
Ia berjalan tenang menghampiriku, ia tampak menganggukkan kepala. lalu tersipu malu.
Sementara aku terhanyut dalam pikiranku sendiri, gadis itu menjentikkan jarinya di depan wajahku. Sehingga lamunku menjadi pecah dan buyar.
"Maaf kenapa lo, tiba - tiba diam?" tanyanya, aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.
Dia menatapku dengan raut wajah serius, sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Lo nggak suka dengan, Deon kan?" aku tertegun, dan langung menoleh ke arah Shintia.
Ia ikut menatapku dengan tatatapan tak pernah aku lihat, lalu melipat menghela nafas, lalu mendekat ke hadapan Shintia.
Aku menyentuh pundak Shintia, sambil tak melepaskan pandanganku darinya. sementara ia melirik tanganku yang berada di pundaknya, lalu berbalik menatapku.
"Gue ikut bahagia, kalau lo bahagia." ucapku, Shintia tampak masih menatapku. aku menyingkirkan tanganku dari pundaknya.
"Lo nggak usah khawatir, gue nggak akan merebut Deon dari, lo." ucapku menyakinkan, kulihat ia mulai tersenyum.
Dia sepertinya ingin membalas ucapku, tapi tiba - tiba Deon menghampiri kami. Entah sejak kapan ia menyadari keberadan kami. ia menatap kami berdua bergantia. kulihat Shintia mulai salah tingkah.
"Kalian disini?" tanyanya, kami berdua menganggukkan kepala bersamaan.
"Mau main voli, pantai?" tanyanya, saat aku ingin menjawab. Shintia lebih dulu menyela.
"Boleh, kami mau." ucap Shintia, kulihat shintia begitu bersemangat. apakah ini karena Deon?
Hari itu, kami bersama - sama menikmati waktu di pantai dengan bermain voli, dan sedikit bermain air.
15 : 00
Masih di pantai
Aku menatap Shintia yang sibuk dengan ponselnya, lalu tiba - tiba memikirkan apa yang terakhir dia katakan, otakku berputar seolah berusaha mencari maksud dari ucapannya.
Tiba - tiba sesuatu terlintas di benakku.
Apa yang terjadi, kalau Deon tak membalas cintanya?
Aku duduk di kursi yang tersedia, sambil menyandarkan kepala, seolah kembali berusaha mempertimbangkan perkataannya.
Tiba - tiba rencana mendekatkan keduanya, muncul di kepalaku.
Aku mulai mencari ide, agar bisa mendekatkan keduanya.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain, kulihat Deon dan Shintia tampak mengobrol dengan akrab. melihat itu aku terpikiran sebuah rencana.
3 jam kemudian ....
__ADS_1
Ketika aku baru keluar dari kamar mandi, tiba - tiba suara ponselku terdengar. sontak aku langsung meraih ponselku, kulihat nomor tak di kenal di layar.
Kuabaikan panggilan itu, lalu kuletakkan ke tempat tidur. ponselku kembali berdering. meski awalnya ragu, aku tetap menjawab telpon tersebut.
"Hallo?" suara yang terdengar tampak familiar. Deon?
"Hai Xa, ini gue Deon." ternyata dugaanku benar, sekarang aku kebingungan harus bagaimana.
"Deon? ada apa?" tanyaku, entah kenapa kini merasa jantungku berpacu sangat hebat. mingkin karena kini aku memikirkan perasaan Shintia jika ia mengetahuinya.
"Tidak ada, tadi lo ngilang, jadi gue pikir lo kenapa napa." ucapnya. aku bingung harus menanggapi bagaimana.
"Gue .... baik - baik aja, kok, makasih sudab bertanya." ujarku, diam - diam aku berharap Shintia tidak akan salah paham jika suatu saat ia mengetahuinya.
"Bagus kalau lo nggak kenapa - napa, tapi _ "
"Deon maaf, tapi gue mau istirahat." ucaoku, dengan perasaa. tidak enak karena sidah membohonginya. dan disisi lain aku juga merasa tidak enak dengan Shintia.
"Oh, ok." ucapnya. mendengar itu aku tambah merasa tidak enak.
"Dah." setelah mengucap kalimat penutup, aku menutup telpon. lalu meletakkan kembali ponselku.
Cinta itu .... kenapa serumit ini?
***
Keesokan harinya ....
"Aaa!" entah bagaimana Jessica terjatuh, dan kepalanya mengeluarkan darah. dan itu tepat di depanku.
Seluruh tubuhku seakan tak dapat di gerakkan, seluruh mata kini melihat ke arah kami. entah kenapa firasatku mengatakan ini bukan hal yang baik.
"Xa, lo jahat banget, sih?! salah gue apa?!" kini semua yang ada disana mengerumuni kami, sekilas kulihat Jessica tersenyum miring.
Apa yang sebenarnya ia rencanakan ?
Aku mencoba menghampiri Jessica, tetapi rupanya, dosen sudah lebih dulu datang dan menerobos kerumunan.
"Ada apa, ini?" tanyanya, lalu melihat ke arah Jessica. melihat dosen ada disini, aku sadar aku berada dalam masalah.
Beberapa saat kemudian ....
Di ruang dosen
Jessica menceritakan apa yang terjadi kepadanya, lebih tepatnya kebohongan.
Ia mengarang cerita, kalau aku mendorongnya hingga membuat kepalanya berdarah.
__ADS_1
Dosen itu menatap tajam ke arahku, aku benar - benar habis sekarang. kulihat Jessica menyadarinya.
"Maaf Alexa, kamu terpaksa kami skors." ucapnya, aku tertegun aku sulit menerima keputusan itu.
"Tapi, Pak." saat aku ingin menjelaskan, dosen itu menyela.
"Kalian boleh pergi." ucapnya. ia mengabaikanku, dengan terpaksa aku keluar dari ruangan dosen.
Melihatnya disampingku saat ini, rasanya aku ingin menjambak rambutnya. tapi aku menahan diri mengingat aku tengah berada di depan ruangan dosen.
Ia hendak pergi, dengan wajah sumringa. sebelum ia benar - benar pergi aku lebih dulu menahannya. ia sadar ada yang aku bicarakan kepadanya.
"Maksud lo apa, ngelakuin ini?" tanyaku, dengan mengkerutkan dahi.
"Aduh ... jangan marah dulu, ini kan baru awalnya," ujarnya dengan ekpresi santai. lalu tiba - tiba ekpresinya berubah.
"Semua belum berakhir, kalau lo masik mengusik gue dan, Axell." saat itu aku sadar, ia begitu terobsesinya dengan Axell.
Ia pergi begitu saja, padahal masih ada yang ingin aku bicarakan. semula aku pikir, Jessica tak akan melakukan hal yang sejauh ini. jika sudah seperti ini, apa yang harus aku lakukan?
Aku pikir dia akan membiarkan aku tenang, ternyata tidak. ia tetap mengusik kehidupanku.
14 : 00
Ketika tiba di kafe, aku langsung memesan makanan. tetapi kali ini aku seorang diri, karena aku ingin memenangkan diri.
Tiba - tiba seseorang menyentuh pundakku, aku refleks menoleh ke arahnya.
"Axell?" ia tersenyum kecil, lalu duduk di kursi di depanku.
"Lo sedang apa, disini?" tanyaku. ia mengabaikan pertanyaanku. lalu berbalik bertanya.
"Apa lo, di skors?" tanyanya, aku tekerjut Axell bisa mengetahuinya. namun aku berusaha bersikap baik - baik saja.
"Lo tau, dari mana?" ia hanya diam, aku menghela nafas berat.
Seharusnya aku tidak menanyakan hal itu, sudah pasti berita itu sudah bereda di kampus.
"Maaf, ini pasti gara - gara, gue." aku tak tak tau harus menjawab apa. aku hanya bisa diam.
"Alexa, ada yang gue ingin ceritakan." aku menatap bingung kearah. ia seperti hendak merangkai kata. lalu ia menceritakan apa yang terjadi dengannya, dan Jessica. aku tidak tau harus merespon seperti apa.
Axell meraih tanganku, untuk di genggamnya. aku tertegun seraya menatap ke arahnya.
"Xa, mulai sekarang percayakan urusan Jessica ke gue, gue akan balas semuanya." sontak hal itu membuatku terkejut, memangnya Axell mau melakukan apa?
"Axell, lo mau melakukan apa?" ia tak menjawab pertanyaanku, ia hanya tersenyum.
__ADS_1
****
Ig : S_anastayha