Romantika Kisah Cinta

Romantika Kisah Cinta
Kenapa Tiba - Tiba


__ADS_3

Beberapa hari kemudian ....


Aku baru keluar dari kafe, ada aku melihat Jessica Dan Shintia. berdiri disamping mobil berwarna merah, mereka sedang bicara.


Aku mengedap - endap, agar bisa mendengar lebih baik.


"Mana tanggung jawab, lo?" tanya Shintia, sambil menatap tajam ke arah Jessica.


Tanggung jawab? tanggung jawab soal apa?


"Tanggung jawab? jangan bicara seenaknya, tanggung jawa apa?" Shintia tampak memajukan langkahya ke arah Jessica, sementara ia terlihat tidak mengenal rasa takut saat menghadapi Jessica.


Sungguh tidak nyaman menyaksikan mereka berpengkar, tapi rasa penasaran mendorongku untuk tetap berada disana, setidaknya aku harus mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.


"Lo bisa bicara seperti itu, setelah berhasil membuat persahabatan gue, dan Alexa hancur? berengsek!!" tanpa peringatan, Shintia mendorong Jessica dengan sangat kasar, hingga membuatnya jatuh ke lantai.


Saat Jessica ingin bangkit, Aku mendekati keduanya yang tengah bertengkar hebat itu. sambil menepukkan kedua tanganku.


Aku menatap keduanya bergantian, seolah menikmat pertengkaran keduanya.


"Mungkin lain kali gue harus rekam kali ya, biar gue bisa terus menikmat pertengkaran kalian barusan." ucapku, dengan senyum miring tanda penuh kemenangan.


"Xa, lo liatkan, gue _ "


"Simpan aja apa yang lo mau bilang ke gue, karena gue sama sekali nggak tertarik buat denger apapun dari seorang penghianat kayak lo, Shintia." selaku, setelah mengatakan itu aku pun pergi meninggalkan keduanya.


Aku berdiri depan pintu mobilku, dan siap untuk masuk. tapi sesuatu yang masih menjanggal dihatku, membuatku belum ingin memasuki mobilku.


Tak lama setelah menarik nafas untuk menenangkan diri, aku masuk dan berlalu dengan mobilku.


40 menit kemudian ....


Aku berjalan menuju pertemuanku dan Axell, dan membicarakan tentang pernikahan kami.


Saat setelah semua yang terjadi, aku tiba ditempat pertemuan saat jam di tanganku, menunjukan pukul 5 sore.


Lelah, tapi aku bahagia bertemu dengan Axell. karena ia selalu mempunyai cara dia sendiri, untuk membuatku merasa menjadi lebih baik.


"Kalau gitu, biar aku urus semua rencana pernikahan kita, ya," ujarnya.


"Tapi kan _ " Axell menempelkan jarinya kebibirku, membuatku seketika bungkam. aku menatap pantulanku, di mata Axell.


"Aku nggak mau kamu kelelahan, mengertikan?" tanyanya, meski keberatan aku tetap tak bisa membantah perkataannya.


Begitu selesai, Axell mengantarkan aku pulang.


Sekarang aku berada di pakiran, aku berdiri tak jauh dari Axell yang sedang membukakan pintu mobil untukku. Tak lama Axellpun melajukan mobilnya.


Keesokan harinya ....


Ketika jam istirahat makan siang ....


Aku selesai mengirim pesan ke Axell. Kemudian aku mengecek jika saja aku melupakan sesuatu. kemudian meninggalkan kantor dengan mobilku.


Aku menutup pintu pintu mobilku, lalu langsung berlari kecil menuju ke kamar.


Aku tidak mau membuat Axell menungguku.


Aku tiba di taman, dan menemukan Axell belum ada ditempat kami seharusnya kami bertemu.


Tak lama seorang berdiri di belakangku, lalu menyodorkan buket bunga di hadapabku, aku tak menyangka hal itu.


Aku sudah biasa dengan Axell yang memberikan bunga, karena ia selalu mengirimnya akhir - akhir ini ke kantorku, tapi hari itu entah kenapa rasanya lebih spesial.


Kami berdua mengesampingkan hal lain, dan saling menikmati kebersamaan kami masing - masing.


"Kamu nggak mau, menerima bunga ini?" aku tersenyum, lalu menerima buket bunga itu dari tangan Axell.


"Oh ya, tunggu sebentar." aku menatap ke arah punggung Axell, yang belari meninggalkanku, tak lama ia kembali dengan coklat di tangannya.


"Coklat?" tanyaku, ia hanya mengangguk.


Tiba - tiba Axell meletakkan tangannya dengan lembut diwajahku, dan menggunakan ibu jarinya untuk membersihkan sesuatu di sudut mulutku.


Aku merasakan sentuhan tangannya, entah ia ada sesuatu. Aku merasakan ada sesuatu, tapi aku tidak tahu apa itu.


Ia tersenyum kepadaku, tapi senyumannya tak seperti biasa yang sering aku lihat.


Ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya, sesuatu yang ingin sekali ia katakan. tapi sulit untuk ia ungkapkan.


Kami saling tatap satu sama lain, lalu lanjut berjalan.


Setelah berjalan beberapa menit, aku melihatnya datang ke arah kami. Itu Sean dan ....


Jessica?


Kenapa mereka bersama? dan kenapa terus ke arah kami?


Ada apa sebenarnya?


Aku bertanya - tanya mengapa Sean bersama Jessica, tapi aku merasa akan merasa akan mendapatkan jawabannya segera.


"Hallo, Axell sayang ... " ucapnya dengan nada menggoda, sementara aku menatap malas.


"Hallo Alexa, coba tebak gue sama siapa?" aku memilih mengabaikannya, dan saat itu Axell tampak serius menatap ke arah Sean.


"Sean, selingkuhan lo, kan?" aku bisa menerima apapun yang ia katakan, tapi ....


Bilang Sean adalah selingkuhanku, dan didepan Axell. itu benar - benar sudah keterlaluan, karena secara tak langsung ia secara terang - terangan ingin merusak hubunganku dengan Axell.


"Oh ya? selingkuhan ya .... " Axell berjalab ke arah Sean, dan berdiri tepat di hadapan Sean.


Aku tidak mengira akan melihat Axell seperti tak senang melihat Sean, Ketika aku melihat sorot tajam dari matanya.

__ADS_1


Sekilas aku merasa cemas kalau mereka akan bertengkar, tapi hilang dalam sekejab.


"Sayangnya ... gue lebih percaya sama calon istri gue, di banding sama lo, Jessica." setelah mengatakan itu, Axell meraih tanganku, lalu membawaku pergi menjauh dari mereka berdua.


Setelah selesai dengan di taman, Axell mengantarku kembali ke kantor. Dan kembali bekerja.


Malam harinya ....


Aku segera masuk ke kamar mandi, setelah aku memasuki kamarku, rasanya lebih rileks setelah menyegarkan diri dengan mandi.


Aku butuh waktu untuk mengeringkan rambutku, kemudian tiba - tiba aku mendapat pesan chat ucapan selamat malam dari Axell.


Aku tersenyum menatap ponselku, seraya. memikirkan tentang hubunganku dengan Axell yang menurutku sangat aneh.


Aku berharap itu tidak bersipat sementara, dan berlangsung selamanya.


Kemudian pikiranku melayang ke arah berbeda.


Aku memikirkan tentang bagaiamana Jessica, begitu berniat menyingkirkanku dari kehidupan Axell.


Aku ingin menjadi lebih kuat lagi, aku mencoba memikirkan rencana untuk menghadapi Jessica.


Aku segera memikirkan masalah itu, lalu bergegas mengeringkan rambutku, lalu pergi tidur.


Keesokkan paginya ....


Selagi aku bersiap, aku aku mendengar ketukkan pintu di kamarku.


Aku harus merapikan barang - barangku sebelum membuka pintu, jadi aku buru - buru untuk membuka pintu.


Aku berjalan ke arah pintu, dan membukanya. Dan menemukan Mama dan Papa disana.


Hanya saat aku menatap keduanya, aku bisa melihat betapa mereka ada yang ingin di sampaikan.


"Sayang, ada yang ingin kami sampaikan." aku sebenarnya tahu, tapi aku ingin mendengar langsung dari mereka.


"Kamu tahu perusahaan Papa di New York sangat membutuhkan Papa, jadi ... "


"Bagaimana pernikahan kamu nanti, dilangsungkan di New York?" aku terdiam karena kehilangan kata - kata, untuk satu itu aku tidak tahu.


Menikah di New York sebenarnya tak masalah bagiku, tapi bagaimana dengan Axell?


Apa ia akan setuju?


"Sayang?" aku baru saja memirkan jawaban, tapi aku kembali dibuat tersadar.


"Ma, biar Alexa bahas hal ini dengan Axell." mereka mengangguk setuju.


Saat di depan rumahku, baru saja aku melangkah keluar dari rumah. aku mendapati sosok Axell tengah menungguku.


Axell berdiri dihadapanku, mencoba mencaritahu apa yang terjadi.


"Sayang, kamu baik - baik aja, kan?" tanyanya. aku menatap Axell, berpikir sesaat apa yang harus yang aku lakukan.


"Sayang?" tanyanya lagi.


"Tapi ... memang ada yang ingin aku katakan." ucapku, ia menatapku penuh tanya ke arahku.


Aku tidak menyangka akan menceritakan segalanya saat di mobil, itu sebabnya sepanjang jalan ia tampak berpikir.


Setibanya dikantor Axell tersenyum kearahku, sebelum akhirnya aku keluar dari mobilnya dan memasuki kantor.


Waktu berlalu dengan sangat cepat, dan sudah waktunya untuk makan siang.


Aku menuju ke mobilku, dan menemukan Axell sudah berada di depan mobilku. aku segera pergi menghampirinya.


"Kita pergi sekarang?" aku mengangguk, lalu Axell membawaku masuk ke dalam mobil. kami pun pegi bersama.


Tak terasa waktu berlalu lebih cepat, saat kami mebghabiskan waktu bersama setalah jam pulang kerja.


Kami menuju ke sebuah restoran, tiba disana kulihat meja sudah dihiasi oleh bungan, dan lilin.


Tapi restoran tampak kosong tak ada pengunjung sama sekali, bisa aku tebak Axell di baliknya.


Semua makanan tampak lezat, dan kami menikmati makanan kami. dan bicara tentang semua yang terlintas di pikiran kami masing - masing. karena itu kami makin saling mengenal satu sama lain.


Dan aku senang bisa selalu bicara dengan Axell, ia pengertian, dan pendengar yang baik.


Kami sedang duduk dijendela yang ukurannya sedang, dan kami sedang mengamati pemandangan diluar.


"Alexa, sebenarnya ... ada yang ingin aku katakan," aku menatap bingung ke arahnya. Axell tampak menyusun kata - kata.


"Soal pernikahan kita ... " nada Axell terdengar serius, aku tampak memandang Axell seakan khawatir dengan apa yang ia katakan.


"Bagaimana ... kalau kita, memepercepat pernikahan kita?" aku tertegun, aku tidak tau harus menanggapi seperti apa.


"Mempercepat?" tanyaku, ia mengangguk ragu.


"Iya, karena Papa kamu, akan segera kembali new york, Mama kamu sudah mengatakan segalanya, Alexa."


"Sebelum kamu cerita, waktu itu di mobil," sambungnya.ku hanya bisa diam sementara aku hanya bisa diam.


"Untuk itu, aku ingin menanyakan sesuatu," ujarnya. aku diam menunggunya ia katakan selanjutnya.


"Kamu ... nggak keberatan, kan? kalau kita mempercepat pernikahan kita?" tanyanya. aku tampak memikirkan jawaban yang akan aku berikan.


Aku tidak ingin menjauh lagi darinya, setelah berbipir selama beberapa saat. aku mentanyatakan keberatanku. ia tersenyum, aku anggap ia senang dengan jawabanku.


****


Malam itu, butuh waktu lama untukku agar bisa tidur, karena aku memikirkan Axell.


Lebih tepatnya, pernikahanku dengannya yang tinggal menghitung hari.

__ADS_1


Hingga tanpa aku sadari hari sudah pagi, dan aku sama sekali belum bersiap untuk ke kantor.


Aku buru - buru menuruni anak tangga, hingga Mama tiba - tiba menghadang jalanku.


"Mama?"


"Mau kemana, kamu?" tanyanya.


"Ke Kantor, ke _ "


"Kamu kan mau menikah 4 hari lagi, jadi nggak perlu ke kekantor, mengerti kan?" aku hanya mengangguk, tak berani membatah.


"Yaudah, Mama kedapur dulu." aku mengangguk, sementara Mama mulai berjalan ke arah Mama.


Tiba - tiba ponselku berbunyi, ternyata ada notif chat dari Agatha. dan setelah kubuka ternyata isinya ...


Xa, gue mau balik ke New york malam ini


Kenapa tiba - tiba?


Aku langsung bersiap menuju kebandara, saat Mama menghampiriku aku berpamitan tampa menjelasakan kemana aku akan pergi.


Setibanya dibandara, aku berhambur mengelilingi bandara mencari keberadaan Agatha.


Tak lama aku mendapatinya, tengah berdiri sambil memainkan ponselnya. aku datang menghamprinya.


"Agatha." panggilku, gadis itu menoleh. ia tampak terkejut melihat aku mendatanginga.


"Alexa, lo ngapain disini?" tanyanya, aku tak langsung menjawabnya. aku mengamatinya.


"Lo kenapa tiba - tiba mau balik, ke New York?" tanyaku, ia menatap penuh heran ke arahku.


"Lo kenapa balik, tanya?" aku mengehela nafas.


"Sampai jumpa Alexa, kita pasti bertemu lagi kok," ujarnya. entah kenapa aku merasa ada yang berbeda darinya.


"Tha, lo baik - baik aja, kan?" tanyaku, dengan tanya cemas.


"Gue? gue baik, kenapa lo nanya gitu?" tanyanya. aku terdiam.


Tak lama panggilan untuk penumpang yang akan memasuki pesawat terdengar, gadis itu bersiap untuk pergi.


"Gue harus pergi, Xa." ucapnya sambil tersenyum.


"Semoga lo selalu bahagia, ya." ucapanya saat itu aku merasa ada yang menjanggal dari kata - katanya barusan.


"Sama dia tentunya," ujarnya. saat ia melihat kearah sisi lain. aku mengiku arah pandangnya. aku terkejut disaat yang bersamaan mendapati Axell berada di sana.


Axell? kenapa dia bisa ada disini?


"Sampai jumpa." ucapnya. aku hanya tersenyum. seraya menatap punggungnya yang perlahan menghilang dari pandanganku.


Aku tak pernah membayangkan, kalau malam ini akan akan terjadi perpisahan seperti ini.


Tapi kenyataannya telah terjadi, dan aku merasa ada yang menjanggal dalam waktu yang lama.


Axell mendekatiku dengan raut wajah tenang, sementara aku masih mengedalikan segala emosi yang ada dalam diriku saat ini.


"Axell, kenapa kamu disini?" tanyaku pada akhirnya.


"Aku mau kasih sesuatu, nggak sengaja liat kamu pergi di antar sama sopir kamu, jadi aku ikuti sampai kesini," jelasnya.


"Aku antar kamu, pulang?" aku menghela nafas, lalu menganggukkan kepala.


Sepanjang perjalanan aku tak banyak bicara, pikiranku di penuhi tanda tanya kenapa Agatha tiba - tiba pergi.


Setelah mengantarku pulang, masuk sebentar untuk berpamitan dengan kedua orang tuaku, lalu pergi.


****


H-3 sebelum pernikahan ...


Aku bangun keesokkan paginya, oleh suara dering dari ponselku.


Masih sentengah tidur, aku meraih ponselku, dan melihat panggilan dari Axell.


Aku memberi pesan chat, setelah itu aku bangun dan pergi ke kamar mandi. aku harus bersiap - siap untuk bekerja.


Tak lama, saat aku tengah bersiap. Aku mendengar ketukan halus di pintuku.


Kemudian aku mendengar suara memanggilku dari balik pintu.


Aku membuka pintu, dengan wajah terkejut.


"Mama? Gaun ini?" belum sempat aku bicara lebih lanjut, Mama menyerahkan Gaun pernikahan itu ke tanganku.


"Mama mau kamu kenakan ini, saat pernikahan kamu nanti, kamu mau kan?" aku mengamati Gaun yang indah itu, aku tersenyum menatap Mamaku, lalu. mengangguk.


Aku pergi ke lemari pakaianku, untuk meletakkan gaun pernikahan itu. kemudian secara bersamaan kami pergi sarapan ke ruang makan.


40 menit kemudian ...


Aku sedang berjalan menuju taman, hingga tanganku di tarik membuatku refleks menoleh.


"Axell, ngagetin aja!" seruku dengan nada kesal. ia tertawa, membuatku berdecak sebal.


Hatiku tenang kembali, aku selamat ....


"Cie marah, ngambek?" tanyanya, aku menatap malas ke arahnya.


"Haha ... lucu?" ia tertawa kecil, lalu menarik tubuhku mendekat, dan kemudian memelukku.


"Jangan marah dong sayang, kan sebentar lagi kita menikah, hmm?" aku tetap mengabaikannya, ia harus tau kalau mau aku bicara ia harus membujukku terlebih dulu.

__ADS_1


Tak lama menarik tanganku, membawaku kesebuah pohon yang cukup teduh untuk kami berlindung. dan memiliki pemandangan yang indah.


Siapa sangka, kalau Axell diam - diam sudah menyiapkan piknik untuk kita berdua.


__ADS_2