjawab semua pertanyaan lo, kan?" aku tersentak dari lamunan, saat Axell melepas pelukkannya.


"Alexa? lo mau kan jadi pacar gue?" kini aku hanya diam, mencoba mencerna setiap perkataannya.


Pikiranku tak tenang, apalagi soal Jessica, dan sejak peristiwa itu apakah cintaku telah  berubah? apakah perasaanku telah berubah.


"Axell, Gue _ "


"Gue nggak akan maksa lo jawab sekarang, kok." ucapnya menenangkan.


"Jadi lo nggak usah khawatir, ya." aku tersenyum sambil menatapnya.


Axell tiba - tiba mendekatkan kepalanya untuk berbisik, sementara aku mematung.


"Tapi gue, tetap bakal menunggu jawaban lo." aku tertegun, ia menjauhkan kepala. kemudian menatapku sambil tersenyum.


Axell yang berada di hadapanku ini benar - benar berbeda dari yang selama ini aku tahu, apa dia benar - benar Axell.


"Mm ... gue ada kelas, gue tinggal nggak papa, kan?" tanyanya, aku menganggukkan kepala menanggapinya.

__ADS_1


"Dah," ujarnya. aku menatap punggung Axell yang perlahan menghilang dari pandanganku.


Tak lama setelah Axell pergi, seseorang dengan kasar menarik tanganku, hingga aku berbalik menoleh ke arahnya.


Jessica!


"Mau apa lagi, lo?!" tanyaku dengan nada nyolot, sambil berusaha melepas tanganku yang berada dalam genggamannya.


"Lo bener - bener nggak bisa di bilangin, ya." ucapnya dengan nada penuh penekanan.


"Dasar, cewek jalang!"


Plakk!!


Tanganku refleks menampar Jessica, karena itu juga aku bisa menarik tanganku dari genggaman tangannya.


"Lo pikir gue bakal tinggal diam, atas semua perlakuan lo selama ini? nggak Jes, lo salah besar!" Ah, baru pertama ksli ini aku membalas Jessica, kira - kira datang dari mana keberanian itu?


Bahkan, gadis itu terlihat tak percaya dengan yang baru saja aku lakukan kepadanya.


"Kalau lo mau dapetin Axell, lo harusnya berusaha lebih keras lagi, bukannya malah neror gue, kayak yang lo lakuin selama ini." setelah mengatakan itu, aku pergi meninggalkan Jessica. sementara itu ia menggeram kesal.


15 : 00


Tiba dirumah, aku merasakan suasana di rumah terasa berbeda dari biasanya. aku melihat sekeliling, rumah terlihat sepi.


"Non, sudah pulang?" aku menoleh ke asal suara, kulihat bibik berjalan menghampiriku.


"Mama mana?" tanyaku, dengan tatapan bingung.


"Nyonya, dan Tuan baru saja pergi," ungkapnya.


"Pergi? pergi kemana?" tanyaku.


"Saya kurang tau non, tapi katanya perjalanan bisnis." ucapnya.


"Perjalanan bisnis? jauh dong, berapa lama?" tanyaku lagi, mereka menggelengkan kepala.


"Maaf non, kami tidak di beri tahu." aku menghela nafas, lalu meminta mereka untuk pergi.


"Mereka pergi kemana?"


Sudah lima hari sejak Mama, dan Papa pergi. selama itu pula tidak pulang ke rumah, bahkan telponnya sangat sulit di hubungi. aku mulai cemas telah terjadi sesuatu kepada mereka


"Mama, sama Papa kenapa susah di hubungin beberapa hari ini, sih?!" ucapku kesal.


Tok tok tok!


Samar - samar aku mendengar ada suara ketukan pintu, tak lama kulihat Bibik berjalan ke arah pintu.


Tak lama Bibik kembali, dan datang bersama seseorang.


"Shintia? lo ngapain kesini?" tanyaku, menatap heran.


"Kenapa? gue nggak boleh main kesini?" tanyanya, aku menghela nafas.


"Bukan gitu elah, ada apaan?" tanyaku, seraya mempersilahkan untuknya duduk.


"Ada dua hal yang menjadi tujuan kedatangan gue." ucapnya.

__ADS_1


"Pertama, gue mau ngajaklo ke mall." aku mengangguk paham, lalu menunggunya menyelesaikan ucapnya.


"Kedua, lo udah tau belum, soal Axell, dan Jessica Balikan?" tanyanya. aku terkejut dengan apa yang baru saja aku dengar.


__ADS_2