Ruang Rumpang

Ruang Rumpang
Senin Tanpa Ku


__ADS_3

Hari libur yang indah, penuh bahagia yang mendatangkan angin surgawi lantas membuatku terus ingin tumbuh dan berkembang. Mereka telah pulang sore kemarin lantas rumah kembali menjadi sepi.


Ada rasa yang aneh ketika peralihan ramai dan hening sedang berlangsung. Mencoba di selaraskan secara perlahan.Waktu menunjukkan pukul 5 Pagi, Aku telah bangun sebenarnya untuk melakukan persiapan pergi ke sekolah, namun badanku seperti menolak, entah ia sedang menyelaraskan kondisi sebab sebelumnya aku belum pernah sebahagia hari kemarin.


Hahaha rasanya konyol, tapi mungkin saja, atau memang aku sungguhan letih.Sebab tertawa juga perlu tenaga.


Waktu terus bergulir dan suhu badanku kian mulai meninggi, aku teringat mereka sembari melihat jepretan foto di Hp, seketika aku senang. Kali ini Aku tidak sanggup untuk membangunkan badanku sendiri. Rasanya benar-benar tidak enak badan lantas pusing mulai merayap cepat.


Untungnya Aku selalu sedia minyak angin di bawah bantal, lantas aku berusaha mengoleskan di perut dan leher serta sesekali mencoba menghirupnya atau mengoleskannya di hidung tipis-tipis untuk merasa jauh lebih baikan.


Sayup sayup ku lihat jam mulai menunjukan pukul 6 pagi lewat 10 menit, waktunya untuk lekas bergegas mandi dan lain halnya mempersiapkan diri pergi ke sekolah.


Hari yang terlihat normal, tidak juga panas namun tidak terlihat ada mendung yang akan datang juga. Aku berjalan santai dengan rambut terurai, aku menemui Afit dan hanya tersenyum. Aku melihat sahabatku lantas melambai padanya dan langsung menuju kelas, Aku duduk seperti biasanya dan Afit menghampiriku.


**** Angin terasa melamban, ikut memperhatikan senyumnya****


Ia hanya tersenyum dan menyodorkan makanan buatannya, kali ini pisang coklat yang ia bawa.


Makanan yang ku suka juga. Ia duduk di sebelahku dengan penuh kharisma. Ia menatapku dalam tanpa bertanya.


Lalu pelajaran di mulai.


Hari ini ada 3 Mata pelajaran namun ada satu guru yang tidak hadir, jadi setelah ini akan kosong sampai nanti istirahat tiba. Aku tersenyum senang, sebab kali ini kepalaku mulai terasa lebih pening.


*** Suara langkah kaki guru yang bersahaja mulai terdengar memasuki kelas****


Kali ini pelajaran sejarah lantas aku mendengarkan dengan senang hati sembari mencatat.


Jika di beri waktu bertanya, aku akan menggunakan sebaik mungkin.


Lantas pelajaran Usai begitu cepat, dan suara sorakan kelas terdengar heboh saat selangkah saja guru keluar meninggalkan kelas.


- Mulai riuh-


"Hooooooooo"


"Yeahhhh"


"prak, prak" suara meja di tabuh dengan tangan yang amat riang gembira, seakan ini adalah kemenangan yang di tunggu-tunggu.


Aku tersenyum geli melihat mereka.


Afit menoleh padaku dan memberikanku Jaketnya.


"Pakailah" Katanya lembut


"(Aku hanya mengangguk dan memakainya)"


"Kamu sakit?" Tanyanya


"Sepertinya begitu" Jawabku spontan


"Teman-teman mu tahu hal ini?" Tanyanya lagi


"Belum, tapi tiba waktu istirahat nanti, pasti mereka akan tahu fit" Jawabku menjelaskan


"(Afit mengangguk dengan lembut)"


-Tiba-tiba suara ramai menjadi hening dan tenang-


"Pisangnya enak" puji ku padanya memecah hening


"Tentu saja, setelah ini kamu minum dan kembali tidur ya" Ucapnya dengan tenang.


"Iya, tapi sayangnya hanya sampai waktu istirahat nanti saja" ujar ku padanya dengan senyum merekah


Ia memandangiku lama....


"Tidak perlu, hari ini kamu kan sedang tidak masuk sekolah Rum?" Tanya Afit


"Maksudnya bagaimana?" Tanyaku kebingungan


Aku melihat sekeliling dan diriku, Aku menyadari bahwa aku masih mengenakan baju tidur yang sama, dan memakai jaket Afit yang tebal.


Aku tersenyum ke arah Afit lama.


Mencoba Ingin memastikan beberapa hal.


"Kenapa pak guru tidak memarahiku saat mengetahui aku memakai baju tidur Fit?" Tanyaku mulai berdiskusi


"Entah" Jawab Afit cepat


"Apa kita sedang dalam mimpi?" Tanyaku hati-hati


"(Afit menggelengkan kepala lantas tersenyum kecil)"


-Aku mulai deg-degan tak karuan-


"Aku mulai berfikir apakah ini nyata atau mimpi?


Ku coba mencubit tanganku dengan keras namun tak ada rasa sakit dan sedikit membal.


Ku coba berkali kali sampai pada akhirnya, Aku yakin bahwa " ini mimpi" , "Aku sedang bermimpi"


Aku menatap sekeliling.


Menyadari bahwa, artinya ragaku masih tertidur pulas setelah panas mulai meninggi.


Aku mulai sedikit panik karena artinya "aku masih tertidur".


"Ini jam berupa Fit?" Tanyaku padanya


"Sebentar lagi jam istirahat" Jelasnya lembut di barengi suara bel tanda istirahat berbunyi, suara riuh anak-anak mulai terdengar dan aku berjalan diantarnya dengan mengenakan jaket Afit. Telinga ku terasa pengang dengan suara bel yang terus berbunyi lama berkali-kali sampai pada akhirnya aku terbangun.


Ini benar-benar mimpi. Mataku terbuka seketika tanpa beban, dan ternyata bunyi bel berkali-kali adalah bunyi dering HP yang terus berbunyi. Ku lihat jam Pukul 12 siang lewat 30 menit. Waktunya pulang sekolah, dan Mayang menelepon tanpa henti.


****


"Halo" Jawabku dari sebrang dengan suara lirih


"Kamu sakit Rum?" Tanya Mayang


"Iya" Jawabku singkat


"Aku ada di depan rumah dengan Nunu" Jelas Mayang melanjutkan.


"Iya, Tunggu sebentar" Jawabku pelan, lantas mematikan HP dan bergegas kebawah membukakan gerbang.


Sesampainya di kamar.


Nunu duduk di tepi ranjang, dan Mayang duduk di meja belajar ku, Aku tersenyum kikuk ke arah mereka sembari meneguk air putih sebab rasanya begitu haus.


"Ku pikir, tadi aku berangkat sekolah" Ucapku membuka pembicaraan

__ADS_1


"Bahkan aku juga bertemu kalian semua melambaikan tangan waktu sebelum masuk kelas" jelas ku melanjutkan


"Bahkan aku sempat belajar dan makan pisang coklat buatan Afit" imbuh ku berkelanjutan


"Lalu Aku sedikit ragu sebab aku sadar di sekolah pakai baju tidur, entah ini mimpi atau bukan dan bel sekolah bunyi terus tanpa henti Nu, Yang, tak tahunya saat aku bangun, itu bunyi dering HP panggilan masuk Mayang."


Cerita ku dengan runtut sembari tersenyum kecil di pojok bibir.


Mereka hanya menggelengkan kepala dengan senyum Penuh kasih lantas, Mayang mencoba meletakan tangannya di atas kepala dan leherku


"Ya Allah Rum, Panas sekali badan mu" celetuk Mayang sedikit keras


"(Aku hanya diam dan tersenyum pepsodent)"


"Ini Ada titipan dari Afit, tapi kami belum buka, coba kamu buka Rum" Ujar Nunu


"Pisang Coklat" ujar ku histeris


"Sama seperti di mimpi, serius." Kataku meyakinkan


"Cieee " Mereka meledekku habis habisan


"Di makan dulu pisangnya, tapi kita bagi yang Rum, setelah itu lebih baik kamu di kerik" ujar Nunu sembari melirik kotak makanan


"Aku tertawa pelan, tentu di bagi Nunu" Jawabku lembut


"Yee dasar Nunu, padahal aku tidak minta tapi ikut jadi alasan." Gerutu Mayang sewot


Aku coba memakan pisangnya dengan lahap dan mencoba menurut pada dua sahabatku yang kali ini menjadi dokter, selang makan 20 menit juga sembari mengobrol, Aku mulai prepare untuk di kerik.


"Tapi aku malu" Ujar ku pada mereka


"Pasti juga sakit rasanya" Ucapku menjelaskan


"Tak Apa Rum, asal di tutupi saja rapat-rapat, kami juga tahu batasan meski sesama perempuan tidak boleh saling melihat" Jelas Mayang menenangkan.


"Syukurlah" Jawabku lega


Mayang mengerik sisi kiri ku, Nunu mengerik sisi kanan ku, dan semua tidak semulus sesuai pemikiran, Aku malah tertawa geli terkekeh-kekeh tak berhenti sembari juga menahan sakit saat mereka mulai mengerik.


Benar benar heboh, sebentar sebentar minta tolong untuk berhenti hingga ku lihat mereka sedikit kesal.


Aku benar-benar berusaha bertahan namun benar-benar geli juga sakit yang di rasa.


"Rum ayolah kerjasamanya" Ujar Nunu mulai kesal


"Geli juga sakit Nunu, tapi aku coba tahan" Ujar ku menenangkan, meski pada kenyataanya aku tetap meminta tolong tuk sebentar-sebentar berhenti.


"Apa ada yang tidak sakit Yang?" keluh ku pada Mayang


"Ada" Jawab Mayang cepat sembari lari ke bawah


Hingga tak lama kemudian ia sudah membawa 5 bawang merah di mangkuk yang sudah di kupas.


"Untuk apa?" Tanyaku heran


"Kerikin Arum agar tidak sakit" Jawab Mayang sembari mulai mengerik lagi


"Ih iya Yang enak"Jawabku senang


"Kamu tahu tidak Rum? ini untuk anak kecil" Ledek Nunu sembari ikut mengerik pakai bawang merah


"Tak apa lah" Jawabku sembari tertawa terpingkal- pingkal


"Nanti lanjut di pijit sama Nunu ya Rum, Aku cuci tangan dulu." Ujar Mayang di sela-sela kantuk ku sebab terlalu enak di kerik dengan bawang merah.


"Nunu Pijitannya enak sekali" Pujiku


"Ah bisa saja, biasa saja Rum" Jawabnya merendah


"Kamu ada belajar pijit Nu? tanyaku penasaran


" Tidak juga." Jawabnya sembari tertawa


"Hmmm Nunu" Jawabku sembari geleng-geleng dan mengacungkan jempol ke arahnya


Sudah makan pisang titipan Afit, sudah di kerik dan di pijit, Masya'Allah rasanya jauh lebih membaik.


Mayang juga buatkan wedang jahe untukku.


Rasanya lengkap sekali, sakit namun rasanya bahagia. seperti hari ini.


Beruntungnya Aku mempunyai mereka.


Lantas Aku mencoba melakukan panggilan video ke yang lain dan saat tersambung akhirnya pun riuh ramai meski hanya lewat benda persegi panjang, berkouta yang amat canggih, terdengar dari sebrang suara Nunu amat melengking yang kadang membuatku menutup telinga namun juga terus tertawa bersama Mayang & Nunu di sini. Sungguh suasana seperti ini sangat hangat.


Tepat pukul 3 Sore Nunu pulang dan Mayang tetap menetap, sesampainya ia menemani Nunu turun tangga dan aku melambaikan tangan dari atas menyaksikan Nunu pulang sendiri jalan kaki.


lantas terdengar hebat suara langkah kaki Mayang terdengar jelas sedang berlari dan membuka pintu dengan semangat.


"AKU MENGINAP MALAM INI HORE" Ujarnya dengan amat senang dengan mengekspresikan seperti seorang juara piala Dunia


" Tidak jadi nanti habis maghrib pulang?" Tanyaku jauh lebih meyakinkan


" (Ia menggeleng gembira)"


"(Aku bengong seketika kaget)"


"Yeay" Teriakku senang tak kalah heboh namun juga tak bisa membendung air mata penuh senang.


_____________________________


Tiba-tiba aku mengeluarkan air mata haru,


senang bahwa ada teman bicara sebelum tidur.


Aku memeluk Mayang erat lantas mengucapkan terimakasih padanya.


"Jangan menangis" ujar Mayang sembari balas memelukku


"Aku hanya mengangguk dan mulai mengusap air mata yang mengalir"


"Bolehnya tertawa sambil menangis" Jawab Mayang spontan, hal yang tak terfikirkan oleh ku, sembari Ia ikut menangis dan tertawa bersamaan dengan ku.


"(Tangis ku pun pecah bersamaan dengan tawa)"


"(Kami terus menatap saling tertawa seperti mengingat momen lucu dan terus menangis sebab haru)"


***Hingga pada akhirnya kami saling mengatakan lelah,


dan memutuskan merebah pada kasur.***


"Kita berteman seakan sudah lama sekali ya Rum" Tanya Mayang sembari mengusap ingus tangisnya yang belum usai

__ADS_1


"Lama dari jaman kita MTs" Jawabku dengan tawa terbahak bahak


"Iya juga ya" Katanya dengan tatapan bloon ke arahku


"Iya lah" Jawabku balik dengan memoles kepalanya


"Sepertinya kamu sudah sehat Rum." Ujar Mayang memandang mataku tajam


" Belum, memang kenapa?" tanyaku bingung


" Barusan apa?" Tanya Mayang seperti orang kesal


"(Aku tertawa terbahak bahak dan mulai menjaga jarak darinya) "


"Reflek saja Yang" Jawabku singkat dengan tawa yang tak berhenti


"Buggg bugg bug... " bunyi guling yang Mayang pukulkan ke kaki ku


Mayang Manis sekali, ingin menghiburku, tahu mana bagian yang harus di pukul tanpa harus membuatku merasa sakit. Bahkan pada akhirnya malah ia menggelitik ku. Kami saling menggelitik dan tertawa.


Lantas mulai mengatur nafas dan mulai tertawa lagi


Jam terus berjalan dan kami pindah ke bawah untuk membuat makanan nanti malam, di kulkas masih banyak bahan makanan, sebab Ayah sudah belanja untuk 2 minggu Full.


Kali ini aku hanya memperhatikan Mayang memasak,


ia memasak sop Ayam dengan tempe goreng.


Pasti lezat pikirku. Aku tak sabar ingin memakannya.


Mayang membersihkan Ayam dengan sangat telaten. memotongnya dengan penuh perhitungan,dan mencuci bersih sayuran. Aku melihatnya sesekali ke dapur dan kembali ke ruang Tv, begitu seterusnya.


sampai pada akhirnya waktu menunjukan pukul 6 sore pas. makanan sudah siap semua, lantas tinggal waktunya Mayang mencuci perabotan bekas memasak.


"Rum aku mandi dulu ya" Ujarnya sembari menaiki tangga


"Bajunya sudah ku siapkan di kasur ya Yang" Jawabku sembari mengecek hasil masakan Mayang


Kebersihannya, "cocok denganku" Ujar ku dalam hati senang.


"Setelah kamu mandi, Aku mandi ya Yang" teriak ku dari bawah


"Tidak boleh, habis di kerik Rum" Jawab Mayang cepat


"(Aku hanya manggut-manggut sendiri, berpikir mengapa demikian?")


***Makan malam tiba**


Aku sengaja tak mengambil nasi lebih dulu dan ya benar-benar enak, ayamnya di potong kecil-kecil empuk, kaldunya pas, sempurna.


Tempenya enak khas bumbu Solo. kebetulan Mayang orang Solo, gaya masaknya persis masakan sana.


Persis ciri khas masakan yang dulu pernah ku coba dari tangan ibu. Aku jadi mengingat ibu sedikit. Lantas tersenyum dan lanjut memakannya.


"Sop buatanmu sangat enak Yang" Pujiku


"Di buat pakai takaran hati" Jawabnya sembari tertawa


"Oh resep baru" Jawabku tak kalah gokil sembari meledek dan ikut tertawa


Lantas Kami menikmati makanan sembari bertukar cerita. Semua seru dan menyenangkan.


Makan usai dan kini aku yang mencuci piring, hanya sedikit tentu tak masalah, dan Mayang mulai bertanya lebih dalam.


"Ayah pergi kemana Rum?" Tanya Mayang dengan nada hati-hati


"Tidur di rumah istri barunya" Jawabku Santai


"Kapan Acaranya?" Tanya Mayang histeris


"Lupa" Jawabku dengan tawa terbahak bahak ke arahnya


"Ya sekitar seminggu yang lalu" Jawabku melanjutkan


"(Mayang manggut-manggut)"


Seakan dia mengerti sesuatu, namun tidak di bicarakan dan tidak melanjutkan tanya, aku pun hanya tersenyum.


Usai semua, kami berdua menyusuri anak tangga naik ke atas sembari bernyanyi. sesampainya di kamar aku langsung persiapan pergi tidur, mulai dari sikat gigi cuci muka dan ganti baju. Aku dan Mayang belajar bersama meski kita beda jurusan, mencoba terlihat cerdas meski buku hanya di bolak balik dari tadi.


"Buat apa aku belajar Rum?" Tanya Mayang tiba-tiba dengan tawa di tahan


"Iya juga" Jawabku spontan


"Ini kan Pelajaran Akuntansi" Jawabku dengan tawa yang renyah sembari menggeser buku yang tadinya di tengah menjadi di hadapanku saja.


"Hahaha" Tawa kami meledak


"Buku jadwal ku di bawakan Nunu besok Rum" Jelas Mayang memberi tahu penuh semangat


"Kalau baju berangkat sekolah besok, aku sudah bawa, tadi aku pulang ke rumah lebih dahulu, tapi malah tidak terpikirkan baju ganti biasa" Jelas Mayang sembari mengingat dan nyengir di akhir cerita.


"Di sini banyak baju, kamu bisa pakai bawa pulang" Jawabku sembari memeluknya gemas


"Terimakasih sudah menginap Yang" Lanjut ku


"Sama-sama" Jawab Mayang dengan senyuman yang manis


-Mayang menatapku lama sembari tersenyum-


"Apa?" Kataku dengan tatapan penuh tawa


"Semua juga ingin menginap sebenarnya, tapi yang bisa hanya aku, kita semua khawatir tadi, sebab hari libur kemarin kita temu kangen, main, Arum juga sehat, tapi senin Arum tidak ada" Jelas Mayang melanjutkan dengan mimik penuh drama


"(Aku hanya mengangguk, tersenyum haru)"


"Sepertinya panas ku mulai menurun Yang." Ujar ku memberitahunya


"Alhamdulillah" Jawab Mayang sembari memastikan tangannya mengetes di kepalaku


"Kali ini harus tidur tepat waktu, besok kita berangkat sekolah sama-sama" Saran Mayang mengisyaratkan untuk lekas tidur


Waktu terus bergulir, buku tertutup di atas kasur dan masuk di bawah bantal, resep cepat pintar kalau kata Mayang hihihi, namun sebenarnya aku hanya malas meletakkannya kembali di atas meja meskipun jaraknya dekat, Aku hanya bercerita dengan Mayang sebentar sebelum benar-benar tertidur, sebab Mayang tertidur lebih dahulu, lantas aku juga ingin menyusulnya.


Mereka, Senin tanpa seorang aku di sekolah, namun kembali datang berkunjung dengan hati penuh kasih sekali lagi mereka mengunjungi rumah, membuat hangat, meski kali ini hanya Mayang yang menginap.


Amat menyenangkan mendengarkan mereka,


bercerita tentang betapa mereka mencemaskan ku.


Aku merasa, Bahwa "Aku di perhatikan"


Aku sakit namun bahagia.

__ADS_1


Betapa beruntungnya aku memiliki mereka.


Terimakasih Tuhan Sungguh Aku bahagia.


__ADS_2