
Tidak lagi menjadi penting tentang bagaimana kata dapat di pahami oleh siapa.
Sebab ini tentang bagaimana lingkup tetaplah memiliki batas.
Dirimu paling mahir dalam memahami.
Usiaku tidaklah lagi memiliki banyak sisa
Hari kian datang dan mengambil haknya
Aku mengetahuinya dan memberinya senyum
Pada akhir waktu aku akan mengikutinya.
Banyak hal yang tidak dapat di tuliskan dengan seksama, kadang ia terselubung atau malah sama sekali tak sempat tertulis, artinya waktu memang terbatas, di penghabisan kata aku hanya ingin mendapati takdir yang ku tulis.
Aku sudah lupa tentang bagaimana menyambangi, sebab itu, tentu siapa dari sana tak akan menemui kembali, Aku jauh di sana, terlihat sibuk untuk sesuatu hal yang kadang di tertawai atau meneriaki sebab rindu, atau tak ingin melihat aku terlepas jerat.Hanya saja aku keras kepala dan menjadi tuli pada hal tak lagi seirama. Aku hanya berbalik arah dan melambai semakin jauh.
Aku hanya ingin ia datang memeluk, bukan meminta maaf, Aku rindu peluknya bukan ingin mendengar maaf, aku tak pernah menghiraukan itu sama sekali, bisakah ibu kembali? menghilangkan sesak yang mengikat hati, dan menjadi udara surgawi tiap aku menarik nafas.
Lantas pagi memberi udaranya untuk seorang aku bangun dari malam, sadar bahwa mimpi hanya berdurasi dan embun adalah pasti tanda memulai hari. Entah dengan sayap atau berjalan, entah aku siap atau tidak. ia tidak perduli.
Aku menyadari malam telah usai, kini pagi kembali datang dengan catatan rutinitasnya, melihatku berjalan keluar rumah setiap hari dan kembali memasuki rumah lantas berdiam di kamar.
Kakiku terasa tak ringan untuk memulai pagi, rasanya aku tak ingin pergi kesana, aku ingin sendiri, melihat langit dan berharap hari ini akan turun hujan, musik terdamai dari alam untuk seorang aku yang terbilang terbiasa menyendiri. Aku merasa benar benar sendirian, Siapa yang ku punya saat ini kecuali Tuhan?, Tuhan beri banyak hal yang bahkan aku belum pinta, memberi penuh suka rela untuk melihatku tetap optimis tanpa merasa putus asa.
Sepertinya aku tak ingin pergi ke sekolah, aku ingin tetap di kamar, aku hanya ingin menikmati es kopi di pagi hari, meneguknya habis dan membuatnya lagi. Entah sudah seduhan keberapa ini? Aku meminum banyak kopi pagi ini, dan ku perhatikan mataku terlihat lebih hitam, efek begadang semalam.
__ADS_1
Ku menghirup udara pagi dalam dalam, kamar terasa lebih sejuk meski batinku masih terasa sesak.
Waktu menunjukan pukul 7 pagi tanda bel masuk sekolah sudah di bunyikan dan aku masih dengan baju tidurku duduk di meja kamar, aku benar-benar tak ingin masuk kali ini, tak ingin melihat siapa pun.
Ku putuskan untuk menyusuri anak tangga mengambil es batu lebih banyak untuk stok di kamar, ku kira rumah sudah benar benar sepi ternyata mataku mendapati ayah sedang berjaga tepat di bawah anak tangga. matanya menatapku keheranan dan seperti ingin menyanyaiku banyak hal.
"Belum berangkat sekolah?" tanya Ayah seketika
"Tidak." jawabku singkat sembari melewatinya
"Kenapa?" tanya Ayah tanpa basa basi
"Entah." Jawabku enteng sembari mengambil es batu dalam kulkas
"Kenapa?" tanya Ayah sekali lagi dengan nada sedikit tinggi
"(Ku lihat Ayah kesal sembari mengganti chanel Tv berkali kali dengan remote sembari terus bergantian menatapku)"
"Permisi Yah" ujarku ingin menaiki tangga
Tiba tiba Prakkk.....
Ayah membanting remote tv keras-keras ke lantai, Aku benar benar kaget di buatnya, lantas aku menatap mata Ayah hampa.
"Kenapa tidak masuk sekolah?" Tanya Ayah lebih menukik
"Arum Malas." Jawabku penuh kesal
__ADS_1
"Masuk, ganti baju, tidak apa apa kamu telat." ucap Ayah cepat sembari terus menatapku
"Kenapa Ayah marah?" tanyaku balik
"Arum yang kenapa?" Tanya Ayah membalikan tanyaku
"Arum hanya terlihat melakukan sedikit kesalahan, hanya sedikit, tapi temprament dan emosi Ayah luar biasa." gerutuku kesal
"Coba lihat seberapa besar kesalahan Ayah? pernah Arum membentak atau meneriaki Ayah dari jarak dekat?" jelasku berkelanjutan
"Memaafkan kesalahan kecil lebih mudah Ayah, di banding mencoba setiap hari memaafkan kesalahan fatal dari orang yang tidak pernah merasa bersalah, apa sampai sini Ayah bisa paham?" tanyaku dalam sembari menatapnya.
"(Ayah memalingkan tatapannya dariku)"
Aku tidak lagi menghiraukan Ayah, ku pacu kaki dan berlari ke kamar sembari membawa sebaskom kecil es batu untuk di buat es kopi. ku tutup pintu kamar dengan cukup keras dan menguncinya.
Air mataku menetes, isak tangisku pecah di balik pintu. Aku hanya membuat kesalahan kecil, yang biasa orang lain lakukan, hanya saja ini terlihat amat fatal dan seakan kerap terjadi secara terulang.
Ku berjalan tegap menaruh baskom kecil berisi es di atas meja, ku dudukan diriku di kursi dan kembali menyeduh es kopi. Air mataku tak berhenti mengalir, tak ada yang ingin di ungkapkan kecuali air mata yang sedari tadi berdesakan ingin keluar. kalutku seperti membara, marahku seakan terlepas dan mengundang pilu lebih dalam, aku hanya memandangi gelas berisi kopi dengan gambar pohon kaktus kecil. Ingatanku terlempar jauh pada masa yang tak pernah ingin ku sambangi, dan ini membuat pundakku terguncang lebih hebat lagi.
Aku mengelus dada dan mengatur nafas. mencoba tersenyum dan mengontrol darah yang sempat mendidih. Aku terus meminum es kopi yang terasa sejuk di teguk, laksana penyejuk batin yang bergejolak hebat, Aku masih mengingat hal barusan yang Ayah lakukan, hal sepontan yang membuatku nanar seketika dan berbicara luar biasa dalam kepadanya. Aku berusaha menahan, hanya saja tetap saja terjadi.
Aku mencintainya, hanya saja ini terlihat amat tak sejalan dengan cara bicara kami setiap hari, banyak yang benar-benar tak sinkron dan menjadi hal penuh tanya tiap orang melihatnya.
Aku terus memegangi gelas yang dingin, dan meneguk isinya berkali kali sampai habis dan ku seduh lagi, menambahkannya es lagi, agar terasa amat dingin.
Moodku terasa membaik sebab meneguknya, Hatiku sdikit meredam tiap kali meneguk es kopi secara terus menerus. meski terlihat amat berlebihan pagi ini, dengan terus membuat es kopi tak seperti biasanya. Aku menghela nafas panjang saat ku tahu air mataku mulai berhenti menetes, lantas mendatangi kasur untuk merebah dan berharap hujan akan lekas datang, aku merasa sedikit bosan, aku ingin malam lekas sampai dan mengheningkan kota.
__ADS_1
Rasanya aku ingin pergi tidur seharian meski menyadari banyak es kopi yang ke teguk dan bangun di esok pagi tanpa mengingat sakit atau merasa terbebani tentang banyaknya hal yang bisa ku ingat secara random dan terus berulang demikian. Pergi tidur dan merasa sembuh setelah meneguk banyak es kopi.