
Tiba - tiba aku merasa tubuhku ditarik, saat aku sadar. Axell telah mendekapku dalam pelukkannya.
"Maaf, mungkin lo hampir mengalami insiden hari ini, itu gara - gara gue," ujarnya. dengan nada penuh penyesalan.
Aku hanya menyimak, menunggunya selesai kan ucapannya.
Seketika Axell melepas dekapannya, aku berusaha menutupi salah tingkahku.
"Apa dia termasuk, pengagum lo?" tanyaku. ia hanya diam.
"Ma-maaf, kalau gue salah tanya." ucapku, aku mulai salah tingkah.
"Nggak perlu minta maaf," ucapnya. aku hanya diam menatapnya.
Aku harus tenang, atau seterusnya aku tidak akan bisa menghadapi Axell.
Kulihat Axell melirik jam di tangannya, sepertinya ia akan segera pergi.
"Lo mau pergi?" tanyaku, ia menganggukkan kepala.
"Gue ada kelas, lo nggak apa - apa, kalau gue tinggal?" tanyanya, aku menganggukkan kepala.
"Gue bakal baik - baik aja, gue bisa jaga diri." kurasa aku berhasil meyakinannya, ia pergi meninggalkanku.
Aku masih dalam posisi yang sama, setelah Axell pergi. dan mulai sibuk dengan pikiranku.
Beberapa menit kemudian ....
Aku masih berada di tempat yang sama, seorang gadis yang tadi hendak menamparku datang menghampiriku, bersama dengan dua temannya yang menemani.
Mungkin dia masih belum selesai denganku? mungkin dia akan melakukan hal lain dengan di bantu kedua temannya?
"Ada apa?" tanyaku, dengan tatapan malas. gadis itu melipat kedua tangannya.
"Gue peringatin sama lo, jauhin Axell, atau lo akan tau akibatnya," ujarnya. dengan nada mengancam.
Aku tidak membalas ucapnya, karena aku terlalu malas meladeninya. tak lama ia pergi meninggalkanku.
Apa mulai sekarang aku akan berurusan dengan orang, seperti Jessica?
Keesokan harinnya ....
Pagi ini aku bangun lebih pagi, dari sebelumnya. Tetapi ada rasa enggan untuk melakukan apapun.
Kejadian kemarin kembali terputar di kepalaku, semua insiden, semua yang Axell katakan. dan juga ... kata ancaman yang terlontar oleh Jessica.
Tapi mengingat hari ini ada ujian penting, aku cepat - cepat bersiap, dan berangkat ke kampus.
__ADS_1
Aku tak banyak waktu di dalam mobil, begitu tiba. aku langsung keluar, dan menuju ke kelasku.
Bahkan, aku sempat sarapan karena ujian hari ini.
Aku langsung masuk kekelas, dan bersiap untuk mengikuti ujian.
Beberapa saat kemudian ....
Beberapa soal sudah selesai aku kerjakan, tinggal 1 soal terakhir.
30 menit kemudian ....
Sambil duduk di bangku taman kampus, kupasang headset yang sempat aku bawa ke telingaku, kuputar lagu yang belakangan populer.
Lalu kuakhiri pikiran yang membebaniku hari itu, dengan menikmati lagu yang tengah aku dengar.
Tak lama kemudian aku merasa ada sesuatu menyentuh pundakku, aku menoleh melihat siapa yang tengah berada di belakangku.
"Axell?" Aku hendak berdiri, namun Axell menahan pundakku.
Axell duduk di sebelahku, ia menatap ke arahku, ia tersenyum lembut.
Ternyata Axell, bisa tersenyum juga?
"Mereka nggak ngangguin lo, kan?" tanyanya, ia tampak menunggu jawabanku, sementara aku masih mencerna apa yang ia katakan.
"Mereka nggak ngangguin gue lagi, kok." ucapku, sambil terpaksa tersenyun.
Axell tidak perlu tau soal, ancaman itu kan?
"Lo nyamperin gue, cuma buat nanya itu?" tanyaku, seraya tak melepaskan pandanganku darinya. kulihat ia menganggukkan kepalanya.
Tak lama aku melihat sosok Jessica, ia tampak memperhatikan kami berdua. aku. aku harus menghindar, aku harus pergi.
Tetapi aku hanya bisa diam di tempatku, saat Axell menahan tanganku.
"Lo mau, kemana?" tanyanya, aku hanya diam. dengan tatapan mengarah pada Jessica yang masih mengawasi kami.
Hal ini benar - benar membuatku tidak nyaman, perlahan aku menoleh ke arah Axell. ia ternyata mengikuti arah pandangku.
"Lo mau pergi, karena dia?" tanyanya, aku tidak tau harus menjawab apa, kulihat Jessica masih disana, sambil pura - pura menelpon. Axell masih di dekatku, bersiap menghampiri Jessica.
"Mau gue bantu bicara sama dia, buat nggak ganggu lo?" tanyanya, aku mempertimbangkan ucapannya itu, kalau Axell yang bicara, pasti bisa kan?
Aku tidak tau harus harus apa, tapi aku tidak mau terus terjebak dalam situasi tak nyaman seperti ini.
"Alexa?" aku tersadar, aku refleks menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Udahlah, gue rasa nggak ada gunanya, gue pergi, ya." pamitku, yang perlahan pergi meninggalkan Axell.
Dalam detik itu, tiba - tiba tanganku ditarik. aku menoleh, ternyata itu Axell.
"Axell, kau _ " Axell tak memberikan aku kesempatan untuk bicara, ia tersenyum lalu menarikku.
"Tu-tunggu, Axell _ " Kecemasanku berubah menjadi rasa terkejut, ketika aku menyadari ada yang aneh dengan sikap Axell belakangan ini.
Sekarang aku ada di sebuah lorong kampus, Axell menatapku dalam diam tanpa kata. ia menghela nafas lalu tersenyum.
"Berhubung lo sepertinya sudah berurusan dengan Jessica, sepertinya gue harus memberitahu beberapa hal sama lo." Ia menarik nafas dalam - dalam, kemudian menatapku seolah memberikan isyarat agar aku mendengarkannya.
Lalu ia bersandar di dinding, seraya melipat kedua tangannya.
"Kami berdua pernah pacaran, lalu tak lama gue pernah mergoki dia selingkuh, saat itu juga kami putus." aku menutupi rasa terkejutku, lalu menunggu Axell menjelaskan lebih lanjut.
"Setelah itu, dia selalu berusaha menganggu siapa aja yang dekat sama gue." seketika aku bingung harus menanggapi seperti apa, cerita Axell benar - benar membuatku kalang kabut.
"Yang ingin bilang adalah, lo jangan takut," ujarnya, aku tertegun mendengar ucapannya itu.
"Lo harus berani menghadapi orang seperti dia, karena lo nggak salah." untuk sesaat aku berpikir ucapannya itu ada benarnya, seketika aku langsung menganggukkan kepala.
"Makasih, tapi sepertinya gue harus pergi, karena gue masih ada kelas sebentar lagi." aku baru berpamitan pada Axell, tiba - tiba ponselku berbunyi.
"Aku pergi kalau begitu," aku menoleh ke arah Axell, dengan rasa tidak enak aku menganggukkan kepala, lalu ia meninggalkanku.
Aku kembali menatap ponselku, sepertinya panggilan itu akan terus masuk ke ponselku jika aku tidak segera mengangkatnya.
Tampa berlama lagi, aku segera menjawab panggillan yang datang dari Mamaku.
"Hallo, Ma?"
3 jam kemudian ....
Terus terang tubuhku merasa lelah saat ini, rasanya ku ingin segera pulang, dan berbaring di atas tempat tidurku.
Tapi, aku masih harus mencari bahan untuk tugas sekolah. setelah kelasku selesai. dan itu membuatku rasanya ingin prutasi.
Ketika tiba di tokoh buku, kulihat banyak pengunjung yang berdatangan. kulihat sebuah rak memiliki buku yang aku cari, aku langsung menghampirinya.
Saat aku hendak mengambil buku itu, ada tangan lain yang hendak meraih buku itu. refleks aku menarik tanganku.
"Ma-maaf, aku _ " aku kehilangan kata - kata, ketika melihat siapa sosok yang ada di hadapanku saat ini.
Papa Glen, ada disini?
"O-om sedang apa, disini?" ia tersenyum, lalu mengamatiku dari atas hingga bawah.
__ADS_1