Romantika Kisah Cinta

Romantika Kisah Cinta
Berhenti Ganggu Hidup Gue!


__ADS_3

Ia mengabaikan pertanyaanku, lalu beralih sibuk dengan ponselnya. sementara kepalaku di penuhi pertanyaan, tentang apa yang akan dilakukan Axell.


Tapi sepertinya Axell tidak mau memberitahuku, kalau begitu aku yang akan mencaritahu sendiri.


17 : 00


Setelah sedikit berbincang dengan Mama sepulang dari kafe. aku pamit kekamar untuk membersihkan diri.


18 : 00


Aku keluar kamar, dan langsung mencari - cari keberadaan Ayah, dan ibuku.


Ketika samar - samar aku mendengar suara dari arah dapur, aku berjalan mengikuti suara.


Tetapi langkahku terhenti mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Pa, apa nggak sebaiknya kita bicarakan, soal Alexa yang akan memimpin perusaan, kepada Alexa?"


"Tapi ... sepertinya, Alexa belum siap." aku terkejut mendengar mereka tiba - tiba membicarakan aku sebagai penerus.


"Setelah ini  Papa harus ke, New york."


Apa, Papa mau ke New York?!


"Mama nggak bisa handel semuanya disini sendiri, Pa."


Tanpa sadar aku melangkahkan kakiku, mereka tak lagi berkata - kata. sepertinya mereka menyadari keberadaanku.


Dari sorot mata mereka, terlihat jelas mereka seolah baik - baik saja. padahal kenyataannya sebaliknya. Aku mendekat ke mereka.


"Ma ... Pa, apa semua baik - baik saja?" mereka diam, dari mata mereka tergambar jelas kalau mereka terkejut dengan pertanyaanku.


"Iya sayang, semua baik - baik saja." obrolan kami terhenti, mama beralih dengan menyiapkan makanan. Papa membaca koran sambil menunggu makan malam.


Ternyata ... mereka tak mau jujur denganku, kenapa?


Aku duduk di depan Papa yang masih membaca koran, lalu beralih menatap Mama yang terlihat masih sibuk dengan masakkannya. mereka tampak terlihat baik - baik saja di depanku, tapi sebenarnya mereka menutupi sesuatu dariku.


Aku rasa mereka belum sadar, meski mereka tidak memberitahuku sekarang. baik cepat ataupun lambat, mereka berdua akan memberitahuku.


Aku aku menatap Papa yang kini beralih ke ponselnya, aku memutuskan untuk mencoba mengajak bicara pada Papa.


"Mmm ... Pa." ia langsung menoleh ke aarahku, tak lama Mama menghampiri kami di  meja, dan bergabung. setelah itu, Papa kembali menatapku.


Bersamaan aku mengumpulkan kata - kata untuk bertanya, aku berusaha mengatur detak jantungku.


Aku menatap wajah Papa, dengan ekpresi tegang.


"kamu mau bicara apa? kenapa tegang gitu?" tanya Papa, dengan tatapan penuh heran.

__ADS_1


"Maaf, tapi tadi Alexa nggak sengaja dengar, soal Alexa memimpin perusahaan." melihat reaksi terkejut mereka, sudah kupastikan yang tadi aku dengar itu benar.


"Alexa akan memimpin perusahaan, kalau Alexa sudah siap, untuk sekarang Alexa bisa selesaikan kuliah Alexa dulu, kan?" tanyaku aku menatap wajah orang tuaku bergantia, mereka tampak saling tatapan satu sama lain. lalu menatapku.


"Iya sayang, kamu bisa selesaikan kuliah kamu." ucap Mama sambil tersenyum. aku membalas senyumannya.


2 jam kemudian ....


Di banngku taman kampus, para mahasiswi tampak menjerit, saat aku memperhatikan mereka kulihat sosok Axell.


Sekarang .... aku mengerti kenapa mereka begitu.


Axell menghampiriku, lalu merangkulku. Karena itu membuat perhatian semua orang kini mengarah pada kami.


Axell bersiap menarikku menjauh dari mereka, hingga tiba - tiba ....


Langkah kaki terdengar mendekat, lalu sosok Jessica mulai terlihat.


"Axell, gue bener - bener nggak ngerti sama lo ya, kenapa lo bisa segininya sama wanita jalang ini."


Plakkk!!!


Tanganku refleks menampar Jessica, aku bisa raut wajah kesalnya di wajahnya.


"Cukup ya, Jes!" bentakku, kulihat ia menggigit ujung bibirnya.


"Jangan pernah, lo sakitin Alexa." ucap Axell dengan nada dingin. lalu menarik tanganku, dan membawaku pergi.


Beberapa saat kemudian ...


Aku menghentikan langkahku, aku menatap tanganku yang tiba - tiba gemetar setelah menampar Jessica.


Axell tiba - tiba berdiri tepat di hadapanku,  lalu meraih kedua tanganku untuk di genggamnya.


Lelaki yang biasanya cuek, dan dingin itu. kini seolah berusaha menenangkanku.


Dan itu memang berhasil.


"Alexa, lo nyesel karena sudah menampar, Jessica?" tanyanya dengan nada lembut.


Aku menatap lekat mata Axell, aku menyadari aku mulai merasakan bergantung pada Axell.


Tapi ... jika aku terus bersama Axell, Jessica akan terus menggangguku.


Aku melihat sekeliling, aku tak melihat sosok Jessica.


Untuk sesaat, aku berpikir untuk menjauhi Axell. aku langsung sadar, apakah aku bisa melakukannya.


"Aku ... aku nggak pernah menampar orang sebelumnya, Axell yang tadi itu _ "

__ADS_1


Aku refleks menggercapkan mata, saat Axell menempelkan jari telunjuknya di bibiku. mata kami saling bertemu, kami saling bertatapan untuk beberapa saat.


Aku tersadar, lalu segera menyingkir dari Axell.


Aku terlihat menutupi salah tingkah, tetapi Axell seakan mencari topik pembicaraan agar obrolan tetap berlanjut.


"Mmm ... sepertinya kau sebentar lagi akan ada kelas, dan aku sudah tak ada urusan lagi di kampus selama aku di skors." aku menghela nafas, entah kenapa aku masih sulit menerimanya. Namun tiba - tiba Axell mendekapku dalam pelukkannya.


"A-Axell." Axell mengabaikan ucapanku, ia tetap memelukku. entah kenapa pelukkannya itu terasa hangat.


"Gue akan pastikan, lo bakal balik lagi ke kampus ini, Alexa." Aku tertegun, lalu melepas paksa pelukkan Axell.


Entah kenapa ... saat menatap mata Axell, aku bisa melihat ketulusan, dan keseriusan saat mengatakannya.


Apa aku benar - benar bisa segera kembali kekampus lagi?


30 menit kemudian ...


Langkahku terhenti, aku mendapati diriku yang kini sudah berada di pakiran.


Saat aku hendak masuk ke dalam mobil, aku mendengar langkah kaki mendekat. Aku menoleh untuk melihat siapa.


Tampak Jessica berjalan mendekat ke arahku, mau apa lagi dia?


Ia berdiri tepat di hadapanku, tanpa mengatakan apapun.


Kutatapan Jessica, sepertinya aku tahu apa yang akan dikatakannya.


Tapi aku, dengan penuh berharap ia tidak akan membuat masalah lain.


"Alexa, gue bisa buat lo balik ke kampus ini lagi, tapi dengan syarat lo harus jauhin Axell sebagai gantinya, gimana?" tanyanya, seharusnya aku tahu apa yang dia bicarakan tidak akan jauh mengenai Axell, tetapi tetap saja rasanya aku terlalu bodoh, karena terlalu berharap pada orang seperti Jessica.


"Maaf, tapi gue nggak tertarik dengan penawaran, lo." ucapku dengan nada datar.


Aku membuka pintu mobilku, dan bersiap masuk. Tapi tiba - tiba Jessica menarik tanganku dengan kasar, dan mencengkramnya dengan kuat. membuatku meringis.


"Lo tuh bener - bener ya, jadi cewek!" aku berusaha melepas tanganku, tapi cekraman Jessica semakin kuat.


Secara refleks aku mendorong Jessica, hingga membuatnya terjadi tersungkur.


kini Jessica menatapku dengan tajam.


Alih - alih ingin menyerangku,


dengan sergap aku menghindar. sehingga membuatnya bertambah kesal.


Aku mendekat, dan membuat posisinya terpojok. lalu menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.


"Berhenti ganggu hidup gue, atau gue bakal buat lo menyesal." ucapku, dan langsung masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2