Ruang Rumpang

Ruang Rumpang
Tempat Pulang


__ADS_3

Pada detik waktu yang enggan berhenti, sudah ku utarakan maksud hati dengan sejelas jelasnya.


Sudah ku bicarakan segalanya dengan sangat sederhana dan tidak bertele tele. Lantas bermuara pada satu jawab yang ku inginkan bisa di gapai. Tapi dunia seakan memberikan fana yang sangat nyata, enggan bernegosiasi apakah nyata sudah setara pada ke fanaan yang kerap kali ku lihat. Lelah menjadi celah yang kuat merubuhkan pertahanan tak seberapa, akhirnya lunglai dan terlihat tidak berpenghuni.


Di usia yang tidak lagi kembali muda.


Aku menemukan jalan yang tidak dapat ku pijak atau sekedar bisa cepat berlari untuk meneruskan banyak cita. Dunia kian menjadi gelap pada suasana hati tidak menentu. Harapan yang tangan tidak dapat kuasai saat ini. kecuali doa yang terus memantau meski dari kejauhan terus berusaha menjagaku stabil.


Merebah pada bumi.


Milik Tuhan semesta alam, melihat langit malam yang tak bersolek banyak bintang, tertutupi cahaya kota metropolitan yang ikut bersaing menjadi sinar malam.


Malam kembali datang, ada dekapan juga sesak yang tidak bisa ku tahan. Hari lalu yang tidak bisa di hapus lantas ketidak pastian seorang aku ingin menjalani hari dengan sempurna meski hanya 10%.


Aku menjadi tidak tahu arah, mereka sebut aku plin plan, bimbang dengan banyak pilihan tidak pasti. Mereka sebut aku terlalu pemikir. Namun bagaimana semua ini dapat terbentuk? tidakkah ini sebab mereka juga?


Inginku sederhana...


bawa ibu padaku, biar aku menjadi tahu arah seharusnya melangkah, bawa ia untukku agar lemah ku tidak leluasa menggerogoti batin. Duniaku sudah abu-abu , sepi setelah ia pergi dan amarah muncul setelah semua berlalu sampai hari ini. Hanya Tuhan yang ku Tahu tidak pergi. Namun aku tetap ingin ia ada. Teman bicara juga harap nyata yang mampu mendorong lumpuh ku kembali berjalan normal atau berlari dengan kencang.


Usiaku yang tidak lagi kembali menurun.


Keterpurukan ini datang tanpa permisi membuat gaduh hariku yang tak bernama. Entah bagaimana hari dapat berkompromi pada ku. Yang ku tahu ia hanya perjalanan yang datangnya tidak di pinta.


Aku merindukan ibuku.


Aku menginginkan ia kembali dan memelukku erat.


Banyak hal yang aku tidak mengerti tentang dunia ini. Ku pikir akan baik saja. Nyatanya berbanding terbalik 180° tidak baik-baik saja. Jadi apa yang harus aku laku kan?


Tidak kah waktu ingin menjadi lebih jinak?


Meski bukan aku pawangnya.

__ADS_1


Dunia akan tetap hening. Tidak memiliki irama apa pun. Yang ada adalah mataku yang menciptakan semua kenangan dari ingatan pikiran yang tertimbun. Aku mengingatnya setiap saat, Sampai pada remuk jiwa juga kalut batinku. Yang aku menyadari, bahwa ini membuat aku tidak memiliki hal untuk bisa berdiri.


Lantas bagaimana aku mampu berdiri?


Jika kekuatanku kini lemah sebab aku sendiri?


Teriakan itu kembali menghantui, suara pecahan piring juga teriakan memohon untuk menyudahi kian terngiang jelas di telingaku yang peka akan masa lalu. Apa yang salah pada cerita hidupku? Aku tidak memilih alurnya. Namun terasa sangat menyayat pilu.


Bisakah aku menjadi mereka?


Bagaimana jika kita bertukar posisi saja?


Aku seperti mulai tidak terima tentang bagaimana Tuhan beri cerita pada hidupku. Aku tidak memiliki hangat yang mereka miliki, aku tidak merasakan apa itu sapaan manis yang membuat seseorang merasa nyaman pada badai besar. Merasa mereka akan keluar dengan baik-baik saja. Aku yang benar-benar merasa kosong. Semua di mataku terlihat sangat abu-abu dan rumit.


Seseorang yang bisa mendekap, namun nyatanya aku yang menepuk bahuku sendiri untuk mengatakan kuat-kuat. Aku yang serba letih dan lemah.Terasa sangat rapuh dan terkikis habis pada keputusasaan yang terus berjalan masuk.


Duniaku seperti kota hujan tiap harinya, tanpa jeda untuk pelangi bisa sekedar menyapa. Meski hanya satu kedipan mata. Bukankah itu sangat cepat?


tapi sungguh tidak mengapa.


Ku tarik lemah yang selalu muncul.


Mencoba menyimpannya dalam dalam.


Mencoba memunculkan beberapa warna yang harusnya ada. Meski pilu juga sendu masih saja terlihat sangat pelik. Aku tidak paham mengapa rasaku terlalu seperti ini, rasanya tidak seharusnya seperti ini. Tapi aku sendiri tidak dapat mengerti tentang bagaimana waktu membawaku begitu jauh berkelana dan aku lupa bagaimana harus bisa pulang.


Tuhan, tentang apa saja yang hari ini ku jalani.


Aku merasa sangat getir, meski dalam renungan aku taj betapa engkau hangat mendekap. Namun aku memaksa untuk seseorang tetap hadir, seseorang tetap ada.


Aku membutuhkannya untuk duniaku yang terlihat sulit.


Mataku sudah sering basah sebab kesedihan yang tidak ada ujungnya. Aku merasa sangat lelah sebab banyak hal yang seharusnya tidak memiliki kendali akan diriku.

__ADS_1


Aku seperti di kendalikan waktu.


Diriku tidak kuasa mengambil alih hati dan semuanya.


Duniaku seakan kian tak sempurna. Tempat dimana aku ingin pulang, menjadi damai dan tidak lagi dalam kalut. Entah bagaimana semuanya dapat mengendalikan aku yang tidak cukup kokoh.


Bawa ia kemari.


Aku menginginkan Ibu kembali. Tidak kah cukup rasa takut setiap hari menghantuiku? Aku sudah cukup ketakutan tentang semua hal. Banyak hal yang yang terjadi tidak dalam batasnya. Aku menggigil sendirian. Mencoba mahir tapi tetap tidak dapat ku pungkiri bahwa aku begitu hancur. Andai saja semua dapat ku pilih. Mungkin akan menjadi berbeda tentang apa yang seharusnya dapat d jalani.


Malam kian larut.


Namun enggan membawa kantuk padaku.


Ia menyuguhkan air mata tiada henti, membuatku kehabisan cara tentang bagaimana dapat bernafas dengan lega selanjutnya. Aku menjadi sangat tidak konstan. Merasa semua terlihat sangat berantakan.


Seperti aku tidak akan memiliki hari esok. Aku yang sangat lemah dan tidak mampu berjalan dalam jarak terlampau jauh. Ini terasa sangat menyayat batin.


Hidup pada nuansa diri sendiri. Duka pun di pendam sendirian. Aku menjadi bosan pada suara isak tangis ku sendiri. Apakah tidak bisa esok mengganti tawa yang benar-benar sebuah tawa? bukan hal kekamuflasean?


Batinku terasa berat dan tertatih untuk bisa benar-benar merasa hidup yang sebenarnya, bisa memiliki banyak warna indah. Bukan hanya abu-abu yang tak kunjung berpelangi di usai hujan.


Mereka panggil Aku "Arum Nuray"


Nama yang indah sebenarnya, sebuah pemberian dari yang katanya mencintaiku tanpa syarat.


Aku hanya ingin pulang, menemukan tempat pulang dari peredaran hari yang sangat lelah dan pelik.


Pulang di pelukannya dan merebah pada pangkuannya yang sangat hangat.


Hei bu.


Kumohon jangan terlalu lama.

__ADS_1


Aku tidak yakin sekokoh apa yang sering ibu katakan.


__ADS_2