
Tepat di pertengahan hari, ku lihat mentari semakin terik namun kehilangan panasnya, ia berderu bersama hujan yang turun dan angin yang memporak porandakan awan biru mengganti hitam saling berkombinasi. Sepatuku basah olehnya, dan tanganku terasa sedikit hangat bercampur basah oleh cuaca yang tak berkomitmen.
Entah ia ingin menunjukan panasnya, atau lahar hawa bekunya sebab air hujan. Aku menatap langit secara dalam, berusaha berdialog untuk mengetahui isyaratnya, seperti ia sedang sembunyikan sebuah rahasia, entah duka yang mendalam, atau pikirannya yang memang tak lagi dapat berjalan seiring musim?.
Aku terus menunggunya sedikit tenang untuk dapat berjalan pelan di bawah rintik hujan tanpa hembus angin terlalu kencang, sadar bahwa badanku menguap memanas sebab beberapa hari tak dapat tertidur pulas.Ku lihat jam tangan yang menunjuk pada angka 5, sadar bahwa ia tak akan berjalan sebab telah lama pensiun dari edaran waktu. Ya, jam tangan ini telah lama berhenti berdetak, hanya raganya saja yang masih ku bawa-bawa.
Aku menatap langit sekali lagi, dan berusaha berbicara sekali lagi, untuk memelankan angin yang ia bawa bersama rintik hujan.
"Badanku mulai tak bersahabat, Aku perlu untuk lekas pulang." Jelas ku padanya
**** Angin mulai perlahan menjadi pelan ****
Dalam hitungan menit, ku lihat awan putih di persilahkan masuk untuk menahan laju dingin dari hujan, dan mentari sedikit mengambil alih bagian langit.
**** Aku mendongak ke atas langit ***
Aku tersenyum padanya lantas bangkit dan mulai menjalankan kaki menapak di atas jalan yang tergenang air hujan. Aku berjalan sedikit cepat berusaha untuk sampai rumah segera mungkin, seperti ada yang ku rindukan ketika hujan turun, aku ingin menghabiskan momen ini dengan segelas teh hangat yang di taburi 1/4 gula putih, lantas akan ku hirup-hirup uap hangatnya.
*****
Sesampainya di rumah.
Aku melempar senyum ke atas langit sekali lagi,
sebelum memasuki rumah. lantas langsung menuju kamar sesampai di rumah, ku letakan gelas sedang berwarna putih dengan dekor gambar kaktus untuk tempat teh yang sedang ku buat.
Aku mulai merebus air di teko listrik.
Ku perhatikan teko listrik bekerja dengan sangat cepat, menguap mendorong uap panas untuk memberitahuku bahwa airnya sudah siap untuk di seduh.
Aku tersenyum dan menuangkan airnya ke dalam gelas yang berisi teh tumbuk dan gula 1/4.
Warnanya Oren dengan bau khasnya yang membuat hatiku menjadi sangat teduh. Ada rasa yang kerap kali datang saat hujan turun, dan membuatku candu menunggu warnanya yang oren menjadi kemerahan. Pertanda sudah cukup mumpuni untuk di nikmati.
Aku menghabiskan waktu melihat tehnya berubah warna kemerahan gelap, sembari melihat hujan di tepi jendela kamar, alunan alam di langit batavia yang meneduhkan, seakan jadi obat rindu pada waktu yang terjeda entah sebab apa.
***Hening, teduh****
Bibirku terus tersenyum dan perlahan menikmati teh yang segar di teguk. sembari melihat gerombolan awan di giring angin memasuki senja yang berkolaborasi dengan mega di langit batavia.
__ADS_1
Di balik kaca jendela kamar, aku melihat langit yang amat sempurna, hujan yang bersanding dengan mentari dan angin yang berusaha memasuki kamar lewat celah celah ruangan.
Aku melihat Wajahnya yang meneduhkan di sana,
seakan tersenyum dan berbicara banyak hal padaku
yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.
Aku mencoba menawarkan teh buatan ku dan Ia hanya membalasnya penuh senyum hangat yang selalu ku dapat saat momen seperti ini terjadi.
*** Waktu berjalan seakan sangat cepat ***
Mataku mulai melihat warna oren langit bermekaran,
Memberi tahu bahwa senja akan segera datang. Dan Hujan, masih terus bertahan dengan rintiknya.
Lantas seperti biasanya...
Aku menulis tanggal setiap kali langit menurunkan hujannya, seakan aku tak ingin ia pergi dalam jeda waktu yang lama, yang entah mengapa setiap kali aku berusaha mencatatnya, hatiku di penuhi sesak yang tak jelas.
Lantas mengundang sendu secara mendadak di kedua mataku hingga hujan benar benar berhenti.
Menunggu dan mencatat tanggalnya kembali saat datang tepat di langit batavia.
Hujan hanya tinggal rintiknya yang kecil dan gemas, lantas aku juga memperhatikan arah langit, dimana bayangnya juga mulai memudar seiring hujan menarik diri dari derasnya yang lumayan lama. Aku melambai ke arahnya memberi senyuman rindu.
Bersyukurnya Aku seorang diri kali ini,
tak perlu menjelaskan banyak hal pada orang lain yang mungkin mulai bertanya tentang apa yang ku lakukan.
Sebab mereka tak akan melihat ini, ini hanya terjadi pada kamuflase rinduku yang dalam, dan terproyeksi saat hujan turun.
Ia pergi perlahan, Wajah ibu yang mendamaikan, Senyuman yang hangat juga dekapan yang mulai aku lupa. Aku segera mengambil jaket marun rajutannya, lantas cepat-cepat memakinya, memperlihatkan bahwa Aku tidak pernah berhenti merindukannya.
Dan berharap ia menemui ku kembali.
Aku tersenyum amat manis ke arahnya dengan Jaket rajut buatannya, Aku melihat matanya teduh, lalu memicingkan matanya pelan tanda bahwa ia haru,
meski tak terlihat menitikkan air mata, namun aku senang melihatnya, meski dalam benakku saja.
__ADS_1
*****
Dan kini, hujan benar-benar undur diri dari langit Batavia.
Mempersilahkan 🌈 pelangi kota metropolitan menjadi bak sanjungan yang indah memukau mata.
Tepat di belakang layar adalah para mega senja yang berbaris rapi menuju malam, Membuat Sore tak biasa dengan senjanya. Akan sulit di lupa sebab di sandingkan dengan cantiknya hadiah seusai hujan. Pelangi yang nampak cantik dan menghilang dalam waktu cepat.
Lantas mega semerah saga di langit Batavia,
mulai merekah, memasuki malam tanpa paksa, tersenyum tanpa jeratan, yang dari mata biasa ku ini, terlihat sangat sempurna.
Seni cipta Alam yang luar biasa.
Seperti membawa banyak harap dan kesempatan yang hakiki, bagiku dari jiwa yang sedang mencari jati diri dalam kelabilan luar biasa.
Aku Melambaikan tangan pada langit,
Menyatakan bahwa kita adalah teman tanpa bicara. melihat parade awannya yang indah, menghilang memasuki malam membuat bintang yang menakjubkan. Dan kini, langit benar-benar berganti warna, tak ada lgi senja semerah saga di sana, kini malam telah tiba.
***
Aku membuka jendela kamar yang sedari tadi ku tutup, mempersilahkan angin atau mencoba mencari bintang yang tenggelam usai hujan tadi. Sepertinya malam akan terlihat amat pekat, jadi ku putuskan untuk pergi mandi dan segera merebah pada pundak malam.
Aku ingin terlelap lebih cepat.
Tepat dalam dekapan malam, dan di temani aroma khas tanah usai hujan yang menenangkan pikiran.
Kali ini aku tak begitu lapar, jadi ku putuskan untuk mengunci kamar dan merebah sembari menatap banyak hiasan bintang di atap langit kamarku yang menggantung cantik, membuatku tersenyum sendiri dan berdialog pada imaginasi yang ku buat sendiri. Mengusir kesadaran bahwa sebenarnya aku hanya seorang diri dalam kamar.
***Hening***
Sampai pada akhirnya...
Rasa kantukku menyambangi dengan begitu perhatian.
Datang lebih cepat untuk membawaku tertawa di dunia mimpinya yang menakjubkan. Membuatku bersenang senang di sana, berbincang banyak hal dan merasa ramai.
Aku tertidur.
__ADS_1