
Waktu membangunkan ku di pukul 2 pagi, dengan raga yang masih terasa letih dan ingatan yang juga belum tertata rapih.
Aku duduk di meja belajar dan mulai menulis sesuatu, bahwa hari ini sepertinya aku bangun terlalu cepat.
Ku lihat Handphone berusaha mencari bincang sepagi ini hanya untuk bisa tertawa kecil dan kembali terlelap.
Namun semua terlihat Offline. Dan yang ku lakukan hanya melihat foto pada galeri hp. Terlihat mengesankan dan menyenangkan.
Ku putuskan untuk kebawah dan menyeduh teh hangat. Dengan gula sedang serta meneguknya menjemput kantuk kembali. Sembari terus berbicara pada diri sendiri untuk bergegas tidur kembali.
Kini aku duduk di tepi ranjang, memejamkan mata sebentar dan menata badan merebahkan diri dengan semestinya, menatap langit kamar yang ku hiasi bintang.Indah namun juga menarik rindu yang jauh untuk mendekat. Sadar bahwa aku masih membutuhkan waktu tidur, aku menarik selimut yang hangat dan memejamkan mata sembari terus memeluk guling yang nyaman.
Berharap esok datang dengan segala sembuh yang cepat. Aku sungguh rindu hari-hari lalu.
Pagi buta kini, kian terang menduduki singgasana pukul 5 pagi, Ku putuskan untuk bergegas mandi dan mempersiapkan diri datang ke sekolah dengan harapan yang di biasakan bangun lebih awal di esok hari. Ini adalah hari yang mulai berjalan sangat cepat mengakhiri masa putih abu-abu ku yang sebentar lagi terpangkas waktu.
Sudah waktunya, kini memasuki Ujian kejuruan.
akan berlangsung selama 5 hari berturut turut.
Sepertinya ragaku jauh lebih siap, di banding jiwaku yang sedikit maju mundur dalam peredaran hari yang tetap berlanjut.
Hari ini, aku memakai hijab putih, dengan jaket warna kuning. Tepat sesaat akan membuka pintu rumah, aku mendapati Ayah dan wanita di sampingnya. Berdiri di hadapanku, tersenyum ramah tertuju ke arahku.
Aku membalasnya dengan sedikit kaku tanpa menyalami Ayah atau istri barunya.
"Arum berangkat dulu ya" Ujar ku nanar
"Sayang, Mama buatkan bekal, nanti di makan ya?" Ujar istri Ayah sembari menghampiriku
"Iya, terimakasih" Jawabku dengan senyum datar, lantas bergegas jalan meninggalkan rumah.
Jalanku seakan sedikit berat, entah mengapa jadi tidak ringan. Hatiku mendadak begitu sedih, air mataku berjatuhan tanpa permisi. Rasanya begitu sesak.
Namun mataku senang, sebab mendapati Ayah di hadapanku pagi ini. Akhirnya Ayah pulang, sebab sebenarnya aku sangat merindukannya.
Sesampainya di depan gerbang sekolah.
Aku berusaha menyeka rintikan air mata yang masih tersisa, memasang wajah baru untuk menutupi pertanyaan yang bisa saja di lontarkan.
Ingin rasanya lekas istirahat dan menemui sahabat-sahabat ku nanti, ku putuskan untuk langsung menuju kelas. Duduk di sana dan mencoba menata hati. Ruang masih sepi, kecuali untuk pertama kalinya, aku mendapati Afit jauh lebih awal dari kedatanganku.
Ia terlihat sangat bahagia hari ini, atau mungkin hanya kamuflase saja.
Ia mempersilahkan ku untuk duduk, lantas kembali melihatku penuh senyum.
"Boleh ku makan?" Tanya Afit melihat bekal yang ku tenteng.
"(Aku hanya mengangguk pelan)"
"Ayo makan berdua" Pinta Afit usai membukanya
"Habiskan saja, tidak apa" Jawabku pelan dengan senyum di paksakan.
Afit terlihat memakannya sembari memperhatikanku, ia terus menatapku sembari mengunyah tanpa bertanya.
Hatiku nanar, pikiranku entah berlarian kemana, air mataku tidak dapat di kendalikan, lantas aku menangis di sampingnya, di ruangan yang masih sepi.
Afit melihatku kebingungan, dan menghentikan aktifitas makannya. Ia hanya mencoba memanggil namaku berkali kali dengan lembut.
"Ada Apa?" Tanya Afit pelan
"(Aku hanya menggeleng dan makin tersedu-sedu dalam tangisan)"
"Jangan khawatir, tentang apa pun itu" Ucapnya mencoba menenangkan.
"Aku capek" ujar ku seketika
"Aku menjalani sesuatu yang tidak ingin aku jalani sebelumnya" Ucapku melanjutkan
*Suasana makin hening*
Yang terdengar hanya aku yang masih menangis pelan.
"Aku tidak ingin seperti ini, namun aku juga tidak bisa menjelaskan banyak hal. Aku ingin merasa biasa saja, tapi aku juga tidak mengerti kenapa kenyataanya, aku terlihat sangat rapuh" racau ku pada Afit dengan sesenggukan yang makin jadi.
"(Afit menepuk bahu ku sekali dengan pelan)"
"Tidak apa Rum, kenyataanya juga kamu sudah melakukan banyak hal yang menyenangkan juga"
Jawab Afit dengan sangat pelan-pelan
"Sebentar lagi anak-anak yang lain akan datang, kamu perlu menjeda tangis sebentar saja" Pinta Afit lembut
"Semua akan baik-baik saja" Ujar Afit mendamaikan jiwaku yang kalut
Aku berusaha lebih tenang kali ini, lantas menahan laju air mata yang masih berjatuhan meski sekedar rintik kecil. Mengambil nafas panjang dan mengatur posisi duduk dengan baik. Melihat Afit dengan matanya yang teduh, membuatku sedikit jauh lebih tenang lagi.
__ADS_1
Meski perasaan seperti ini, tidak dapat di perjelas lebih rinci melalui kalimat dengan ungkapan apa pun.
Tapi jika ini adalah suatu tempat,
maka ini adalah tempat tinggal yang paling layak untuk di tinggali, sebab di dalamnya, semua takut sirna dan muncul keberanian untuk terus membenahi.
Tiba mata pelajaran di mulai.
Sampai pada jam istirahat akhirnya tiba.
Aku memutuskan untuk tidak pergi ke kantin.
dan mengundang sahabat-sahabat ku berkunjung ke kelas. Menjadi tempat nyaman, sepi, ketika anak-anak yang lain harus pergi kebawah, menjadikan kantin amat riuh bergemuruh.
"Aku ingin di peluk" Ujarku tiba-tiba di hadapan mereka
"(Mereka saling tatap heran, lalu memelukku kemudian)"
"Apa ada yang salah hari ini Rum?" Tanya Mayang coba menyelidiki
"(Aku hanya menggeleng pelan )"
" Apa terjadi masalah Rum?" Tanya Nunu lebih tanpa basa basi lagi
" Tidak" Aku menjawabnya dengan spontan dan penuh senyum.
"Apa aku boleh menginap di rumah kalian?" Tanyaku sedikit membuat kaget mereka
"Tentu boleh" Jawab mereka hampir bersamaan
"Nanti akan aku pikirkan, akan menginap di rumah siapa?" Ucapku sekali lagi
"Belum mau cerita sekarang Rum?" Tanya Sabil mencoba benar-benar mencari tahu yang terjadi
"Tidak ada masalah" Jawabku sekali lagi dengan senyuman di bawah rata-rata
Kami saling mengobrol dan mulai tertawa sebab kekonyolan yang coba di ciptakan. Aku menyadari itu dan tanpa sadar membuatku jauh lebih sembuh dari perasaan pagi tadi. Aku telah lupa, bahwa aku juga memiliki mereka yang luar biasa. Seharusnya aku jauh lebih senang, tanpa harus terasa sesak yang amat luar biasa di palung hati.
Mereka tertawa amat tulus, lantas menjadi teman bicara tanpa memikirkan cela.Mereka terbaik yang ku punya.
Hingga sesampainya jam pulang sekolah tiba.
Aku memutuskan untuk menginap di rumah sabil.
Hingga kami semua pergi ke rumah sabil untuk sekedar bercengkrama dan mereka pulang ke rumah masing-masing kecuali aku yang memutuskan untuk menginap.
"Iya Rum, boleh, kamu ke atas dulu ya, Sabil mau kupas mangga buat kita makan nanti malam" Jawab Sabil penuh riang
Sesungguhnya aku amat senang mengetahui semua sahabatku akan mengizinkan ku untuk tinggal.
Namun, sepertinya aku sedang ingin di rumah Sabil.
Dan akhirnya aku memutuskan untuk merebah di kamarnya dengan seragam yang belum di ganti.
Rasanya aku lelah, ingin terlelap sebentar. Mengundang kantuk untuk berkunjung secara tiba-tiba.
Sesaat kemudian setelah berhasil terlelap
yang terasa amat sebentar, tanpa mimpi apa pun.
Aku terbangun sebab suara mama Sabil yang mencoba membangunkan ku dengan lembut di kamar,
memintaku untuk mandi dan makan malam di bawah.
Ku pikir aku hanya sebentar tertidur, ternyata lama juga.
Bahwa kenyataanya sekarang adalah pukul 7 malam.
Aku hanya nyengir ke arah Mama Mitha, dan Sabil.
sembari bergegas mandi dan mengganti baju yang sudah di siapkan sabil untuk semetara ku pakai di rumahnya.
Sebab aku tak memiliki persiapan apa pun.
Usai mandi, aku menggerai rambutku yang sebahu, dan memakai bandana merah yang ku bawa di tas.
Aku mendengar obrolan mama mitha dan Sabil amat seru, lantas aku jadi semangat untuk lekas bergabung di meja makan.
"Maaf ya Ma, Arum capek" Ucapku mengutarakan membuka pembicaraan
"Mau tidur juga tidak masalah, asal perutnya sudah di isi" Jelas mama Mitha sembari mengambilkan nasi dan lauk untuk ku juga Sabil
"Iya Rum, habis ini nanti tidur lagi tidak masalah" Ujar Sabil sembari tertawa renyah
"Asal kamu tau Rum, Hobi Sabil di rumah itu tidur" Ledek mama Mitha ke sabil anaknya sembari memicingkan mata menggoda
"(Aku sedikit tertawa memperhatikan juga mendengar celoteh di meja makan yang riang )"
__ADS_1
*Sesaat waktu makan tiba*
Tanganku sedikit berat untuk menyendok makanan dan air mataku mulai menggenang, sesak itu datang lagi.
Aku mulai menunduk lama dan meremas tangan, sampai pada akhirnya aku menyadari mama mitha duduk dekat di sebelahku, dan Sabil berdiri di belakangku memegangi pundak ku.
"Sayang, ada apa?" Tanya Mama Mitha lembut
"(Aku tidak menjawab dan hanya makin keras dalam tangisan)"
" Arum belum cerita apa-apa Ma, dari masih di sekolah sedikit beda" Jelas Sabil pelan ke mama nya
Seketika itu Wajahku di ke atas-kan oleh Mama Mitha,
ia berusaha memutar tubuhku yang tiada tenaga untuk bisa berhadapan dengannya, Ia hanya tersenyum lalu memelukku, rasanya seperti kucing liar yang di pungut dari jalanan, yang lepek terkena air hujan, dan di bawa ke rumah lantas di beri kehangatan tiada tara.
Nyaman, hangat, lantas aku makin meluapkan semua kekesalan ku, seakan ini adalah tempatnya untuk aku bisa mengutarakan semua sesak yang tiada henti.
Aku merasakan lembutnya mama Mitha membelai rambutku, seketika gemuruh ku di pelan kan olehnya, seakan badai yang berkecamuk dalam jiwaku di jinakkan olehnya, tangannya seakan memiliki magic, yang mampu membuat sekejap kalut jadi tertata rapih pada masing-masing tempatnya
Hingga kemudian aku terasa lebih tenang.
Mama Mitha mulai membuka pembicaraan yang pelan dan sangat hati-hati.
"Mama dulu juga pernah seperti kamu, tiba-tiba menangis" Ujar Mama membuka pembicaraan
"(Aku hanya memperhatikan matanya dalam)"
"Bahkan kita menangis, tanpa tahu sebab pasti juga kekesalan yang jelas kepada siapa?" Lanjut Mama sembari menepuk bahuku
"(Aku mulai tersenyum ke arahnya, sembari dengan air mata yang terus mengalir)"
"Sepertinya, Arum terlalu banyak menyimpan rindu dan sebuah rasa ingin, atau merasa lelah pada hal yang tidak pernah ingin Arum jalani" Jawabku mulai bercerita
"(Mama hanya menepuk bahuku, sembari mengangguk)"
Suasana mulai sedikit hening
"Arum , capek Ma, Arum lelah, letih" Racau ku sedikit cepat penuh kekesalan sembari memukul kursi kayu yang ku duduki
"Rasanya Arum mau mati saja" Tukas ku dengan suara sedikit tinggi dan air mata yang semakin deras
Mama mitha lekas merengkuhku dan Sabil memeluk ku dari arah samping dengan ikut menangis kecil.Ia yang terkenal susah untuk menangis hari ini benar-benar terdengar sesenggukan di telingaku.
"Capek" racau ku pelan di pelukan Mama Mitha dan sabil.
Mama tak bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, namun ia memberi kehangatan yang seharusnya aku dapat kala itu, impas rasanya.
"Arum, ingat, kita yang harus bisa mengendalikan apa yang nanti akan kita jalani, mau bagaimana pun jalannya, kamu harus lewati itu dengan baik untuk sampai apa yang kamu inginkan." Ujar Mama mitha menguatkan
"Kamu boleh datang kapan saja kesini, Pintu rumah Sabil terbuka untuk kamu juga teman-teman yang lain." Lanjut Mama lagi
"Kamu harus makan terlebih dahulu, sebab Sabil bilang dari sekolah kamu tidak mau makan apa pun." Jelas mama sembari menyuapiku makan
"(Aku tak menyahut dan hanya mengunyah suapan dari mama mitha)"
"(Aku melihat senyum mama mengembang, melihatku mengunyah hasil masakannya)"
"Nah, kalau seperti ini kan lega Sabil juga Rum" Celoteh Sabil sembari kembali duduk di tempat makannya dan melahap makanannya sendiri.
Aku masih tak banyak bicara, namun air mataku mulai mengering, di gantikan senyum mulai bermekaran.
"Jangan iri ya!?" Ledekku pada Sabil, sebab aku mendapatkan suapan dari Mamanya
"Sudah sering" jawabnya sembari penuh meledekku
"(Mama hanya tertawa geli melihat tingkah kami)"
Kalut itu mulai menghilang, batinku terasa senang mendapati suapan dari tangan seorang ibu, hal yang hampir ku lupa.Dan kini aku kembali mengingatnya dengan ingatan baik tanpa cela.
Usai makan, Aku dan Sabil membantu membereskan piring, lantas kembali ke kamar untuk sekedar berbincang. Hingga pada akhirnya, Mama Mitha ikut nimbrung dalam celoteh anak muda hingga akhirnya kantuk mulai datang mengambil alih waktu istirahat.
Mama Mitha menyelimuti mai berdua, mengecup kening Mitha, dan ya, keningku juga.
Hatiku bergetar, rasanya benar-benar meruntuhkan sepi ku, menggantikan banyak celah sunyi menjadi tempat paling hangat. Aku tersenyum lebar menyadari hal ini berlangsung beberapa detik.
Lantas tinggallah aku dan Sabil di dalam kamar yang mulai sedikit berbicara dalam kantuk.
"Sabil, terimakasih ya" Ujar ku ke arahnya
"Sama-sama" Jawab Sabil sembari tersenyum manis ke arahku dan mulai pergi ke dunia mimpi.
"Sepertinya, kamu sangat beruntung memiliki ibu seperti mama Mitha" Ucapku dalam hati sembari tersenyum ke arah Sabil yang mulai pulas.
Malam kian makin dalam, membawa larutnya.
Hingga kantuk, menunggu ku lama untuk membawa pergi beristirahat. Kini, memang aku harus mulai menata kembali asa dan rasa sakit.Hingga sudah ku putuskan, untuk terus mengulangi lagi, memperbaiki lagi asa, meski harus terasa kalut berkali kali. Sebab ini adalah jalannya.
__ADS_1
Aku berusaha mengerti. Dan kini, aku benar- benar merasa kantuk yang mulai merayap, hingga aku benar-benar terlelap.