
Kata yang menarik, mampu membuat banyak orang yang membaca terkesima, namun juga kadang diri sendiri tersulut kalut sembunyi sembunyi.
"Rum cerbungmu lolos" ujar nunu berlarian menghampiri
"(Aku menatapnya kosong)"
"Jangan bercanda" timpalku ringan seakan tak percaya
"Lihat, majalah sekolah sudah terbit, karyamu di sana Rum, lihat ini" jelas nunu sembari membuka halamannya penuh bahagia
"Serius?" tanyaku datar
"Rum makan-makan kita, karyamu lolos" teriakan suara mayang dari sebrang
"Hai, bayar dulu majalahnya Nu" jawab wintari tak kalah heboh
"Ini bukan mimpikan?" tanyaku mencoba tenang
"Judulnya Pelancong tawa oleh Arum Nuray" Baca sabil tiba tiba dengan nada keras.
"Itu karyaku" ucapku lirih
"Tentu saja Rum" Ucap Mayang mengagetkan yang ternyata telah sampai di dekatku dengan memelukku bangga
"Ternyata kemampuan menulisku tak begitu payah ya?" racauku senang dengan mata penuh binar
"Masuk terbaik cerita minggu ini Rum, kamu di kontrak sampai ceritanya habis untuk isi laman cerbung" ujar mayang bersemangat
"Tentu perut kita akan aman ya" celetuk wintari spontan
"(Tawa merkea meledak renyah)"
"(Aku hanya meresponse dengan mata haru juga senang tak biasa)"
"Terimakasih bu, terimakasih diriku" ucapku dalam batin sembari menepuk nepuk pundak bagian depan.
Mereka terbaik, alasan untuk aku tetap berdiri hari ini, meski yang lain acuh, hanya saja mereka amat mengaspresiasi, ada yang hanya diam, ada sebagian yang hanya melihat sinis, bahkan hanya sekedar ingin berkomentar akhirnya membeli majalah berisi karyaku yang amatir.
Tapi hatiku tetap senang, angin surgawi seakan datang penuh sopan mengibaskan rasa yang akan membuatku berkecil hati.
Mayang, Nunu, Wintari, Sabil
menggandengku hangat menuruni anak tangga menuju kantin, pelipur lapar dan dahaga. Bukankah ini amat romantis? lebih tulus dari cerita cinta putih abu abu yang kadang tak ada dasar? Mereka aman menggenggam, tidak datang sebab alasan dan akan tetap menjadi teman terbaik meski mengetahui bagian terburuk watak masing-masing. Betapa aku sangat beruntung di beri Tuhan mereka, lebih dari ikatan seorang teman.
Kantin mendadak jadi heboh, banyak adik kelas yang memberi selamat dan teman sekelas laki laki yang jadi amat puitis mentlaktir makan.
"Harusnya Aku yang tlaktir" ujarku dengan nada haru pada Eason
"Kali ini kita berdua yang tlaktir, hadiah untuk karya yang berulang kali ikut seleksi majalah akhirnya di up paling bagus minggu ini" jelas Hapidi amat santai
"Tapi aku takut, setelah ini bayarannya jadi lebih" jelasku cepat
"Kalau itu jangan di bahas Rum, kamu memang dapat di andalkan setiap pelajaran" Jawab Eason cepat
"(Kami tertawa)"
"Terimakasih ya." ucapku pelan
"Iya" jawab mereka hampir bersamaan
"Eitss tapi yang di tlaktir 5 orang ya." jelasku cepat
__ADS_1
"Tenang" Jawab mereka cepat
"Bagus" jawabku spontan penuh lawak
"Tapi titip salam ya Rum untuk Sabil" pinta mereka hampir bersamaan
"Ohhhh" ujarku manggut manggut sembari mengerutkan dahi
"(Mereka hanya tertawa meringis sembari mencuri curi pandang)"
"Ada Bakso di dalam mangkok ya?" tukasku cepat
"Bukan, tapi ada udang di balik bakwan Rum" jawab mereka cengengesan
"(Aku hanya geleng-geleng mendengar kejujurannya)"
"(Mereka hanya memberi senyum salah tingkah sembari melambai lambai ke arah sabil)"
"(Aku hanya menggeleng gelengkan kepala sekali lagi)"
Usai memesan bakso untuk 5 orang lengkap dengan es teh manis, Aku menghampiri mereka sembari memperhatikan wajah sabil yang masam. Aku hanya senyum senyum padanya sembati memperhatikan Hapidi dan Eason melambai tangan pada sabil yang tak di balas.
"Jangan makan bakso kali ini ya" Ujarku meledek sabil
"Memang kenapa Rum?" tanya Nunu cepat
"Spesial tlaktiran dari Hapidi dan Eason" jawabku penuh geli dan tawa yang renyah
"(Wajah sabil memerah, masam tak karuan mendengar ledekanku)"
"(Kami tertawa penuh ledek)"
"Jatah makan tuk sabil bisa untuk kita makan, bagi ramai-ramai" ide mayang cepat
"(Aku tak suka mereka)" jelas sabil pelan namun penuh dengan nada tajam
"Tak apa, asal niat baiknya mentlaktir makanan jangan di tolak" jawabku cepat sembari tertawa
"Dapat salam dari mereka" ujarku pada sabil sembari melirik Hapidi & Eason seakan mata mereka memantau salamnya yang harus tersampaikan.
"(Aku mengacungkan jempol ke arah mereka tanda salam sudah di sampaikan)"
"(Wajah Arum semakin berwarna tak karuan sebab kesal dan salah tingkah)"
"(Kami hanya tertawa renyah memperhatikan sabil di sukai teman satu kelasku)"
Suasana amat ramai penuh tawa, aroma masakan yang menggugah selera, membuat demo perut untuk bisa cepat cepat menyantap makanan. Sudah 15 menit menunggu tapi yang datang baru es teh manis
Kami saling pandang dan melakukan hal konyol sembari jahil menyolek nyolek bahu untuk memperhatikan Sabil yang sedari tadi diam saja. Kaki kami saling bersenggolan untuk membuat gaduh sembari waktu menunggu bakso datang.
"Mari makan" Ucap Wintari tak sabaran yang lebih dulu melahap bakso masih penuh kepulan asap panas.
"Sabar makanya" celetuk Sabil sembari mengambil mangkuk dekat wintari
"(Aku, Nunu, Mayang hanya tertawa geli menyadari betapa konyol dan absurdnya mereka)"
"Rum? karena kali ini di tlaktir hapidi dan Eason, bagaimana kalau besok kita makan lagi, tapi kamu yang tlaktir" goda Sabil memanja memasak mimik wajah imut
"Iya" Jawabku manis
"Ada maunya" ledek Mayang cepat sembari menatap tajam mata Sabil
__ADS_1
"Tapi kamu juga mau kan yang?" pangkas Nunu cepat
"(Mayang hanya meringis geli)"
"(Kami tertawa bersama)"
Suasana penuh tawa, jalanan seakan jadi apik tak ada cacat, gundah memohon undur diri tak tega kembali singgah, dan tawa sekarang menduduki tahtanya. Membuat penduduk batin damai sentosa.
Bukankah ini sangat indah? romansa kasih pada sebuah tawa teman-teman dekat, yang sering ku namai sahabat.
Jam istirahat usai, Aku harus berpisah dengan mereka saat memasuki kelas, sebab kami lain jurusan, Aku melambai pelan ke arah mereka yang memasuki kelas lebih awal, dan Aku harus menaiki tangga lagi untuk sampai kelas.
Mata penuh sanjungan ku dapati awal memasuki ruang kelas, sebagian lagi sinis yang tak beralasan. Lantas sebagian acuh seakan tidak mengetahui apa pun.
Seakan tiba tiba aku amat mahir menebak ekspresi seseorang "Hahahaha" tawaku sedang dalam batibn.
Aku menghela nafas pelan sembari melangkah duduk, menunggu pelajaran selanjutnya dapat berlangsung cepat.
"Cie, akhirnya lolos" ujar Afit membuka pembicaraan
"Terimakasih ya" jawabku senang
"Aku duduk di sebelahmu ya Rum?" pintanya sembari langsung duduk
"(Aku hanya tersenyum kecil)"
"Sebab ini hari spesialmu, jadi kali ini aku duduk di sini, besok di belakangmu lagi seperti biasa" jelas Afit dengan gaya cool, cuek.
"Setiap hari juga tak apa" jawabku singkat tanpa melihatnya
"Masa?" Timpalnya serius
"(Aku hanya mengangguk)"
"Enak saja, tidak gratis Rum" Jawab Afit penuh tawa ledekan
"Wilayah siapa, siapa juga yang perlu membayar?" jawabku cerdas penuh ledekan
"Yeee jangan begitu." jawab Afit cepat di iringi tawa nya yang tak pernah terdengar lucu
"(Aku hanya tersenyum elegan ke arahnya)"
"(Dia memandangku penuh ledek)"
"Berdua lebih baik" Bisik Afit pelan dengan gayanya penuh kharismatik
"(Aku tertawa dalam batin, namun nampak tak menghiraukannya)"
Dia adalah anak laki laki pindahan 3 bulan yang lalu.
Ia berkharisma dingin serta nampak menawan.
Waktu seakan menawan banyak sendu kali ini, hingga aku menjadi senang, lantas menyadari ia masuk list orang yang ku lihat setiap hari saat memasuki kelas.
Matanya yang tajam dan lebih banyak diam, hanya saja saat mulai bicara, seakan aku tidak ingin melewatkannya, hatiku seketika menjadi normal dalam kadarnya.
Aku menyadari bahwa ia sesekali memandangku lekat-lekat, lantas kembali menyapu ruangan dan sesekali kembali memperhatikanku sebentar. Aku berusaha tidak menyadari atau tertarik untuk melihat matanya juga.
Aku tersenyum kecil sembari mengalihkan perhatian mataku pada buku yang ku bolak balik, yang pada dasarnya tak ada tulisan di dalamnya yang ku baca. Hanya tampak wajahnya yang menawan dan eksotis.
Hari yang rapih dan berdasi, kelolosan yang tak di sangka, dan rasa senang menyadari matanya tak lepas dari memperhatikanku, amat telihat rapih dan membuatku terasa ringan untuk bisa melangkah kaki setelah ini.
__ADS_1
"Terimakasih Afit Arimba" ucapku dalam hati penuh teduh.