
"Kau tidak mau jawab, pertanyaanku?" tanyanya. lagi - lagi aku hanya bisa diam, Axell tampak masih menunggu bicara.
"Ma-maaf, aku benar benar tidak sengaja." dengan ragu aku memberanikan diri menatap wajah Axell, Axell tak menunjukkan reaksi apapun.
Tiba - tiba suasana menjadi hening, aku tak tau harus mengatakan apa lagi.
"Axell, kau marah?" ia menatapku, ia hanya diam membuat aku tak mengerti.
Selang berapa lama, mataku tertuju pada gadis yang sebelumnya bersama Axell. seketika aku teringat kembali.
"Axell, itu pacarmu, kan?" ia mengikuti arah tunjukku, lalu kembali menoleh ke arahku.
Kembali pada permasalahan yang sama, aku memikirkan apa yang harus aku lakukan.
"Aku tidak marah, dan dia bukan pacarku." aku diam tak bergeming, hingga Axell pergi meninggalkanku.
Tanpa sadar kucubit pipiku, untuk memastikan kalau apa yang terjadi hati iji sama sekali bukan mimpi.
Huaa, sakit!!!
Ternyata bukan mimpi!!!
***
Keesokan harinya ....
Samar - samar, Mama dan Papa mengobrol dengan pelan.
"Sekarang anak itu sudah dewasa, dia sudah bisa menentukan jalannya sendiri."
"Tetap aja, ia harus di arahhin!"
Apa yang sedang terjadi? mereka seperti berdebat, tapi soal apa?
Aku mencari tempat yang aman, dan terus mengamati apa yang terjadi.
Ta lama langkah mereka terdengar menuju ke suatu arah, dan semakin menjauh.
Kupastikan semua orang sudah pergi, dengan perlahan aku melangkah
ke arah pintu keluar. untuk pergi dari rumah.
Aku tiba di kampusku, aku belum sempat keluar dari mobil. suara Shintia terdengar dari arah tak jauh dari tempat aku memakirkan mobil.
Aku keluar dari mobil, aku hampiri Shintia yang tak jauh dari tempatku.
"Kenapa lo? kok lo, kayak banyak pikiran gitu?" tanyanya, seraya mengamati wajahku.
"Apaan, sih?" ucapku, gadis itu terkekeh.
"Mikirin apaan, sih?" entar kerutan lo, entar cepat tua." aku terkekeh, ia tertawa.
Semua perkataan Papa dan Mama, memenuhi pikiranku. Shintia tiba - tiba menepuk pundakku, membuat aku tersadar.
"Tuh kan, entar kesambet loh." ucapnya, aku menatap malas ke arahnya.
__ADS_1
"Udah yuk, ke kelas." aku pergi mendahului, disusul Shintia yang mencoba mengejarku.
3 jam kemudian ....
Tiga kali nama Axell dari arah lapangan terdengar, dan itu berhasil mencuri perhatian Shintia.
"Eh, liat Axell lagi main basket, Xa." ucapnya, dengan tatapan penuh kekaguman.
"Keren banget, ya." pujinya. aku hanya menggelengkan kepala melihatnya.
Apa yang di katakan Shintia sebenarnya benar, Axell makhluk yang terkenal dingin itu terlihat keren.
Tapi ... tunggu, dia sekarang menoleh ke mana?
Aku melihat sekeliling, kalau saja ada orang lain di sekitarku selain Shintia.
Tapi ... setelah di lihat lagi, ternyata dia melihat ke arahku!
"Eh, Xa." panggil Shintia, seraya menyikut perutku.
"Axell, kayaknya liatin lo, deh." sebisa mungkin aku bersikap seolah tak sadar, dan bersikap biasa - biasa saja.
"Masa, sih? cuma perasaan lo aja kali." sebisa mungkin aku angkat kaki dari tempat itu, meninggalkan Shintia yang masih sibuk memperhatikan Axell.
Tapi ... tak perduli kakiku terasa berat, tak perduli berikutnya apa yang terjadi.
"Alexa, Awas!!!"
Aku berbalik, untuk menoleh ke arah shintia. Tapi aku justru mendapati Axell berlari cepat ke arahku, menarikku, hingga membuatku jatuh menimpah tubuhnya.
Tapi ... siapa yang melakukannya?
Aku berdiri karena orang - orang mulai memperhatikan kami, aku membantu Axell berdiri karena aku telah membuatnya terjatuh.
"Maaf, dan terimakasih." ia menganggukkan kepala, lalu mengamatiku.
"Lo nggak apa - apa, kan?" tanyanya, aku menganggukkan kepala.
"Lo sendiri, nggak apa - apa, kan?" ia mengabaikan pertanyaanku, ia berjalan mendekatiku dengan tatapan belum pernah aku lihat sebelumnya. .
"Ke-kenapa?" tanyaku kikuk.
Tak lama, kulihat Axell berjalan ke arah pot bunga yang hancur berhamburan dilantai. lalu menoleh ke atas ia tampak memgamati sekelilingnya.
Aku mendekatinya, lalu mengikuti arah pandangnya.
"Selanjutnya, lo harus berhati - hati." aku refleks menoleh ke arahnya, setelah mengatakan itu ia pergi meninggalkanku.
****
14 : 00
Aku duduk di bangku taman yang berada di halaman kampusku, sembari memegangi tasku, aku mengamati sekeliling.
"Sedang apa?" aku celingukkan, mencari asal suara. ternyata pemilik suara itu adalah Axell.
__ADS_1
Tunggu .... mau apa dia?
Aku berdiri, Axell tampak mengambil sesuatu dari sakunya, dan menyodorkannya kepadaku.
"Plaster luka? untuk apa lo kasih ini ke gue?" aku mengambil plaster itu dari tangannya, bagaimanapun aku harus menghargai pemberiannya kan?
"Untuk jaga - jaga."
"Hah?" meski masih tengah kebingungan, aku tetap menyimpan plaster pemberiannya.
"Makasih." ucapku, sambil menatapnya kulihat Axell tak mau mengalih pandangannya dariku.
"Kenapa, ada sesuatu di wajah gue?" iseng, aku mendekatkan wajahku ke hadapannya.
"Lo sedang apa?" tanyanya dengan ekpresi, dan nada datar.
"Maaf." ucapku, lalu mengalihkan pandanganku ke arah lain.
"Apa l punya musu? dan soal kejadian tadi apa lo sudah lapor?" Aku hanya diam, aku menatap Axell dalam - dalam.
"Harus, ya? kitakan nggak tau kejadian sebenarnya, bagaimana kalau nggak sengaja jatuh?" aku menatap Axell, entah kenapa tatapannya tiba - tiba berubah.
"Setidaknya kita harus tau kejadian sebenarnya, dan menemukan siapa pelakunya, memangnya itu semua nggak perlu?" aku tahu, kalau sudah begini, berdebatpun rasanya akan percuma.
"Lo ada benarnya, tapi jangan sampai menimbulkan kegaduhan di kampus." ia mengangguk, tiba - tiba ....
Drrtt!!
Di tengah obrolan kami, ponsel Axell berbunyi. ia melihat ke arahku sekilas, lalu menjauh untuk menjawab panggilan yang masuk tersebut.
Tak lama seorang gadis berlari ke arahku, dengan tatapan sangat marah. tiba - tiba ....
Plakk!!
Refleks aku menutup mata, namun aku merasa aneh karena tidak merasakan apapun.
Aku membuka mata, pemandangan yang aku lihat ketika membuka mata. Pipi Axell yang merah karena tamparan gadis itu, dan tatapan tajam Axell ke gadis itu.
"A-Axell, aku _ " saat gadis itu sepertinya ingin memberi penjelasan. ucapan gadis itu di potong sehingga menurungkan niatnya.
"Maksud lo apa, mau nampar Alexa, hah?!" usaha yang dilakukan gadis itu untuk meminta maaf kepada Axell sia - sia, Axell menarikku hingga kami pergi meninggalkan gadis itu.
Kulihat gadis itu, di tengah tanganku yang masih digenggam oleh Axell. gadis itu menatap tajam ke arahku, aku menatapnya penuh heran.
Aku menoleh sekeliling, tak lama Axell menghentikan langkahnya. membuat langkahku ikut terhenti.
"A-Axell, lo benar - benar tidak apa - apa, kan?" aku mengamati bekas tamparan gadis itu, yang ada di pikiranku saat ini hanya sebuah pertanyaan.
Kenapa gadis itu ingin menamparku?
"Maaf, gara - gara gue, lo jadi di _ " saat aku ingin menyekesaikan kalimatku, Axel memotongnya.
"Gue nggak apa - apa, yang terpenting lo baik - baik saja." aku tertegun, setelah mendengar kata - kata itu, salahkah aku berharap akan hadirnya cinta yang baru?
Dan cinta yang baru itu ....
__ADS_1
Adalah Axell ...